
Keeseokan paginya terjadi keributan dirumah tua itu.
"Di mana wanita itu? Kenapa bisa kabur?’’kata bos mafia.
"Bos, aku menemukan beberapa orang ini pingsan di halaman belakang."
"Cepat cari sampai ketemu mungkin belum pergi jauh."
"Baik."
"Sekarang masalahnya bagaimana kalau Vladimir menanyakan wanita itu? Aku harus jawab apa?"
Tidak berapa lama ponselnya berdering dan panggilan itu dari Vladimir.
"Ha-halo! Apa jawabanmu atas permintaanku yang kemarin?’’
"Aku akan membayarmu dan aku akan menyerahkannya sendiri. Sekarang katakan di mana kita bertemu?’’
"Bagus. Itu artinya kamu memang mencintai Lizzie. Salah satu anak buahku akan menjemputmu di depan kantormi satu jam lagi."
"Baiklah. Bolehkah aku sekarang bicara dengan Lizzie?’’
"Kamu tidak bisa bicara dengannya sekarang.:
"Kenapa?’’
"Dia sedang tidur."
"Aku mengerti, tapi dia baik-baik saja kan? Aku tidak akan memaafkanmu, jika kamu menyakitinya dan melukainya."
"Dia baik-baik saja."
"Bagus."
Vladimir menutup teleponnya dan ia merasa gugup apa dia bisa menyelamatkan Lizzie. Vladimir menguatkan hati untuk bisa menyelamatkan Lizzie apa pun yang terjadi.
Satu jam kemudian orang yang menjemput Vladimir sudah tiba.
"Vladimir, hati-hati! Jangan sampai kamu juga ikut terluka. Aku akan berdoa untuk keselamatan kalian,’’kata Aleandra.
"Aku juga akan berdoa untuk keselamatan kalian,’’kata Dimitri.
Vladimit masuk ke dalam mobil dan mobil itu meninggalkan halaman kantor.
"Matamu harus ditutup."
Salah satu dari mereka yang menjemput Vladimir menutup matanya dengan kain. Satu jam kemudian mobil berhenti dan mereka membawanya masuk. Setelah masuk mereka membuka penutup matanya.
"Selamat datang!"
Bosa mafia mengarahkan pistol pada Vladimir.
"Mana Lizzie?’’
"Tenang. Dia baik-baik saja. Apa kamu sudah membawa uangnya?’’
"Ini uangnya."
Vladimir menunjukan koper yang dibawanya.
"Buka kopernya!’’
Vladimir membuka kopernya dan di dalamnya terdapat banyak uang.
"Bagus. Letakkan koper itu di tengah."
Vladimir menuruti kata-katanya. Salah satu anak buahnya mengambil koper itu dan menyerahkan kepada bosnya.
"Terima kasih kamu sudah mau membayar kerugianku, tapi maaf aku tidak bisa mempertemukan Lizzie denganmu."
"Apa maksudmu?’’
Mereka diam tidak ada yang berbicara.
"KENAPA KALIAN DIAM. DI MANA LIZZIE? Apa telah terjadi sesuatu padanya? Kalian tidak berbuat hal buruk padanya kan?’’
"Kami tidak berbuat buruk padanya selama dia ada di sini, tapi Lizzie sudah tidak ada lagi di sini."
Vladimit mulai marah dan mulai mendekatinya, tapi dicegah oleh anak buahnya.
"APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN PADANYA?’’
"Kami tidak melakukan apa-apa. Semalam dia kabur dari sini."
"Apaaaa? Lizzie kabur.Tapi kabur kemana?’’
"Kalau itu aku tidak tahu."
Tidak lama kemudian Polisi masuk dan dalam sekejap rumah itu sudah terkepung dan polisi juga berhasil menangkap bos mafia itu.
"VLADIMIR, KAMU BENAR-BENAR KURANG AJAR."
Vladimir tersenyum dan mengambil kembali koper yang dipegang olehnya.
"Tidak semudah itu mengalahkankun. Kamu harus tahu itu."
Vladimir tersenyum penuh kemenangan dan ketika ia akan meninggalkan rumah itu, bos mafia itu berhasil melepaskan diri dari polisi dan mengambil pistol milik polisi dan mengarahkan pistol itu ke Vladimir.
"Tuan Kalashnikov, AAAAWWWAAAASSS DI BELAKANG ANDA,"kata David.
Vladimir melihat ke belakang dan terkejut sebuah tembakan telah di lepaskan.
"DUAAAARRRRR."
🍀🍀🍀
__ADS_1
3 Hari kemudian
"Vladimir,"teriak Lizzie.
Lizzie terbangun dengan tubuh sakit dan pegal. Ia melihat ke sekeliling ruangan.
"Aku ada di mana?’’
Lizzie kemudian teringat kejadian malam itu. Ketika dia dibangunkan oleh seorang pria bertopeng.
3 hari sebelumnya
Hendrik pergi ke kamar Lizzie dan membiusnya, lalu membawa gadis itu pergi dari sana, tapi penjagaan rumah itu sangat ketat, banyak penjaga di mana-mana.
Hendrik pergi mendekati orang-orang itu dan mengambil batu lalu melemparkan batu itu. Kedua orang itu terpancing dengan lemparan batu itu, lalu ia berkelahi dengan mereka. Akhirnya mereka berdua jatuh pingsan, karena Hendrik berhasil mengalahkan mereka, tapi perkelahian itu cukup menimbulkan keributan kecil dan beberapa orang datang dan melihat kejadian itu.
"Cepat lari dari sini,’’kata Hendrik.
Sven menggendong Lizzie dan membawanya sejauh mungkin dari sana dan Hendrik berkelahi dengan mereka. Beberapa orang berhasil mengejar Sven. Ia berkelahi dengan mereka dan Lizzie mulai sadarkan diri.
"Ini di mana?’’
Lizzie menyaksikan perkelahian mereka. Ia hanya menjerit ketakutan.
"Lizzie, kamu sudah sadar. Sepertinya dia tidak membiusmu dengan cukup kuat."
"Apa yang terjadi?’’
Lizzie masih menahan rasa pusingnya akibat biusan tadi.
"Lizzie, kenapa kamu diam situ. Ayo cepat pergi dari sini!"
"Tapi bagaimana denganmu?’’
"Sudah jangan kamu pikirkan itu. Aku akan menangani ini."
Sveb masih berkelahi dan berusaha untuk mengalahkan ketiga orang itu.
"CEPAT LARIIIIIII."
Lizzie dengan sekuat tenaga berlari dengan kencang dan salah satu dari ketiga orang itu mengejar Lizzie. Orang itu berhasil mengejar dan menangkapnya. Lizzie memberontak, berusaha melepaskan diri dari orang itu, tapi usahanya sia-sia.
Tiba-tiba saja Lizzie menggigit tangan orang itu sekuat tenaga dan orang itu kesakitan dan melepaskannya. Ia mengambil kesempatan ini untuk kabur dan kali ini pun usahanya gagal, karena orang itu berhasil memukul pundak Lizzie dan kepalanya terbentur batu dan tidak sadarkan diri.
Sampai sana Lizzie tidak mengingat lagi kejadian selanjutnya. Ia memegang kepalanya yang di perban dan masih merasakan sakit di kepala juga tubuhnya.
"Ini hari apa? Dan sudah berapa lama aku pingsan?’’
Lizzie berusaha bangun dari tempat tidur. Ia merasa sedih, karena yang menolongnya bukan Vladimir, tapi oleh orang-orang yang baru dikenal olehnya.
"Vladimir bodoh."
Tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang masuk.
"Keadaanku kurang baik."
"Itu pertanyaan bodoh yang aku ajukan. Tentu saja keadaanmu tidak baik."
"Sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?’’
"3 hari."
"Hah? 3 hari?’’
"Iya. Kami menemukanmu pingsan dengan luka dikepalamu. Tapi syukurlah luka di kepalamu tidak terlalu parah, meskipun itu membuat kamu pingsan selama 3 hari. Kamu menderita gegar otak ringan dan akan sembuh, jika kamu banyak isitirahat. Aku akan membawa makanan untukmu."
Hendrik meninggalkan kamar dan pergi ke dapur. Lizzie menyapukan pandangan ke sekeliling kamarnya. Kamar ini tidak luas dan juga tidak sempit. Kamar ini sangat nyaman, tapi sayang kamar ini jendelanya tertutup rapat, jadi tidak bisa melihat pemandangan di luar.Tidak lama kemudian Hendrik membawa makan untuk Lizzie.
"Makanlah yang banyak supaya cepat sembuh!’’
Lizzie makan dengan lahap.
"Kenapa kamar ini jendelanya tertutup rapat?’’
"Aku juga tidak tahu. Mungkin karena ini bangunan tua dan sudah lama tidak dipakai."
"Eh."
"Aku menyewa sebuah apartemen tua untuk kita bertiga, karena harganya lebih murah."
"Oh begitu."
"Cepat habiskan makanmu!’’
Lizzie cepat-cepat menghabiskan makanannya, lalu meminum obat. Ia kembali berbaring di tempat tidur.
🍀🍀🍀
Vladimir yang selamat dari tembakan itu, karena David menolongnya. Ia melihat Zoya duduk sendirian di depan kamar rawat di mana David sedang di rawat sekarang.
"Zoya, bagaimana keadaannya sekarang?’’
"Sudah lebih baik."
"Syukurlah. Semua ini salahku. Ia sampai begini."
"Sudahlah jangan menyalahkan diri Anda lagi. Sudah aku katakan ini bukan salah Anda."
"Tapi gara-gara dia menyelamatkanku dari tembakan itu, akhirnya dia malah yang terkena peluru. Dia sudah mau mengorbankan nyawanya untukku. Aku benar-benar berterima kasih padanya. Untungnya peluru itu hanya mengenai lengannya."
"Sudahlah Jangan diingat-ingat lagi kejadian itu. Itu akan membuat kita sedih saja. Apa Anda sudah mendapat informasi keberadaan Lizzie?’’
"Sama sekali belum. Bahkan aku tidak tahu keadaanya sekarang. Aku heran kenapa dia tidak segera menghubungiku atau orang tuanya?’’
"Mungkin keadaannya yang tidak memungkinkan untuk menelepon kalian. Tunggu saja mungkin beberapa hari lagi dia akan menelepon. Aku yakin Lizzie baik-baik saja."
__ADS_1
"Aku juga berharap begitu. Aku ingin cepat bertemu dengannya lagi, karena aku sudah merindukannya."
🍀🍀🍀
Satu minggu kemudian
Lizzie sudah berada di kamar ini selama satu Minggu dan tidak pernah keluar dari sini. Kesehatan Lizzie sudah kembali pulih. Kepala dan tubuhnya sudah tidak sakit lagi dan perban dikepalanya sudah dibuka.
Setelah makan siang yang disiapkan oleh Sven dan Hendrik, Lizzie berganti pakaian dan berjalan-jalan di luar sebentar menikmati matahari pagi, karena sudah seminggu ia tidak bertemu dengan matahari. Hendrik dan Sven tidak ada di rumah, kemudian Lizzie menulis pesan di secarik kertas yang memberitahu kalau ia akan berjalan-jalan sebentar di luar. Lizzie meletakkan pesan singkat itu di atas meja. Ia keluar dari pintu apartemennya dan melihat bangunan yang di tinggalinya.
"Bangunan ini besar dan kuno."
Lizzie menemukan pintu keluar yang sangat besar berwarna hijau tua, kemudian ia membuka pintu itu dan sinar matahari yang menyilaukan masuk ke dalam bangunan tua tersebut. Lizzie sangat terkejut ketika melihat pemandangan di luar, lalu ia menutup kembali pintunya.
"Ini tidak mungkin. Pasti aku bermimpi."
Lizzie mencubit pipi dan tangannya.
"AAAAWWWWW. Sakit. Ini bukan mimpi."
Lizzie mencoba membuka kembali pintu itu dan ia melihat pemandangan yang sama. Ia melihat bangunan-banguna besar dan kuno dan banyak orang-orang asing. Lizzie memutuskan untuk keluar dari bangunan tua itu untuk menyelidiki di mana dia sekarang.
"Yang jelas ini bukan Rusia. Jadi sekarang ini aku di mana?’’
Lizzie melihat ke kiri dan ke kanan dengan raut wajah kebingungan.
"Aku tidak mengenal tempat ini."
Lizzie berjalan menjauh dari bangunan tua itu dan ia melihat bangunan-bangunan kuno dan megah yang berdiri di atas air. Banyak perahu-perahu yang menyusuri kanal yang sibuk mengangkut penumpang. Kota yang memiliki kanal-kanal sebagai ganti jalanan dan rumah-rumah lebih terlihat seperti pintu dan jendela tanpa dinding dan tanpa akhir.
"Sepertinya aku kenal tempat ini. Tidak salah lagi ini adalah kota air Venice, Italia. Kenapa aku bisa berada di sini?’’
Lizzie masih bingung dengan keberadaannya di Venice. Ia menggigit jarinya sambil menebarkan pandangan disekelilingnya. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.Tiba-tiba ada seorang tukang roti menawarkan rotinya padanya yang baru saja selesai di panggang.
"Nona roti ini enak sekali. Mau mencobanya?"tanya dalam bahasa Italia.
Lizzie bingung, karena tidak mengerti apa yang dikatakan tukang roti itu.
"Tidak. Terima kasih."
Lizzie langsung pergi dari sana dengan terburu-buru dan cepat-cepat kembali ke apartemennya. Di sana Hendrik dan Sven sudah menunggu Lizzie pulang dengan wajah khawatir.
"Akhirnya kamu pulang juga. Kami khawatir kamu akan tersesat di luar sana."
"Bisa kalian jelaskan, kenapa aku bisa berada di Italia? Kenapa kalian membawaku ke sini?’’
"Maaf Lizzie. Kami terpaksa membawamu ke sini. Karena aku pikir kalau kita ke sini akan lebih aman dan para mafia itu tidak akan bisa menemukan kita di sini. Takutnya kalau kita terus ada di Rusia, mereka akan cepat menemukan kita. Bosku itu mempunyai banyak sekali anak buah dan juga kenalannya ada di mana-mana. Setidaknya di sini kita aman untuk sementara waktu,"jawab Hendrik.
"Bagaimana kalian membawa aku ke sini dalam keadaan tidak sadar dan terluka?’’
"Kami datang ke sini menggunakan pesawat pribadi, lalu di tasmu ada paspor, jadi mudah untuk membawamu ke sini."
"Memangnya kalian mempunyai pesawat pribadi?’’
"Tidak. Kami meminjamnya dari kenalan kami dan dia bersedia membantu kami."
"Oh begitu. Jadi kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu?’’
"Sepertinya begitu. Kami berencana akan tinggal di sini dan kami sudah membuka usaha di sini. Kamu boleh pulang ke Rusia kapan saja kamu mau. Kami tidak akan melarangmu untuk pulang,"kata Hendrik.
"Sepertinya aku juga akan tinggal sementara di sini?’’
"Benarkah? Bagaimana dengan Vladimir?"
Wajah Lizzie berubah sedih.
"Ada apa? Apa kalian bertengkar?’’
"Tidak. Kami tidak bertengkar. Hanya saja....’’
Lizzie tidak meneruskan kata-katanya dan mulai menangis. Hendrik dan Sven jadi bingung dengan Lizzie yang tiba-tiba menangis.
Lizzie kemudian cepat-cepat menghapus air matanya.
"Hanya saja aku merasa kesal dan kecewa padanya, karena dia tidak berusaha untuk menolongku ketika aku diculik. Malah kalian yang berusaha untuk menolongku dan mengorbankan nyawa kalian untukku. Aku benar-benar berterima kasih pada kalian. Aku tidak tahu harus membayar kebaikan kalian dengan apa? Dan bolehkah aku tinggal lebih lama lagi dengan kalian di sini?’’
"Kamu tidak perlu membayar apa-apa pada kami. Sebenarnya dari dulu kami ingin keluar dan membebaskan diri dari mereka. Kamu sudah memberikan kebebasan untuk kami dan tentu saja kamu boleh tinggal dengan kami,"Hendrik.
"Itu benar,"kata Sven.
"Terima kasih."
"Lizzie, kami baru saja membuka restoran kecil masakan Rusia disekitar sini. Maukah kamu membantu kami di restoran kecil kami?"tanya Hendrik.
"Benarkah? aku akan membantu kalian."
"Terima kasih,"kata Hendrik.
🍀🍀🍀
Moskow
Keesokan harinya
"Tuan Kalashnikov, ini sudah satu Minggu Lizzie menghilang. Apa Anda sudah mendapatkan kabar mengenai Lizzie?’’
"Sayangnya belum. Orang yang aku suruh untuk mencarinya belum memberikan kabar apa-apa."
"Oh begitu. Sebaiknya kita tunggu beberapa hari lagi, siapa tahu orang yang Anda suruh itu mendapatkan informasi tentang keberadaan Lizzie."
"Aku harap juga begitu. Setiap hari aku selalu merindukannya. Oh ya bagaimana dengan Keadaan David?’’
"Dia baik-baik saja. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya lagi,"kata Zoya.
"Syukurlah kalau begitu."[ ]
__ADS_1