Shattering Heart

Shattering Heart
(S3): Extra part 1 : Kisah Regina dan Alexei


__ADS_3

Regina tersipu malu ditatap oleh Alexei. Jantungnya berdetak kencang. Sekarang mereka bukanlah atasan dan bawahan yang sedang melakukan makan malam, tapi sekarang statusnya sudah berubah. Regina adalah calon istri Alexei Sovetsky yang akan melangsungkan pernikahan Minggu depan. Mereka berdua terlihat sangat bahagia menikmati makan malam di bawah sinar bulan.


Alexei tersenyum lembut dan menatap penuh cinta pada Regina. Itu sudah cukup membuat suhu wajah gadis itu meningkat. Regina masih belum mempercayai kalau pria yang ada dihadapannya sekarang adalah calon suaminya. Jantungnya berdetak semakin kencang, ketika Alexei memegang kedua tangannya.


"Aku senang bisa berada di sini bersamamu menikmati makan malam berdua. Aku ingin selalu seperti ini menghabiskan waktu bersama denganmu. Aku sudah tidak sabar menjadikan kamu sebagai milikku."


"Aku juga, Alexei."


Pelayan datang mendekati mereka membawa makanan pesanan mereka berdua. Alexei melepaskan kedua tangan Regina dan kepalanya tertunduk malu. Wajahnya merona merah untung di sekeliling tidak begitu terang sehingga Alexei tidak dapat melihatnya.


Mereka makan malam dengan tenang dan diiringi canda tawa mereka. Pernikahan mereka berdua tahun ini sudah menjadi berita utama bulan ini dan sudah menjadi pembicaraan banyak orang. Mereka masih belum mempercayai kalau Alexei Sovetsky, seirang pengusaha hotel terkenal lebih memilih Regina dari pada Angelica, seorang model cantik mantan pacarnya dan berasal dari keluarga kaya raya. Banyak wanita yang menyukai Alexei merasa kecewa, karena pria itu akan segera dimiliki oleh Regina.


Persiapan pernikahan mereka sudah sempurna segalanya sudah beres tinggal menunggu waktu hari mereka menikah. Setelah selesai makan malam, Alexei mengantarkan Regina pulang. Ia memegang pegang pintu mobil hendak keluar, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Alexei.


"Mana ucapan selamat malam untukku sayang?’’


"Selamat malam!’’


Regina sudah mengeluarkan salah satu kakinya dari mobil dan tangannya ditahan lagi oleh Alexei.


"Hanya itu saja?’’


Regina tersenyum. Dia tahu apa yang diinginkan calon suaminya Dengan malu-malu Regina mendekatkan wajahnya pada Alexei. Sembrurat warna merah menghiasi pipinya yang putih.


Regina mengecup lembut bibirnya dengan cepat kemudian tersenyum malu-malu padanya. Alexei tersenyum senang kemudian mengelus rambutnya.


‘’Istirahatlah! Besok aku akan menjemputmu. Ayah ingin menemuimu di rumah."


Mata Regina terbelalak kaget. Dia belum pernah sekali pun bertemu dengan ayah Alexei Seketika tangannya menjadi dingin.


"Baiklah!’’


Regina keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Keesokan paginya, Regina membukai tirai jendela. Sinar Matahari menyilaukan matanya. Kabut tipis pagi hari masih menyelimuti langit biru yang cerah. Pohon-pohon Wisteria yang sedang berbunga menambah indahnya pemandangan dari jendela kamarnya. Ada bunga-bunga yang tumbuh menjalari dinding rumah. Pot-pot bunga yang penuh dengan bunga warna-warni sangat menyejukan mata dan semuanya sangat mempesonanya.


"Hari ini cerah sekali dan indah sekali!’’seru Regina sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara pagi yang segar dalam-dalam. Tercium aroma bunga dan pepohonan. Regina merasakan udara yang hangat dan lembut membelai wajahnya.


Regina melamun sambil melihat pemandangan di pagi hari dan lamuannya dibuyarkan oleh bunyi suara ponselnya dengan setengah berlari ia menyambar ponselnya yang terletak di atas meja riasnya. Wajahnya tersenyum ketika ada sebuah pesan masuk dari Alexei.


Sayang selamat pagi! Sebentar lagi aku akan menjemputmu. Bersiap-siaplah!


Regina segera mengganti pakaiannya dan memakai baju berwarna ungu seperi bunga violet hutan dan sesuai dengan bentuk tubuhnya yang langsing .Ia jadi terlihat sangat cantik dan menarik. Ia keluar kamar dengan wajah cerah dan senyuman menghiasi wajahnya.


"Pagi Ayah, Ibu, Vladimir!’’


"Ah, pagi!’’


Nicola memperhatikan Regina dan dia merasa takjub melihat penampilan putrinya di pagi hari.


"Bagaimana penampilanku? Apa aku sudah terlihat cantik."


Regina memutar-mutar tubuhnya.


"Kamu sangat cantik. Memangnya kamu akan pergi kemana?’’tanya Vladimir sambil masih terus menatap Regina, kakaknya.


"Alexei mau mengajakku bertemu dengan ayahnya."


Nicola mengangkat sebelah alisnya dan masih menatap putrinya.


"Pantas saja kamu berdandan cantik. Pasti Ayah kekasihmu itu senang melihat penampilanmu pagi ini."


"Aku sebenarnya sangat gugup bertemu dengan ayahnya. Bagaimana kalau nanti dia tidak menyukaiku. Coba pegang tanganku.Tanganku dingin."


Regina menjulurkan tangannya pada ayahnya dan tangannya mememang sangat dingin.


"Itu wajar ketika akan bertemu dengan calon ayah mertuamu,"kata Juliet.


"Aku harap dia akan menyukaiku dan merestui hubungan kami."


"Regina, ternyata hatimu sudah benar-benar terebut oleh Alexei. Siapa yang akan menyangka kalau hatimu akan berlabuh padanya. Pria yang dulu kamu benci dan sekarang malah jadi mencintainya. Sepertinya daya tarikmu padanya sangat kuat, sehingga dia rela membatalkan pernikahannya dengan Angelica dan juga siapa sangka kalau Alexei yang memiliki hati sedingin es dan yang ada diotaknya hanya ada pekerjaan saja bisa jatuh cinta padamu,"kata Vladimir.


Regina tersenyum malu dan rona merah mulai menghiasi wajahnya yang cantik.


"Ayo sebaiknya kita makan. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu,"kata Juliet.


"Terima kasih, Bu."


🍀🍀🍀


Beberapa menit kemudian, Alexei datang menjemput Regina dengan membawa satu buket mawar merah. Regina terlihat sangat senang dan mencium bunga itu.


"Terima kasih, sayang."

__ADS_1


Regina mengecup lembut bibir Alexei.


"Kamu terlihat sangat cantik hari ini dan juga mempesona,’’kata Alexei tanpa mengalihkan tatapannya pada Regina.


"Ayo masuk!’’


Regina meraih tangan Alexei untuk menariknya masuk ke dalam rumah. Regina kemudian memasukan bunganya ke dalam sebuah pot besar dan menatanya kemudian diletakan di atas meja.


Alexei kemudian meraih tangan Regina dan mengecup lembut tangannya.


"Kamu sudah siap bertemu dengan ayahku?’’


"Entalah. Aku sangat gugup bertemu dengannya. Aku takut kalau dia tidak akan suka padaku."


"Tenang sayang. Ada aku di sampingmu,’’katanya lembut sambil membelai wajah Regina dengan punggung jari telunjuknya.


"Semoga saja."


Regina dan Alexei keluar dari rumah di sambut oleh silaunya sinar matahari. Mereka berdua masuk ke dalam mobil . Disepanjang perjalanan Alexei tetap memegang tangan Regina dengan salah satu tangannya dan yang satunya memegang kemudi. Sesekali Alexei meliriknya yang tampak sedang melamun.


Mobil berhenti didepan pintu masuk kediaman keluarga Sovetsky. Mata Regina menyapukan pandangan ke sekeliling. Ini pertama kalinya dia datang ke rumah Alexei. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan mulai menaiki undakan tangga.


Di samping pintu utama banyak pot berisi bunga azalea berwarna merah bata. Seorang pelayan membukakan pintu dan membungkuk dengan sopan. Regina dan Alexei mengikuti pelayan itu melalui lorong-lorong rumah yang luas dan sejuk. Pelayan itu membukakan pintu ruang kerja Georgy, ayah Alexei. Ruangan itu bermandikan cahaya matahari.


Di dalam ruangan sangat sunyi hanya terdengar pergerakan jarum jam dinding. Sinar matahari berada di belakang Regina menyinari rambutnya seperti memancarkan cahaya. Alexei mengajaknya untuk duduk dan Regina terlihat gugup, dia meremas gaunnya dengan kedua tangannya dan tubuhnya terlihat tegang.


"Regina, tenang saja. Kamu tidak perlu segugup atau setegang itu."


"Tapi Alexei, aku....’’


Kemudian pintu terbuka dan Georgy yang duduk di kursi roda tersenyum pada mereka berdua. Mulut Regina ternganga langsung menutupnya kembali. Alexei heran melihat sikap Regina seolah terkejut melihat ayahnya.


"Kita bertemu lagi,’’kata Georgy ramah.


"Se-selamat siang!’’sapa Regina.


"Kamu tidak perlu seformal itu. Bukannya biasanya kita tidak bersikap formal."


"Itu karena aku belum tahu siapa Anda."


"Regina, kamu sudah pernah bertemu dengan Ayahku?’’


Regina menganggukan kepalanya dan menceritakan kalau ayahnya pernah ditolong olehnya yang hampir pingsan di jalan dan Alexei baru mengerti mengapa Regina tadi terkejut ketika melihat ayahnya.


Regina tertunduk malu. Rona merah pipinya kembali muncul di wajahnya.


"Te-terima kasih."


Georgy mengajak Regina dan Alexei berjalan-jalan di halaman belakang. Halaman yang hijau dikelilingi oleh pohon-pohon yang menambah kesejukan. Rumput-rumput yang dipotong sangat rapi terbentang diseluruh halaman rumah. Di kiri kanan halaman terdapat banyak bunga mawar berbagai macam warna yang sudah mulai berkembang, ada kolam ikan dan juga kolam renang.Tidak hanya itu saja Regina melihat ada sebuah lapangan basket dan juga lapangan tenis.


"Rumah seoarang miliarder,’’pikir Regina


Regina membantu Georgy memberi makan ikan-ikannya kemudian Regina kembali mendorong kursi roda dan Alexei mengikutinya dari belakang, lalu Regina dan Alexei duduk di bangku taman yang menghadap air mancur di bawah pohon pakis yang menjulang tinggi.


Mereka  bertiga berbicara dengan penuh canda dan tawa. Mereka membicarakan tentang persiapan pernikahan mereka dan rencana bulan madu. Remi, pelayannya sangat senang melihat kebersamaan mereka. Sudah bertahun-tahun rumah ini tidak terasa hangat sudah jarang Georgy dan Alexei tertawa bersama. Gadis itu membawa kehangatan dalam keluarga ini pikirnya.


"Ah, sudah waktunya makan siang sebaiknya kita makan dulu,’’kata Georgy sambil melirik jam tangannya.


Mereka bertiga kemudian memasuki ruang makan di mana hidangan makanan yang lezat sudah disiapkan. Makan siang di rumah Alexei sudah selesai. Regina harus mengakui, bahwa makanannya sangat enak sekali dan sempurna dihidangkan dalam ruang makan yang sangat bagus. Alexei mengajak Regina kembali berjalan-jalan di taman, sedangkan Georgy kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


"Bagaimana ayahku?’’


"Hmmm. Dia baik tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Aku kira ayahmu benar-benar galak dan juga menakutkan ternyata semuanya salah."


"Ayahku memang galak dan menakutkan, tapi terhadapmu dia bersikap manis."


Lengan Alexei memeluk Regina sangat erat, sehingga Regina semakin merapat ke tubuh Alexei. Ia mencium Regina dengan rakus dan berapi-api seolah-olah bintang-bintang jatuh dari langit dan mereka kini sudah menjadi satu yang dipertemukan oleh cinta.


Alexei tidak memberikan kesempatan pada Regina untuk bernapas, karena bibirnya terus menjelajahi bibir Regina. Napas mereka memburu, ketika bibir mereka berpisah. Alexei tersenyum lembut dan jari-jarinya menyentuh pipi Regina, lalu menuju ke arah lehernya. Untuk sesaat mereka segan untuk memisahkan diri masing-masing. Tubuh mereka ingin merasakan kehangatan dari orang yang dicintai seolah-olah mereka sudah tidak ingin berpisah lagi, walaupun hanya sedetik, karena jiwa dan hati mereka sudah menjadi satu.


Alexei memegang dagu Regina


"Sepertinya kamu harus pulang sayang. Aku akan mengantarmu, karena aku harus kembali bekerja."


"Baiklah,’’katanya singkat walaupun hatinya ingin tetap lebih lama dengannya.


Alexei mengantarkan sampai depan rumahnya, setelah itu dia pergi ke perusahaannya. Di sana Serafina, sekretarisnya sudah menunggunya dan langsung memberikan beberapa dokumen yang harus ditanda tangani.


"Bagaimana pertemuan calon istri Anda dengan ayah Anda?’’


"Semuanya berjalan baik."

__ADS_1


"Syukurlah dengan begini hati Anda sudah menjadi tenang."


Alexei tersenyum dan kembali membaca dokumen yang diberikan Serafina. Sore hari Alexei akan bertemu dengan salah satu kliennya di sebuah restoran yang tidak begitu jauh dari kantornya.


Dia memutuskan untuk berjalan, karena jaraknya yang begitu dekat hanya memerlukan waktu 10 menit untuk sampai ke sana. Alexei berjalan dengan langkah cepat lurus ke depan dan sekarang dia berada di bawah kontruksi bangunan. Tanpa disadari sebalok kaca besar jatuh dan pecah menghantam tanah.


PRAAANNGG!


Suara pecahan kaca sangat memekikan telinga. Alexei tidak sempat menghindar dan pecahan kacanya mengenai tubuhnya. Semua orang berteriak dan berusaha menghindar. Alexei jatuh pingsan dan ditubuhnya banyak tertancap pecahan kaca. Kapala dan tangannya mengeluarkan banyak darah. Dia segera dibawa kerumah sakit dan mereka segera mengeluarkan pecahan kaca satu persatu dari tubuhnya. Pecahan kaca juga mengenai kedua matanya.


Tegina sedang menyulam dikagetkan oleh kedatangan ibunya yang tiba-tiba.


"Ibu, ada apa?’’


Juliet berusaha mengatur napasnya dan menatap sedih Regina.


"Sekarang kamu harus ikut aku ke rumah sakit."


Juliet menarik-narik tangan Regina, tapi Regina tidak mau beranjak dari kursinya.


"Ayo Regina!’’


"Tapi kenapa aku harus pergi ke rumah sakit?’’


Juliet tetap diam hanya menarik-narik tangan Regina.


"Ibu ada apa?"


"Maafkan Ibu."


"Sebenarnya ada apa?’’


"Regina, ini tentang Alexei."


"Alexei? Ada apa dengannya?"


"Alexei mengalami kecelakaan."


Regina terdiam dan tubuhnya tidak bergerak. Sulaman yang berada ditangannya jatuh. Matanya mulai berkaca-kaca. Air matanya mulai mendesak keluar.


"Tubuh Alexei terkena pecahan kaca. Sekarang dia ada di rumah sakit. Kamu harus segera ke sana."


"Itu bohong kan?’’


"Ibu tidak bohong. Itu benar."


Regina merasakan kakinya lemas dan  rasanya akan jatuh ke lantai. Dia menahan tubuhnya pada kursi, lalu salah satu tangannya diletakan di dadanya seolah-olah bisa menghentikan debaran jantungnya yang kacau. Air matanya mulai menetes-netes. Juliet langsung memeluk putrinya dan akhirnya menangis dipelukan ibunya.


Dengan mata sembab Regina tiba di rumah sakit dan segera menemui Alexei di ruang perawatannya. Regina langsung memeluknya yang masih tertidur. Kedua matanya diperban. Reginamenangis sambil memeluk Alexei. Serafina menarik Regina.


"Tuan Sovetsky pasti akan baik-baik saja."


Georgy yang baru tiba masuk ke ruang dokter dan menjelaskan kondisi Alexei.


"Kami sudah berhasil mengeluarkan semua pecahan kaca dari tubuhnya. Untungnya pecahan kaca tersebut tidak sampai melukai organ vitalnya sehingga anak Anda bisa selamat."


Georgy mendesah lega.


"Tapi....’’kata dokter itu dengan memasang wajah sangat cemas.


"Tapi apa?’’


"Kemungkinan besar anak Anda akan menjadi buta."


"Apaaaa?’’


"Kornea matanya rusak terkena pecahan kaca. Satu-satunya cara untuk sembuh adalah melakukan pencangkokan kornea mata, tapi daftar tunggunya sangat panjang saat ini sudah ada 150 ribu orang yang menunggu donor korena mata."


Georgy terlihat pucat dan tubuhnya menjadi sangat lemas.


"Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya?’’


"Maaf. Tidak ada."


Georgy dan Remi keluar dari ruang dokter dengan wajah sedih.


"Tuan,’’kata Remi sedih.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Regina tentang kondisi Alexei sekarang. Pasti gadis itu akan sangat sedih. Kenapa semua ini terjadi ketika mereka akan memulai hidup bahagia?"


Georgy meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Bawa aku menemui Alexei!"


"Baik tuan." [ ]


__ADS_2