
Pernikahan Impian
7 bulan kemudian
Lizzie menatap cincin pertunangannya dengan Vladimir dengan bahagia. Satu Minggu lagi, ia akan menikah dengannya. Lizzie masih tidak percaya ia akan segera menikah dengan pria yang dulunya sempat ia benci.
Di kamarnya Lizzie duduk di dekat jendela yang terbuka. Angin sepoi-sepoi yang sejuk menerpa tubuhnya membawa aroma musim semi yang harum dan segar. Tunas-tunas bunga mulai bermunculan dari balik salju yang mulai mencair. Beberapa bunga sudah mulai bermekaran menandakan musim semi baru saja di mulai.
Dahan-dahan pohon apel berayun-ayun tertiup angin dan menimbulkan suara berkeresak. Sinar matahari sore yang hangat masuk melalui jendela. Lizzie dan orangtuanya telah tinggal di Silverbell Farms selama satu Minggu untuk menyiapkan pernikahannya, karena Lizze dan Vladimir memutuskan akan menikah di Silverbells Farms seperti yang selama ini Lizzie impikan. Perasaan sedih kembali menghantuinya ketika teringat kembali dengan orangtua angkat tang sangat ia sayangi.
Lizzie berharap mereka berada di sini untuk menghadiri pernikahan mereka. Air mata tidak bisa dibendung lagi untuk keluar. Ia cepat-cepat menghapus air matanya. Lizzie kembali memandang keluar jendela dan langit dengan arak-arakan awan seputih kapas menambah keindahan desa Zelenogradsk. Ia berharap pada saat hari pernikahannya, cuacanya akan sangat cerah.
Suara ketukan di pintu mengejutkannya.
" Masuk!"
Fanya yang sedang hamil muncul dari balik pintu. " Hai Lizzie!"
" Fanya," seru Lizzie senang.
" Bagaimana kabarmu hari ini?"tanya Fanya.
" Sangat baik. Aku tidak menyangka kamu datang sore ini. Ayo duduklah!"
Fanya duduk di tepi tempat tidur dengan perut yang mulai membesar. " Bagaimana kabarmu hari ini?"tanya Lizzie.
" Aku sangat baik."
" Kehamilanmu?"
" Baik-baik saja."
" Aku tidak sabar ingin segera anakmu dan Eric lahir," kata Lizzie.
" Aku juga sama denganmu," katanya sambil mengelus-elus perutnya. " Bagaimana persiapan pernikahanmu?"
" Semuanya berjalan lancar."
" Ini akan menjadi pernikahan terindah di desa ini. Aku sudah tidak sabar melihatmu menikah dengan Vladimir."
" Aku juga," jawab Lizzie malu-malu.
Diam-diam Lizzie memperhatikan sahabatnya. Fanya semakin cantik sejak ia menikah dan hamil. Pipinya yang putih dengan guratan merah di pipinya , rambutnya yang hitam cemerlang, dan lesung pipinya yang mempesona. Pantas saja jika Eric jatuh cinta kepada Fanya.
"Lizzie, suati hari nanti aku ingin anak-anak kita berjodoh."
" Kamu sudah memikirkan itu. Aku senang saja kalau anak-anak kita nanti berjodoh, tapi aku ingin anakku menikah dengan pasangan hidup yang mereka inginkan."
Fanya tersenyum." Kamu benar, tapi aku masih berharapa anakku dan anakmu berjodoh."
" Kita serahkan kepada Tuhan saja."
🍎🍎🍎
Anthony menemui saudara kembarnya di penjara. Setelah ia tahu memiliki saudara kembar, ia begitu terkejut apa lagi saudaranya itu yang sudah menyebabkan musibah yang terjadi pada keluarga Romanov. Setelah 3 bulan Grigor ditangkap, Anthony baru memiliki keingan untuk menemuinya.
Anthony memperhatikan Grigor yang sangat mirip dengannya. " Apa kabarmu?"tanya Anthony.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja. "
"Kamu sudah bertindak ceroboh kali ini. Kebencianmu pada keluarga Romanov yang tidak pada tempatnya sudah menghancurkan hidupmu."
"Aku tahu."
" Kamu sudah dibohongi oleh ibu."
" Aku tahu."
" Kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu."
" Terima kasih sudah mau datang menemuiku di sini. Jaga dirimu baik-baik."
" Aku akan menemuimu kembali."
Waktu berkunjung telah habis. Petugas penjara kembali membawa Grigor masuk.
🍎🍎🍎
Terdengar suara tawa gembira dan lepas dari Lizzie dan Fanya saat mereka turun dari tangga. Aleandra yang sedang membuat kue tersenyum mendengar tawa putrinya dengan sahabatnya. Tidak lama lagi, ia tidak akan sering mendengar tawa putrinya setelah menikah nanti, karena Lizzie akan dibawa ketempat lain untuk tinggal, meskipun begitu tidak ada yang lebih membahagiakan dalam kehidupan Aleandra melihat putrinya akan segera menikah dengan Vladimir.
Aleandra sangat senang akhirnya Lizzie bisa menemukan kebahagiaannya sendiri, meskipun ia harus rela berpisah dengan putrinya. Setidaknya sekarang ia sudah memiliki anak lagi yang bisa menghiburnya saat ia berada sendirian di rumah.
Lizzie dan Fanya masuk ke dapur dan langsung disambut oleh harummya aroma kue. Mereka duduk di meja makan untuk menikamti teh di sore hari.
" Oh ya Fanya, aku ingin memintamu sebagai pendamping pengantin. Apa kamu mau? Aku tahu saat ini kamu sedang hamil."
Fanya tersenyum." Tentu saja."
Lizzie terlihat sangat senang. "Terima kasih, Fanya. Kamu memang sahabat baikku."
Aleandra mengeluarkan kue kering dari oven dan menyimpannya dalam piring. Fanya memakannya.
" Nyonya Romanov, kue ini sangat enak."
" Terima kasih, Fanya."
Fanya memakan beberapa kue lagi, lalu Fanya seperti teringat sesuatu. " Apa kamu akan menikah dengan menggunakan cadar?"
" Tentu saja aku akan memakainya. Oh ya aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu."
Fanya mengikuti Lizzie masuk ke kamar lain yang berada di lantai satu. Sebuah gaun pengantin yang sangat indah terpasang disebuah manekin. Fanya begitu takhun dan terpesona melihat gaun pengantin Lizzie yang sangat indah.
__ADS_1
" Bagaimana menurutmu?"
" Lizzie, ini sangat luar biasa. Baru pertama kali aku melihat gaun pengantin seindah ini."
" Aku juga. Gaun pengantin ini gaun pengantin impianku."
Fanya juga melihat sepatu putih yang memiliki banyak permata di atas kursi di samping manekin.
" Sepatu ini juga sangat indah. Kamu akan nampak sangat cantik dan seperti ratu di hari pernikahanmu. Aku sangat yakin sekali pernikahanmu ini akan menjadi perbincangan hangat di desa ini selama beberapa hari ke depan, bahkan sekarang beberapa penduduk desa selalu membicarakan tentang kamu dan Vladimir yang akan segera menikah."
" Aku dan Vladimir sudah mengundang semua penduduk desa untuk hadir."
" Ini akan menjadi pernikahan termewag abad ini desa Zelenogradsk,"kata Fanya dengan penuh antusias.
" Ini akan menjadi pernikahan impianku selama ini dan sebentar lagi akan segera terwujud."
" Aku senang bisa menjadi salah satu saksi dalam sejarah kehidupan barumu ini."
Lizzie memeluk Fanya, karena merasa terharu." Terima kasih, karena selama ini kamu selalu menjadi sahabat baikku."
🍎🍎🍎
Ini pertama kalinya Silverbells Farms kembali ceria setelah terjadi tragedi bertahun-tahun silam dan terlihat begitu bergairah menyambut pesta pernikahan yang akan di adakan sebentar lagi. Itulah yang dilihat oleh Xena Watson saat melewati rumah Lizzie yang dulunya dimilki oleh keluarga Thusenka.
Xena kembali merindukan Kevin dan Antonina yang telah tiada. Ia juga kembali mengingat kecerian Antonina saat mereka memiliki seorang anak. Ia rindu masa-masa itu. Di rumah itu belum pernah terjadi pernikahan dan sebentar lagi pernikahan akan terjadi di sana.
Xena merasa aneh memikirkan Lizzie akan segera menikah dan waktu begitu cepat berlalu. Lizzie sekarang bukan gadis kecil lagi. Xena sudah memikirkan hadiah untuk pernikahan Lizzie nanti. Ia akan memberikan dua seprei tenunnya.
Dalam perjalanan pulang menuju rumahnya tidak sengaja Xena bertabrakan dengan seseorang. " Maafkan saya. "
Xena terkejut melihat orang yang bertabrakan dengannya. " Ini tidak mungkin,"katanya.
Orang itu tersenyum." Halo bibi Xena!"
" Iris."
" Bagaimana kabar bibi?"
" Baik."
Xena memperhatikan wanita yang ada di depannya dari atas sampai bawah, bahkan ia hampir tidak mengenalinya.
" Kamu sudah banyak berubah."
" Itu benar. Inilah aku sekarang."
" Kapan kamu datang ke sini?"tanya Xena.
" Kemarin malam. Hari ini aku bermaksud menemui bibi."
" Kalau begitu kita bicara di rumah saja."
" Desa ini tidak banyak berubah ya meskipun aku sudah meninggalkannya 20 tahun yang lalu."
Xena membuka pintu pagar kayu dan Iris berhenti di depan rumah Xena memperhatikan semuanya dari balik kacamata hitamnya.
" Rumah Bibi Xena juga tidak berubah sama sekali."
" Masuklah!"
Iris masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar dan cepat. Ia duduk di sofa. Xena pergi ke dapur membawa kue dan minuman.
" Jadi kenapa kamu datang ke sini lagi? Bukannya dulu kamu pernah mengatakan tidak akan pernah datang ke sini lagi."
Iris meminum tehnya, lalu ia tersenyum. " Aku berubah pikiran. Ternyata aku merindukan desa ini."
" Sekarang kanu tinggal di mana?"
" Aku menyewa kamar di penginapan."
" Kenapa kamu tidak tinggal denganku saja di sini?"
" Aku tidak ingin merepotkan bibi."
" Berapa lama kamu akan tinggal di sini?"
" Mungkin seminggu."
Xena memandangi keponakannya yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui. Iris dulu tinggal di desa Zelenogradsk bersama orangtuanya, tapi sejak orangtuanya meninggal, ia pergi meninggalkan desa ini setelah menjual rumah orangtuanya untuk memulai hidup baru di kota. Sejak saat itu Xena tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang ini.
" Kebetulan Minggu depan akan ada pesta pernikahan di sini. Semua penduduk desa diundang."
" Benarkah?"
"Iya."
" Pasti akan sangat menyenangkan. Siapa yang akan menikah?"
" Lizzie Romanov dan Vladimir Kalashnikov."
" Aku tidak boleh membuang kesempatan menghadiri pesta pernikahan meriah mereka."
" Aku yakin pasti kamu akan menyukainya."
Iris kembali meminum tehnya dan tersenyum kepada bibinya, Xena.
🍎🍎🍎
Kebahagian Lizzie semakin bertambah ketika Vladimir datang ke rumahnya. Pria itu datang dengan wajah bahagia.
"Hai, apa aku menganggu kalian?"tanyanya.
__ADS_1
" Sama sekali tidak. Aku baru saja mau pulang,"kata Fanya. " Sampai jumpa, Lizzie!"
" Sampai jumpa, Fanya!"
" Bagimana kalau kita jalan-jalan sebentar?"tanya Vladimir ketika Fanya sudah pergi.
" Baiklah."
Mereka berjalan- jalan di bawah pepohonan apel yang membentuk sebuah kanopi di dekat anak sungai. Air yang mengalir menimbulkan suasana yang sangat tenang.
" Aku senang bisa melihatmu hari ini," kata Lizzie yang terlihat malu-malu.
" Aku juga."
" Aku merindukanmu."
" Aku juga merindukanmu."
Mereka memutuskan duduk dibangku kayu panjang di bawah pohon apel. Mereka membicarakan kehidupan baru mereka setelah menikah nanti.
" Pasti kamu tahu aku akan tugas ke luar kota untuk sementata setelah kita menikah nanti."
" Aku tahu."
" Rencananya aku akan menyewa sebuah rumah untuk kita."
" Untuk masalah itu aku sudah membicarakan iti dengan keluargaku. Bagaimana selama di Belgorod, kita tinggal di rumah kakekku. Rumah itu kosong, jadi kita bisa tinggal di sana. Itu pun kalau kamu tidak keberatan tinggal di sana."
"Apa tidak apa-apa?"
" Tentu saja tidak apa-apa. Kakek dan orangtuaku senang kita bisa tinggal di sana."
" Baiklah. Kita akan tinggal di sana."
Angin sejuk berhembus membawa serta aroma musim semi yang baru saja tiba. Lizzie sudah tidak sabar menunggu hari pernikahannya dengan Vladimir dan memulai hidup baru dengannya. Ia membenamkan kepalanya di dada bidang Vladimir. Pria itu mengecup puncak kepalanya menikmati setiap momen yang ia lalui bersama Lizzie.
🍎🍎🍎
Malam harinya saat Lizzie dan orangtuanya telah selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga dengan perapian menyala membuat ruangan itu terasa sangat nyaman.
" Apa kamu sudah memutuskan siapa saja yang akan kamu undang ke pernikahanmu?"tanya Dimitri.
" Ayah kan sudah tahu kalau aku mengundang semua penduduk desa."
" Maksud Ayah selain penduduk desa?"
" Beberapa teman kuliahku dulu. Tidak banyak. Bagaimana dengan Ayah?"
" Ayah hanya beberapa teman dekat saja."
" Apa kakek, nenek, dan saudara kembar ibu akan datang?"
" Mereka akan datang."
" Aku akan sangat senang, jika mereka datang semua."
Suara tangisan bayi terdengar dari pengeras suara bayi. " Ibu akan lihat adikmu dulu."
Lizzie mengangguk.
" Waktu begitu cepat berlalu. Kamu sudah akan menikah lagi. Rasanya Ayah ingin sekali kamu tetap kecil. "
" Aku akan tetap menjadi putri Ayah meskipun aku sudah menikah. "
" Tentu saja. Bagi Ayah kamu tetap putri kecil ayah yang lucu dan menggemaskan."
Dimitri mencubit pipi Lizzie dengan gemas.
" Ayah."
Aleandra kembali ke ruang tamu membawa bayi laki-laki dan bayi itu terlelap tidur dipelukan ibunya.
"Kalian tidak akan kesepian lagi, karena ada Ilias yang akan menemani kalian."
" Nanti kamu harus sering-sering telepon kami, jika sudah ada di Belgorod," kata Aleandra.
" Tentu saja, Bu. Aku usahakan akan sering menelepon kalian."
Lizzie melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam dan ia sudah mulai merasa mengantuk.
"Aku mau ke kamar dulu. Mau tidur. Selamat malam!"
" Malam, Lizzie!"kata Dimitri dan Aleandra.
Aleandra menatap suaminya yang sedang terlihat cemas.
" Lizzie akan baik-baik saja. Dia sudah tumbuh menjadi gadia dewasa."
" Selama ini aku belum pernah tinggal berjauhan dengannya."
"Aku tahu. Setelah Lizzie menikah, Vladimir yang akan menjaganya menggantikan kita."
" Kapan-kapan kita harus menemuinya di Belgorod."
"Tentu saja. Apa kamu juga mau tidur? Aku sudah mengantuk,"kata Aleandra.
" Sepertinya aku juga sudah mengantuk. Sebaiknya kita tidur saja."
Mereka masuk ke kamar mereka yang berada di lantai satu. Aleandra menidurkan Ilias di box bayi, lalu menutupnya dengan kelambu. Ia kemudian membaringkan tubuhnya dalam pelukan suaminya. Suara semilir angin menjadi pengantar tidur untuk mereka.
Lizzie masih belum tidur dan dalam kegelapan kamarnya, ia menatap langit-langit kamarnya. Sinar cahaya bulan masuk menembus jendela kamarnya yang agak sedikit terbuka. Gorden melambai-lambai tertiup oleh angin yang masum membuat kamar Lizzie terasa sangat sejuk.
__ADS_1
Dibenaknya ia sudah membayangkan pernikahan impiannya akan seperti apa. Hatinya terlalu gembira, sehingga ia sulit tertidur meskipun sudah mengantuk.
Sebentar lagi hari akan berganti dan Lizzie berharap besok akan lebih baik. Ia memejamkan matanya mencoba untuk tidur dan memulai harinya lagi besok. Suara pepohonan yang berkeresak tertiup angin, suara aliran air di anak sungai, suara binatang malam, dan cahaya kunang-kunang membingkai malam yang indah di desa Zelenogradsk. [ ]