
Remi mendorong kursi rodanya dan membuka pintu kamar. Serafina memberi salam pada Georhy dan Regina terlihat sedang membelai kening Alexei yang masih belum sadarkan diri dengan tatapan sedih.
"Paman."
Lalu Regina memberi salam kepadanya.
‘’Jangan panggil aku paman. Sebentar lagi kamu dan Alexei akan menikah. Jadi panggil aku, Ayah."
"A-ayah."
Georgy tersenyum.
"Apa dia masih belum sadar?’’
"Belum."
"Ada apa Regina, kamu terlihat bingung dan sedih?’’
"Apa pernikahan kami akan tetap berjalan seperti rencana semula atau pernikahan kami diundur sampai Alexei benar-benar sembuh?’’
"Tidak. Pernikahan kalian akan berjalan sesuai rencana tidak ada perubahan. Regina, apa kamu mencintai Alexei?’’
"Tentu saja aku mencintainya."
"Apa pun keadaannya sekarang?’’
"Iya. Apa pun keadaannya."
"Syukurlah kalau begitu. Regina, ada yang ingin aku katakan padamu tentang kesehatan Alexei sekarang?’’
"Apa yang dokter katakan pada Ayah?’’
Georgy mengenggam tangan Regina dengan kuat.
"Regina, Alexei sekarang sudah tidak bisa melihat lagi."
Serafina dan Juliet menutup mulutnya, karena terkejut dan Regina mulai meneteskan air matanya lagi.
"Tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Tidak...tidak.’’
Regina mengeleng-gelengkan kepalanya. Ia mendekap dadanya dan jantungnya berdetak sangat kuat. Napasnya terasa sesak menyumbat tenggorokannya.
"Pasti itu bohongkan. Katakan pasti itu bohong."
Regina jatuh terduduk dilantai dan menangis dengan tersedu-sedu. Juliet mendekati Regina dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Sebaiknya bawa pergi dulu Regina dari sini,’’perintah Georgy.
"Ayo Regina!"
Juliet membantu Regina berdiri yang masih menangis. Di luar kamar mereka duduk disalah satu bangku yang ada di lorong rumah sakit. Juliet pergi membeli makanan dan minuman untuk Regina.
Serafina keluar dari kamar dan melihat Regina sedang tertunduk sedih. Serafina duduk di sampingnya.
"Kamu harus kuat. Saat ini Tuan Sovetsky sangat membutuhkan dirimu. Pasti dia akan sangat sedih matanya tidak bisa melihat lagi."
"Aku tahu, tapi aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa untukknya."
"Jangan berkata seperti itu. Dukungan dan cintamu sangat membantunya. Tuan Sovetsky ada kemungkinan bisa melihat lagi."
"Eh apa maksud Anda?’’
"Asal mempunyai donor kornea mata pasti akan dapat melihat lagi. Sayangnya saat ini masih belum ada dan kita tidak tahu kapan akan mendapatkan donor mata untuk matanya, tapi setidaknya kita masih ada harapan."
Juliet datang membawa makanan kecil dan minuman untuk Regina.
‘’Ini minumlah! Itu akan membuatmu lebih baik."
Juliet kemudian melirik Serafina.
" Nona Serafina wartawan di depan rumah sakit sangat banyak mereka ingin mengetahui perkembangan kesehatan Alexei."
‘’Aku akan segera mengurus ini dengan Tuan Sovetsky. Kami sepakat untuk mengadakan konferensi pers. Kalau begitu aku permisi dulu."
Tidak lama Georgy pun keluar bersama dengan Remi. Regina memberi salam dan pergi meninggalkan Regina dan ibunya.
🍀🍀🍀
Tegina dan Juliey tertidur di kursi dan dikagetkan oleh teriakan Alexei. Mereka berdua saling pandang dan segera masuk. Dilihatnya Alexei sedang berteriak-teriak dan menangis. Perban di matanya sudah terlepas. Juliet segera memanggil dokter. Regina sangat sedih melihat keadaan kekasihnya seperti itu. Hatinya terluka. Ia pun ikut menangis.
"Alexei, tenanglah! kamu jangan seperti ini."
"Regina, kamu kah itu?’’
"Iya. Ini aku. Aku ada di sini."
Regina memeluk Alexei dan berusaha untuk menenangkannya.
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tidak bisa melihat?’’teriaknya.
Regina memandang Alexei dan menghapus air matanya.
"Matamu....’’
Perkataan Regina terpotong, karena dokter sudah datang dan segera memeriksa Alexei. Juliet dan Regina menunggu di luar. Setelah dokter dan perawat keluar, Regina dan ibunya masuk. Alexei sedang berbaring diam di tempat tidurnya dan matanya sudah kembali diperban.
"Alexei."
Regina mengenggam tangannya, lalu menciumnya.
‘’Aku akan menunggu di luar,"kata Juliet.
Regina menanggukan kepalanya lagi dan menatap kembali kekasihnya
"Kamu tidak apa-apa kan?’’tanya Regina. kemudian mengecup keningnya.
"Kita batalkan saja pernikahan kita."
"Apa kamu bilang? Tapi Alexei...."
__ADS_1
"Kamu sudah tahukan sekarang aku buta. Aku sudah tidak pantas lagi berada bersamamu."
"Kamu jangan bilang seperti itu. Aku mencintaimu apa pun keadaanmu. Aku ingin tetap berada di sisimu, jadi jangan pernah kamu mengatakan itu lagi."
"Dengan keadaanku seperti ini mana mungkin aku bisa melindungimu."
"Dengarkan aku, sayang, aku tidak peduli kamu buta atau tidak aku akan tetap di sisimu. Mungkin sekarang kamu tidak bisa melindungiku, tapi aku bisa melindungimu. Sekarang giliranku untuk melindungimu. Selama ini kamu yang selalu melindungiku dan satu lagi kamu sama sekali tidak merepotkanku. Alexei, izinkan aku untuk berada di sisimu. Aku mohon."
Regina mengecup lembut bibirnya dan menyelimutinya dengan baik.
"Sekarang istirahatlah! Aku akan tetap di sini menemanimu."
🍀🍀🍀
Keesokan paginya, Regina membuka jendela kamarnya. Sinar matahari menyelinap masuk. Dia berdiri dan termenung, angin berhembus mempermainkan rambutnya. Regina bergegas pergi kerumah sakit. Sesampainya di sana Alexei menolak untuk ditemui olehnya dan membuat hati Regina sedih. Dia duduk di depan kamarnya selama berjam-jam.
Serafina merasa kasihan melihat Regiba.Tatapannya selalu mengarah ke kamar.
"Aku akan menunggu di sini dengan begini aku akan merasa lebih dekat denganmu, karena aku tidak ingin berada jauh lagi darimu,’’kata Regina dalam hati.
Selama beberapa hari Regina rajin menjenguk Alexei di rumah sakit meskipun hanya duduk di depan kamarnya, karena Alexei selalu menolak kedatangannya sampai kekasihnya di izinkan untuk pulang. Alexei masih saja menolak untuk bertemu dan berbicara dengannya.
Serafina merasa kasihan dan menyuruh Regina masuk dengan syarat Alexei tidak boleh mengetahui kehadirannya. Regina pun menyetujuinya. Ia pelan-pelan masuk. Alexei sedang duduk di sofa, sedangkan Serafina membereskan pakaiannya ke dalam tas.Regina hanya memandangnya dalam diam dan air matanya mulai menetes. Ia pun berlari keluar tidak ingin Alexei menyadari keberadaanya dan mendengar tangisannya.
Alexei telah tiba di rumahnya dan langsung masuk ke kamarnya. Dia tidak nafsu makan dan juga tidak bersemangat. Georgy sedih melihat keadaan Alexei yang seperti itu. Dua hari pun telah berlalu. Regina sudah tidak tahan lagi dengan sikap Alexei yang selalu menolak kehadirannya. Padahal mereka masih saling membutuhkan.
Regina pun pergi ke rumahnya dan Georgy sangat senang dengan kedatangannya dan menyuruhnya masuk ke kamar Alexei. Di sana Alexei sedang berjalan dan beberapa kali menabrak benda-benda yang ada di depannya. Regina kemudian menolongnya.
"Regina, apa yang kamu lakukan di sini? Cepat pergi! Aku tidak membutuhkanmu."
Regina sedih Alexei mengusirnya.
"Ayo cepat pergi dari sini!’’teriaknya.
Alexei mencengkram lengan Regina dengan kuat, lalu menyeretnya keluar kamar, meskipun ia harus menabrak beberapa benda sebelum mencapai pintu. Dengan paksa ia mengeluarkan Regina dari kamarnya dan menutup pintunya. Alexei tidak mempedulikan permohonan Regina untuk masuk.
"Dengar aku. Aku akan tetap di sini dan aku akan menunggumu di sini sampai kamu mengizinkan aku masuk dan kamu keluar kamar. Aku tidak akan makan atau pun minum’’.
Akhirnya Regina duduk di depan kamar Alexei dan sampai malam tiba Regina masih duduk di sana. Geirgy dan para pelayan sangat kasihan melihatnya seperti itu. Dua hari sudah terlewati Regina masih berada di depan kamar Alexei tidak beranjak sedikit pun, tidak makan atau pun minum sama sekali. Tubuhnya sudah terlihat lemas dan akhirnya Regina jatuh pingasan.
"Regina sadarlah!’’kata Georgy.
Georgy sudah geram dengan sikap Alexei dan mengetuk pintu dengan keras.
"Alexei, mau sampai kapan kamu seperti ini? Sekarang Regina sudah pingsan di depan kamarmu."
Alexei merasa sangat cemas mendengar Regina pingsan akhirnya Alexei membukakan pintunya dan menyuruh pelayan ayahnya untuk membaringkannya di tempat tidur.
"Regina sangat mencintaimu. Biarkan dia berada di sisimu dan menjagamu.Tolong mengertilah perasaannya."
Georgy keluar dari kamar Alexei dan sekarang tinggalah mereka berdua di kamar. Dengan meraba-raba Alexei berusaha untuk menyentuh Regina. Jari-jari tangannya meraba wajah Regina, kemudian mengecup keningnya, lalu beralih pada hidungnya kemudian bibirnya.
"Maafkan aku, sayang. Aku sudah membuatmu seperti ini."
Alexei mulai menciumi wajah Regina dan menghujaninya dengan ciuman mesra.
🍀🍀🍀
"Akhirnya mereka dapat menikah juga. Aku sudah tidak sabar ingin mendapatkan cucu dari mereka."
Empat bulan sudah usia pernikahan mereka. Masumi sudah terbiasa dengan kegelepan dan dia juga sudah mulai menghapal kamarnya, sehingga dia tidak menabrak lagi barang-barang yang ada disekitarnya. Alexei tampak lebih ceria dan semangat. Dia senang masih ada orang yang mencintainya dalam keadaannya seperti ini.
Regina begitu memanjakannya. Jabatan direktur diganti oleh orang kepercayaan ayahnya. Sore itu Alexei sedang menikmati tehnya di kamar kemudian Regina masuk.
Regina langsung mengecup bibir suaminya.
"Aku pulang!’’
Regina duduk dipangkuan suaminyadan mengecup keningnya.
"Kenapa kamu sudah pulang ?’’
"Aku sengaja pulang lebih awal, karena aku mau memberitahukanmu kabar gembira’’.
"Kabar apa?’’
"Kita sebentar lagi akan mempunyai anak."
Alexei terlihat terkejut bercampur bahagia.
"Anak?’’
"Iya sayang. Kamu senang?’’
Alexei mendekap Regina dengan erat. ‘’Tentu saja senang. Terima kasih sayang sudah memberiku hadiah yang sangat indah."
7 bulan kemudian Regina melahirkan seoarang bayi perempuan yang lucu dan cantik dan diberi nama Mikhela. Serafina mengantar Alexei ke kamar bayi. Dia berharap ingin sekali melihat wajah anaknya walaupun hanya sekali.
"Serafiba, anakku mirip siapa?’’
"Dia mirip Regina, tapi matanya mirip denganmu."
Alexei tersenyum.
"Andai saja aku bisa melihatnya dengan kedua mataku ini."
"Saya yakin suatu hari Anda akan diberi kesempatan untuk melihat lagi."
"Selama ini aku selalu menunggu hari itu tiba."
🍀🍀🍀
3 bulan kemudian
Alexei sedang bermain dengan anaknya di tempat tidur, sedangkan Regina pergi ke apartemennya m untuk bertemu dengan temannya. Dia tidak sadar sebuah mobil sedan hitam mengikutinya pelan-pelan dari arah belakang.
Regina melihat temannya dan melambaikan tangannya di depan apartemen dan ketika Regina akan menyebrang, mobil itu langsung menabraknya. Regina terpental sangat jauh dan temannya dibuat kaget dengan kejadian itu. Mobil itu langsung melarikan diri. Temannya segera mendekati Regina dan memeriksa keadaanya. Regina masih bernapas dan segera memanggil ambulan. Di dalam ambulan, Tegina mengenggam tangan temannya.
"Sudah jangan banyak bicara dulu. Kita akan segera sampai di rumah sakit."
__ADS_1
"Aku rasa aku tidak akan selamat."
"Kamu ini bicara apa? Jangan bicara yang bukan-bukan. Bertahanlah!’’
"Kalau aku mati tolong berikan mataku pada Alexei."
Temannya sangat terkejut dengan permintaan Regina.
"Aku mohon kabulkan permintaanku dan juga sampaikan pada Alexei kalau aku mencintainya di mana pun aku berada dan juga tolong sampaikan maafku padanya, karena aku sudah pergi meninggalkannya duluan dan tolong jaga anakku. Sepertinya aku tidak akan bisa melihatnya tumbuh menjadi dewasa. Katakan kepada mereka kalau aku sangat mencintai mereka berdua."
Luiza sudah tidak dapat menahan kesedihannya dan akhirnya menangis. Sesampainya di rumah sakit, Regina segera diperiksa dan Luiza terlihat mondar-mandir sambil menginggit jarinya. Tidak lama kemudian orangtua Regina dan Vladimir datang.
"Apa yang terjadi?’’tanya Nicola.
Lalu Luiza menceritakan kejadian siang itu dan juga menceritakan permintaan Regina untuk mendonorkan korbea matanya untuk Alexei agar dia dapat melihat kembali. Orangtuanya dan Vladimir terkejut mendengar cerita Luiza.
Dokter dan perawat akhirnya keluar dan memberitahukan keadaan Regina. Dokter bilang kalau jantung Regina sudah hancur dan hidupnya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Mereka langsung menangis dan jatuh terduduk. Juliet pun langsung menjadi lemas dan bersandar pada tembok. Vladimir mengambil ponselnya dan menghubungi Georgy tentang keadaan Regina.
Gerorgy menjatuhkan teleponnya seakan tidak percaya berita yang baru saja disampaikan kepadanya. Mereka ke ruang ICU untuk melihat Regina.
"Ayah, Ibu,’’kata Regina lemah.
‘’Jangan banyak bicara dulu. Kamu harus banyak istirahat."
‘’Tidak. Waktuku sudah tidak banyak lagi. Aku harus memeastikan kalau Alexei nantinya akan mendapatkan mataku. Kalian berjanjilah. Aku mohon."
"Kami berjanji,’’kata Nicola disela isak tangisnya.
" Setelah aku mati tolong jaga suami dan anakku."
Mereka berdua menganggukan kepala mereka dan akhirnya Regina menghembuskan nafas terakhir.
"Reginaaa,’’teriak Juliet. Vladimir menangis melihat Regina yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Regina, bangun kamu jangan mati. Aku mohon,’’kata Juliet sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
🍀🍀🍀
Georgy ketika akan pergi kerumah sakit mendapat telepon dari Serafina dan mengabarkan Regina telah meninggal. Regina akan mendonorkan matanya untuk Alexei. Georgy pun menangis dan menyuruh Remi untuk memberitahu Alexei kalau dia sudah mendapatkan donor mata. Georgy juga memerintahkan jangan dulu memberitahukan kematian Regina dulu.
"Maaf Tuan. Aku ingin mengatakan kalau Anda sudah mendapatkan donor mata dan disuruh pergi kerumah sakit untuk segera melakukan operasi."
Alexei sangat senang mendengarnya dan terlihat wajah ceria menghiasi wajahnya yang tampan.
"Benarkah itu?’’
"Iya."
"Lalu bagaimana dengan Mikahela. Regina belum kembali."
"Biar pelayan di sini yang menjaga anak Anda."
Alexei segera bersiap-siap pergi ke rumah sakit dan dirinya masih belum mengetahui kalau donor matanya adalah istrinya.
Alexei pun segera melakukan operasi mata dan operasi tersebut berhasil dan dokter mengatakan Alexei akan dapat melihat kembali.
‘’Ayah, Regina ada di mana? Dari tadi aku tidak merasakan kehadiarannya."
Georgu menatap pilu Alexei.
‘’Dia sudah pulang untuk istirahat dan dia sangat senang kamu akan bisa melihat lagi."
‘’Oh begitu. Aku sudah tidak sabar ingin melihat anakku dan Regina."
Georgy menangis dalam diam. Beberapa hari kemudian perban mata Alexei dibuka dan dia dapat melihat kembali. Matanya langsung tertuju pada bayi yang berada dalam buaian Juliet, lalu Juliet memberikannya pada Alexei.
"Kamu benar. Dia mirip dengan Regina Dia sangat cantik. Anakku."
Alexei mencium lembut keningnya, lalu ia tidak menemukan Regina di mana pun.
‘’Ayah, apa Tegina belum pulang dari luar kota."
Beberapa hari yang lalu Georgy terpaksa berbohong pada Alexei kalau Regina ada dinas di luar kota dan Alexei mempercayainya.
"Alexei, aku akan mengajakmu bertemu dengan Regina."
Georgy dan Alexei masuk ke dalam mobil.
"Kita akan pergi ke mana?’’
"Nanti juga kamu akan tahu."
Georgy dan Serafina saling menatap, karena Alexei sebentar lagi akan mengetahui kebenaran tentang Regina. Alexei asyik bercanda dengan anaknya dan sesekali diciumnya. Akhirnya Mobil itu berhenti disebuah gereja, lalu mereka masuk ke area pekuburan.
"Kenapa kita pergi kesini?"
Georgy dan Serafina hanya diam. Alexei merasakan ada yang disembunyikan oleh mereka berdua, lalu tiba-tiba perasaan tidak enaknya mulai menyergap ke dalam hatinya.
‘’Di sini,’’kata Georgy.
"Mana Regina?’’tanya Alexei
Mereka diam dan tidak menjawab.
‘’Ayah, di mana Tegina? Di mana Reginaku?’’kata Alexei dengan sedikit nada tinggi.
Georgy lalu menujuk sebuah nisan.
"Regina ada di sana."
Alexei melihat batu nisan yang masih baru dan disana tertulis nama Regina.
‘’Ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin Regina meninggal. Pasti kalian sedang bercandakan?’’
‘’Tidak. Kami tidak bercanda."
‘’Tidaaakkk’’teriakan Alexei mengema keseluruh area pekuburan.
Alexei terbangun dari tidurnya tubuhnya basah oleh keringat. Ia menoleh ke samping tempat tidurnya. Ia mendesah lega menemukan Regina dan anak perempuannya sedang tertidur lelap. Ternyata itu hanya mimpi. [ ]
__ADS_1