Si Cupu Itu Milikku

Si Cupu Itu Milikku
Bab 17 Kebencian Neina


__ADS_3

happy reading 😚


Neina dan Fira sudah sampai di meja makan sudah terlihat Raican tengah menunggu mereka.


"Rey kemana Kenapa tidak ikut makan malam Ney..."


"kak Rey sebentar lagi kesini kok pa.."


"oh Yasudah kita makan terlebih dahulu papa sudah lapar banget ini...kalo menunggu Rey terlalu lama..." Raican menatap sang istrinya minta dilayani, Fira yang mengerti pun dengan sigap mengambilkan makanan untuk suaminya.


"apa gue harus kaya mama...ah gak mau gue gengsi gue harus ngambilin makanan untuk si bad boy..."


"tapi ...itu memang sudah jadi tugas gue..." neina menghela nafasnya.


"bodo amat lah Ney...dia kan punya tangan sendiri biar dia ambil sendiri aja.." neina terus bergelut dengan pikirannya.


"kenapa kamu diam saja Ney ...apa ada masalah dengan makanannya..." Raican bertanya pada menantu nya yang masih diam tidak mengambil makanan, sebelum Neina menjawab Fira lebih dulu menimpali.


"ah papa ini gimana sih...pasti Ney sedangkan menunggu Rey..." Fira tersenyum lembut pada menantu kesayangan nya, sementara Raican hanya mengangguk-angguk saja.


"hufttt menunggu si bad boy... hanya dalam mimpi..."


"ngomong-ngomong Mommy lagi apa yah...apa sudah sampai...tapi kayanya belum deh... hufttt baru beberapa jam tapi kenapa rasanya sudah bertahun-tahun...mom Ney kangen..."


"sayang kenapa kau menangis..." Fira menghentikan suapannya dan menghampiri neina yang terisak.


" Ney hanya teringat mommy..." ucap neina lirih.


"mommy mu pasti baik-baik saja sayang... sudah yah jangan menangis lagi...tuh suami mu sudah datang..." tunjuk Fira neina pun melirik kearah tunjukkan Fira terlihat Reynaldo tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak terbaca.


"mom pasti baik-baik saja...disana ada daddy dan bang zales..." Reynaldo menghampiri neina dan duduk di samping neina sementara Fira sudah duduk kembali di dekat suaminya.


"sudah jangan menangis lagi...kak Rey nggak suka lihat Ney nangis terus..." Reynaldo hendak mengusap cairan bening yang masih menetes di pipi Neina namun dengan cepat Neina menghapus sendiri.


"enak aja lho mau menyentuh pipi gue..." Neina mendengus.


"Ney ayo ambilkan makanan untuk Rey... mulai sekarang Ney harus belajar melayani suami Ney dengan baik..." nasehat Fira.


"iya ma..."


"nggak usah seperti ini juga ma...Rey bisa ngambil sendiri..."


" biarkan istri mu yang menyiapkan Rey... melayani suami adalah ibadah..." sekarang Raican yang angkat bicara.


"kak Rey lauk nya mau apa..."

__ADS_1


"rendang daging sapi balado saja..." neina mengangguk lalu memberikan satu Piring penuh nasi serta lauk pauk yang diinginkan suaminya.


"makasih Ney..." ucap Rey berkata dengan tulus sementara Neina hanya tersenyum tipis itupun hanya akting mata Karena didepan mereka ada mertuanya.


dua puluh menit kemudian mereka sudah menyelesaikan makan malam nya, Neina sudah 5 menit yang lalu ke kamar sementara Reynaldo masih betah di ruang tamu bersama kedua orangtuanya.


"Rey apa kamu tidak ada niat menyusul istri mu..." tanya Raican pada putranya yang masih sibuk bermain game.


"tidak pa...Rey masih belum ngantuk..." jawab Reynaldo tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang dia pegang.


" kamu tidak bisa seperti itu Rey dia dikamar sendirian lebih baik kau menyusulnya..." nasehat Raican namun tidak di gubris Reynaldo.


" Reynaldo...apa kau tidak mendengarkan papa..." Raican menekan kata-katanya.


" ck dia sudah besar pa nggak perlu di temenin..." kesal Reynaldo.


" Reynaldo kau...."


"sudah mas jangan marah-marah gak enak kalo di dengar Neina...dan untuk mu Rey cepat masuk kamar lihat istri mu apa dia sedang menangis lagi...kamu jangan keasyikan main game terus sekarang kamu sudah jadi suami kamu sudah mempunyai tanggung jawab..."


" gue gak masalah harus nemenin dia...tapi dia yang bermasalah gak mau gue temenin... jangankan gue temenin lihat muka gue aja enek..." Reynaldo berdecak namun dia tetap bangkit dari tempat duduknya berjalan menaiki tangga.


"papa jangan terlalu kasar sama Rey dan papa juga jangan terus marah-marah kaya gitu gak enak sama Ney..."


"putra mu sangat susah di atur hon..." Fira memutarkan matanya.


"hon jangan pernah..."


"papa memang belum sadar-sadar... sudahlah mama mau ke kamar saja..."


.


.


.


Di kamar


Neina duduk di tepi ranjang dengan terus memandangi ponselnya berharap sang mommy mengabarinya, namun sepertinya takdir sedang tidak berpihak padanya sang mommy yang ditunggu-tunggu belum memberikan kabar.


ceklek perhatian Neina teralihkan dengan kedatangan Reynaldo dengan muka kusutnya.


"kenapa lho masuk kesini..."


"ini kamar gue ya tentu kalo mau tidur masuk kesini...bego di pelihara..." gumam Reynaldo.

__ADS_1


"apa lho bilang gue bego...jaga ya ucapan lho..." sentak Neina.


"lho jangan ngajak berantem gue cape mau tidur..."


"berhenti disana...gue gak mau tidur satu kasur bareng lho..." sentak Neina.


"kalo bukan disini terus gue tidur dimana lagi..." Reynaldo menaikan suaranya satu oktaf.


"disana ada sofa besar lho tidur aja disana..." ketus Neina tangan Reynaldo terkepal erat mata tajamnya menyorot tidak suka pada Neina namun bukannya gentar Neina malah membalas pelototan nya.


" mau lho apa sih...gue udah berusaha baik sama lho...gue udah ajukan diri untuk jadi suami yang bertanggung jawab dan baik sama lho...tapi lho tolak mentah-mentah...mau lho apa hah... jangan menguji kesabaran gue Neina... " geram Reynaldo.


" lho tanya mau gue apa... dengerin ini baik-baik Reynaldo... sampai kapanpun gue gak akan pernah mau sama lho apalagi dekat-dekat sama lho...lho udah hancurin mental dan hati gue...dan dengan gampangnya lho ngajak gue membina hubungan rumah tangga ciuhhhh hanya di mimpi lho... sampai kapan pun gue benci sama lho gue benci lho... gara-gara lho mental gue hancur... gara-gara lho satu sekolah benci sama gue dan bully gue habis-habisan..." mata Neina menatap tajam .


"gue minta maaf kalo memang itu nyakiti lho tapi gue mohon lupakan dan mari kita mulai dari awal lagi..." Reynaldo menurunkan nada suaranya lagi


"ck lho pikir dengan lho minta maaf bisa nyembuhin hati gue...lho salah Reynaldo lho salah besar..." Reynaldo yang mendengarkan penolakan lagi dia pun berteriak


"STOP..."


" sekarang terserah lho saja.... gue cape gue gak mau berdebat lagi...suka gak suka gue bakal tidur di sini...kalo lho keberatan lho bisa tidur di sofa...." Reynaldo melepaskan sandalnya dan langsung membaringkan tubuhnya begitu saja tanpa melihat kemarahan Neina.


"baru satu malam saja gue udah di buat emosi Mulu... bagaimana kedepannya apa gue bisa bertahan ..."


"hufttt...gue gak tau harus gimana..." Reynaldo meraup wajah nya dengan emosi diliriknya Neina yang merebahkan tubuhnya di sofa besar dengan membelakanginya.


" gue gak bermaksud nyuruh lho tidur disana Ney...gue mau lho bisa terima gue sebagai suami lho...tapi alih-alih menerima lho malah tidur di sana..." Reynaldo menatap sendu. punggung Neina.


Tik Tik Tik mata Reynaldo terbuka dilihatnya jam masih menunjukkan pukul dua dini, dengan badan malas Reynaldo mendudukkan bokongnya, matanya langsung tertuju pada neina yang tidur di sofa dengan meringkuk tanpa selimut atau pun bantal.


buggggg Reynaldo memukul kasur dengan kasar , kakinya turun dari kasur dengan kasar diraihnya tubuh neina dengan gerakan penuh emosi.


"lho benar-benar keras kepala...gue pikir lho bakal pindah tidur disini tapi ego lho besar banget... sampai-sampai lho bela-belain tidur di sofa tanpa bantal dan selimut lho gila...lho mau sakit apa... arghhhhhhh..." dengan penuh emosi Reynaldo meletakkan tubuh Neina diambilnya selimut yang tadi ia pakai dan diletakkan nya untuk menyelimuti tubuh Neina yang terlihat menggigil.


Reynaldo keluar dari kamar menuruni tangga dan berhenti di ruang tamu, dengan gerakan kasar dia menghirup udara dengan kasar.


"di saat gue mulai Nerima lho lagi tapi lho malah ngejauhi gue...it's ok no problem kalo kita belum punya hubungan tapi ini beda lagi Ney...lho udah jadi istri gue kenapa lho gak paham-paham... arghhhh..."


buggggg tangan Reynaldo berdarah, darah kental mulai keluar dari sela-sela jarinya yang dia gunakan untuk memukul dinding.


"sabar Rey sabar... dengan lho bersikap kasar yang ada neina semakin benci dan menjauh dari lho... lho harus sabar dan ikuti dulu kemauannya ..." Reynaldo menghela nafas panjang lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di ruang tamu, sementara di kamar Neina tidur dengan nyenyak nya tidak ada lagi rasa sakit di tubuh nya, dia tidur dengan pulas tanpa menyadari jika dia sudah berpindah tidur di kasur.


.


.

__ADS_1


.


bersambung ;)


__ADS_2