
Selamat siang readers 😗
.
Happy reading 😚
.
"Gadis tidak tau malu..." batin Reynaldo.
Ica menyimpan nampan dengan anggun dan memberikan satu persatu secangkir kopi untuk pria dan secangkir teh untuk perempuan,saat bagian memberikan cangkir kopi pada Gonzales Ica tersenyum malu-malu layaknya gadis pemalu, Gonzales yang melihat itu terkekeh geli atas sikap Ica yang di ada-ada,namun berbeda dengan Ica yang salah mengartikan kekehan Gonzales, dia pikir Gonzales terkekeh karena melihat sikap manisnya, dengan sigap Ica memandang Neina dengan senyum sinis kemenangannya.
"Apa kau lihat... Kakak mu barusan terkekeh karena melihat sikap manis ku... sudah bisa di tebak cepat atau lambat kakak mu akan masuk ke dalam perangkap ku..." batin Ica membangga, di sebrang sana Neina memutarkan matanya malas.
"Ck... kau belum tau saja bagaimana Kak Tira itu..." batin Neina menyeruput teh yang masih mengepul panas.
"ahhhhhhh...panas..." teriak Neina kaget, menghentikan perbincangan para orang tua yang seketika terhenti.
"Astaga sayang... kamu kenapa..." panik Mom Vina mengipas-ngipas lidah Neina menggunakan tangannya, sementara Safira langsung me-lap dahi Neina yang berkeringat akibat kepanasan.
Ica yang melihat perhatian kedua wanita tua itu refleks mengepalkan kedua tangannya.
"seandainya aku yang ada di posisi anak manja itu... mungkin hidup ku akan sangat bahagia ..." batin Ica mengepalkan kedua tangannya.
"Neina sudah mengambil segalanya yang akan menjadi milikku...mertua dan sekarang kasih sayang kedua orang tuanya yang lengkap dengan harta-hartanya... seharusnya aku yang menjadi putri Om Raihan bukan dia..." batin Ica berapi-api.
"Hiks Mommy sakit ..." rengek Neina memperlihatkan lidahnya.
"astagaaa... Raihan... lihat lidah putri kita...cepat panggil dokter atau siapkan mobil ...kita secepatnya ke rumah sakit ..." teriak panik Vina menggelar, membuat Raihan menghela nafasnya berat.
"Putri kita bukan sakit jantung Vina..." sabar Raihan.
"apa kamu bilang...kamu menyumpahi putri ku sakit jantung... astagaaa...ayah macam apa kamu ini..." teriak Vina dengan berdiri dan berkaca pinggang menatap Raihan nyalang, membuat Raihan meneguk ludah nya.
"Mmm..bukan seperti itu maksud mas sayang..." cicit Raihan.
"lantas apa maksud mu dengan menyumpahi putri kita jantungan hahhhh..." kesal Vina masih betah menatap nyalang Raihan yang sudah mulai gelagapan.
"gawat...jika dia marah ... sudah dipastikan nanti malam kita pisah ranjang...oh tidak...ini tidak bisa dibiarkan..." Raihan menatap Gonzales meminta pertolongan, Gonzales yang mengerti hanya terkekeh pelan, sungguh sudah menjadi hal tidak tahu lagi jika Daddy nya sangat takut dengan Vina,bukan takut karena apa-apa, melainkan takut pisah ranjang.
"ekhem... Mom tenanglah... Ney kita tidak sakit parah...iya kan sayang..." ucap Gonzales menatap Neina.
__ADS_1
"Hiks...ini sakit...tapi tidak apa-apa Mom... Ney tidak perlu ke rumah sakit..."ucap Neina menggelengkan kepalanya.
"Tapi sayang..."
"Ney tidak kenapa-kenapa Mom... nanti juga sembuh sendiri..." potong Neina.
"Yasudah... jika nanti lidahnya sakit lagi...bicara pada Mom... Mom sendiri yang akan mengantarmu ke rumah sakit..." ucap Vina mengelus lembut rambut panjang Neina.
Seperti itu lah kasih sayang seorang ibu , tulus dan lembut, apalagi bagi Vina yang sudah pernah kehilangan salah satu putri nya, dia sangat menjaga Neina.
"Bagaimana dengan keadaan mu sayang... Mommy janji... nanti sepulang dari sini Mommy akan berkunjung ke makam mu..." batin Vina mengingat Neintara, putrinya yang mandiri, kuat,tegas dan pemberani.
"Kau lihat sayang...adik mu sudah sebesar ini... bukannya kamu ingin memiliki adik...tapi mengapa kamu meninggalkan adik mu seorang diri tanpa bimbingan kakak perempuannya..." batin Vina secepat kilat memeluk Neina untuk menyembunyikan cairan bening yang sudah siap keluar.
"Mommy menangis..." tanya Neina saat merasakan basah di pundaknya.
"Mommy hanya teringat dengan kakak mu sayang..." lirih Vina membuat Neina terdiam untuk sesaat.
"nanti kita pergi ke makam kak Tara...Ney pun sudah sangat merindukan kak Tara..." ucap Neina mengelus bahu Vina, menciptakan rasa nyaman untuk Vina.
Raihan hanya menatap sendu sang istri, dia sudah paham betul dengan tingkah Vina yang sedang menutupi kesedihannya dengan memeluk Neina, putri bungsu mereka.
"Apa kamu mengingat Tara lagi sayang... huftt... sejujurnya aku juga sangat merindukan nya sama seperti dirimu... namun jika aku lemah..siapa yang akan menguatkan kalian..." batin Raihan.
"Ada apa Ica...." tanya Raican yang peka.
"kaki Ica pegal..." ucap Ica menunduk layaknya gadis pemalu, netra semua orang langsung melihat ke sekeliling, yang ternyata sudah tidak ada tempat duduk lagi kecuali di antara Reynaldo dan Gonzales.
"Hmm...kamu bisa duduk di dekat ku..." ucap Gonzales, spontan membuat Neina melebarkan matanya tidak percaya.
' apa yang kakak lakukan...'pikirnya.
"Mmm... terimakasih..." ucap Ica duduk di sebelah Gonzales yang langsung menggeser tubuhnya ke tengah.
"hahahaha... lihatlah Ray... putra mu sungguh sangat peka seperti dirimu ketika masih muda ..." tawa senang Raican membuat Raihan terkekeh pelan.
"tentu saja ...dia adalah putra ku satu-satunya... sudah tentu dia akan mewarisi kepekaan ku... " bangga Raihan.
"Hahaha kau benar...lantas apa pemuda sukses seperti mu ini belum memiliki calon Zales..." tanya Raican membuat Ica berhenti bernafas untuk mendengarkan jawaban Gonzales.
"Semoga saja dia masih sendiri...dan Semoga saja Om Raican menanyakan status dia karena hendak menjodohkan kami...aku yakin Om Raican pasti menginginkan yang terbaik untuk Ku..." batin Ica tersenyum manis menantikan jawaban Gonzales.
__ADS_1
"hahaha...aku memang pengusaha muda Om...dan tentunya sebagai pengusaha muda seperti ku ini sudah memiliki pasangan yang menemani ku dari nol..." tawa bangga Gonzales.
Jederrrrrrr Bagaikan di sambar petir di siang bolong, lagi-lagi untuk kedua kalinya Ica kehilangan orang yang dia cintai sebelum melangkah.
Seketika senyuman Ica pupus begitu saja dengan dada yang terasa sesak, dipandang nya wajah Gonzales yang sedang tertawa renyah merasa bahagia sudah menceritakan kekasih hatinya.
"Oh yah ...siapa gerangan kah... gadis beruntung tersebut..." tanya Raican semangat.
"Dia teman SMA ku Om..." jawab Gonzales dengan mata bahagia seolah bisa melihat wajah kekasih hatinya.
"Wah wah wah... sepertinya rumah mu akan berpesta lagi Ray..." gurau Raican yang di senyumi Raihan.
"tentu saja Raican...aku sudah menantikan kehadiran menantu di kediaman ku... setelah kau mengambil putri ku... kediaman ku terasa sunyi tanpa kehadiran anak perempuan yang mewarnai setiap sudut rumah...dan tentunya istri ku yang paling di rugikan... tidak ada lagi yang bisa dia ajak berbelanja..." ucap Raihan menatap Vina yang sedang tersenyum kearahnya.
"jadi Kak Tira sudah memiliki calon...kenapa tidak ngasih tau Ney..." kesal Neina merajuk.
"Hey...bukan kakak yang tidak mau memberi tau mu sayang...tapi sepertinya kamu yang terlalu sibuk dengan acara pernikahan dadakan mu itu..." jawab santai Gonzales.
"Kakak...." teriak Neina kesal.
"berhenti berteriak...ini bukan rumah Daddy..." Peringati Gonzales dengan memasukan biskuit ke mulutnya.
"Mommy... lihat Kak Tira..." adu Neina.
"biarkan dulu kakak mu mencari waktu untuk memperkenalkan calon nya pada mu sayang... calon kakak ipar mu masih berada di luar negeri untuk menyelesaikan S2 nya..." jelas Vina memasukan kue kacang ke mulut Neina dengan penuh sayang, dengan senang Neina mengunyahnya sampai habis.
"jadi... Kakak ipar seorang sarjana..."
"tentu saja ...dia itu calon kakak ipar mu...tentu saja dia harus terhormat agar bisa sepadan dengan mu kelak ..." timpal Gonzales dengan menatap sekilas Ica.
"hahaha...aku suka dengan pola pikir putra mu bung.. " jujur Raican yang dibalas gendikan bahu Raihan.
"aku tidak pernah mengajarkannya seperti itu..." jujur Raihan.
"kurang ajar...mengapa dia menatap ku saat berbicara seperti itu...apa yang dia maksud pantas itu pada ku...apa dia pikir aku tidak pantas untuk nya .... arghhhhhhh...lelaki sombong... lihat saja pembalasan ku nanti..." batin Ica dengan muka merahnya dan tanpa sepatah katapun dia meninggalkan ruang tamu dengan tangan terkepal, Gonzales menatap punggung Ica yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Tak kan pernah ku biarkan...duri seperti mu memasuki kediaman ku... apalagi memiliki niat jahat terhadap permata keluarga kami..." batin Gonzales yang sudah mengetahui maksud Ica mendekatinya.
Dasar Ica 😹dia itu pengusaha muda yang sukses 😂sudah tentu Gonzales mengetahui niat buruk mu itu.. karena tadi malam author memberitahu nya🤣.
Shutt🥱 sikap gadis satu ini jangan pada di tiru yah readers 😗😂.
__ADS_1
.
bersambung ;(