Si Cupu Itu Milikku

Si Cupu Itu Milikku
Bab 76 Dia tunangan gue


__ADS_3

Selamat pagi readers ๐Ÿ˜—


.


Happy reading ๐Ÿ˜š


.


Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB semua murid langsung berhamburan keluar mencari tempat masing-masing untuk menghabiskan waktu istirahatnya sebaik mungkin sesuai keinginan masing-masing, namun tidak untuk Ica yang masih belum mendapatkan teman di kelas barunya hanya duduk mengikuti Neina ddk yang masih betah di kelas.


"jadi semalam lho nginep di rumah Daddy lho..." tanya Rere kaget.


"iya...gue udah rindu banget sama Dad and Mom...dan untuk mengatasi rasa rindu gue ...gue hanya bisa melakukan itu semua... hufttt..." Neina menarik nafas panjang,sesak sekali rasanya setiap kali mengingat kedua orang tuanya yang entah kapan akan kembali lagi.


"ckkkk...jadi dia hanya gadis manja... sebenarnya siapa dia sampai Tante Fira sangat menyayangi nya...apa dia hanya anak bawahan Om Raican...ck ck ck... memalukan sekali ...hanya putri dari bawahan saja udah belaga kaya Putri... bagaimana jika dia memang seorang putri pembisnis besar...gue yakin dia pasti manja banget..." cibir Ica dalam hati menatap sinis Neina.


"Mmm... bukannya kata Neina waktu itu keselamatan Neina dalam bahaya...apa Neina tidak takut kalau ..."


"apa kalian gak mau ke kantin..." tanya Ica yang akhirnya menghentikan obrolan mereka yang menurutnya unfaedah itu.


"kita nanti aja...apa lho mau ke kantin Ca..." jawab Rere .


"hmm yah gue laper... yaudah gue duluan aja..."


"apa perlu kita temenin Ca..." tanya Neina .


"hahaha gak perlu...cuman cari kantin gak bakalan ke sesatkan... hahaha yaudah duluan yah ...." ucap Ica bangkit begitu saja tanpa mendengarkan jawaban mereka.

__ADS_1


"menurut kalian Ica belagu gak sih...kesel gue lihatnya.. baru juga anak pindahan udah so si paling cantik aja...eneuk gue lihat nya..." cibir Rere.


"iya tuh..Mutia juga gak suka sama Ica... makannya dari tadi Mutia diam aja... Ica sepertinya gak suka yah sama Neina..."


"gak tau juga Tia ... Neina juga baru kenal sekarang..." ucap Neina mengelus rambut Mutia yang sudah dia anggap adik sendiri, dengan sikap Mutia yang begitu lugu bak anak SD kadang membuat Neina merasa punya adik bukan sahabat.


"mmm...lho yakin Ney bisa tinggal serumah dengan orang kek gitu...gue gak yakin dia gak bakal cari masalah sama lho..." tanya Rere membuat bibir Neina tersenyum miring.


"jika dia memulai maka gue yang bakal mengakhirinya ...gue udah bilang sekarang gue Neina Raihan Alfaro yang baru....putri Raihan yang gak bakal mudah di tindas..."senyum miring Neina.


"mmm ... kalian kepikir gak sih kaya nya tuh anak suka sama si senior sombong itu... terlihat dengan tadi baru datang udah teriak-teriak aja manggil dia..."


"yang Rere katakan Mutia juga setuju... kayaknya Ica akan menjadi orang ketiga di hubungan Neina dan bang Rey...."


"apaan sih lho Tia... hubungan apa orang Neina gak ada hubungan apa-apa iyakan Ney..." tanya Rere namun Neina hanya diam saja.


"ck...kenapa lho diam...apa yang dikatakan Tia benar..." tanya Rere lagi-lagi Neina hanya diam.


"hufttt...dia tunangan gue... "


"apa..." teriak Rere dan Mutia dengan mulut terbuka lebar plus mata melotot sebesar jagung ๐Ÿคฃ.


"suttt... jangan teriak-teriak..." dengus Neina memutarkan matanya.


"maaf... tadi Neina Mutia kaget banget..."


"lho serius Ney...kok bisa..." Rere menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.

__ADS_1


"kami dari kecil emang udah di jodohkan tanpa sepengetahuan kami... huftt...dan malangnya tiga bulan yang lu kami udah tunangan..." jelas Neina lesu.


"jadi cincin itu..."


"yah... ini cincin tunangan kami..."


"tapi kok Mutia gak pernah lihat bang Rey pake cincin yang sama kaya Neina..."


"dia pake cuman kalian aja punya matanya gak di asah... sampai kebenaran kecil kek gini aja gak kelihatan..." cibir Neina mengejek.


"ouhh...jadi ini alasan si senior sombong itu suka deketin lho...jadi yang gue pikirkan selama ini memang benar...kalo begitu mari kita tagih janji dia..." seringai Rere yang membuat setiap orang yang melihatnya pasti bulu kuduknya seketika berdiri.


"janji..." alis Neina terangkat sebelah seolah bertanya janji apa๐Ÿคจ.


"janji mencium sepatu Neina ...iyakan Rere..."


"yups yang dikatakan Tia benar.. apa lho udah lupa dengan perkataan si senior itu waktu kita ke kantin...apa karena udah jadi tunangan sekarang lho cuman ingat yang manis-manisnya aja..." cibir Rere kesal.


"gue udah lupa... akhir-akhir ini gue banyak masalah...apalagi dengan kepergian keluarga gue yang gak ada kabar...bikin gue gelisah...gue takut mereka kenapa-kenapa..." lirih Neina dengan mata yang mulai perih menahan sedih,Rere dan Mutia refleks saling menatap


"Neina yang sabar yah... Mommy dan Daddy Neina pasti baik-baik saja kok..."


"iya Ney... Om Raihan pasti baik-baik aja...lho gak boleh sedih ada kami disini..." ucap Rere memeluk Neina diikuti Mutia.


.


.

__ADS_1


.


bersambung ;(


__ADS_2