
Selamat pagi π
.
Happy reading π
.
.
.
"Selamat datang bersama si cupu yang sudah berubah menjadi Dewi kejahatan bagi yang pernah menindas nya..." bisik Neina tepat di telinga Nando dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Nando yang berdiri mematung bak model patung yang memakai baju rajut perempuan tanpa berkedip tanpa minum π€£.
"a... apa dia mengancam gue..." batin Nando sedikit tidak percaya dengan keadaan si cupu yang dulu sering dia tindasnya sudah berani mengancamnya pikirnya, bukan masalah dia marah tapi rasanya begitu aneh saja melihat anak yang dulunya
hanya diam saja sekalipun di bully habis-habisan tapi sekarang disaat dia mulai berubah untuk tidak membully nya lagi bahkan sudah mencintai nya tapi sekarang balikan dia yang akan di bully nya?, yang benar saja senior pembully di bully?why?apa kata orang?.
__ADS_1
Neina tersenyum miring dengan langkah anggun keluar dari kantin yang penuh dengan sejuta kenangan buruk dan manis yang baru dia akan buat, bagaimanapun caranya dia harus merubah takdir dari ' si cupu menjadi Dewi kejahatan bagi siapa saja yang menyinggung nya' tidak akan ada lagi si Neina yang lembut yang ada sekarang Neina si beringas bagi siapa saja yang menyinggung nya.
Bisik-bisik siswa-siswi terdengar jelas di telinga Neina namun dia enggan berbalik untuk memberikan pelajaran pada siswi yang menjelekkan namanya toh lebih banyak bisik-bisik siswa-siswi yang memujanya, bukannya dia tinggi atas pujian hanya saja memang itu niatnya mengubah gunjingan menjadi pujian, mengubah hinaan menjadi decakan kekaguman.
"antarkan Agus ke rumah sakit Do..." titah Reynaldo yang sebenarnya penasaran dengan apa yang dikatakan Neina pada Nando yang terlihat membisikan sesuatu.
Nando terperanjat dari lamunannya dan melihat ke arah Reynaldo, apa dia harus menceritakannya pada Reynaldo atau tidak, jika dia saja di ancam seperti itu apa Reynaldo pun sama sepertinya karena sekarang Reynaldo suaminya Neina, apa dia juga akan mendapatkan ancaman sepertinya, otak Nando terus berputar memikirkan ini dan itu sampai lupa dengan perintah Reynaldo.
"lho kenapa...apa lho gak denger apa kata Rey..." tanya Bara menepuk bahu Nando yang malah bengong.
"eh..." kaget Nando yang tersadar dari lamunannya lagi dan lagi, lalu menatap Reynaldo yang tengah menatapnya intens Reynaldo semakin penasaran apa sebenarnya yang Neina bisikan pada Nando sampai sahabat sekaligus bawahannya itu melamun terus.
"cabut..." ucap Reynaldo melangkah lebih dulu dan diikuti yang lainnya, meskipun rasa sakit di tangan Agus lebih mendominasi tapi dia tetap patuh dengan perintah Reynaldo, terlihat Agus sesekali meringis memegangi tulang tangannya yang sepertinya patah.
"arghhhhhhh.... sebenarnya lho cewek atau cowok....kenapa tenaga lho besar banget...." batin Agus menjerit kesakitan di sela langkanya mengikuti Reynaldo.
"lho kembali saja ke kelas...gue dan mereka mau ke rumah sakit...gak mungkin kan lho mau membolos sekalipun sahabat lho sedang sakit..." tanya Reynaldo pada Bara yang lebih tepatnya menanyakan kesetia kawanan Bara.
__ADS_1
"gue ikut....gue udah chat Tonny untuk mengizinkan kita semua dan menyakitkan Agus..." jawab Bara mantap, dia sangat mengerti dengan ucapan Reynaldo lagi pula dia memang dari tadi sudah berniat untuk ikut dia tidak mau di katakan tidak setia kawan lagi pula dia khawatir dengan kondisi Agus sepertinya tangan Agus tidak hanya patah saja tapi bisa juga dikatakan cedera.
"oke...cabut ..." Reynaldo langsung menuju garasi sekolah yang diikuti antek-anteknya, di sudut ruangan terlihat satu gadis yang sedang tersenyum miring melihat kondisi Agus yang begitu mengenaskan,sementara di sampingnya ada dua gadis dengan mulut menganga melihat kondisi Agus , tadi setelah keluar dari kantin Neina langsung menghampiri Mutia dan Rere yang masih di WC dan mengiring mereka ke tempat sekarang untuk melihat kondisi Agus, saat di jalan Neina sudah menceritakan kejadian apa saja yang sudah terjadi di kantin selama mereka tidak ada, Rere dan Mutia yang mendengar nya percaya - percaya saja tapi tidak berpikiran kondisi Agus separah itu, terlihat wajah Agus sudah mulai memucat menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, hasil maha karya Neina yang sedang bersandar santai di tiang sekolah yang besar.
"itu belum seberapa atas sikap lancang lho sama gue... bukannya merasa bersalah dan sadar sudah membuat kejahatan sama gue dulu....tapi lho malah semakin berulah sama gue... seandainya lho sedikit sadar dengan kesalahan lho yang sudah lho perbuat dulu sama gue...mungkin gue gak bakal bertindak sekejam ini sama lho.." batin Neina tidak merasa bersalah dengan bibir masih menyeringai puas.
"a*jir tenaga lho kuat banget Ney...gue pikir kondisi dia gak separah ini..." batin Rere menggelengkan kepalanya.
"Neina sekarang hebat yah...kaya wonder woman...Mutia juga mau kaya Neina hebat kaya super Hero...." batin Mutia tersenyum bangga atas kehebatan sahabatnya.
.
.
.
bersambung ;(
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komentar nya yah readers biar author semakin semangat nulisnya π₯Ίπ.