Si Cupu Itu Milikku

Si Cupu Itu Milikku
Bab 96 Kejahatan Smith


__ADS_3

Selamat siang readers 😗


Maaf jika bab ini acak-acakan kepala author pusing saat menuju ending 🥱.


.


Happy reading 😚


.


Raican mendekati Ica yang masih betah membanting apa yang ada dihadapannya dengan tegas Raican menangkap tangan Ica yang hendak memecahkan kaca menggunakan pas bunga.


"apa yang kamu lakukan Ica..." tegas Raican dengan intonasi naik satu oktaf, Ica yang awalnya hendak ngamuk pada orang yang sudah berani menghentikan aksi gila nya tersebut pun langsung memeluk tubuh Raican dengan erat.


"Om...apa Ica benar jahat...hiks...apa yang dia katakan benar...kalo Ica ini jahat...hiks.. "tangis Ica pecah mendayu-dayu, membuat Raican tidak sanggup memarahi Ica atas tingkah gilanya barusan.


"tidak...siapa yang mengatakan jika Ica jahat..." tanya Raican mengelus rambut Ica pelan berusaha menenangkan ke marahan Ica yang bisa saja membuat penyakit nya kambuh lagi.


"hiks...dia...hiks dia..." ucap Ica terbata-bata.


"siapa hmm ..." tanya Raican melepaskan pelukannya dan menatap tajam netra Ica memerintah Ica untuk berkata jujur padanya.


Dengan pandangan menyebar ke segala arah Ica akhirnya mengangkat tangganya dan menunjuk Neina yang baru saja sampai.


"dia...dia yang sudah mengatakan jika Ica jahat...hiks dia yang mengatakan jika Ica gadis iri dengki...hiks... hiks..." jawab Ica dengan berderai air mata dengan menunjuk-nunjuk Neina membuat semua orang langsung terdiam kecuali Gonzales dan Reynaldo yang langsung menatap tajam Ica.


"apa yang kau tuduhkan pada adik ku..." tajam Gonzales membuat Ica mundur satu langkah karena takut.


"kau ...kau tidak perlu berakting untuk menjelekkan nama baik istri ku...dan yah...jika pun istri ku bicara seperti itu...itu memang kenyataannya...kau adalah gadis jahat dan iri dengki...gadis tidak tau di untung... gadis yang di fasilitasi harta melimpah dari kedua orang tua ku...namun kau malah meminta lebih dengan meminta kedua orang ku untuk menjodohkan aku dengan mu... cihhhh... menjijikkan..."cibir Reynaldo memeluk erat pinggang Neina.


Membuat Ica memegangi dada dan kepalanya, seketika tubuhnya terhuyung ke belakang dengan sigap Raican menangkap tubuh lemah Ica.


"hiks...Om... kepala Ica sakit...hiks I..Ica..i..ca..."


Pluk Mata Ica tertutup membuat Raican cemas.


"Ica... Ica bangun sayang..." ucap Raican menepuk-nepuk pipi Ica yang tidak sadarkan diri, dengan sigap Raican berlari membawa tubuh Ica menuruni tangga yang dikuti Safira yang juga ikut lari terbirit-birit.


"ada apa ini..." tanya Raihan menatap Neina meminta penjelasan.


"biar Rey yang menjelaskan Dad... dari semenjak dia datang ...dia sudah memusuhi Ney...dia melakukan segala cara untuk membuat Neina meninggalkan Rey... bahkan tak urung dia menampar pipi Ney..." jelas Reynaldo membuat pancaran kemarahan mulai terbit dimata Raihan, saat mengetahui jika gadis bernama Ica itu sudah berani menampar putri kesayangan nya.


"kurang ajar putri Smith itu..." geram Raihan menggertakan giginya.


"Zales sudah bilang Dad jika gadis itu... gadis rubah..." celetuk Gonzales apa adanya karena saat mereka masih ada di Amerika Gonzales sudah mengatakan jika ada gadis yang tinggal di kediaman Sangga bernama Ica, dan Gonzales juga mengatakan jika gadis tersebut hendak merebut Reynaldo dari Neina dan karena itulah mereka dengan cepat pulang ke Negera mereka untuk menyelamatkannya posisi sang permata mereka.


"Jika Papa mu sampai menyalahkan putri Daddy hanya demi gadis itu... Daddy tidak segan-segan akan membawa putri Daddy dari rumah ini..." tegas Raihan menatap tajam mata Reynaldo.


"jika sampai itu semua terjadi Rey tidak akan tinggal dia Dad..." jawab Reynaldo sama tegasnya.


Sementara itu di ruang tamu langkah Raican terhenti saat melihat Smith yang sedang duduk di sofa.


"hey bung...ku pikir tidak ada siapa-siapa... ternyata... astagaaa Ica...." kaget Smith langsung mengambil alih Ica dari dekapan Raican.


"apa yang kamu lakukan pada putri ku ..." tanya tajam Smith.


"A..yah ..." lirih Ica membuka kedua matanya.


"astagaaa sayang kamu kenapa... mana yang sakit...mari ayah periksa..." panik Smith menidurkan Ica di sofa panjang.


"ke..pala Ica pusing..." lirih Ica, dengan cepat Smith memeriksa keadaan Ica seketika tangannya terhenti dengan kening sedikit mengernyit, setelah itu memandang wajah sang putri yang mengedipkan matanya.


"bagaimana Smith... keadaan Ica baik-baik saja kan..." tanya Safira khawatir.


"apa yang kalian lakukan pada putri ku saat aku tidak ada disini..." tanya Smith seolah menyalahkan mereka.


"dimana Rey...aku sudah menitipkan putri ku padanya...lantas sekarang dia ada dimana saat putri ku sakit seperti ini...apa dia sedang bersama istri rahasianya..." oceh Smith tersirat sedikit ejekan dalam kata-katanya membuat tangan seorang pemuda mengepal erat saat mendengar ejekan tersebut.


"jawab Raican...dimana Rey..."


"aku disini..." teriak Reynaldo dengan wajah kelam menggandeng tangan Neina yang menatap datar Smith.


"Rey kamu..." ucapan Smith terhenti saat melihat Reynaldo dengan Neina bergandengan tangan.


"Jadi...hanya karena gadis ini kamu sampai toledor pada putri Om Rey..." tajam Smith pada pemuda yang ada dihadapannya itu.


"mengapa...apa aku melakukan kesalahan..."tanya datar Reynaldo yang malah mempererat pegangannya di tangan Neina.


"kamu masih bertanya Rey... jelas-jelas kamu sudah salah... keadaan Ica yang hampir saja kolaps tapi kamu masih asyik-asyikkan bergandengan dengan gadis ini..." marah Smith menunjuk wajah Neina.


Wusshhhhhh


"jangan pernah bersikap kurang ajar pada istri ku..." berang Reynaldo memperlihatkan sisi gelapnya, sedikit membuat Smith kaget dan takut.

__ADS_1


"Rey...kamu..."


"Om bertanya dimana aku saat kondisi Ica hampir kolaps...aku jawab...aku sedang bersama istri ku...apa ada yang salah...Ica hanya temanku saja sedangkan gadis yang kau tunjuk ini istriku... sudah jelas jika aku lebih memilih istri ku dari pada gadis itu..." marah Reynaldo menunjuk Ica yang terlonjak kaget.


"Wah wah wah...lihat Raican...putra mu sudah berani bersikap tidak sopan padaku hanya karena membela menantu pilihan mu itu..." ucap Smith menatap tajam Raican.


"lihat putra mu yang tidak tau balas Budi ini ... putra mu yang lebih memilih gadis lain dari pada gadis penyelamat nya...apa ini didikan dari keluarga Sangga yang terhormat..." tanya Smith marah.


"kedua orang tuaku sudah mengabdi lama pada keluarga mu...dan sekarang aku dengan Putri ku yang sampai mempertaruhkan nyawanya hanya karena menyelamatkan nyawa putra mu itu untuk mengabdi pada keluarga mu... tapi putra mu malah tidak tau terimakasih..." teriak Smith menggelegar di tengah ruangan.


"dan kau... gadis tidak tau malu... dengan seenaknya datang di kehidupan Rey sampai membuat Rey tidak lagi memperhatikan Ica yang sedang sakit karena sudah menyelamatkan nyawanya...apa kau..."


Wusshhhhhh Tangan Neina menepis kasar jari telunjuk Smith yang menunjuk-nunjuk wajahnya.


"Turunkan tangan mu paman...kau tidak berhak menunjuk-nunjuk wajah ku... berperilaku sopan lah meskipun aku lebih muda dari mu..." tekan Neina kesal tidak takut terhadap kemarahan Smith terhadapnya, seketika membuat Reynaldo tersenyum bangga pada perlawanan Neina.


"Wah wah wah gadis kecil ini ternyata tidak memiliki etik.."


"kau berani mempertanyakan didikan ku dokter Smith..." tanya Raihan diujung tangga membuat Smith seketika membelalakkan matanya.


"T..tuan R.. Raihan..." lirih Smith.


"ku tanya lagi ...apa kau mempertanyakan didikan ku dokter Smith..." tanya Raihan dengan aura gelapnya membuat kaki Smith tiba-tiba bergetar.


"a...a..aku..."


Plakkkkkk


"kau berani kurang ajar pada putri ku hahhhh..."


Plakkkkkk


"aku saja tidak pernah menunjuk-nunjuk wajah gadis ku...lalu siapa kau dengan beraninya menunjuk-nunjuk wajah permata ku..." marah Raihan dengan dada naik turun di hadapan Smith yang terhuyung beberapa langkah ke belakang ku dengan memegangi kedua pipinya.


"Dan kau Raican...kau hanya diam saja saat putri ku di permalukan seperti ini...dia menantu mu...tapi dimana tanggung jawab mu untuk menjaga kehormatannya....kau biarkan wajah putri ku di tampar oleh tangan anak itu..." marah Raihan menatap Ica yang seketika menggigil ketakutan.


"sudah ku katakan semenjak awal...kau harus menjaga putri ku sebagaimana aku menjaganya..." teriak Raihan menggelegar membuat Raican menghela nafas berat agar tidak terpancing emosi, dua sahabatnya dalam satu hari menyalahkannya tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu pikir Raican.


"tenang dulu Ray..."


"kau bilang aku untuk tenang...ck...dia putri ku satu-satunya ...aku tidak akan membiarkan satu orang pun melukainya..."


"Raihan.. dengarkan penjelasan ku dulu..." jawab Raican dengan intonasi naik satu oktaf.


"a..a.pa..maksud mu Raican..." gugup Smith.


"pengawal..." teriak Raican menggelegar, seketika satu bodyguard berbadan tegap berdiri di sampingnya dengan menyodorkan sebilah dokumen.


Byurrrrr Raican melemparkan dokumen tersebut tepat dibawah kaki Smith.


"sudah semenjak lama aku menantikan momen ini...kau sungguh orang tidak tau di untung...kuberi hati kau minta jantung...kuberi fasiltas putrimu...kau malah meminta lebih..."


"sebentar ada apa ini Raican... seperti nya ini ada kekeliruan..." jawab Smith berusaha mendekat.


"hahahaha... dengan bukti-bukti itu semua kau bilang kekeliruan...aku tau tanpa kau baca juga kau sudah tau apa isi dokumen tersebut...isi dokumen tersebut adalah bukti pemberontakan mu pada ku..." teriak Raican mengangkat tangannya.


Buggggggg


"apakah belum cukup putri mu ku anggap putri ku sendiri...apa kah belum cukup hartaku yang ku keluarkan untuknya..."


Buggggggg


"Ko-parat...sekarang enyalah dari hadapan ku...dan tunggu polisi datang menangkap mu serta putri pembohong mu itu..."


Buggggggg


"Raican..."


buggggggg


"jangan pernah memanggil nama ku dengan mulut licik mu itu.." teriak Raican berapi-api..


Brukkkkk


Buggggggg Smith mendorong tubuh Raican dengan melayangkan satu bogeham mentah pada wajah tegas Raican.


"Yah...aku akui aku telah berkhianat pada mu...apa kau ingin tau mengapa aku mengkhianati diri mu Raican...apa kau ingin tau..."


"aku iri pada mu...aku benci padamu ya serba bergelimpangan harta...aku benci padamu karena mu orang tuaku tidak pernah berpihak pada ku... melainkan selalu berpihak pada mu... lebih menyanyi mu dari pada aku putra semata wayangnya..." teriak Smith mengeluarkan unek-uneknya.


"belasan tahu aku memendam kebencian ku dengan menjadi anak buah mu... sampai aku lulus kuliah pun aku disuruh mengabdi padamu... arghhhhhhh ko-parat dengan pengabdian aku benci padamu... gara-gara mu aku kehilangan masa kecil ku hanya karena harus selalu menjaga mu... kehilangan orang yang aku cintai karena dia lebih memilih mu..." teriak Smith menetap Safira yang seketika itu juga mendapatkan bogeham mentah dari Raican.


buggggggg

__ADS_1


"turunkan pandangan mu itu bre-ngsek..."


"hahahaha kenapa...apa kamu cemburu Raican... hahaha dia itu seharusnya menjadi istri ku...tapi karena kamu juga mencintainya orang tua ku memaksa ku untuk melupakannya dan merelakan nya untuk hidup bahagia dengan mu...kau orang ketiga diantara aku dan Safira...."


Buggggggg


"pukul saja Raican... pukul... pukulan mu tidak akan membuat ku takut untuk mengungkapkan perasaan ku pada istri cantik mu itu ..yah... Safira aku mencintaimu... sangat-sangat mencintaimu... mencintai mu lebih awal dari pada cinta Raican..."


buggggggg


"berhenti mengoceh tidak jelas..." sekarang giliran Reynaldo yang turun tangan memukul wajah Smith dengan nafas tidak beraturan.


"hahahaha...anak bau kencur... hahahaha seharusnya kau juga menjadi menantu ku... setidaknya dengan kau menjadi menantu ku aku tidak terlalu kecewa dengan takdir ini...tapi lagi-lagi orang itu selalu menggagalkan semua rencana ku..." teriak Smith menunjuk Raican.


"seharusnya kau menjodohkan putra mu dengan putri ku...bukan dengan anak pengusaha terkaya no 2 di negara ini..." marah Smith mau menghajar Raican namun dihentikan oleh bodyguard Raican.


"arghhhhhhh... lepaskan bre-ngsek..." teriak Smith.


"kau salah mencari lawan...dan untuk Safira...aku tidak pernah merebutnya dari siapapun... karena kami juga saling mencintai bahkan kau belum pernah mengungkapkan perasaan mu itu padanya ...jadi disini aku tidak merebut apa yang menjadi hak mu..." tegas Raican memeluk Safira.


Buggggggg


"dan ini untuk membalas jebakan mu itu... jebakan yang membuat ku harus mengkhianati isteri ku ..."


buggggggg


"ini untuk sikap kurang ajar mu pada putra ku ...."


buggggggg


"ini untuk membalas sikap tidak sopan mu pada menantu ku...


buggggggg buggggg buggggggg


"dan ini untuk segala kekacauan yang kau lakukan pada keluarga ku..."


"arghhhhhhh..." hidung Smith mengeluarkan darah segar yang mengotori lantai.


"AYAH....." teriak Ica berlari hendak memeluk Smith.


"berhenti disini nona... mari ikut kami ke kantor polisi..." ucap bodyguard.


"tidak...aku tidak bersalah... lepaskan aku..."


"tutup mulut pembohong mu itu yang sudah bertahun-tahun menipu tuan kami dengan penyakit gadungan mu itu nona ..."


"tidak... lepaskan aku... Om Raican tolong Ica... hiks....Ica tidak bersalah..."


"bawa mereka Ke kantor polisi dan pastikan jika orang itu menerima hukuman seberat-beratnya..." ucap Raican menatap tajam Smith.


"bre-ngsek... lepaskan aku... arghhhhhhh lepas..." teriak Smith saat tubuhnya dibawa keluar.


"arghhhhhhh.... Raican bang-sat kau... lihat saja pembalasan ku nanti...". teriak Smith semakin menjauh.


"hiks...mas.. " tangis Safira.


"ja...jadi..."


"iya... Smith yang sudah menjebak mas... maafkan mas yang telah toledor sampai menyakiti hati mu ..."


"hiks tidak...aku yang minta maaf telah menyalahkan mu tanpa tau yang sebenarnya..." tangis Safira di pelukan Raican.


"tidak Sayang...kamu tidak bersalah... semua ini gara-gara laki-laki itu..." geram Raican saat mengingat pengkhianatan Smith yang hampir saja merusak rumah tangganya dan rumah tangga sang putra yang baru seumur jagung itu.


"tapi... bagaimana dengan tuan Willi..."


"tenang saja... seperti apa kata mu tuan William adalah orang yang bijak...aku yakin dia tidak akan menyalahkan kita..."


"Kak..." lirih Neina menyadarkan Reynaldo yang sedang meneteskan air matanya terharu melihat kedua orangtuanya.


"aku sudah salah menilai Papa selama ini Ney...ku pikir Papa benar-benar tega mengkhianati Mama..." ucap Reynaldo bergetar.


"jadi karena ini kakak tidak menyukai Papa..." tanya Neina mulai mengerti mengapa selama ini Reynaldo lebih dekat pada Safira ketimbang pada Raican, Reynaldo mengangguk.


"iya... karena pengkhianatan Papa juga kakak tidak mau menjadi CEO Sepertinya...kakak takut khilaf seperti Papa... tapi itu semua salah... Papa tidak pernah berkhianat..." ucap Raican bergetar dalam pelukan Neina.


" Iya... Papa sangat menyayangi Mama...mana mungkin Papa tega menduakan Mama..." lirih Neina yang baru tau dengan pemersalahan keluarga suaminya.


"jadi Om Raican pernah mendua Dad... " tanya Gonzales.


"lebih tepatnya di jebak... syukurlah jika masalah itu sudah terselesaikan... Daddy sudah bisa tebak dari awal jika dokter itu tidak tulus mengabdi pada Om mu itu..."


.

__ADS_1


bersambung ;(


__ADS_2