Si Cupu Itu Milikku

Si Cupu Itu Milikku
Bab 29 Maafin gue yang pernah nyakitin lho


__ADS_3

"gue merindukan menatap mata lho sedekat ini dari dulu Ney ... mungkin selama ini gue sering nyakitin lho tapi hati gue juga selalu merasakan sakit hati yang sama saat melihat lho kesakitan karena ulah gue dan teman-teman gue... tapi lagi-lagi rasa kecewa gue mengalahkan semuanya...tapi tidak untuk sekarang...akan gue bahagiakan lho seperti dulu...menjaga lho dari segala marabahaya yang menimpa lho biarkan tubuh gue ini jadi pelindung untuk lho seperti dulu..." tatapan mata mereka terhenti karena suara telpon milik Reynaldo.


drt drt drt


deg Neina tersadar dari keterpakuannya.


"apa sih yang gue lakukan...malunya gue kenapa malah terbuai... nanti apa kata kak Rey...ihhhhh malunya gue sampai ke ubun-ubun..." teriak Neina dalam hati dengan cepat dia membuang muka ke arah jendela sementara' Reynaldo mengangkat telpon,muka yang sebelumnya dipenuhi kebahagiaan dan senyuman karena bisa menatap mata hazel milik Neina lagi seketika semuanya runtuh begitu saja setelah mendengarkan perkataan temannya.


" ____"


"oke...nanti malam gue kesana..."


"____"


"gue bisa urus semuanya..."


"____"


"sekarang belum waktunya...gue mau lihat sejauh mana dia menilai gue..."


"____"


"yah penampakan luar tidak bisa menjadi bahan nilai dalamnya juga..."


"____"


"thanks..."


"____"

__ADS_1


"hmm..."


tup suara sambungan telpon di tutup sepihak dari sebrang sana.


"sekarang gue anterin lho sampai rumah... setelah itu gue mau pergi dulu ada urusan yang gue harus tangani..." ucap Reynaldo fokus menyetir seketika Neina melihat ke arah Reynaldo.


"kalo mama nanya lho kemana...gue harus bilang apa..."


"bilang aja gue ada urusan yang meski gue tangani secepatnya..." Neina menghela nafas panjang mendengarkan perkataan suaminya itu.


"lho tau ... waktu terakhir lho pergi malam-malam... mama dan papa bertengkar apa lho tau itu .." Neina berkata tanpa mengalihkan perhatian pada wajah mulus suaminya yang jika dilihat-lihat sangat tampan, Reynaldo terkekeh.


"apa diam nya lho membuktikan jika lho sudah tau semua itu..." tanya Neina lagi-lagi Reynaldo terkekeh.


"sudah menjadi hal tidak tabu lagi ....papa selalu marah-marah kalo gue keluar malam-malam..." Neina tidak langsung menjawab dia yakin Reynaldo keluar malam-malam punya alasan tersendiri dan mengapa dia dapat menyimpulkan seperti itu? jawabannya dia pun tidak tau kenapa , setelah ijab Qabul waktu itu Neina seolah bisa melihat jika Reynaldo tidak seburuk yang dulu dia bayangkan tapi entah lah apa perasaannya benar atau salah dia tidak tau yang jelas dia melihat jika Reynaldo tidak seperti anak berandalan seperti kebanyakan anak konglomerat pada umumnya, terkadang Neina melihat sisi dewasanya Reynaldo dan bukan hanya itu saja Neina sudah sering melihat Reynaldo bangun malam-malam dan mengerjakan sesuatu di laptopnya atau mungkin dia bukan bangun malam-malam tapi dia memang belum tidur sama sekali, dia dulu berpikir mungkin dia sedang mengerjakan tugas sekolah nya tapi waktu itu dia pernah satu kali mendengarkan percakapan Reynaldo entah dengan siapa tapi yang jelas dia memanggil Reynaldo tuan dan berkata "tuan yang dikatakan tuan sepertinya memang benar ada kejanggalan dalam perhitungannya..." dan setelah itu Neina tidak mendengarkan percakapannya lagi karena Reynaldo bangkit dari sofa dan berjalan kearah balkon sepertinya dia tau Jika Neina terbangun dan mendengarkan percakapan mereka.


"Papa selalu beranggapan kalo gue anak yang tidak berprestasi dan tidak bisa diandalkan...dia selalu menyuruh gue terjun di bisnis nya yang tidak gue minati..."


" kalo nanti gue belum pulang-pulang lebih dari pukul 21.35. lho kunci aja kamarnya..." ucap Reynaldo yang lagi-lagi tanpa menoleh pada Neina.


"apa lho gak akan pulang..." akhirnya Neina mengeluarkan suaranya lagi.


"gue usahakan untuk pulang..." senyum manis Reynaldo menatap Neina yang membuat sang empu memunculkan semburat merah di pipinya..


"lho tau Ney...udah lama banget gue ingin bicara santai kaya gini sama lho..." Reynaldo sudah mulai fokus menyetir kembali.


"cihhhh... jangan ngebual lho...gue udah tau lho hanya bohong...kalo iya lho mau bicara santai kaya gini terus buat lho selama ini bully dan nyakitin gue..." bola mata Neina memutar malas.


" dulu memang gue suka bully lho ..tapi perasaan ini baru datang saat gue udah ngucapin kata ijab qobul sama lho...hati gue sakit saat lihat lho nangis tanpa henti saat kepergian Dad and mom...percaya atau nggak hati gue waktu itu bagaikan di iris belati tajam lihat istri yang baru beberapa menit gue nikahi tapi sudah menangis filu seperti itu..."

__ADS_1


"mungkin bagi lho gue hanya membual saja...tapi memang itulah kenyataannya...gue dulu mungkin menolak mentah-mentah perjodohan ini tapi suka atau nggak suka gue gak bakal bermain-main dengan nama ijab qobul...rasa tanggung jawab gue sama lho muncul begitu saja setelah ikrar ijab qobul itu dilaksanakan..." sambung Reynaldo yang melihat Neina hanya diam saja seolah tidak percaya.


" turunlah kita sudah sampai...jaga diri lho baik-baik... dan ingat dengan kata-kata gue saat di cafe tadi ..." senyum manis Reynaldo melepaskan sabuk pengaman Neina dan mengacak rambut Neina lembut.


Mata Neina melihat intens mata suami kecilnya itu, ingin mencari apa yang dikatakan nya adalah kebenarannya atau hanya rayuan semata saja, ditatapnya mata hitam tajam milik suaminya guna mencari kebohongan yang disembunyikan sang suami, namun dia tidak dapat melihat kebohongan sama sekali dimata hitam tajam itu.


" gue tau gue ganteng tapi lihatnya jangan gitu juga kali sampai lupa ngedip...."kekeh Reynaldo menyadarkan Neina.


"ih...apaan sih lho...kege'eran banget...." mata Neina memutar malas namun dalam hatinya dia tersenyum malu.


"hahahaha terserah lho aja my little wife... yaudah ayo sana turun ..."


" dasar cowok bad boy nyebelin.... sama cewek gak ada manis-manisnya..." gerutu Neina yang menyembunyikan rasa malunya dengan perkataan suaminya my little wife rasanya geli namun kenapa hatinya senang mendengar Reynaldo memanggil nya seperti itu.


"lho tambah manis saat cemberut gitu Ney...maafin gue yang pernah nyakitin lho...gue janji kedepannya hanya ada kebahagiaan yang bakal gue berikan untuk lho..."


Dari arah pintu sudah ada mama Fira yang menunggu kepulangan mereka namun keningnya mengernyit melihat mobil anaknya keluar halaman lagi.


"suami mu mau kemana Ney..."


"katanya ada urusan yang harus di tangani sekarang ma..." jelas Neina masih memperhatikan mobil yang semakin menjauh tak terlihat lagi.


"kenapa gue ngerasa ada yang kosong di hati gue ini...kenapa rasanya gak suka dia jauh-jauh dari gue ada apa ini sebenarnya..." batin Neina sendu masih betah melihat jalan bekas kepergian mobil Reynaldo.


.


.


.

__ADS_1


bersambung;(


__ADS_2