
Maaf yah author beberapa hari ini tidak up ,ada sedikit masalah yang membuat mood author down😔.
Selamat pagi readers 😔
.
Happy reading 😔
.
Malam tiba, Ica menuruni tangga dengan wajah marahnya dia menatap Safira dan Raican yang sedang menonton TV bersama, dengan langkah cepat Ica menghampiri Raican hendak mengadu.
"Om..." ucap Ica dengan wajah yang begitu menyedihkan meminta simpati orang Raican.
"ada apa Ica..." tanya Raican dengan sesekali mengelus rambut Safira yang sedang bersandar di dada lebarnya sedangkan Safira yang sudah kepalang benci pada Ica hanya menatap sekilas.
"hiks...apa benar kak Rey sudah menikah Om..." ucap Ica dengan deraian air mata, seketika membuat Raican mengernyitkan dahinya.
"Iya...kakak mu sudah menikah tiga bulan yang lalu... memang nya ada apa..." tanya Raican santai membuat emosi Ica mendidih.
"apa lho bilang ada apa... jelas-jelas gue marah bego..." teriak Ica dalam hati menggebu-gebu.
"hiks...jadi itu semua benar ...huaaaa... kenapa Om tega sama Ica....." tangis Ica pecah meraung-raung di tengah ruangan membuat Safira yang sedang asyik nonton film kesukaannya merasa terganggu.
"apa yang kamu lakukan..." tajam Safira menatap Ica bengis membuat Raican mengelus bahunya seolah mengkode Safira untuk tidak membentak Ica.
Sebelumnya Safira sudah menceritakan tentang perdebatannya, di tadi siang dengan putri sahabat suaminya itu namun Raican hanya menyuruhnya untuk bersabar lagi, tentu saja Safira tidak menurut begitu saja,saat ini sikap Ica sudah terlalu lancang dan melebihi batas kesabaran dan kebaikannya.
Safira menatap tajam Raican yang menyuruhnya untuk berprilaku lembut lagi pada Ica, ditatapnya mata sang suami dengan tatapan tatapan tajam penuh kebencian.
Glekkkk Raican menelan ludah melihat tatapan permusuhan yang diberikan Safira untuk nya, seketika Raican memalingkan wajahnya takut dengan kemarahan sang istri.
'Ini bahaya sungguh bahaya... ' pikir Raican dengan mata melihat kesana kemari guna mengelak tatapan tajam Safira.
__ADS_1
'baru juga baikan masa iya marahan lagi ...'pikir Raican tidak mau.
"Tante...Kak..."
"Sudahlah... sebaiknya sekarang kamu isi mulut mu itu dengan makanan ...agar bibir mu itu berhenti mengoceh tidak jelas...dan membuat gaduh dihadapan ku..." ucap Safira dengan tatapan semakin tajam, membuat Ica menelan ludah ini untuk yang kedua kalinya Safira memarahinya.
"Tante..." ucap Ica memelas hendak membujuk Safira.
Tap tap tap Suara sendal yang dipakai Neina membuat Safira menoleh kearah tangga, seketika senyuman manis mengembang dibibir mungil Safira,saat melihat kedatangan menantu kesayangannya itu.
"Malam ma...Pa..." sapa Neina dengan tersenyum manis, diikuti Reynaldo yang hanya tersenyum saja pada Safira.
"Malam juga sayang..." balik sapa Safira berdiri dari duduknya dan memeluk menantu kesayangannya itu.
"Malam juga Ney.. bagaimana dengan kabar Raihan..." ucap Raican dengan muka serius, seketika Neina menghela nafas berat.
"Kabar Daddy dan Mommy... Ney pun tidak tahu Pa...tapi tadi ada kak Tira telpon jika perusahaan sudah mulai seimbang lagi..." ucap Neina dengan sedikit tersenyum merasa lega dengan penjelasan sang kakak.
"syukur lah... Papa ikut senang dengan perkembangan perusahaan Daddy mu..." Raican tersenyum manis.
"ada apa Pa..." tanya Reynaldo mendekat dan duduk dihadapan sang Papa.
"ini sudah waktunya kau terjun di perusahaan Papa..." ucap Raican dengan tampang serius miliknya.
"Rey belum mau terjun ke bisnis Papa..." ucap Raican mendengus kesal.
'Lagi-lagi Papanya... membicarakan hal tersebut..' pikirnya Reynaldo.
"Apa karena kamu sudah memiliki bisnis lain Rey..." ucap Raican membuat Reynaldo terdiam.
'Sejak kapan Papa nya mengetahui bisnis yang diam-diam dia terjuni...' pikirnya penuh tanda tanya.
"Papa bangga padamu ... maafkan Papa yang selalu memaksa mu untuk terjun ke bisnis Papa..." ucap Raican dengan tatapan sendu melihat putra semata wayangnya yang sering dia vonis sebagai penerusnya yang malas.
__ADS_1
"Mama juga bangga pada mu sayang..."ucap Safira beralih memeluk Reynaldo penuh sayang.
"anj*ng...kenapa keadaan gue seakan gak di anggap..." batin Ica penuh penuh geram.
" Melihat mereka membuat ku teringat pada Mommy dan Daddy..." gumam Neina menunduk mengingat kebersamaannya dengan sang Mommy.
Reynaldo yang sedari tadi tidak berhenti memandangi wajah sang istri yang berubah sendu, seketika berjalan kearah Neina dan mengelus lembut rambut panjang Neina.
"Jangan bersedih sayang... kakak yakin mereka pasti secepatnya kembali lagi kesini..." ucap Reynaldo membuat mata Neina tambah berkaca-kaca, dengan kelembutan Reynaldo yang diperuntukkan untuknya.
Grepppp
"hiks....Ney rindu Mommy... Ney kangen sama Daddy..." Isak tangis Neina akhirnya pecah juga,dengan bahu yang naik turun seirama dengan tangisannya yang semakin pilu, membuat hati Reynaldo terasa diiris-iris.
"kakak juga merindukan mereka....tapi bukannya tadi kak Zales sudah bilang jika keadaan perusahaan sudah mulai membaik...pertanda Mommy dan Daddy akan segera pulang...kakak janji jika mereka sudah pulang...nanti kita akan menginap di rumah Mommy..." ucap Reynaldo membujuk Neina untuk berhenti menangis, dengan tangan yang masih mengelus lembut rambut panjang Neina.
"kakak janji..." ucap Neina menyembulkan kepalanya dengan mata sembab nya, dengan refleks Reynaldo menghapus sisa-sisa air mata yang menetes di pipi lembut sang istri.
"Iya kakak janji sayang...jadi berhentilah menangis..." ucap Reynaldo di angguki Neina.
Cup Reynaldo mengecup kening Neina penuh sayang, membuat Safira dan Raican yang melihat keromantisan sang putra dan menantu kesayangannya pun tersenyum senang.
"akhirnya mereka berbaikan lagi..." gumam Raican.
"Yah...dan sebentar lagi kita akan menggendong cucu..." semangat Safira memeluk Raican.
"Tidak sayang...mereka..."
Glekkkk
Perkataan Raican menggantung begitu saja saat melihat tatapan tajam Safira.
"baiklah...kita akan menggendong cucu secepatnya...dan ku harap mereka tidak melakukan hal tersebut sebelum lulus sekolah..." gumam Raican di akhir kata, berharap Safira tidak mendengar gumamannya.
__ADS_1
.
bersambung :(