Si Cupu Itu Milikku

Si Cupu Itu Milikku
Bab 97 Sudah menjadi candu


__ADS_3

Selamat pagi readers 😗


Minal aidzin wal faizdin yah readers kesayangan bagi yang merayakan 😚🙏🏻 maafkan lahir dan batin semoga mudik nya lancar yah dan semoga amalan kita di terima Allah SWT 😚 amin 🤲🏻.


.


Happy reading 😚


.


Sudah ada lima hari setelah pasca penangkapan Smith dan Ica keadaan menjadi damai apalagi dengan kehadiran keluarga Alfaro lagi yang membuat Neina semakin bahagia dan terasa lengkap sudah kebahagiaan nya.


Neina dan Reynaldo sudah beberapa hari nginap di kediaman Alfaro, sedangkan sekarang Raican sedang fokus pada dokumen yang ada di tangannya.


Tok tok tok


"Masuk..." teriak Raican masih fokus dengan dokumen yang sedang dia baca.


"lapor tuan di depan ada tuan William Jakson..." lapor asisten Radit sukses menghentikan fokus Raican.


"Tuan Jakson mengunjungi ku setelah lima hari pasca penangkapan putranya..."


"suruh dia masuk ...."


"baik tuan..."


Raican menutup dokumen saat melihat tuan William sudah ada diujung pintu, Raican berdiri dan melangkah hendak menyalami William, seperti biasa lelaki yang sudah tak muda lagi mengangguk dan menepuk pundak Raican untuk sesaat.


"apa kabar Om..."


"baik..." jawab tegas William masih terlihat seperti ajudan setia almarhum Papa nya Wilson Sangga.


"sekian lama setelah kepergian kedua orang tua ku... Om baru mengunjunginya ku..." tanya santai Raican duduk di sofa dengan melipat kakinya di ikuti William.


"aku hanya ingin melihat kedua putra ku setelah lama ku tinggalkan seorang diri di negara ini..." jawab William membuat Raican terdiam untuk sesaat, mustahil Wiliam belum mengetahui tentang penangkapan Smith.


"Ku dengar kau sudah memiliki menantu..." tanya William yang di angguki Raican dengan cepat.


"antarkan aku pada cucu menantu ku itu..."


"Om..."


"aku hanya ingin melihatnya tuan muda ... bukan untuk melukainya...." jawab William bangkit dari duduknya.


"Om...bicara apa ..." kesal Raican saat mendengar William memanggilnya tuan muda, panggilan yang sangat dia tidak sukai dari semenjak kecil,jika itu yang memanggilnya Wiliam ajudan sang Papa yang sudah dia anggap Papa keduanya.


"Cepat Raican...aku sudah tidak memiliki waktu untuk meladeni mu..." ucap William berjalan tanpa menoleh pada Raican yang mendengus kesal.


"dasar orang tua yang satu ini...sebelas dua belas seperti almarhum Papa..."


.


Ditempat lain Neina sedang bersandar di dada bidang Reynaldo yang sedang mengelus lembut rambut nya.


"Kak.."


"hmm..."


"bagaimana Jika tuan William marah atas penangkapan dokter Smith..." tanya Neina yang sangat penasaran dengan sosok ajudan sang kakek.


"dia orang yang bijak...kakak yakin dia tidak akan menyalahkan kita..."


"mmmm..apa kak Rey yakin..."

__ADS_1


"yah kakak yakin..." ucap Reynaldo menciumi pipi Neina gemes.


"ihhhhh kakak ..." kesal Neina memukul dada Reynaldo.


"ha-ha-ha..."


"ih kenapa malah ketawa..." cebib bibir Neina mengerucut.


" hahahaha...kamu ini mantan taekwondo...tapi kenapa tenaga mu lemah banget..." ejek Reynaldo.


"Kakak..." teriak Neina.


"hey...ada apa ini..." tanya Vina yang baru saja turun bersama Raihan.


"lihat Mommy... Kak Rey terus menggangu Ney..." tunjuk Neina manja.


"eh... nggak kok Mom Ney bohong..."


"hey...mana ada aku bohong..."


"barusan..."


"Kak Reyyyyyy..." teriak Neina menggelar.


"astagaaa...kenapa kalian malah bertengkar seperti ini...kalian bukan anak kecil lagi seperti dulu...kalian sekarang sepasang suami istri... astagaaa... lihat lah Raihan kedua anak mu ini..." ucap Vina memijit pelipisnya.


"hahaha... biarkan saja Vina... bagaimana pun mereka tetap anak-anak ku ..." senyum manis Raihan.


"Mmm... Daddy yang terbaikkk....." bangga Neina hendak memeluk Raihan namun pinggang nya malah di peluk Reynaldo.


"lepas..."


"gak mau..." geleng Reynaldo dengan wajah sendunya.


"kamu istri kakak...jadi hanya boleh memeluk Kakak..." ucap Reynaldo dengan posesifnya.


"hey... apa-apaan kamu Rey...aku juga Daddy nya aku berhak atas dirinya..." sengit Raihan kesal menatap tajam Reynaldo.


"hehehe...maaf Dad.. " Reynaldo menggaruk kepalanya tak gatal.


Ting tong


Ting tong


"bibi ....buka pintunya..." teriak Vina seketika salah satu Art tergopoh-gopoh membuka pintu.


"Raican..." gumam Raihan dan matanya berhenti pada sosok pria yang sudah tidak muda lagi yang ada di sisi kanan Raican.


"tuan Willi..." batin Raihan bersamaan dengan Vina, sedangkan Neina dan Reynaldo masih asyik bercanda tanpa mempedulikan sepasang mata yang menatap mereka dalam.


"siang Ray..." sapa Raican.


"siang... tumben kamu berkunjung tanpa isteri mu...dan siang juga tuan William...."


"siang ..." balas William singkat masih betah memandangi Reynaldo dan Neina.


"istri ku sebentar lagi nyusul ..aku sengaja datang kesini dari kantor..."


"wah...apa ada masalah yang sangat serius..." tanya Raihan sedikit melirik William Jakson.


"yah...aku ingin menemui cucu dan cucu menantu ku.. " jawab William to the poin.


"senang sekali jika tuan Willi bisa menerima putri kami... yasudah mari duduk... Vin tolong ambilkan cemilan..."

__ADS_1


"baik mas..."


"apa ini cara mu menyambut kakek mu Reynaldo..." tanya William berhasil menghentikan aktivitas Reynaldo yang sedang sibuk menciumi pipi Neina.


"kakek. .."


"yah aku Kakek mu ...ku pikir kau sudah melupakan aku. .." ejek William melirik Neina yang sedang mengernyitkan dahinya.


"kakek... kakek siapa...apa itu kakek dari pihak mama...tapi sepertinya bukan...terus siapa dia.. Kakek Wilson kan sudah meninggal..." batin Neina .


"hmm ...apa kau tidak mengenal ku cucu menantu..." tanya William tatapannya berubah teduh yang dibalas gelengan kepala Neina.


"sungguh kalian tega pada ku ...saat ada anggota baru di kediaman kalian ...tapi kalian tidak mengenalkannya pada ku... yasudah biarkan aku memperkenalkan diri ku sendiri...cucu menantu nama ku William Jakson ajudan kakek mertuamu mu ...." bangga William.


"tuan Willi..." ucap Neina yang dibalas gelengan kepala William.


"eh terus siapa .. bukannya ajudan kakek itu tuan William Jakson...." gumam Neina sedikit heran,dan akhirnya menatap Reynaldo .


"apa kakak sudah salah mengenalkan Ney pada ajudan kakek.." tanya Neina dalam hati menatap dalam mata Reynaldo, yah dari semenjak dulu Reynaldo sudah mengenalkan silsilah keluarganya pada Neina yang baru genap tiga bulan menikah dengannya, waktu itu Reynaldo mengambil album dan menjelaskan siapa saja yang ada dalam album tersebut.


Reynaldo yang mengerti dengan apa yang dipikirkan isteri kecilnya pun mengelus rambut panjang Neina.


"dia kakek Willi sayang...bukan tuan Willi...."


"hahhh.. " hanya satu kata itu yang bisa Neina keluarkan karena tidak mengerti.


"astagaaa...apa yang kau lakukan pada cucu menantu ku Rey... lihatlah penjelasan mu membuat cucu ku pusing ...ck dasar kau cucu yang tidak bisa di andalkan..." ucap William menatap kesal Reynaldo yang hanya dibalas kekehan Reynaldo saja.


"dia itu ajudan kakek Ney...tapi kami sudah mengaggap kakek Willi sebagai keluarga kami sendiri..." jelas Reynaldo dengan masih mengelus rambut panjang Neina.


"Oh begitu...( angguk Neina paham)... Selamat datang kakek di rumah Mommy Ney..." sapa ramah Neina berjalan dan mencium tangan William diikuti Reynaldo.


"Terimakasih cucu ku..." ucap lembut William mengelus lembut rambut panjang Neina yang dibalas senyuman manis Neina.


"apa kabar kakek.. arghhhh..." teriak Reynaldo saat merasakan sakit di telinganya.


"dasar cucu kurang ajar....mengapa kau berani menikah tanpa meminta restuku.... jangankan untuk meminta restu memberitahu ku pun tidak... kamu sebelas dua belas dengan Papa mu...sungguh tidak sopan padaku (Tuan William melirik tajam Raican)...seandainya pamanmu tidak memberi tahu jika kamu sudah menikah.. mungkin sampai kapan pun aku tidak akan pernah melihat wajah cucu baru ku ini ..." kesal William.


"arghhhhhhh...sakit kakek..."


"aku tidak mendengarkan mu.. " kesal William.


"maafkan Rey kek...ini semua salah Papa... Rey tidak tau jika pernikahan kami akan dilangsungkan secepat ini... Rey pikir Papa sudah mengabari kakek..."


"oh..jadi semua ini salah mu Raican..." ucap William melepaskan telinga Reynaldo yang sudah berubah merah.


Reynaldo menggosok-gosok telinganya yang terasa panas dan kembali duduk di dekat Neina ,yang langsung menyambut kedatangannya dengan membantu mengelus telinga merahnya.


"apa ini sakit ... "


"tidak sayang...ini tidak sesakit saat kakak melihat mu marah pada kakak..." senyum manis Reynaldo.


" dasar tukang gombal..." kekeh Neina.


"asalkan hanya padamu sayang... "


cup


"kamu sudah menjadi candunya kakak..." bisik Reynaldo membuat Neina tersipu malu.


.


bersambung ;(

__ADS_1


__ADS_2