
Selamat sore readers 😗
.
Happy reading 😚
.
"ada apa ini...." tanya Safira yang baru sampai menuruni tangga membuat Ica gelagapan.
"siang nyonya..." serempak para maid.
"aku tanya ada apa... kenapa kalian ribut sekali... membuat tidur siang ku terganggu sudah..." kesal Safira yang memang tadi sedang tidur siang.
"maafkan kami nyonya...ini semua karena Non..."
"Tante...apa Tante tau...jika maid-maid disini suka sekali menggosipkan tuan, nyonya dan
Nona nya...saat tadi Ica pulang mereka sedang menggosipkan Ica dan Om Raican..." adu Ica memotong perkataan kepala maid dengan wajah kesel melihat para maid.
Safira mengernyitkan dahinya dan menatap kepala maid yang langsung cetakan angkat bicara menceritakan semua yang terjadi.
"tadi saat saya sedang memberikan instruksi untuk para maid baru...ada salah seorang maid yang memanggil saya atas perintah Nona Ica...dan saya pun mengikuti maid tersebut...saat saya sampai disini keadaan sudah begini... dengan dalih dua pelayan sudah lancang menggosipkan Tuan besar dan Nona Ica... Nona bersikeras memberikan dua maid tersebut hukum cambuk dua puluh kali...namun saya membantah dengan dalih kami juga memiliki hukuman kami sendiri...tapi Nona Ica tetap tidak setuju dan marah-marah..." jelas kepala maid tanpa melebih-lebihkan.
"kalian bisa bubar...dan untuk kalian berdua...ikut dengan bibi Mona..." titah Safira yang di angguki para maid.
"baik nyonya..." serempak mereka.
"Tante... mengapa Tante..."
"kediaman ini memiliki hukum nya sendiri Ica... tidak sembarang orang bisa memberikan hukuman dengan asal saja...semua ini sudah menjadi adat turun temurun keluarga besar Raican...jadi untuk kedepannya Tante tidak mau lagi melihat kamu bersikap seenaknya seperti sekarang...kau paham..." ucap tegas Safira menusuk hati kecil Ica yang seketika bergemuruh tidak terima, namun apa daya dia hanya bisa diam saja dan mengiyakan keinginan sang nyonya besar kediaman ini.
"Paham Tante... maafkan Ica..." ucap Ica dengan kepala tertunduk dan tangan mengepal erat.
__ADS_1
"yasudah... sebaiknya sekarang gantilah bajumu dan turun untuk makan siang..." ucap Safira kembali melunak, bagaimanapun Safira merupakan sosok ibu yang sangat lembut jadi dia tidak akan bisa bermarah-marah lama pada anaknya, termasuk pada Ica.
"siap Tante..." ucap Ica lagi dengan mengangkat kepalanya yang hanya dibalas anggukan Safira yang setelah itu berlalu ke arah dapur untuk mengecek persiapan makan siang kelurga kecilnya.
"tunggu saja setelah aku menjadi istri kak Rey...akan ku hasut dia untuk tidak lagi turut pada mu wanita tua... huhh sungguh menyebalkan... kenapa sikapnya sekarang berubah...dulu dia tidak pernah melarang ku untuk melakukan apapun...semenjak aku diangkat anak baru sekarang aku mendapatkan omelan menyebalkan seperti saat ini...apa mungkin karena sekarang sudah ada anak numpang itu yang sudah merebut hati Tante Fira... sehingga sudah tidak menyayangi ku lagi....." batin Ica.
"siapkan makanan yang sudah aku minta tadi pagi pada kalian...hari ini menantu kecil ku akan kembali lagi kesini...jadi masakannya pun harus istimewa untuk menyambut menantu kesayangan ku itu..." ucap Safira setelah sampai di dapur yang langsung mendapatkan sorakan kegembiraan para maid.
"wah jadi Nona muda akan kembali siang ini nyonya..." tanya seorang maid dengan gembira, yah memang seperti inilah interaksi antar majikan dan bawahannya, Safira Selalu bersikap ramah Jika sedang dalam keadaan yang tidak membutuhkan mode serius seperti tadi.
"hmm yah...aku sudah sangat merindukan anak manis itu..."senyum Safira membayangkan sikap lucu Neina saat sedang bertengkar dengan putra semata wayangnya Reynaldo.
"wah... selamat nyonya... akhirnya rumah ini akan kembali dalam keadaan bahagia dan ramai kembali.... dengan kepulangannya Nona muda..." senyum kepala maid ikut bahagia.
"terimakasih...yasudah..kalo begitu cepat persiapan semuanya sebentar lagi sepertinya putra dan mantu ku sampai..." ucap Safira sebelum pergi dari dapur yang di angguki semua para maid.
.
Tak tak tak Suara sepatu runcing milik Ica terdengar merdu melewati tangga untuk sampai di lantai bawah.
"siang juga sayang..." balas Safira tanpa mengalihkan perhatiannya dari kuku indahnya.
"Mmm Tante...apa kakak belum pulang-pulang...." Tanya Ica celingak-celinguk mencari keberadaan Reynaldo yang masih belum menunjukkan batang hidungnya.
"sepertinya sebentar lagi mereka sampai..."
"mereka..." tanya ucap heran Ica.
"yah... Rey sedang menjemput Neina..." jawab Safira yang sudah selesai menghias kuku-kuku cantiknya.
"apa...jadi dia hari ini bakal tinggal di rumah ini lagi... bukannya tadi gue denger pelayan bilang jika satu hari yang lalu Neina sudah kembali ke rumah nya lagi... arghhhhhhh...gue lupa.... bukannya tadi juga mereka pulang bareng... mungkin itu semua kak Rey lakukan untuk menjemputnya kembali..." batin Ica bertanya-tanya pada diri sendiri.
Cittttttttt Suara mobil yang di rem mendadak menghasilkan suara yang begitu nyaring membuat Safira langsung lari terbirit-birit keluar untuk menjemput sang pengemudi mobil tersebut.
__ADS_1
"arghhhhhhh...lho bisa gak sih bawa mobil...kenapa rem mendadak...apa lho mau buat gue mati hahh...kalo mau mati yaudah sana mati aja..gak usah ngajak-ajak gue ...gue masih belum mati..." teriak Neina mendumel pada Reynaldo yang hanya tersenyum manis saja.
"itu semua salah mu Ney....kakak dari tadi sudah berulangkali mengajak kamu bicara...tapi kamu tetap saja diam seolah tidak mendengarkan kakak..." jawab acuh Reynaldo sambil membukakan pintu mobil untuk Neina turun.
"yah suka-suka gue... bibir-bibir gue...kenapa lho yang jadi berisik suruh ini suruh itu..." bentak Neina tidak menyadari kehadiran Safira yang sedang terkeheh lucu melihat pertengkaran unfaedah pasangan muda yang ada dihadapannya itu.
"huhh....kakak kira kamu sariawan Ney... makannya dari tadi diam aja kaya batu...eh ternyata nggak ini cerewet nya udah kumat lagi..." ledek Reynaldo berjalan ke depan dengan menggandeng tangan Neina yang masih asyik marah-marah.
"lho yah bad boy..." teriak kesal Neina melepaskan gandengan tangan Reynaldo yang langsung berhenti berjalan.
"ada apa..." tanya Reynaldo so b*go.
"ck...gak usah so b*go lho...dasar bad boy nyebelin...bad boy tukang bul..." umpatan Neina terhenti saat ekor matanya tidak sengaja melihat kehadiran Safira yang sedang terkeheh mendengarkan perdebatan mereka.
"tukang apa....coba lanjutkan omelan mu itu Ney...kakak masih rindu untuk diceramahi nenek lampir cantik seperti mu ini..." goda Reynaldo yang masih belum menyadari kehadiran Safira.
"Ekhem..." Safira berdehem untuk menyadarkan putranya yang sedang dimabuk cinta itu.
"jadi kamu sekarang sudah berani yah mengatai putri mama dengan sebutan Nenek lampir cantik..." goda Safira yang langsung membuat Reynaldo salah tingkah.
"Mmm...mama sejak kapan ada disana..." tanya Reynaldo guna mengantikan topik.
"sejak kalian bertengkar..." kekeh Safira membuat kedua bola mata Neina membola sempurna.
"astaga.... gawat ini...jadi mama mendengarkan perdebatan kami..." batin Neina meneguk ludah.
"Hey... jangan kaget seperti itu Ney...mama paham kok bagaimana kesalnya menghadapi anak bandel ini...jadi jangan berpikiran jika Mam..."
"Neina...kamu sudah pulang..." tanya Ica so akrab menghentikan ucapan menantu dan mertua itu yang sudah berpisah untuk beberapa hari ini.
"Ica..."
.
__ADS_1
Bersambung ;(