Si Cupu Itu Milikku

Si Cupu Itu Milikku
Bab 85 Posisi siapa yang lebih terhormat


__ADS_3

Selamat siang readers 😗


.


Happy reading 😚


.


"Neina...kamu sudah pulang..." tanya Ica so akrab menghentikan ucapan menantu dan mertua itu yang sudah berpisah untuk beberapa hari ini.


"Ica..." ucap lirih Neina.


"hey... akhirnya kamu sampai juga...ayo masuk ..." ajak Ica merangkul bahu Neina sedikit demi sedikit mengikis jarak antar Reynaldo dan Neina.


"kenapa dia jadi bersikap baik...apa mungkin karena sedang ada mama yah..." batin Neina menebak-nebak.


"akhirnya sekarang aku punya teman di kediaman ini...dulu saat aku nginap di rumah ini selalu sendiri....mmm ralat berdua bersama kak Rey...tapi sekarang keadaan akan semakin ramai dengan kehadiran kamu diantara kami..." ucap Ica lembut namun siapapun yang mendalami baik-baik perkataan Ica mereka akan sadar akan yang dilakukan Ica itu bukan ucapan selamat datang melainkan sindiran Jika kehadirannya menjadi orang ketiga antar dia dan Reynaldo.


"tentu saja... terimakasih karena sudah menerima ku di kediaman ini Ica...aku berjanji untuk menjadi teman ketiga kalian yang terbaik... tidak akan pernah membuat kalian kesepian lagi...dimana ada kalian disana juga ada aku... yang akan menjadi penengah antar kalian..." ucap Neina menimpali perkataan Ica dengan tersenyum manis.


Seketika Reynaldo tersenyum senang mendengarkan perkataan Neina yang intinya Neina tidak akan pernah membiarkan dia dan Ica berduaan lagi dengan akan menjadi penengah s antara mereka yang dengan kata lain Neina akan selalu ada bersamanya.


Ingin sekali Reynaldo bersiul senang dengan keadaan yang sedang memihak nya berbeda dengan Ica yang mengepalkan kedua tangannya.


"berani sekali j*lang seperti mu menjawab perkataan ku Neina...." batin Ica merasa geram namun tetap memaksakan tersenyum manis untuk menjaga imagenya.


"cihhhh...hanya trik murahan kek gini gak bakal bikin gue kalah...enak saja lho mau rebut suami gue...gak salah lho ngatain gue orang ke-tiga... bukannya lho yang orang ke-tiga karena sudah berani menyukai suami orang..." batin Neina mencibir Ica.


"yasudah ... karena sekarang sudah lengkap...kita langsung saja ke meja makan untuk makan siang...mumpung makanannya masih pada hangat...." ucap Safira yang tidak menyadari perang dingin yang sedang terjadi.


Tanpa berkata atau mengiyakan perkataan Safira merekapun beriringan menuju meja makan, Ica cepat-cepat duduk di kursi sisi kiri Reynaldo sementara Neina yang melihatnya mengernyitkan keningnya.


"bukannya itu tempat duduk gue yah... sebagai istrinya kak Rey gue lah yang lebih berhak duduk disana bukan dia..." batin Neina mulai cemburu, Reynaldo yang mengerti dengan pikiran istrinya pun seketika angkat bicara.

__ADS_1


"Ma... untuk hari ini saja...apa boleh Rey duduk di kursi mama itu..." tanya Reynaldo menatap penuh harap sang mama, Safira yang mengerti pun dengan semangatnya langsung berpindah tempat.


"tentu saja sayang..." ucap Safira berpindah tempat duduk.


"ayo duduk Ney..."ucap Reynaldo menarik kursi untuk Neina yang masih berdiri.


"hmmm... makasih..." ucap Neina dalam hati tersenyum puas dengan kepekaan Reynaldo


Posisi duduk yang benar menurut pangkat dan aturannya pun kembali ke posisinya masing-masing, Reynaldo yang duduk disisi kanan kursi tuan rumah atau yang tidak lain dan tidak bukan Raican dengan ditemani Neina sebagai istrinya di sisi kirinya, dan Safira yang juga duduk disisi kanan dekat dengan kursi kebesaran Raican yang berada di tengah-tengah diikuti putrinya yang tidak lain dan tidak bukan Ica, seperti inilah peraturan rumah itu dimana suami dan istri harus duduk berdekatan untuk memudahkan istri menyediakan makanan untuk suaminya, dan untuk yang belum menikah diperuntukkan untuk duduk dekat dengan sang nyonya rumah.


"kenapa gue merasa kak Rey dan gadis itu seperti pasangan suami istri yang duduk saling berdekatan... sementara gue yang notabenenya calon istri kak Rey malah duduk di dekat Tante Safira.... bukannya posisi ini salah yah... seharusnya Neina lah yang duduk di kursi ini..." batin Ica.


Belum juga pertanyaannya terjawab lagi-lagi Ica dibuat bertanya-tanya dengan sikap cetakan Neina yang tanpa diminta menyiapkan makanan untuk Reynaldo yang duduk manis menatap pergerakan Neina yang sedang memilihkan makanan untuknya.


"apa kakak mau daging sapi nya juga..." tanya Neina sebelum mengambil daging sapi tersebut.


"boleh saja... " jawab singkat Reynaldo yang masih anteng memperhatikan gerak gerik tubuh istri mungilnya itu.


"ekhem...apa semua ini tidak terlihat berlebihan... mengapa Neina menyiapkan makanan untuk kakak... bukannya itu tugas seorang istri atau tunangan yah..." ucap Ica akhirnya dia mengeluarkan suaranya juga setelah benar-benar dibuat kesal karena tingkat Neina yang menurutnya sudah lancang itu.


"apa maksud kakak... bukannya calon istri kakak itu Ic..."


"apa ini pasar sehingga kalian di perbolehkan untuk berbincang-bincang ..." picing mata Safira pada putranya dan putri teman suaminya itu.


"ini baru makan siang bukan makan malam yang diperbolehkan untuk kalian berbincang-bincang menceritakan aktivasi apa saja yang sudah kalian lakukan hari ini..." sambung Safira lagi menegaskan peraturan yang sudah ada dari semenjak dulu, yang dibuat oleh nenek moyang keluarga Sangga untuk tidak bicara saat makan kecuali saat makan malam.


Sebenarnya bukan karena melanggar peraturan turun temurun itu yang membuat Safira bicara tegas pada Reynaldo dan Ica,bahkan mereka pun sekarang sudah sering melanggar peraturan turun temurun itu semenjak kedatangan Neina yang selalu membawa keceriaan di meja makan ini.


Namun dikarenakan Ica mempertanyakan sebuah pertanyaan yang membahayakan pernikahan rahasia putra kesayangannya dan menantu kesayangannya itu terbongkar membuat Safira mau tidak mau kembali menegaskan peraturan yang sudah ada sejak lama.


Neina yang baru mengetahui peraturan itu pun dibuat bingung, bukannya selama ini mereka sering berbincang-bincang di meja makan ini baik pagi,siang ,sore dan malam pun? bahkan tidak hanya berbincang-bincang saja mereka bahkan sesekali sering tergelak bersama di meja makan ini, tapi kenapa mama Safira selama ini tidak pernah menegur mereka berbeda dengan saat ini.


Reynaldo yang tanggap dengan pemikiran istrinya pun seketika memegang tangan mungil Neina dibawah sana membuat sang empu menoleh dan melihat kode yang dibuat Reynaldo untuk tidak menanyakan pertanyaan yang ada di otaknya Neina saat ini, dengan mengedipkan pelan matanya.

__ADS_1


"Maafkan Rey yang sudah melupakan tata kram cara makan kediaman ini ma..." ucap Reynaldo yang dikuti Ica.


"iya Tante... maafkan Ica juga... mungkin karena sudah jarang berkunjung ke rumah ini membuat Ica melupakan peraturan rumah ini...dan untuk mengantisipasi agar Ica tidak mengulangi kesalahan lagi yang melanggar peraturan turun temurun keluarga besar Sangga ini... Ica akan mengusahakan mulai saat ini banyak-banyak berkunjung ke sini lagi...agar selalu ingat dengan peraturan yang sudah dibuat nenek moyang keluarga Sangga..." ucap Ica yang hanya mendapatkan anggukan kepala Safira.


"baiklah... sekarang lanjutkan makanan kalian... apapun alasannya... sekarang mama tidak mau mendengar kalian berbincang-bincang di meja makan Selain saat makan malam.... kalian paham..."


"iya ma.. "


"baik Tante ..." ucap mereka bersamaan, akhirnya makan siang berjalan dengan hening setelah usai melakukan aktivitas yang wajib itu mereka semua duduk di ruang tamu untuk sekedar berbincang-bincang menghabiskan waktu yang masih lumayan cukup panjang.


"Ney Sayang...apa sudah ada kabar dari Mommy mu itu..." tanya Safira memulai pembicaraan dengan menantu kesayangan nya itu.


"belum ma...mmm Tante..." jawab Neina tergagap.


"kenapa Ney...jika ingin memanggil Tante dengan sebutan mama silahkan Ney... bukannya Mommy mu sudah menitipkan mu pada Tante sayang yang berati saat ini kamu juga putri Tante..." ucap lembut Safira membelai sayang kepala menantu kecilnya itu yang tidak luput dari mata Ica yang mengepalkan tangannya cemburu dengan sikap lembut yang Safira berikan untuk Neina.


" Kalo begitu...Ica pun boleh kan memanggil tante dengan sebutan mama kan Tante...Ica juga ingin sekali bisa memiliki seorang ibu...Ica dari kecil selalu mau memanggil mama pada seseorang yang pantas Ica panggil dengan sebutan itu...tapi takdir tidak memperbolehkan Ica untuk memiliki seorang ibu yang bisa Ica panggil dengan sebutan mama... mereka sudah mengambil mama tanpa memperbolehkan Ica terlebih dahulu merasakan kasih sayang nya..." ucap Ica tertunduk mencari simpati Safira.


Safira yang notabenenya memiliki hati yang welas asih pun segera mendekat dan memeluk tubuh gadis kecil yang terlihat iba itu.


"sabar yah sayang...Tante yakin mama mu sudah tenang di alam sana...mulai sekarang jika Ica merindukan ibu Ica...Ica bisa memanggil Tante dengan sebutan mama...atau bunda..." ucap Safira lembut.


"hufttt...ini nih yang membuat anak tidak tau di untung itu bersikap seenaknya pada keluarga ini...sikap mama yang terlalu naif membuat dia selalu berharap lebih dan menghalalkan apa yang dia mau...sudah tau dia itu rubah licik...masih saja diberikan kebaikan..." batin Reynaldo mencibir sikap baik sang Mama.


"hahaha...masuk kau dalam perangkap ku... hahaha ibunya sudah masuk ke perangkap ku dan setelah itu giliran mu Kak...kau dan keluarga ini miliki ku seorang ... sampai kapanpun kalian hanya milikku seorang tidak untuk orang asing seperti j*lang itu..." batin Ica menatap sinis Neina, sementara itu yang ditatap sinis hanya memutarkan matanya malas.


"dasar rubah licik... " batin Neina tidak mau ambil pusing, toh orang posisi dia dan Ica sangatlah jauh berbeda, jika dia merupakan menantu rumah ini yang memiliki posisi yang lebih terhormat, berbeda dengan Ica yang hanya tidak lebih dari sekedar seorang gadis yang dikasihani kelurga ini, tanpa dia berbicara dan bertindak pun semua penghuni rumah ini sudah tau posisi siapa yang lebih terhormat diantara mereka berdua.


.


Bersambung ;(


.

__ADS_1


Ayo gaet apa yang sudah menjadi hak mu itu Neina 🤣aku suka dengan sikap anggun mu itu yang melawan menggunakan trik anggun tanpa bar bar dulu🤣🤣🤣.


__ADS_2