
Semoga lolo review malam ini🤲🏻
happy reading 😚
Pertengkaran Raican dan Fira tidak terelakkan lagi namun malam ini Neina tanpa tidak berniat menguping lagi dari tadi pikirannya terus teringat pada Reynaldo,jam sudah menunjukkan pukul 21.10 namun namun belum ada tanda-tanda Reynaldo akan pulang Neina dari tadi sudah berusaha untuk tidur namun dia belum bisa tertidur.
" CK...ada apa sih sama gue ...dari tadi gue gak bisa tidur...kenapa juga perkataan si bad boy yang di cafe tadi terus terngiang-ngiang di otak gue.." lidah Neina berdecak sebal dan turun dari kamarnya menuju dapur.
"gue sepetinya harus minum susu biar bisa tidur..." gumam Neina seketika membuat susu hangat putih sesuai kesukaannya,jika kebanyakan orang lebih suka susu cokelat lain lagi dengan Neina dia lebih suka dengan susu putih .
"eh nona belum tidur..." tanya art yang kebetulan ingin mengambil air minum.
"belum bibi..."
"kalo begitu saya duluan bi..." sambung nya.
Neina melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya lagi dengan segelas susu putih hangat ditangannya.
"hufttt udah pukul 21.30 yaudah deh gue kunci pintunya..."Neina hendak mengunci pintu kamarnya .
"apa yang lho lakuin..."
"astaghfirullah..." teriak kaget Neina.
"lho kebiasaan yah suka bikin gue jantungan...kalo begini terus gue bisa-bisa beneran mati..." kesal Neina .
"lho kenapa belum tidur ini udah malam...lho anak cewek gak pantas jam segini belum tidur..." tegur Reynaldo tanpa berniat menjawab perkataan Neina.
"baru juga jam segini masih wajar kali...lagi pula lho kemana aja sih kenapa baru pulang..." seketika senyuman terbit di bibir Reynaldo, Neina keceplosan bertanya kemana saja Reynaldo dari tadi karena pertanyaan itulah yang semenjak tadi menganggu pikirannya, Neina tampak mengerucutkan bibirnya kesal dengan suaminya yang tidak menjawab pertanyaannya.
"gue cari nafkah buat lho..." Reynaldo mengacak rambut Neina gemas.
"cari nafkah malam hari kek gini...kerja apa lho... jangan bilang yang dikatakan papa benar...gue gak mau yah di kasih nafkah uang haram..." senyuman Reynaldo seketika pudar saat mendengarkan tuduhan Neina yang ditujukan padanya, tanpa menjawab dia langsung menyambar handuk dan hendak masuk ke kamar mandi.
"kenapa gak jawab...jadi yang dikatakan papa bener ad..."
"lho temen kecil gue...lho yang lebih tau gue dari siapapun..."
ceklek pintu kamar mandi ditutup.
"kenapa dia marah ...emang apa salahnya gue nanya kayak gitu...aneh..."
__ADS_1
"astaghfirullah...lho tolol Ney...kenapa lho bertanya kek gitu..." Neina memukul keningnya kesal dengan tindakan cerobohnya.
"ck ... kayaknya gue udah gila dah...kenapa hati gue langsung menghangat lihat dia udah pulang..." gerutu Neina naik ke kasurnya setelah menghabiskan segelas susu yang dari tadi dia bawa.
"masa sih gue udah mulai maafin dia...tidak Neina lho gak boleh semudah itu maafin dia... terlalu besar luka yang dia berikan untuk lho...jadi lho jangan semudah itu memaafkannya..." batin Neina membuat benteng di antara mereka.
20 menit kemudian Reynaldo keluar dari kamar mandi, matanya langsung menatap ke arah ranjang ada rasa sakit dihatinya saat tau Neina berpikiran sama seperti papa nya.
"ternyata orang sekali udah salah di mata seseorang bakal selalu terlihat salah walaupun dia sudah berubah...kenapa lho berpikir sama kaya papa... padahal lho temen kecil gue lho lebih tau gimana jati diri gue sebenernya...apa lho pikir karena gue udah gede jadi berubah... nggak Ney yang lho pikirkan itu salah..."
"apa ini yang lho rasain selama ini...rasa sakit saat di tuduh yang nggak-nggak...dan rasa kesal yang terus dicuekin dan dikatai yang tidak-tidak... selama ini gue selalu memperlakukan lho dengan sangat buruk pasti selama ini hati lho banyak terluka karena gue...maafin gue Ney gue benar-benar nyesel udah berperilaku konyol kek gitu...hanya karena masalah sepele waktu kita masih kecil...lho juga sih Rey kenapa bego bener... selamat ini lho sering ngatain dia bego padahal yang sebenernya bego itu lho bukan dia..." Reynaldo menghela nafas berat dan berlalu ke walk in closet .
"anjay mata gue ternodai... astaghfirullah ternyata perut suami kecil gue bagus juga yah... kotak-kotak kecil anjayy...kaya roti..." Neina yang dari tadi pura-pura tidur pun langsung memegangi kedua pipinya yang terasa panas.
Pikirannya sudah benar-benar melayang-layang ingin memegang kotak-kotak kecil itu, Reynaldo yang sudah keluar dari walk in closet pun mengernyitkan keningnya.
"dia kenapa...gue pikir udah tidur..."
" lho kenapa...." tanya heran Reynaldo mengagetkan Neina.
blushhhh pipi Neina semakin memerah dan panas seolah sudah ketahuan jika dia sedang memikirkan Reynaldo.
" muka lho merah tapi dahi lho gak panas tapi kenapa pipi lho merah banget Ney .." khawatir Reynaldo yang semakin membuat pipi Neina memerah malu.
"apaan sih lho...gue gapapa..."
"tapi..."
"gue gapapa Rey..."
"serius..." Neina mengangguk.
Reynaldo terdiam memandang dalam wajah istrinya itu, Neina yang menyadari tatapan Reynaldo semakin salah tingkah dibuatnya.
"lho apaan sih lihatin gue kek gitu..." Reynaldo terkekeh baru paham jika istrinya itu salting .
"gue malam ini tidur disini yah Ney...badan gue cape banget dan pegel-pegel...kalo gue tidur di sofa takutnya makin pegel..." ucap Reynaldo meminta izin pada Neina yang malah menggeleng tidak setuju.
" gue gak mau...gue gak mau satu kasur sama lho..." Reynaldo menghela nafasnya berat lalu turun dari ranjang dan melangkah gontai ke arah sofa,dia langsung membaringkan tubuh lelahnya itu dan menutup matanya.
Neina bangkit duduk dan melihat ke arah Reynaldo ada rasa kasihan dan menyesal telah bersikap egois, dilihatnya muka Reynaldo yang tercetak rasa lelah tidak seperti biasanya yang terlihat fresh.
__ADS_1
"apa gue kejam bersikap seperti ini sama dia...apa gue dosa udah nolak keinginan suami gue .... ahhh apa sih yang lho pikirin Ney...udah gak usah dipikirin lebih baik tidur aja udah larut malam ini..." Neina berbaring lagi dan menutup matanya, lima menit, sepuluh menit,lima belas menit matanya langsung terbuka lagi dan duduk kembali memperhatikan Reynaldo yang nampak kedinginan ada rasa sangat bersalah melihat Reynaldo yang kedinginan seperti itu.
"apa setiap malam dia tidur kaya gitu tanpa bantal dan selimut..." gumam Neina dan memutar otaknya mencoba mengingat apa selama ini dia pernah melihat Reynaldo memakai bantal atau selimut.
"kayaknya gak pernah lihat dia pake selimut dan bantal deh...waktu kebangun juga gak lihat bantal atau selimut...
..."gue malam ini tidur disini yah Ney...badan gue cape banget dan pegel-pegel...kalo gue tidur di sofa takutnya makin pegel..."...
Ucapan Reynaldo yang meminta izin tidur di ranjang mulai menari-nari di pikiran Neina.
"arghhhhhhh gue gak bisa kek gini terus...yang ada gue gak bakal bisa tidur karena ngerasa bersalah..." kesal Neina lalu turun dari ranjang dan menghampiri Reynaldo,saat ingin membangunkan Reynaldo ada rasa ragu dan malu tangannya terus menggantung di udara.
Merasa ada yang memperhatikannya Reynaldo sedikit demi sedikit membuka matanya karena merasa terganggu.
deg jantung Neina berpacu dengan cepat melihat kelopak indah itu terbuka dan tatapan mata mereka saling beradu, Reynaldo berusaha mendudukkan bokongnya kepalanya pusing karena tidur nya yang baru beberapa menit terganggu dan terpaksa bangun.
"ada apa Ney...ini udah malam kenapa lho masih belum tidur..." tanya Reynaldo dengan suara khas orang baru bangun tidur dan sesekali mengucek matanya yang terasa perih.
"ahhhh kenapa mulut gue jadi susah ngeluarin suara... arghhhh ayo ngomong Ney lho pasti bisa hilangkan rasa ego lho untuk kali ini aja lihat kasihan suami lho yang kayanya masih ngantuk itu..." beberapa detik Neina berdebat dengan pikiran dan hatinya akhirnya dia pun bersuara.
"ekhem.. " dia berdehem untuk menghilangkan rasa gugup dan malunya.
"kenapa...apa ada sesuatu yang..."
"ayo pindah ke ranjang.. " potong Neina kening Reynaldo mengernyit apa dia tidak salah dengar pikirnya.
"untuk malam ini gue izinin lho tidur di ranjang... tapi untuk malam ini saja dan itu juga dengan satu syarat..."
"lho gak boleh dekat-dekat sama gue.. " sambungnya Reynaldo yang terdiam beberapa saat mulai mencerna ucapan Neina namun karena masih dikuasai dengan rasa kantuk yang teramat dia hanya mengangguk saja dan berjalan menuju ranjang yang diikuti Neina dan belakang.
"apa keputusan gue udah benar... ahhhh kenapa jantung gue berdetak cepat banget..." batin Neina berteriak keras sementara Reynaldo sudah melanjutkan tidurnya lagi dengan tangan disimpan di depan wajahnya guna untuk menutup matanya yang terasa tidak enak terkena sinar lampu yang terang.
Neina yang peka pun langsung mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur,entah setan mana yang merasukinya dengan perlahan tapi pasti Neina menyelimuti tubuh suami kecilnya itu dan ikut membaringkan tubuhnya di sisi Reynaldo dengan membelakangi Reynaldo.
.
.
.
bersambung;)
__ADS_1