Si Cupu Itu Milikku

Si Cupu Itu Milikku
Bab 57 Cepatlah pulang aku mengkhawatirkan keadaan mu


__ADS_3

Selamat sore 😗


.


Happy reading 😚


.


.


.


Malam semakin larut namun Reynaldo belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali, Neina sedang duduk selonjoran di kasur king size nya itu dengan memainkan ponselnya, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamarnya dan sesekali melihat ke arah jam ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 22.30.


"hufttt...kemana dia...kenapa belum pulang-pulang... Mama juga kemana Katanya mau pulang hari ini tapi sampai jam segini belum sampai-sampai..." gumam Neina merasa takut sendirian di kamar besar miliknya dan Reynaldo, rumah besar Raican terdiri dari empat tingkat,lantai satu dihuni para art, lantai dua ada kamar Safira dan Raican, ruang kerja Raican termasuk kamar tamu, sedangkan kamar Neina dan Reynaldo berada di lantai tiga yang hanya terdapat kamar mereka saja yang begitu luas dan ruang kerja Reynaldo yang sengaja Papa Raican buat untuk Reynaldo kelak setelah terjun ke perusahaan besar Sangga namun karena Reynaldo sudah mulai berbisnis cafe, ruang kerja itu sudah dia pakai dari dulu tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, dan untuk lantai terakhir khusus ruang GYM ruangan yang paling di sukai Reynaldo sebelum menikah dengan Neina.


Sebelumnya kamar Reynaldo terletak di lantai dua yang tidak terlalu luas namun satu bulan yang lalu mereka pindah kamar ke lantai tiga atas perintah Safira yang merasa kasihan jika anak dan menantunya tidak nyaman tidur di ruangan yang sempit menurutnya,tapi percayalah readers kamarnya tidak sempit namun biasalah orkay semuanya yang dia punya belum merasa cukup untuk nya .


jederrrrrrr Suara petir menggelar di langit malam membuat Neina terperanjat dari lamunannya,diluar sana sudah mulai turun rintik-rintik hujan yang berganti menjadi guyuran hujan deras, hati Neina menjadi gelisah pikirannya jadi tidak menentu.


"dimana lho Rey...kenapa belum pulang-pulang dan kenapa juga lho gak ada ngabarin gue...ckkkk...gue punya suami nyebelin banget dah bikin orang gelisah saja...mana diluar hujan deras banget pula..." gelisah Neina dan turun dari ranjangnya hendak menutup jendela yang terbuka sendiri, terlihat ibu kota negara itu di guyur hujan yang deras hati Neina semakin gelisah dan langsung menutup dan mengunci jendela kamarnya Karena wajah dan badannya terciprat air hujan yang terbawa angin kencang.


jederrrrrrr


jederrrrrrr Suara petir di langit saling bersahutan membuat Neina berteriak ketakutan dan bersembunyi di bawah selimut tebalnya.


"hiks... Mommy Ney takut ..." gumam Neina dengan tubuh bergetar Neina memang dari kecil fobia petir dan angin kencang.


"hiks...kak Rey...hiks Ney takut....cepatlah pulang..." tangis Neina mulai membasahi selimut nya.


jederrrrrrr

__ADS_1


jederrrrrrr Suara petir semakin bersahutan membuat Neina semakin menangis kencang ingin sekali rasanya dia turun kelantai bawah menemui art nya tapi dia takut untuk melewati lantai dua yang kosong tiada penghuninya.


"hiks... bagaimana kalo ada hantu...hiks Mommy Ney takut..."


krekett Suara pintu yang dibuka pelan membuat pergerakan dan tangisan Neina berhenti wajah Neina seketika berubah pias.


Tap


Tap


Tap Suara derap kaki semakin mendekat kearah kasur tangan Neina semakin mengencangkan tangannya pada selimut tebalnya itu guna menyalurkan rasa takutnya yang sudah di ubun-ubun.


"Non..."


"ahhhhhhh hantuuuuuu...." teriak Neina kaget bersamaan art yang memegang pundak Neina.


"astaghfirullahalazim..."ucap art ikut kaget, mendengar suara yang dia kenal Neina mulai membuka matanya dan menyembulkan wajahnya dari selimut tebalnya.


"astaghfirullah maafkan bibi yah non...sudah mengagetkan nona..." ucap art itu merasa bersalah.


"tidak masalah bi...mmm kenapa bibi masuk ke kamar saya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu..." tanya Neina memicingkan matanya.


"maaf non ...tadi telepon rumah berbunyi terus dan saat saya angkat ternyata tuan muda..."


"jadi Rey ada telepon..."potong Neina dengan mata berbinar terang,walau bagaimanapun neina tetap mengkhawatirkan keadaan suaminya itu, sebenci dan semarah apapun namanya seorang istri pasti tetap akan mengkhawatirkan suaminya,apalagi suami yang begitu perhatian dan menyayangi kita meskipun terpaut jauh dulunya Reynaldo pernah menyakitinya tetap saja rasa khawatir mendera hati Neina saat melihat malam semakin larut sedangkan Reynaldo belum pulang-pulang ditambah ponselnya tidak aktif dan hujan diluar yang semakin deras membuat dia mengkhawatirkan keadaan suaminya itu.


"iya nona...tadi tuan muda menelpon saat hujan semakin deras...tuan menyuruh saya untuk melihat keadaan nona dan menemani nona tidur...tanpa membangunkan Nona dari tidur Nona.... kata tuan nona fobia petir dan angin kencang makannya tuan mengkhawatirkan keadaan nona jika terbangun sendiri tanpa ada yang menemani disisi nona... tuan takut fobia nona kambuh kembali..." jelas art itu yang menceritakan apa yang tadi Reynaldo katakan padanya.


Tes Tanpa terasa cairan bening turun dari sudut mata Neina mendengar penuturan art nya.


"apa dia masih mengingat tentang fobia gue waktu kecil..." batin Neina merasa perih dihatinya melihat suaminya yang mengkhawatirkan keadaan nya walaupun dia tidak ada disisi-nya itu tanda jika suaminya itu menyayanginya dengan tulus,Neina sudah lama bisa merasakan perhatian yang tulus yang diberikan Reynaldo padanya namun rasa benci dan kecewa yang besar pada Reynaldo lagi-lagi menutup semua kebaikan Reynaldo yang dia tunjukan untuknya.

__ADS_1


"Hmm terus sekarang kak Rey berada dimana bi...kenapa dia tidak menghubungi ku lewat ponsel saja..." tanya Neina setelah sadar dari lamunannya.


"tuan masih di jalan tadi mobil tuan tiba-tiba mogok nona...dan katanya ponsel tuan juga lobet...tadi tuan menelpon pun menggunakan ponsel milik montir yang memperbaiki mobil tuan...dan untuk menelpon nona tuan Katanya tidak hafal nomor ponsel nona dengan benar..."


"lalu mengapa bibi memanggil saya jika kak Rey melarang bibi membangunkan saya..." tanya Neina lagi.


"maaf nona...tadi saat bibi masuk pintu tidak dikunci dan saat melihat nona...tubuh Nona bergetar dan terdengar isakan nona...saya tadi khawatir nona kenapa-kenapa... makanannya membangunkan nona..."


brukkkkk


"maafkan kelancarannya saya nona...saya pantas dihukum..." ucap pelayan itu menjatuhkan diri sendiri dan menundukkan kepalanya dengan tangan meminta pengampunan, dia pikir nona nya marah atas kelakuan tidak sopan nya.


"berdirilah bi...bibi sudah melakukan hal yang benar...dan terimakasih bibi sudah mau melihat dan menemani saya..." ucap Neina dengan tulus.


"tidak nona... jangan berterimakasih pada bibi...itu sudah menjadi tugas bibi untuk menjaga majikan bibi..." ucap art itu bangun dari duduknya.


"Iyah sudah...apa malam ini bagian sip malam bibi..."tanya Neina berusaha menciptakan obrolan antara majikan dan bawahan itu, sejujurnya dia melakukan itu karena ingin melupakan fobianya, bibi art yang mengerti dengan niat majikannya pun menjawab pertanyaan nona nya dengan senang hati.


"semoga keadaan mu baik-baik saja... cepatlah pulang aku mengkhawatirkan keadaan mu..." batin Neina.


.


.


.


bersambung ;(


.


Jangan lupa tinggalkan jejak nya readers biar author semakin semangat dalam berkarya 😩.

__ADS_1


__ADS_2