
Jam sudah menunjukkan pukul 18.55 WIB Reynaldo sudah berangkat pergi ke tempat yang tadi siang di bicarakan Agus terlihat papa Raican tidak menyukai sikap anaknya itu yang sering keluyuran tidak jelas menurutnya.
"kenapa mama selalu membelanya... sekarang dia sudah punya istri dia sudah tidak pantas lagi keluyuran tidak jelas ma...dia seharusnya sekarang sudah mulai kerja separuh waktu di kantor bantu papa..." tangan Raican terkepal .
"sabar pa...Rey tidak seperti yang papa bayangkan..." Fira mencoba menenangkan suaminya.
"stop mama membela putra kesayangan mama itu..."
"tapi yang mama katakan benar pa..."
"sudah cukup ma...jika dia memang tidak seperti yang papa bayangkan terus ngapain dia di luaran sana..." Safira diam tidak bisa menjawab, Raican tersenyum sinis.
"mama tidak bisa menjawakan...jadi mulai sekarang jangan pernah membela dia lagi... sudah seharusnya sekarang kita bersikap tegas padanya... karena sekarang dia sudah mempunyai tanggungjawab yaitu menafkahi Neina... bukan papa tidak ingin memberikan uang pada Neina...tapi papa ingin Rey belajar dari sekarang untuk menafkahinya...papa kemarin malam sudah bicara pada Raihan untuk menghentikan fasilitas yang Neina dapatkan darinya...agar putra kita berpikir dan belajar bertanggung jawab terhadap istrinya itu..." Fira hanya diam tidak menjawab Raican yang melihat istrinya diam dibawanya istrinya itu dalam dekapannya.
"maafkan mas sayang...mas tidak bermaksud membentak mu apalagi memarahi Reynaldo...ini semua mas lakukan demi masa depan putra dan menantu kita..."
"dia putri ku.." lirih Fira.
"iya sayang...dia putri kita.." dari lantai dua ada sepasang mata yang memperhatikan perdebatan Raican dan Fira, tatapannya tidak bisa diartikan.
"jadi fasilitas yang Daddy hentikan itu suruhan papa...." gumamnya.
"apa setiap kak Rey keluar rumah papa dan mama sering bertengkar..."
"sepertinya papa benar-benar marah...tapi mama malah sebaliknya membela kak Rey...ada apa ini..."
"papa ingin kak Rey untuk bertanggung jawab pada gue... bukannya kak Rey udah bertanggungjawab dengan memberikan kartu kredit tadi siang..."
"gue pikir Kartu kredit itu dari papa...tapi setelah gue lihat perdebatan barusan... sepetinya papa dan Daddy akan menyetop fasilitas milik kita masing-masing...lalu kartu kredit yang gue pegang ini dari siapa..."
"apa kartu kredit ini diberikan mama secara sembunyi-sembunyi untuk gue...atau dari kak Tira atau mommy..." pikiran Neina berkecamuk memikirkan semuanya.
"ah sudahlah kenapa harus gue pikirin...pusing gue ..." Neina melangkah ke kamarnya, diliriknya isi kamar yang hanya ada dia seorang bibirnya melengkung menciptakan senyuman manis namun jauh di hati terkecilnya merasa ada yang kurang di ruangan itu tapi apa itu? neina pun tidak tau, tidak mau ambil pusing dia pun membaringkan tubuhnya dipeluknya erat-erat guling yang ada di kasur itu.
deg deg deg
"ini..."
"ini bukanya wangi parfum kak Rey...hmm wangi sekali aroma yang menyejukkan pikiran..."
"sepertinya aroma ini tidak asing...apa ini parfum yang sama kak Rey pake waktu masih kecil...apa dia belum mengganti bau parfum nya... padahal gue juga sudah sering gunta-ganti parfum... gumamnya.
Pikiran Neina langsung melayang ke masa kecilnya bersama Reynaldo.
.
__ADS_1
flashback on
"awwww kak Rey tangan Ney di gigit nyamuk..." teriak Neina kecil menyodorkan tangannya yang digigit nyamuk, dilihatnya tangan neina yang di gigit nyamuk seketika senyum manis terbit di bibir kecil Reynaldo.
"ini hanya di gigit nyamuk bukan digigit genderewo Ney..." Reynaldo kecil tertawa melihat sikap manja teman kecilnya itu yang tidak lain Neina kecil.
"ih Kakak...kok malah ketawa lihat tangan Ney jadi merah dan gatal..." mata Neina berubah berkaca-kaca menatap Reynaldo kecil yang malah tertawa, seketika Reynaldo kecil menghentikan tawanya dan mendekap Neina kecil.
"jangan menangis Ney kak Rey Minta maaf...mana yang gatal.." tanya Rey yang pasti sudah tau namun dia pura-pura bertanya saja.
"ini...kak Rey gatal..."rengek Neina yang masih dalam dekapan Reynaldo.
"tidak apa-apa Ney...kak Rey juga sering kok di gigit nyamuk tapi gak sampai mati... nanti juga sembuh sendiri..."
"kak Rey serius...kak Rey gak bohong kan...." Neina menyembulkan kepalanya dari dekapan Reynaldo,bibir Reynaldo tersenyum manis dan mengangguk.
Dua anak kecil itu saling tersenyum dan memeluk satu sama lain dengan erat.
"tubuh kakak wangi sekali...Ney suka wangi tubuh kak Rey..." Neina mendengus-dengus tubuh Reynaldo.
"benarkah..." mata Reynaldo kecil bersinar terang, Neina kecil mengangguk membuat bibir kecil Reynaldo terus tersenyum dan membelai lembut rambut panjang Neina kecil.
.
flashback off
"waktu kecil kita dekat banget bagaikan prangko tapi sekarang..." Neina tidak meneruskan ucapannya.
"gue kayanya mulai ingat kembali ingatan gue... beberapa hari ini gue sedikit demi sedikit mendapatkan ingatan gue lagi...tapi kok gue gak kesakitan yah bukannya di film-film kalo orang dapat ingatannya kembali Selalu kesakitan...tapi kok gue nggak yah...atau jangan-jangan gue Orang spesial yah yang nggak akan ngerasakan sakit... hahaha...konyol..."
"sudah lah lebih baik lho tidur Neina udah malem..." gumam Neina mulai menutup matanya tanpa melepaskan pelukan digulungnya.
detik demi detik berganti, menit demi menit berganti, jam demi jam berputar, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 23.30 kamar di buka Reynaldo,keningnya mengernyit melihat lampu yang masih menyala terang .
"dia udah tidur tapi lampu kamar masih nyala... apa dia lupa matikan lampunya atau dia takut gelap..." gumam Reynaldo.
"udahlah nggak usah dipikirin..." Reynaldo melepaskan jaketnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, setengah jam Reynaldo keluar dari kamar mandi terlihat tubuh bagian bawah nya ditutupi handuk sementara tubuh bagian atasnya terbuka polos.
Reynaldo melangkahkan kakinya ke arah walk in closet, sekarang sudah terlihat dia memakai kaos tangan pendek dan celana pendek setengah lutut matanya melirik Neina yang tertidur pulas memeluk guling miliknya ralat milik mereka.
"manis..." hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.
"hufttt gue cape banget..." Reynaldo meregangkan otot-ototnya lalu melangkah ke arah sofa di baringkan nya tubuhnya di atas sofa itu dan mulai menutup matanya ikut bermimpi mengejar mimpi Neina yang entah sudah berada dimana.
.
__ADS_1
.
.
"gua gak mau ikut lho..." ketus Neina.
"lho ribet amat... tinggal duduk aja gak bakal gue suruh nyetir juga..." geram Reynaldo.
"lho bego atau gimana hah... kalo orang-orang pada lihat kita berangkat bareng mereka pasti bertanya-tanya..." kesal Neina.
"cihhhh bukannya lho kemarin juga pulang bareng gue... dan yang lebih parahnya lho yang ajak gue pulang bareng lho..." ejek Reynaldo.
"jangan ke PDan yah...gue ngajak lho pulang bareng karena takut mama tau kalo hubungan kita gak baik-baik saja..."
"lalu sekarang apa bedanya Neinaaa..." bentak Reynaldo
"ya jelas beda lah sekarang mama lagi gak ada di rumah...jadi lho dan gue berangkat masing-masing aja..." Neina ikut membentak.
"arghhhhhhh botak kepala gue lama-lama...baru dua hari nikah setiap detiknya selalu dibuat emosi..." teriak Reynaldo menjambak rambutnya frustasi.
"emang lho pikir lho aja yang tertekan dengan pernikahan ini...gue juga sama kali...gak usah lebay deh sampai Jambak-jambak rambut segala..." ejek Neina.
"terserah lho aja...gue mau berangkat udah siang ..." Reynaldo masuk ke dalam mobilnya.
"emang ini udah pukul berapa sih..." Neina melirik jam nya.
"astaga pukul 07.01 ...." panik Neina.
"ini gimana dong kalo gue bawa mobil sendiri nanti pulang nya gimana pasti mama nanya kenapa gue bawa mobil sendiri... arghhhh kenapa gue gak mikirin ini dari tadi..." Neina menatap mobil Reynaldo yang belum bergerak masih betah terparkir di halaman rumah, terbersit niat ingin ikut sekolah bareng tapi malu sendiri, nanti apa kata Reynaldo tadi nolak mentah-mentah berangkat bareng tapi sekarang minta ikut gengsi pikirnya, Neina mulai menggigit kuku jarinya panik dan bingung tidak tahu harus bagaimana.
tit titttttttt
" kenapa lho masih berdiri disana...ayo masuk lho mau kita telat..." teriak Reynaldo membuka kaca mobilnya seketika senyum manis Neina terbit.
buggggg
"oke karena lho maksa gue akan ikut bareng lho..." ucap Neina setelah duduk di samping Reynaldo.
Reynaldo memutarkan matanya malas cihhhh make acara bilang gue maksa pula, bukannya sudah terlihat jelas tadi dia panik antara ingin ikut atau Nggak pikir Reynaldo.
"pake sabuk pengamannya kita bakal ngebut..." perintah Reynaldo dengan cepat Neina memakai sabuk pengamannya, melihat Neina sudah memakai sabuk pengaman ditubuh kecilnya itu dengan cepat Reynaldo membawa mobilnya membelah jalanan, sekarang mobil milik Reynaldo sudah tidak terlihat lagi di halaman rumah Raican.
.
.
__ADS_1
.
bersambung