Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Kesedihan Rian


__ADS_3

"Siapa pria ini? Apakah dia benar-benar orang yang telah membunuh kedua orang tuaku?" gumam Rian.


Rian kemudian melihat ke sekelilingnya dan berteriak. "Hei, keluarlah! Kalian nggak perlu bersembunyi lagi!"


Dari bayangan gelap di sekeliling Apartemen, muncul banyak pasukan bersenjata lengkap. Mereka keluar sambil tetap mengacungkan senapan ke arah Rian.


"Jangan bergerak!" ucap salah seorang pasukan bersenjata.


Sniff Sniif


Rian mengendus-edus dan mengenali beberapa bau yang familiar. "Letnan I Fyren, bisa tolong jelaskan padaku, apa yang terjadi?"


Mendengar ucapan Ryan, Fyren menatap wajah Ryan dalam wujud Alpha Werewolf. 'Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya?'


"Fyren, apa kamu mengenalnya?" tanya Kapten Leo dari alat komunikasi.


"Letnan, bukankah wajahnya mirip dengan Rian?" celetuk Jaka.


Mata Fyren pun terbelak. "Ahh! Rian Morfran!?" 


Rian tersenyum hangat melihat reaksi Fyren. "Akhirnya Letnan sadar juga …" 


"Ta-tapi, wujudmu itu? Bukankah kamu Setengah Werewolf?"


Mendengar pertanyaan Fyren, Rian jadi kembali teringat pada Yohan. "Yohan …" 


Dalam sekejap, Rian menghilang dari tempatnya berdiri. Yang tertinggal di sana hanyalah hembus angin.


"Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin dia bisa menghilang?"


"Tidak perlu mencarinya lagi. Kita sudah mengetahui identitas makhluk tadi. Jadi, kita bisa dengan mudah memintainya keterangan. Yang terpenting sekarang adalah memastikan kematian Nightmare!" 


"Siap Kapten!"


Di bawah perintah Kapten Leo, pasukan bersenjata tersebut langsung mengangkut mayat Nightmare.


Sementara itu, Rian kini berada di lantai 13. Ternyata, di sana sudah ada 2 orang dari Departemen Penanggulangan Bencana Supranatural yang sedang berjaga. Rian melihat tubuh Yohan yang tergeletak lemas di lantai. Kemudian, Rian berjalan menuju mayat Yohan. Dengan tatapan penuh kesedihan, Rian menggendong mayat Yohan dan menghilang dari tempat tersebut.


Tak lama kemudian, sosok Rian muncul di area yang dipenuhi ilalang. Rian segera menggali tanah untuk mengubur mayat Yohan. Setelah mengubur mayat Yohan, Rian menangis tersedu-sedu di depan makam Yohan.


"Hiks hiks hiks … uaaaahhhh!" teriakan Rian menyeruak keras hingga radius 3 kilometer.


Kapten Leo dan pasukannya mendengar teriakan Rian. Mereka bisa merasakan kesedihan yang mendalam dari teriakan tersebut.


"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Tapi, tampaknya dia sangat sedih." gumam Kapten Leo.


...****************...


Keesokan paginya, Rian bangun dengan mata sembab. Terlihat pula kantong matanya yang sangat tebal menyerupai Panda. Kemudian, ia berangkat ke sekolah dengan hati yang berat.

__ADS_1


"Hai Rian ..."


Banyak murid yang menyapanya pagi itu, namun Rian hanya terdiam dengan tatapan kosong dan berjalan menuju kelasnya. Tak ayal, hal ini membuat murid-murid lainnya penasaran dengan apa yang terjadi pada Rian.


"Hei, ada apa dengan Rian?"


"Kok matanya kayak Panda gitu, ya?"


"Apakah Rian diputus Livia?"


"Waahh … bisa jadi bisa jadi"


"Asik nih ada kesempatan buat deketin Rian"


"Heeh … sadar dong. Kamu kan cowok. Masa jeruk makan jeruk?"


Mendengar semua percakapan itu, Alena yang baru saja datang seketika khawatir dengan keadaan Rian. 


'Apa yang telah terjadi pada Rian? apa benar dia telah diputus oleh Livia? Tapi kan mereka cuma pacaran pura-pura.' Alena pun segera bergegas menuju kelas untuk menemui Rian.


Di dalam kelas, Alena melihat Rian menundukkan kepalanya di bangkunya.


"Hei, Rian. Kamu kenapa?"


Rian menatap Alena dengan penuh kesedihan.


Tak lama kemudian, Livia, Adi, dan Guntur masuk ke kelas. Melihat kondisi Rian yang seperti itu, mereka pun penasaran dan ingin bertanya. Namun, Alena dan Tika mencegah mereka untuk mendekati Rian. Alena memberi penjelasan bahwa Rian akan menceritakan masalahnya saat jam istirahat dan meminta mereka untuk memberi ruang kepada Rian.


Tiiiiing


Bel telah berbunyi. Jam istirahat pun telah tiba. Rian memberi kode kepada teman-temannya untuk mengikutinya ke ruang Osis yang ada di lantai dasar.


Di ruang Osis, sudah ada Alicia yang duduk sambil memainkan laptopnya.


"Kak Alicia bisa minta waktunya sebentar? Ada yang ingin ku ceritakan pada kalian semua." ucap Rian.


Alicia pun bingung. Ia sangat jarang melihat Rian berkata serius seperti ini. Sebelum Rian bercerita, mendadak seluruh ponsel mereka berbunyi. Rian merasa ada yang aneh dengan hal ini.


"Tunggu! Jangan ada yang mengangkat telepon ini!"


"Kenapa Rian? Apakah ini juga termasuk memetic effect?"


Tiba-tiba, pada layar laptop Alicia muncul gambar seorang pria yang memakai topeng Plague Doctor. Namun, sosok tersebut ternyata tidak hanya muncul pada layar laptop Alicia saja, tapi juga muncul pada televisi, videotron, dan komputer di seluruh kota Surabaya.


"Selamat siang warga Surabaya …"


Mendengar suara ini, Rian dan teman-temannya langsung berkumpul di belakang Alicia yang masih duduk di depan laptopnya.


"Perkenalkan, namaku adalah Nightmare. Apakah kalian sudah menerima hadiah dariku Senin kemarin?" tanya Nightmare.

__ADS_1


"Bagi yang masih bingung, aku beri kalian satu petunjuk, bunuh diri ..."


"Sekarang, kalian pasti sudah paham kan, apa hadiah dariku Senin kemarin?"


"Fenomena Senin kemarin adalah salah satu hadiah dariku. Dan malam ini, kalian akan menerima hadiah kedua dariku. Selamat menikmatinya, warga Surabaya tercinta … " Setelah itu, tayangan tersebut langsung hilang, seakan siaran tersebut tidak pernah terjadi.


Mata Rian terbelak setelah melihat siaran tersebut. "Ini tidak mungkin! Bukankah aku sudah membunuhnya tadi malam?" 


Di saat yang sama, ingatan Yohan mengenai Nightmare menyeruak. "Ugh ..." Kepala Rian terasa sakit sekali ketika ia menerima sedikit ingatan Yohan. Sebelumnya, ia tidak merasakan sakit karena ia dalam wujud Alpha Werewolf.


"Rian, kamu kenapa?" Livia langsung memegang bahu Rian yang ada di sebelahnya.


"Aku nggak apa-apa kok. Hanya saja, ingatan Kak Yohan baru saja mencuat dalam benakku."


"Ingatan Kak Yohan?" tanya Alena sambil memiringkan kepalanya.


"Kak Yohan, dia …" Rian menghentikan ucapannya sejenak. Perlahan, ia meneteskan air matanya.


"Rian?"


"Hiks … dia telah meninggal dunia, hiks …" Ucapan Rian ini membuat teman-teman Rian tercengang, terutama Alicia. 


Bagaimana tidak, ketika orang lain berusaha menjauhi Alicia, namun Yohan malah berusaha akrab dengannya. Tapi sayang, saat itu Alicia masih belum bisa membuka hatinya. Dan kini, ia sedikit menyesal.


Alicia pun tidak bisa diam lagi. "Rian, apa yang sebenarnya terjadi?" 


Dengan suara yang bergetar, Rian memulai ceritanya.


...****************...


"Kapten Leo, apa maksud dari semua ini!?" teriak Jenderal Tio melalui telekonferensi.


"Maafkan kami Pak. Kami menduga, Nightmare yang dibunuh oleh Rian itu palsu." tunduk Kapten Leo.


"Apakah kalian sudah menemukan identitas Nightmare palsu itu?"


Kapten Leo kemudian membuka map yang ada di mejanya. "Identitas Nightmare palsu adalah Aldy Tahir, usia 34 tahun, lahir di Surabaya. Dia adalah mantan pasien bangsal Jiwa Rumah Sakit Umum Surabaya."


"Mantan pasien? Apakah dia sudah sembuh?"


"Kami tidak tahu Pak. Sejak Rumah Sakit itu tutup, nasib semua pasien bangsal jiwa tidak kami ketahui. Tidak ada catatan sama sekali tentang mereka pasca penutupan Rumah sakit."


"Bukankah Rumah Sakit Umum Surabaya adalah tempat kasus pembunuhan yang menghebohkan itu?"


"Itu benar Pak. Dan kami curiga, Aldy adalah salah satu pelakunya. Secara pribadi, aku menduga bahwa kasus pembunuhan tersebut masih ada kaitannya dengan Nightmare."


"Segera cari hubungan antara Aldy dan Nightmare. Lalu, perketat patroli malam ini. Aku memberimu kuasa untuk menggunakan  pasukan dari Departemen lain. Kita harus bisa mencegah jatuhnya korban."


"Siap Jenderal!" hormat Kapten Leo.

__ADS_1


__ADS_2