Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Dukun?


__ADS_3

“Haah~ Dunia ini benar-benar nggak adil.” Rian duduk sambil menghela nafas panjang dari balik jeruji besi.


“Itu hal biasa. Jika dunia ini adil, koruptor akan dihukum lebih lama daripada pencuri ayam, hahahaha …” Sahut seorang pemuda berusia 20 tahunan yang satu sel dengan.


“Haah~ kamu memang benar.” Rian mulai merenungi apa yang terjadi padanya. ‘Selain kecerdasan dan kekuatan, ternyata uang juga sangat penting. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang! Aku dulu selalu berpikir uang itu hanya untuk melunasi hutang dan juga untuk hidup nyaman. Maka dari itu aku sangat menyukai uang. Namun aku tak menyangka, uang juga dapat untuk mengubah nasib seseorang dalam sistem hukum dengan memutar balikkan fakta. Walau aku sadar tidak semuanya seperti itu. Seperti halnya Ayah Guntur, yang merupakan seorang Polisi jujur.’


"Hei, apa yang kau renungkan?"


"Aku nggak nyangka aja keadilan bisa dibeli dengan uang. Sepertinya pengalaman hidupku benar-benar kurang. Tapi jika sesuai dengan deduksiku, seharusnya besok aku sudah bisa keluar."


"Maukah kau menceritakan kisahmu padaku? Oh ya, namaku Vektorio, panggil saja Rio …"


"Namaku Rian, salam kenal …" Setelah Rian menjabat tangannya, Rian mulai menceritakan alasan kenapa ia masuk penjara.


"Hmmm, jadi begitu ceritanya. Sayang sekali kau tidak membunuhnya. Kalau aku jadi kamu, akan kupastikan ia mati sebelum masuk penjara. Hukuman untuk anak di bawah umur tidaklah berat, kamu bisa memakai celah itu."


"Aku nggak bisa membunuhnya, apalagi di depan teman-temanku …"


"Jadi itu yang membuatmu bisa menahan sisi kemanusiaanmu, aku mengerti sekarang …"


"Apa maksudmu?"


"Hm? Kamu pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu?"


Rian bingung dengan ucapan Rio. Melihatnya seperti itu, Rio memberi penjelasan. "Ada sesuatu di kepala mu. Aku tidak tahu itu apa, namun aku merasakan energi negatif dari situ. Jika orang lain memiliki hal yang sama dengan mu dalam kepalanya, ia pasti menjadi gila. Selain itu, aku juga merasakan ada yang aneh dalam tubuh mu, seperti sesuatu yang tidak murni. Tepat di jantungmu … Ini aneh, seharusnya manusia tidak memilikinya …"


Rian teringat kat -kata dari Nyai Roro kidul, yang memperingatkannya mengenai sesuatu dalam otaknya. 'Apakah Sistem Uji Nyali yang membuatku jadi agresif? Nyai Roro kidul juga memperingatkanku mengenai hal ini. Begitu juga Rio. Tapi bagaimana caranya aku bisa melindungi pikiranku dari sistem? Selain itu, aku juga membutuhkan sistem untuk meraih tujuanku, jadi aku tidak bisa membuangnya!' 


Setelah mencerna maksud Rio, Rian langsung mewaspadai Rio. "Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana kamu bisa melihat keanehan pada diriku?"


Rio melepas kacamatanya. Di balik kacamata, warna mata Rio berbeda. Ada beberapa garis warna kuning di matanya yang bergerak gerak bagaikan sengatan listrik. "Aku terlahir dengan mata terkutuk, All Seeing Eye, yang memungkinkan aku bisa melihat semuanya. Baik makhluk astral, energi yang ada di udara, aura, bahkan aku juga punya penglihatan X-Ray."


"Anjiir, kekuatan mata apa itu! Terlalu Kuat! Hei, katakan padaku, apakah kamu reinkarnasi dari dunia lain? Atau kamu punya kakek-kakek yang memandumu mengendalikan kekuatanmu?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak bodoh!"


Buk


"Aduh! Kenapa kamu menjitak ku!?"


Rio tidak mempedulikan protesnya. "Aku dulu pernah melihat seseorang yang memiliki energi negatif di kepalanya seperti mu."


"Apa? Di mana orang itu sekarang?" Rian terkejut dengan ucapan Rio. 'Jadi ada orang selain diriku yang memiliki sistem? Apakah itu sistem yang sama dengan milikku, atau berbeda?'


"Aku tidak tahu di mana orang itu sekarang. Aku tak sengaja bertemu dengannya satu tahun yang lalu. Waktu itu, aku kebetulan melewati kompleks pemakaman Peneleh. Saat melewatinya, aku mencium bau darah. Karena penasaran, aku memutuskan untuk melihat sebentar apa yang terjadi di sana. Tapi saat sesampainya di sana, tampak sama-samar seseorang yang menggunakan topeng Plague Doctor yang menyerupai paruh burung berdiri menginjak kepala seorang Pria. Aura orang itu sangat menakutkan! Penuh dengan energi negatif dan juga kegelapan. Bahkan dengan mata terkutuk milikku, aku tetap tak bisa melihatnya dengan jelas!" Rio terlihat gemetaran mengingat kejadian itu. "Terlebih lagi, melihatnya menginjak dan menendang  dengan sadis kepala sepasang pria dan wanita secara bergantian, benar-benar membuat bulu kuduk ku berdiri! Padahal aku sudah memiliki mata ini sejak lahir, tapi itu pertama kalinya aku ketakutan akan hal seperti itu!"


"Sepasang pria dan wanita? Apa kau tahu ciri-ciri mereka atau mungkin mendengar namanya?"


"Tentu saja aku tahu. Dengan mata ini, aku bisa melihat semuanya dengan jelas terkecuali orang bertopeng tersebut. Kalau masalah nama, sepertinya aku mendengar orang bertopeng Plague Doctor itu memanggil pria yang dibunuhnya dengan nama Imam."


Deg


'Tidak mungkin … INI TIDAK MUNGKIN!'


Rio bingung dengan perubahan sikap Rian. Ia dapat merasakan kegelisahan Rian. "Pria yang dipanggil Imam memiliki rambut keriting, dan berbadan gempal. Sedangkan ciri wanita di sampingnya, ia berambut pendek sebahu, dan memiliki tahi lalat di bawah bibirnya. Apakah kau mengenal mereka?"


Deg


'Ayah … Ibu …' Emosi Rian mulai meluap-luap. Rian mulai kembali mengingat momen-momen bahagianya bersama Ayah dan Ibunya. Ketika Sakit, Ibunya senantiasa menjaga dan merawat Rian. saat Rian merengek minta mainan, Ayahnya akan diam-diam mengajak Rian pergi ke toko mainan tanpa sepengetahuan Ibunya. Momen demi momen tersebut memicu energi negatif dalam otak Rian. Mendadak, mata Rian menjadi merah.


Deg Deg Deg Deg


‘Perasaan ini? Amarah ini?’ Rian pun teringat momen  saat ia melempar Livia. ‘Livia …’ Ia mengingat wajah manis Livia yang meringis kesakitan. ‘Aku nggak ingin hal itu terjadi lagi …Aku nggak ingin menyakiti orang-orang yang aku sayangi lagi!’


“Arghhh! Aku ... harus menahannya!” Rian membenturkan kepalanya ke tembok.


DUG

__ADS_1


Darah perlahan mengalir dari dahi Rian. Perlahan, Rian berhasil menenangkan dirinya. "Haah haah haah  … terima kasih telah menceritakan momen terakhir kedua orang tuaku! Mungkin ini yang dinamakan takdir. Jika aku tidak bertemu denganmu, mungkin aku akan terus mencari Orang Tuaku tanpa tahu mereka masih hidup atau sudah pun tiada."


Rio hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Rian. Kemudian ia memakai kacamatanya kembali. “Kamu tahu kenapa aku dipenjara?”


Rian menggelengkan kepalanya. Ia juga penasaran dengan alasan Rio dipenjara.


“Karena aku tak punya uang.”


“Ha?? Alasan macam apa itu!” teriak Rian. Ia pun sampai melupakan kesedihannya karena jawaban absurd Rio.


“Aku serius! Pekerjaan utamaku adalah Dukun. Namun, akhir-akhir ini semakin banyak Dukun palsu. Dan tentu saja itu mempengaruhi pekerjaanku. Jujur, aku sudah 3 bulan tidak mendapat job. Akhirnya aku memilih mengaku sebagai penipu agar masuk penjara. Setidaknya di penjara, aku mendapat tempat untuk berteduh dari panas dan hujan. Dan yang utama, aku bisa mendapat makan gratis!”


“Ughh … oke-oke ...” Rian sedikit kecewa dengan penjelasan Rio. Ia mengira ada alasan khusus mengapa Rio masuk penjara. Namun ternyata kenyataan itu benar-benar tidak selalu sesuai ekspektasi. “Kalau kamu itu Dukun, berarti kamu bisa nyantet orang?”


“Tentu saja, itu hal yang mudah. Akan ku praktekkan, lihat baik-baik!” Rio pun melakukan berbagai gerakan aneh dan juga membaca mantra dalam bahasa jawa.


Duuuut


Preet


Preketek Preket 


Broot


Tiba-tiba saja, Pak Polisi yang dari tadi berjaga di ujung lorong penjara mengeluarkan suara kentut yang nyaring bunyinya. Bau tidak sedap pun menyeruak ke seisi lorong penjara.


“Tuh, lihat kan? Aku sengaja mengirim santet agar ia kentut.” Rio terlihat bangga dengan hasil pekerjaannya.


“Ugh … tapi bukankah biasanya untuk mengirim santet, perlu sebuah media ya? Tapi aku nggak melihat media yang kamu gunakan dalam menyantet tadi.” tanya Rian sambil menutup hidungnya.


“Dukun yang jago tidak memerlukan media apapun. Yang penting, aku harus tahu wajah dan nama asli dari target. Kalau dua syarat itu terpenuhi, bahkan Presiden Amerika saja bisa ku santet!”


Rian pun mulai membayangkan Presiden Amerika terkena santet Rio. Ketika melakukan pidato kenegaraan di depan media, sang Presiden kentut dengan keras dan mengeluarkan aroma yang sangat sedap. ‘Pasti akan masuk sejarah sebagai Presiden pertama yang kentut di depan publik. Untung aku tidak mengatakan nama panjangku. Kalau aku memberitahu nama panjangku, bisa-bisa aku jadi sasaran empuk santet Rio!’

__ADS_1


“Hahahahaha …” Rian tertawa lepas. Walau Rian tertawa lepas, namun dalam hati ia terus mewaspadai Rio. ‘Apa cerita Rio tadi benar, bahwa pembunuh kedua orang tuaku adalah orang yang memakai topeng Plague Doctor? Apa tujuannya membunuh orang tuaku? Ataukah ini semua hanya karangan Rio? Yang artinya Rio bisa saja pembunuh asli dari orang tuaku. Tapi tetap saja, apa motifnya? Apa ada kaitannya dengan organisasi berlambang Kadukeus itu? Apa ia diperintahkan untuk mencari ponsel misterius yang ditinggalkan orang tuaku?  Masih banyak misteri dalam kasus ini. Aku belum bisa membuat hipotesis dari petunjuk yang ada. Tapi satu hal yang pasti, aku belum bisa mempercayai Rio. Keberadaannya di sini terlalu kebetulan! Apalagi ia mampu mengendalikan suasana dan juga obrolan. Rio orang yang berbahaya!’



__ADS_2