Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Bermain Dadu


__ADS_3

“Pak Arta, sejak kapan Bapak memakai cincin?” tanya Rian setelah Pak Arta diusir secara halus oleh bankir.


“Cincin?” Alena dan Tika pun akhirnya sadar bahwa di jari tengah Pak Arta, ada sebuah hijau yang terbuat dari giok.


“Sudah ku duga, kamu pasti menemukan trik Bapak.” senyum Pak Arta.


"Aku selalu melihat Pak Arta menggosok-gosok cincin hijau itu sebelum membuka kartu. Bahkan kartu tersebut bisa berubah sesuai keinginan Pak Arta."


Kemudian Pak Arta menjelaskan perihal cincin itu kepada Rian. ”Kamu pernah menonton film God Of Gambler yang diperankan oleh Chow Yun-fat?”


“Iya, aku pernah menontonnya. Kalau nggak salah, tokoh utama film tersebut juga memakai cincin giok mirip seperti yang Bapak gunakan saat ini.”


“Cincin itu nyata. Cincin ini benar-benar dapat membuat orang yang memakainya pasti menang dalam berjudi.”


‘Apa!? Pasti menang berjudi? Anjir!’ Hati Rian bergejolak mendengar cincin absurd ini. “Dari mana Pak Arta mendapatkannya?”


“Bapak kebetulan sedang mengikuti lelang di Singapura. Saat itu, cincin ini diperkenalkan sebagai cincin kesehatan dan pembawa keberuntungan. Karena tidak ada barang yang menarik dalam katalog lelang, jadinya Bapak iseng untuk memberi penawaran, dan akhirnya aku menang.”


"Om Arta, pinjem dong cincinnya …" pinta Alena dengan mata berkaca-kaca.


"Ughh … baiklah, tapi jangan sampai hilang." Kemudian Pak Arta mengajari Alena cara menggunakan cincin tersebut. Rian pun memberi Alena modal 100 keping chip berwarna merah marun. Setelah itu, Alena pergi bermain ditemani Pak Arta.


"Tika, nggak biasanya kamu nggak mengikuti Alena?"


Wajah Tika memerah ketika mendapat pertanyaan seperti itu. "A-aku cuma ingin lihat bagaimana kamu kalah dan kehabisan uang kok! Jangan salah paham!"


Rian tertawa dengan sikap Tika. "Hahahaha … tenang saja, karena aku nggak suka berjudi, maka aku nggak pernah memainkan permainan yang aku nggak yakin akan menang!"


Mereka berdua berjalan menghampiri sebuah meja yang menyediakan permainan dadu. Aturan permainan ini sangat simpel, di mana bankir akan mengocok tiga buah dadu dalam sebuah gelas kayu tebal dan mempersilahkan para pemain menebak angka dadu tersebut. Angka 4 sampai 10 termasuk dalam kategori kecil, sedangkan 11 sampai 17 masuk kategori besar. Para pemain bisa memilih salah satu kategori tersebut. Jika bankir mendapat angka 3 atau 18, maka para pemain akan dianggap kalah.


"Aku pilih besar!"


"Aku pilih kecil!"


Rian terus mengamati orang-orang yang bermain dadu selama 5 putaran. Setelah ia yakin, Rian akhirnya mulai mengikuti permainan.


Tek Tek Tek Tek Tek


Suara kocokan dadu menandai permainan dimulai. Dengan menggunakan kemampuan Persepsi Super, Rian dapat mendengar jelas suara dadu yang ada dalam gelas kayu. Rian juga sudah menghafal tekstur dan macam bunyi dari dadu.

__ADS_1


"Silahkan para pemain menempatkan taruhan." ucap Bankir setelah meletakkan gelas kayu dalam keadaan terbalik.


'Dari suaranya, angka 3, 2, dan 1 ya. Berarti totalnya adalah 6!' Tanpa ragu, Rian mempertaruhkan 400 keping chip merah marun pada kategori kecil.


Saat Bankir membuka gelas kayunya, terlihat 3 buah dadu menunjukkan angka 3, 2 dan 1, sesuai dengan prediksi Rian. Dengan begini, jumlah chip di tangan Rian menjadi 800 keping.


"Ini pasti kebetulan!" ejek Tika. Walau begitu, tampak pada raut wajahnya bahwa ia senang dengan kemenangan ini. Hanya saja, ia masih belum bisa jujur dengan perasaannya.


"Hehehe, tidak ada yang namanya kebetulan kalau aku yang bermain." Kemudian, dengan nada bercanda, Rian bertaruh dengan Tika. "Bagaimana kalau kita bertaruh?"


"Bertaruh?"


"Benar, mari kita bertaruh. Jika aku menang pada permainan berikutnya, temani aku malam ini di kamar. Kalau aku kalah, kamu bisa meminta apa saja padaku. Tapi permintaan yang kamu ajukan harus sesuai kemampuanku." Tentu saja apa yang diucapkan Rian hanyalah candaan. Ia hanya ingin mengusili Tika yang dari tadi selalu bersikap ketus. Rian tahu bahwa Tika hanya belum terbuka padanya, makanya ia bersikap seperti itu.


"Oke, siapa takut!"


"Deal." ucap Rian sambil bersalaman dengan Tika


Permainan dadu kembali dimulai. Bankir mulai mengocok dadu dalam gelas kayu layaknya seorang bartender.


‘Ini!’ Rian hanya terdiam dan tidak memasang taruhan sama sekali pada permainan kali ini.


“Kenapa kamu nggak memasang taruhan? Kamu takut ya? Hehehehe …”


“Kok kamu yakin gitu? Kamu nggak punya kemampuan khusus untuk melihat tembus pandang kan?” Tika langsung menutup area dadanya.


“Kalau aku punya kemampuan seperti itu, aku nggak akan melakukan pengamatan sampai 5 putaran tadi.” Saat mereka mengobrol, Bankir membuka gelas kayunya. Angka yang keluar dari dadu ternyata angka 6,6 dan 6. Yang artinya, Bankir mendapat angka 18, di mana semua pemain otomatis kalah ketika angka ini muncul.


“Ahhh!”


“Sial, Bankirnya menang!”


“Uangkuuu!”


Melihat semua pemain seperti itu, Tika sadar bahwa tebakan Rian. ‘Apakah ini artinya aku harus menemani Rian di kamarnya malam ini?’ Wajah Tika merah merona memikirkan hal ini.


Melihat wajah Tika yang merah, Rian khawatir dengan keadaan Tika. “Kamu nggak apa-apa?” tanya rian sambil menyentuh pipi Tika.


“A-aku nggak apa-apa kok.” jawab Tika dengan gugup.

__ADS_1


Namun di mata Rian, Tika yang gugup ini sangatlah imut. ‘Apakah Tika biasanya seimut ini?’ 


Deg Deg Deg Deg


‘Sial! Kenapa aku merasa sedang jatuh cinta pada Tika! Nggak nggak nggak! Aku sudah punya Alena dan Livia. Aku nggak mau jadi orang brengsek!’ Rian kemudian langsung melepaskan tangannya dari pipi Tika dengan terburu-buru.


‘Fokus Rian … ayo fokus pada permainan!’ Rian akhirnya dapat kembali fokus. Di saat yang sama, Bankir telah mulai mengocok dadu.


Tek Tek Tek Tek Tek


Rian begitu konsentrasi dalam permainan kali ini. Selain demi uang, ini juga sebagai pengalih perhatian atas pemikiran berbahaya yang terbesit dalam hati Rian tadi.


‘6, 6, 1!’ Saat bankir telah meletakkan gelas kayunya di atas meja, Rian langsung memasang taruhan pada kategori besar. Ia mempertaruhkan semua chip yang ia miliki sekarang.


Para pemain lainnya tampak ragu untuk untuk memasang taruhan. Mereka sedikit trauma dengan hasil pada permainan sebelumnya. Pada akhirnya, hanya ada 3 orang selain Rian yang berani bertaruh. Namun, mereka bertiga sama-sama memasang di kategori kecil.


Banker kemudian membuka gelas kayunya. “6, 6, 1. Besar.”


“Wuhuuu!” Tika meloncat kegirangan dan memeluk Rian. Begitu sadar atas apa yang diperbuatnya, tika langsung melepas pelukannya. Ia juga memalingkan wajahnya dari Rian dan tak berani memandangnya. Rian tersenyum hanya dengan sikap antik Tika.


Setelah Rian 5 kali menang berturut-turut, 5 petugas kasino bertubuh kekar pun mendatangi Rian. Mereka meminta Rian untuk tidak bermain dadu lagi. Dengan kekuatan Rian, bisa saja Rian mengalahkan kelima orang tersebut. Tapi Rian tidak ingin membuat masalah di sini. Dan bukan tidak mungkin, kasino ini memiliki penjaga dengan kemampuan khusus tingkat 5.


Setelah itu, Rian memutuskan untuk mengecek bagaimana kondisi teman-temannya. Adi dan Guntur ternyata kalah telak dalam bermain Black Jack. Bahkan mereka telah menghabiskan seluruh chip yang diberikan Rian.


Alicia berhasil mendapat 500 keping chip berwarna hitam atau setara dengan 750 juta rupiah. Sedangkan Alena dan Pak Arta, mereka berhasil mendapatkan total 1450 keping chip berwarna merah marun, atau setara dengan 21,750 milyar rupiah.


Dari bermain dadu, Rian sendiri telah mendapat 51.200 keping chip berwarna merah marun. Jika dikonversi ke rupiah, maka totalnya adalah 768 milyar rupiah. Jadi wajar saja jika pihak kasino langsung mengirim petugasnya. Karena apa yang dilakukan Rian benar-benar merampok uang kasino hotel tersebut.


Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Akhirnya mereka berdelapan memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Sementara Rio, ia sedang menikmati permainan slot.


......................


Tok Tok Tok


"Hmm? Siapa dini hari begini?" Rian yang baru akan tidur mendengar suara ketukan.


Kreak


Di depan pintu kamarnya, berdiri Tika dengan pakaian yang cukup seksi. Ia kini menggunakan tank top hijau dan juga hot pants. Imej yang diberikan benar-benar jauh berbeda daripada saat  ia menggunakan baju kasual tadi. Melihat betapa seksinya Tika, Rian sempat melongo beberapa saat.

__ADS_1


"Emmm, boleh aku masuk?" tanya Tika malu-malu.


Mendengar ucapan Tika, Rian langsung tersadar. "Ah iya, silahkan masuk …"


__ADS_2