
“Kami berasal dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, biarkan kami masuk!” perintah seorang wanita cantik berusia 30 tahunan. Ia adalah salah satu petugas dari KPAI yang dikirim secara mendadak sejak viralnya video milik Rian. Karena hal itu, jam 11 malam pun ia dan 5 anak bawahannya tetap datang mengunjungi Rian.
“Tidak bisa! Jam berkunjung sudah habis!” tegas penjaga pintu penjara tersebut. ‘Sial! Aku harus menahan mereka sampai Orang itu menyelesaikan pekerjaannya!’
Petugas wanita KPAI tersebut langsung mengeluarkan sebuah kertas dan memberikannya pada penjaga pintu penjara. Penjaga pintu penjara begitu terkejut melihat kop surat dan juga tanda tangan dalam kertas tersebut. “Surat perintah langsung dari Pak Presiden!”
“Benar, Pak Presiden Dodo Jakabaya sudah memberi perintah agar kami segera turun tangan dalam menangani kasus ini. Memenjarakan anak di bawah umur dan menjadikan satu dengan penjara orang dewasa sudah jelas-jelas cacat hukum!”
Penjaga pintu tersebut pun tak bisa mengelak lagi dengan munculnya surat itu. Dengan terpaksa, rombongan dari KPAI dipersilahkan masuk.
“Kenapa ada orang pingsan di depan sel penjara? Selnya juga terbuka!” teriak petugas wanita dari KPAI. Ia pun langsung lari menghampiri pria yang terkapar di depan sel nomor 4.
Saat ia tiba di depan sel nomor 4, wanita itu terkejut melihat mata Rian yang merah. Bekas darah pun masih terlihat di sekitar pipinya. Ia langsung memeluk Rian. “Kamu nggak apa-apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku Lina, petugas dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Kamu aman bersama kami.”
Mengetahui Lina berasal dari KPAI, Rian pun berpura-pura menangis. “Hiks hiks, Orang ini mau membunuhku Kak, hiks hiks, Untung, hiks, Kak Rio, hiks, menolongku, hiks …”
Mendengar pengakuan Rian, Lina sangat geram. Ia pun memelototi petugas penjaga penjara yang tadi menghalanginya masuk. Petugas penjaga penjara langsung berkeringat dingin. Ia sadar bahwa ia tidak akan bisa lolos dari sanksi pemecatan.
“Rian, kamu tenang saja. Kami pasti akan melindungimu! Ayo keluar dari sini.” Kemudian Lina pun berterima kasih pada Rio karena telah melindungi Rian. Rio pun sedikit canggung menerima ucapan terima kasih atas sesuatu yang tidak ia lakukan.
Beberapa saat kemudian, sejumlah polisi dari Divisi Profesi dan Pengamanan datang dan menangkap penjaga pintu penjara. Tak lupa mereka membawa Sigit yang sedang pingsan. Rio juga dimintai keterangan oleh mereka selama 2 jam. Setelah semua bukti lengkap, KPAI mengadakan konferensi pers pagi itu.
Jam menunjukkan pukul 02.30 WIB. Ruang serba guna kini ramai dipenuhi oleh wartawan dari berbagai media. Berita mengenai Rian yang ditangkap polisi memang sedang viral, sehingga para wartawan tidak mau melewatkannya. Dipimpin oleh Kapolda Jawa Timur, Topan Raihan dan juga Lina Wardani, petugas KPAI, konferensi pers pun resmi dimulai.
~***~
Suasana pagi di SMA Avernus sangatlah ramai. Semuanya membicarakan orang yang sama, Rian.
__ADS_1
“Hei, kalian sudah lihat berita tentang Rian?”
“Sudah-sudah. Gila bener, sampai ngirim pembunuh bayaran buat nyingkirin Rian. Ternyata yang di film-film itu beneran ada!”
“Tapi beneran lho nggak nyangka keluarga Pak Effendi sekuat itu. Bisa jeblosin orang nggak bersalah ke penjara dan bisa sewa pembunuh bayaran juga. Kita harus kawal terus nih kasusnya. Kalau nggak, bisa-bisa Pak Effendi dan keluarganya bakal pakai cara licik untuk lolos dari hukum ini!”
"Ada berita juga kalau keluarga Pak Effendi itu menjalankan bisnis ilegal. Bukti-buktinya sudah tersebar di internet!"
"Wah parah nih. Nanti bisa kena azab kayak keluarga Lianfa."
"Keluarga Lianfa? Bukannya itu keluarganya Almarhum Fariz ya? Kenapa emangnya mereka?"
"Ini juga terjadi tadi malam. Rumah tinggal keluarga besar Lianfa runtuh. Tidak ada korban selamat juga. Kabarnya, mereka terlibat pencucian uang yang dilakukan keluarga Sugiharto. Mereka berdua menjalankan bisnis judi online bersama-sama."
Livia, Guntur, dan Adi yang kebetulan lewat mendengar semua percakapan ini. Mereka senang usaha mereka membuahkan hasil. Namun, mereka juga khawatir dengan keselamatan Rian. Mereka tidak menyangka keluarga Pak Effendi akan mengirim seorang pembunuh.
"Pagi Livia, Guntur, Adi …" sapa Alena yang juga baru datang bersama Tika. "Oh ya, aku sudah meminta tolong pada Ayahku untuk menolong Rian. Ayahku langsung menghubungi kenalannya tadi malam. Alhasil KPAI datang langsung tadi malam dan menyelamatkan Rian dari konspirasi. Aku bersyukur aku memohon Ayahku."
“Nggak usah berterima kasih padaku, Livia. Aku juga nggak mau Rian kenapa-napa. Jadi sudah sewajarnya aku menggunakan cara apapun untuk menolongnya. Bahkan Ayahku merestui hubungan kami. Walau ada beberapa catatan sih, ehehehe …”
Mendengar ucapan Alena, Livia langsung melepas pelukannya. “Tunggu! Apa maksudnya merestui hubungan kalian?”
“Ada deh, hehehe …” Alena pun langsung berjalan cepat masuk gedung sekolah.
“Hei, tunggu!” teriak Livia
“Tika, apa kamu nggak merasa ada yang berubah dari Alena?” tanya Guntur.
__ADS_1
“Iya, aku juga merasakannya. Sepertinya Alena sudah mulai sedikit dewasa. Mungkin kejadian ini membuatnya sadar dengan perasaannya.” Mereka bertiga pun melihat Livia mengejar Alena yang terus berjalan maju dengan riang.
......................
“Selamat siang Ayah Mertua!” salam Rian sambil mencium tangan Dokter Denis. Kali ini, Rian didampingi oleh Lina untuk pemeriksaan psikologis di Rumah Sakit Hati Sehat. KPAI melakukan hal ini demi mencegah terjadinya trauma akibat percobaan pembunuhan.
Lina sedikit terkejut melihat tingkah Rian. Lina tidak tahu bahwa berkat Dokter Denis lah, muncul surat perintah mendadak seperti itu. “Kalian saling kenal?”
“Iya. Dia adalah pasienku dan seharusnya Rabu besok adalah jadwal kunjungannya. Dian juga dia teman dekat Putriku.”
“Oh begitu. Aku jadi lega mendengarnya, AKu takut Dokter juga salah satu antek keluarga Sugiharto. Tapi jika hubungan kalian dekat, aku bisa mempercayakan ini pada Dokter.”
Setelah itu, Rian dipersilahkan masuk ke ruang pemeriksaan. Sedangkan Lina menunggu di luar ruangan.
“Dok. apakah aku psikopat?” Untuk menunjukkan keseriusannya dalam sesi pemeriksaan, Rian mengubah caranya memanggil Dokter Denis.
“Kenapa kamu berkata demikian?”
Rian sedikit mengubah ceritanya agar tidak menyinggung masalah dunia ilusi “Aku merasakan kepuasan tersendiri ketika aku memukul dan menyiksa Billy dan Pak Effendi. Aku ingin mendengarkan suara jeritan mereka. Aku ingin melihat lebih banyak darah lagi. Aku merasa bebas dan lega ketika melakukan semua itu! Aku juga mulai merasa bahwa nyawa manusia itu bagaikan serangga, jika dia mengganggu maka akan kubunuh.”
Setelah 2 jam sesi konsultasi, akhirnya Rian keluar dari ruang pemeriksaan. Dokter Denis pun merekomendasikan pada KPAI agar Rian segera kembali bersekolah. Karena dengan berkumpul bersama teman - temannya lah, traumanya lambat laun akan menghilang. Dengan rekomendasi ini, akhirnya Rian dibebaskan. Namun proses hukum terhadap keluarga Sugiharto tetap berjalan.
Pengacara kondang, Hotan Paris datang ke Surabaya untuk menjadi pengacara Rian. Rian juga telah setuju dengan tuntutan yang akan diajukan Hotan Paris. Walau ini bakal memerlukan waktu yang cukup lama, namun Rian sudah bisa kembali ke bersekolah lagi seperti biasa.
“Sistem, berapa jumlah umur yang sudah aku gunakan?” tanya Rian yang saat ini sudah berada di rumah.
“...”
__ADS_1
“Sistem?” Rian mencoba berbicara pada sistem, namun sistem tidak merespon. Yang muncul hanyalah layar semi transparan Sistem Uji Nyali.
“Ini aneh, kenapa sistem tidak merespon?”