
"Adi, kenapa kamu memakai pakaian seperti ini?" Guntur terheran dengan pakaian yang Adi gunakan. Bagaimana tidak, Adi memakai sorban, baju muslim, dan juga sarung layaknya Ustad.
"Biar nanti kalau kita ketemu Hantu, aku bisa melindungi kalian!" ucap Adi dengan yakin sambil terus wirid dengan tasbih di tangannya.
"Jangan sombong gitu, pamali lho!" Alena memperingatkan Adi.
"Tenang, selama Lord Adi disini, Setan, Hantu, Genderuwo atau makhluk apapun itu bakal ngacir!"
"Biasanya yang ngomong kayak gini bakal mati duluan lho kalau di film horor …" Sindir Tika sambil mengingat - ingat semua film horror yang pernah ia tonton.
"Livia, kamu kok diem aja?" tanya Rian yang melihat Livia dari tadi terdiam di depan pintu gerbang SMA Avernus.
"Ahhh!" Teriak Livia ketika Rian menepuk bahunya.
"Jangan - jangan kamu takut ya?"
"Ng-ng-nggak kok, aku be-be-berani kok …"
Melihat Livia agak gemetaran membuat Rian sadar bahwa Livia takut Hantu. 'Aku nggak nyangka Livia yang biasanya barbar kayak kucing oyen bisa bertingkah seimut ini'
Rian kemudian menggenggam kedua tangan Livia. "Livia, selama aku disini kamu nggak perlu takut. Aku akan melindungimu. Namun jika keadaan semakin berbahaya, ingat perkataanku dulu, larilah …" Mendengar perkataan Rian yang penuh afeksi, Livia pun menjadi tenang. Adegan ini di tonton oleh teman - teman Rian lainnya.
"Hei, apakah mereka benar - benar nggak pacaran?" tanya Tika pada Adi.
"Aku juga bingung sebenarnya. Rian menganggap Livia hanya sebagai sahabat, walau Livia menginginkan lebih. Tapi kedekatan mereka kayak orang pacaran!"
'Kenapa dadaku terasa sakit lagi?' Ekspresi Alena menjadi sedikit rumit.
Menyadari Ekspresi Alena, Adi dan Tika hanya bisa menghela nafas. Adi paham dengan apa yang terjadi pada Alena, karena sebelum Orang Tua Rian menghilang, Rian dekat dengan banyak teman wanita. Walau Rian tidak sadar, namun ada banyak teman wanitanya memasang ekspresi yang sama dengan Alena ketika Rian dan Livia bermesraan.
"Ehm … Ehm … Bisa kita mulai Live Broadcast Nya? Sudah hampir jam 9 malam ini. Lagipula Pak Solikin juga sudah memberi izin." ucap Guntur yang baru saja berbicara dengan Satpam untuk mengurus perizinan. Pada akhirnya mereka sepakat untuk melaksanakan Live Broadcast. Kali ini yang bertugas membawa Ponsel Rian untuk merekam adalah Guntur. Ia tak mau wajahnya muncul di video, karena identitas Ayah Guntur adalah Kapolda Jawa Timur. Jadi Guntur harus selalu menjaga image-nya agar tidak mencemarkan nama baik Ayahnya.
"Hai Guys, berjumpa lagi dengan Host kalian tercinta, Rian! Sekarang aku sedang berada di depan SMA Avernus bersama teman - teman saya yang juga akan menemani dalam penelusuran hari ini. Perkenalkan ini Alena, lalu disebelahnya ada Livia, Tika, dan yang berbaju muslim tersebut adalah Adi. Kameramen kami bernama Guntur, namun orangnya pemalu jadi tidak mau nampak di video, hehehe …"
#kucingpoi : Wow, 3 temen cewek Host cantik - cantik!
#waterfox : Hal itu sangat wajar, karena Hostnya sendiri begitu tampan. Tapi by the way, ngapain ada ustadz disitu?
#bacotnumber1 : Humph!! Host tetep gak bisa ngalahin gue. Gue punya lebih dari 10 pacar!
#kucingpoi : #bacotnumber1 pacar loe pasti mini figur semua! Dasar bocah Halu!
#thisking : Raja telah hadir {Roket}{Roket}
#kerangajaib :cih, cuma Roket, Nih rasakan {TeckTock Universe}
__ADS_1
#kucingpoi : Ampun Sultan oz
#pelakor_jalan_ninjaku : Puja Kerang Ajaib … Wowowowow~
Satu persatu fans Rian mulai muncul dalam Chat Room. Bahkan perang Gift sudah dimulai sebelum penelusuran berjalan. Rian pun mulai berjalan memasuki gedung sekolah. “Oke Guys, jadi ceritanya kali ini kita akan membuktikan kebenaran dari mitos 7 Keajaiban SMA Avernus. Untuk keajaiban pertama, ada suara piano dari ruang musik di malam hari. Katanya nih katanya ... Suara piano ini disebabkan arwah seorang siswi anggota klub musik yang mati sebelum kompetisi Piano. Mari kita buktikan kebenarannya!”
Rian bersama rombongannya berjalan menuju ruang seni musik yang berada di lantai 1 dekat tangga. Udara di dalam gedung sekolah terasa dingin, berbeda sekali ketika mereka masih di luar gedung.
“Ugh~ dingin sekali disini, mana aku nggak bawa jaket lagi …” Keluh Livia yang hanya memakai kaos tipis dan juga hot pants.
Rian pun melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikannya pada Livia. “Nih, pake aja.”
“Tapi kamu–"
"Udah lah, tenang aja … Aku nggak kedinginan kok. Jadi kamu pake aja …"
"Terima Kasih ya Rian …" Ketika Livia memakai jaket Rian, timbul keinginan tak tertahankan untuk mencium aroma tubuh Rian yang tertinggal di jaket.
Sniff Sniff
'Hmmm, aroma tubuh Rian wangi sekali …' Tiba - tiba Livia tersadar bahwa sekarang sedang Live Broadcast. Wajah Livia pun memerah ketika melihat ekspresi Guntur dan Adi.
'Aku juga mauu …' Alena kembali teringat ketika kepalanya bersandar di bahu Rian saat nonton di Bioskop. Saat itu pun Alena dapat mencium aroma tubuh Rian.
"Yuk kita lanjut penelusurannya!" ajak Rian untuk mengalihkan perhatian.
Ting Ting Ting Ting
"Suara piano? Dan sepertinya ini dari ruang musik seperti apa yang ada dalam mitos." Rian pun berjalan di depan memimpin teman - temannya. Livia sedikit takut dan terus memeluk tangan Rian.
Sekarang mereka tepat berada di depan pintu ruang musik. Suara alunan musik pun makin terdengar keras. Rian perlahan membuka Pintu.
Adi yang tadinya tenang sekarang malah menutup matanya sambil terus membaca doa. "Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtana wa qinaa 'adzaa bannaar."
Mendengar doa Adi, sontak suasana yang tadinya tegang jadi malah jadi turun tensinya. Rian sampai berhenti membuka pintu dan melihat Adi dengan aneh. Guntur pun menjitak kepala Adi. "Itu doa sebelum makan! Kalau mau baca doa di saat kayak gini tuh baca Ayat Kursi atau kalimat tasbih kan lebih masuk akal!"
Wajah Adi memerah mendengarnya. Karena terlalu tegang, ia sampai salah baca doa.
"Siapa di luar?" Dari dalam, terdengar suara wanita. Livia langsung memeluk erat Rian ketakutan.
"Aku Rian, murid kelas X disini." jawab Rian sambil membuka lebar pintu kayu ruang musik. Di kursi piano, duduk seorang wanita berambut pendek dengan poni yang menutup satu matanya.
"Ada perlu apa kalian kesini?"
"Mohon maaf telah mengganggumu. Kami di sini sedang melakukan Live Broadcast penelusuran mitos 7 keajaiban SMA Avernus. Dan kebetulan salah satu mitosnya adalah suara piano di ruang musik pada malam hari. Jadi bisa aku asumsikan bahwa suara piano pada malam hari adalah kamu pelakunya?"
__ADS_1
"Oh, jadi ada mitos seperti itu? Sepertinya gara - gara aku bermain piano sampai tengah malam jadi muncul mitos seperti itu." jawab wanita itu dengan datar. Ia seakan tidak memiliki emosi sama sekali, mirip dengan arwah penasaran. Seandainya wanita itu tidak berbicara duluan dan teman - temannya mendengarnya, Rian pasti bakal mengira ia hantu.
"Kalau boleh tahu namamu siapa?"
"Aku Alicia, murid kelas XII, salam kenal semuanya." Kemudian masing - masing mulai memperkenalkan dirinya.
"Ternyata kamu senior, maaf Kak Alicia. Kakak terlihat muda sekali." Tinggi badan Alicia tidak terlalu tinggi, sepadan dengan tinggi Livia yang hanya 155 cm.
"Panggil aku Alicia saja. Sudah banyak kok yang mengira aku masih SMP, jadi tidak masalah."
"Terus kenapa kamu main piano malam - malam di sekolah?" tanya Livia yang penasaran.
"Karena aku suka ketenangan. Aku selalu bermain piano disini setiap hari mulai jam 8 malam sampai tengah malam."
"Bukankah lebih baik main piano saat di dengarkan oleh teman - temanmu?"
"Aku tidak punya teman …"
Livia mengusap - usap dahinya. "Ugh, kenapa pembicaraan jadi berat begini …"
Alena maju dan merangkul Alicia dari belakang. "Bagaimana kalau kita berteman? Dengan Rian, Livia, Tika, Guntur, dan juga Adi. Kalau kamu bersama kami, kamu nggak perlu bermain piano sendirian malam - malam disini. Kami bersedia kok mendengarkan mu main piano …" Semua pun mengangguk setuju dengan Alena.
"Yang kamu mainkan tadi Symphony No 5 dari Beethoven kan?" tanya Rian.
"Iya."
"Melodi yang kamu mainkan sangat indah. Akan sia - sia melodi seindah itu tidak di mainkan di depan orang banyak. Maka dari itu, mulai sekarang perdengarkan lah kami melodi dari jiwamu!" Rian tersenyum manis.
Deg Deg Deg Deg Deg Deg
"Kenapa jantungku berdebar kencang melihat senyuman mu? Apakah kamu tahu alasannya? Karena aku belum pernah merasakan ini. Apa aku sakit jantung?" tanya Alicia tetap dengan ekspresi datar tanpa emosi.
Guntur dan Adi hanya bisa menepuk jidatnya. 'Satu korban lagi keganasan Rian …'
"Wow, kita sama! Aku juga sering kayak gitu akhir - akhir ini … Waktu aku tanya Ayahku tentang hal ini, dia hanya tersenyum tanpa memberi jawaban …" Alena sangat senang karena ia menemukan teman yang senasib.
Livia yang dari tadi memeluk tangan Rian langsung mencubit tangan Rian. 'Brengsek kamu Alena! Katanya nggak ada perasaan sama Rian … tapi apa ini, jantung berdebar? HAH!!! Jangan bercanda, dasar Rubah!'
"Aduh - aduh - aduh … kenapa kamu mencubitku!?"
"Pikir sendiri!"
"Eh~ salah aku apa???"
__ADS_1