Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Nightmare


__ADS_3

“Ini aneh. Tidak ada respon sama sekali!” Setelah itu, Rian mendapat ide untuk membeli barang dalam Toko. Jika memang ada masalah dengan sistem, seharusnya ia tidak bisa membeli barang dalam Toko.


“Oke, coba aku beli Gelang Daun Kelor.”


Klik


Ding


[Terima Kasih Host telah membeli Jimat Perlindungan: Gelang Daun Kelor dari Toko. Barang telah berada dalam Kantong]


[Total Poin sekarang 165]


“Hmm, jadi begitu. Kalau aku melakukan sesuatu dalam sistem seperti membeli dari Toko, maka sistem akan merespon. Tapi jika aku bertanya pada sistem, sistem tidak merespon. Yang artinya kecerdasan buatan dalam sistem sedang dalam masalah. Apa hal ini terjadi karena aku pernah mati?” Rian merenung sejenak, namun ia tidak menemukan jawabannya. Bagi Rian itu bukan masalah, karena fitur lain yang tidak membutuhkan kecerdasan buatan dapat berjalan normal.


Rian kemudian mengecek detail misi 7 Keajaiban SMA Avernus.


______________________________________________________________________


Halaman Misi


- Tantangan Cermin (Pemula) (Selesai)


- Jalan Menuju Orang Paling Greget Di Dunia 1 (Spesial) (Selesai)


- Misi : 7 Keajaiban SMA Avernus


*Tingkat Kesulitan :Hard


*Hadiah : 200 poin, Uang Tunai Rp 300.000.000


*Batas Waktu : -


*Status Penyelesaian : 28%


*Deskripsi :


Setiap sekolah pasti memiliki mitos dan urban legend sendiri. Namun dari semua itu, ada yang nyata dan juga ada yang hoax. Pastikan kenyataan 7 keajaiban SMA Avernus dan ungkap misterinya.


* Misi Tersembunyi :


> Mengungkap kebenaran atas kematian Rika (100%) {Selesaikan Misi}


- Kamar Kos No.4 (Normal) (Selesai)


- Rumah Sakit Jiwa Terbengkalai


- Kamar Mayat Fakultas Kedokteran Universitas Avernus

__ADS_1


- Pintu Air Jagir


- Radio Kematian


- Telepon Hantu


- Jalan Menuju Orang Paling Greget Di Dunia 2


- Terkunci


______________________________________________________________________


“Misi tersembunyi? Ada fitur seperti itu?” Rian cukup terkejut dengan kemunculan misi tersembunyi. Terlebih lagi, tanpa ia sadari tingkat penyelesaiannya mencapai 100%. Tanpa ragu, Rian menekan tombol selesaikan misi.


Klik


Ding


[Selamat, Host mendapat Cincin Harapan Rika dari misi tersembunyi. Cincin Harapan Rika berada di bawah pohon Beringin SMA Avernus. Host diminta untuk mengambilnya sendiri]


“Mengambilnya sendiri? Sepertinya hadiah dari misi tersembunyi sangat berbeda dengan misi utama. Oke lah, besok aku akan datang ke sekolah pagi-pagi sekali untuk mencarinya.” Karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Rian pun bersiap-siap untuk tidur. Tapi, sebelum tidur, ia tidak lupa menaburkan garam di kamar mandinya untuk mencegah makhluk dari balik pintu merah keluar.


......................


Tap Tap Tap


"Di mana ini? Kenapa aku ada di kuburan? Bukankah aku sedang di sekolah? Tunggu! Kalau tidak salah aku dihajar oleh seorang murid baru saat aku akan menyetubuhi Erina. Apakah itu artinya aku sudah mati?" Pak Effendi kini sedang berdiri di tengah-tengah kuburan yang di selimuti kabut.


"Siapa di sana?" teriak Pak Effendi.


Dari balik kabut, perlahan sebuah bayangan hitam datang mendekat. "Orang-orang sering memanggilku Plague Doctor. Tapi aku lebih senang jika dipanggil, Nightmare!"


Nightmare kini berdiri di depan Pak Effendi. Ia tampak memakai topeng plague doctor. Ia juga menggunakan tongkat kayu, topi hitam, dan juga memakai jas panjang berwarna hitam. Pak Effendi begitu ketakutan melihat penampilan Nightmare. Ia sampai jatuh terduduk dan tidak bisa bergerak.


"Apakah kau ingin kekuatan?" tanya Nightmare dengan suara beratnya.


"Ke-ke-kekuatan?"


"Benar. Jika kau memiliki kekuatan, maka kamu bisa berbuat semau mu!"


"Semauku?"


"Balas dendam pun bukanlah hal yang mustahil."


Mendengar kata balas dendam, Pak Effendi langsung teringat momen dirinya dihajar Rian sampai terkencing-kencing. "Siapapun kamu, entah dewa ataupun iblis, aku memohon padamu! Berikan aku kekuatan!"


"Hahaha, itu hal yang mudah. Ketika kamu bangun, bunuhlah dirimu sendiri. Saat  bunuh diri, ingat-ingatlah dendammu. Tanamkan momen-momen memalukan yang kau alami dalam benakmu. Maka kau akan mendapat kekuatan! Kau akan terlahir kembali!"

__ADS_1


Seketika itu, Pak Effendi terbangun dari komanya. Ia melihat sekeliling dan sadar bahwa ia kini berada di rumah sakit. "Ughh! Sakit sekali!" ucapan Pak Effendi terdengar tidak jelas karena giginya banyak yang hilang.


Pak Effendi kembali mengingat apa yang dikatakan Nightmare. ‘Jika aku bunuh diri, maka aku akan mendapat kekuatan dan terlahir kembali! Tunggu saja kau bocah tengik, kau akan membayar ribuan kali atas apa yang kau perbuat padaku!’


Pak Effendi kemudian mencabut paksa jarum infus yang ada di lengan kirinya dan berjalan keluar kamar dengan sedikit susah payah. Namun saat ia akan membuka pintu, Pak Effendi merasakan ada seseorang yang berdiri di depan pintu.  Pak Effendi membuka pintu secara perlahan untuk mengintip. Di depan pintu, ada 2 orang berambut cepak dan berseragam coklat berdiri di depan pintu. 'Sepertinya 2 orang yang berjaga di depan kamar adalah polisi. Itu artinya bocah tengik itu melaporkanku!'


‘Kalau begitu, pilihanku hanya satu.’ Pak Effendi melihat jendela kaca yang ada di kamarnya. Dengan tiang yang digunakan untuk menggantung infus, Pak Effendi memecahkan jendela kaca tersebut.


Pyar


“Suara apa ini?” Kedua polisi yang berjaga pun langsung menerobos masuk kamar inap Pak Effendi.


Di dalam kamar, kedua polisi itu melihat Pak Effendi tersenyum lebar dengan gigi ompongnya. Namun, dibalik senyuman itu terlihat kemarahan yang mendalam. Dengan serpihan kaca berukuran 30 cm yang ia genggam, Pak Effendi menusukkan pecahan kaca tersebut ke lehernya. Seketika itu juga Pak Effendi rubuh. Kepalanya pun terputus akibat membentur pinggiran ranjang rumah sakit. Masih dengan ekspresi senyum lebar bercampur amarah, kepala Pak Effendi menggelinding ke arah kaki salah satu polisi yang berjaga. Polisi itu terkejut melihat kejadian tidak biasa ini.


“Cepat hubungi markas sekarang!” Dengan segera, partner polisi tersebut langsung menghubungi markas.


“Hmmm, jadi ini yang disebut terlahir kembali?” Di pojok kamar, muncul sosok tanpa kepala yang menggunakan baju olahraga berwarna merah darah. Ia berbicara sendiri menggunakan kepala yang kini ia bawa di tangan kanannya.


“Aku bisa merasakan kekuatan yang mengalir dalam wujud baruku ini. Dengan kekuatan ini, akan kupastikan kau membayar semua ini, bocah tengik! Hihihihihihihihihihihihihi …”


“Albert, apa kamu nggak merasa hawa di sini mendadak dingin? Aku sampai merinding!” Petugas polisi bernama Rizal bertanya pada temannya yang baru saja ia untuk minta menghubungi markas.


“Iya Zal. Apa karena arwah orang ini gentayangan?”


“...”


“Zal?” Albert menoleh ke arah Rizal. Ia melihat tubuh Rizal dipenuhi serpihan kaca. Darah tampak mengalir dari banyak tempat. Bahkan salah satu mata Rizal tertusuk pecahan kaca yang cukup panjang. Tak lama kemudian, Rizal pun roboh. “Rizal!”


Tanpa Albert sadari, dari belakangnya, diam-diam melayang tiang infus yang digunakan  Pak Effendi untuk memecah kaca jendela. Ujung tiang infus tersebut mendadak bengkok dan berputar secara spiral membentuk ujung tombak yang tajam. Sekejap, tiang infus itu menusuk jantung Albert dari belakang. Ia pun rubuh tak bergerak.


“Sruupp. Haah~ lezat sekali. Jadi ini rasa jiwa manusia. Aku jadi ingin makan lagi! Hihihihihihihi …” Malam itu, seluruh penghuni lantai 10 Rumah Sakit Universitas Avernus ditemukan tewas, tanpa ada yang selamat satupun.


......................


Ding


[Selamat, Host telah menciptakan Roh Jahat Tingkat Tinggi : Guru Olahraga Tanpa Kepala. Host mendapat 4000 poin]


[Total Poin sekarang 794.590]


“Hooo~ aku tak menyangka ia akan menjadi Roh Jahat Tingkat Tinggi.” seorang pria bergumam sambil minum secangkir teh hangat. Ia terlihat sedang menikmati alunan musik, namun tidak ada musik yang diputar. Selang 30 menit kemudian, muncul notifikasi lagi.


Ding


[Roh Jahat ciptaan Host, Guru Olahraga Tanpa Kepala, telah membunuh 23 manusia biasa]


[+23 Poin]

__ADS_1


[Total Poin sekarang 794.613]


“Buat lah lebih banyak kekacauan, Effendi. Bunuh lebih banyak lagi! Jangan kecewakan aku …”


__ADS_2