Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Sang Pemimpi


__ADS_3

Malam itu, Rian dikerumuni oleh tetangga dan wartawan. Setelah video rumah Rian runtuh beredar, banyak wartawan yang datang untuk meliput. Apalagi dengan identitas Rian sebagai TeckTocker dan juga Detektif SMA, membuat warganet gempar. Banyak yang berspekulasi bahwa ini adalah pembalasan dari keluarga Sugiharto. Untungnya, Setelah Pak Arta di hubungi oleh Rian, ia langsung bergegas menjemput Rian dan menyelamatkan Rian dari kejaran wartawan.


“Terima kasih Pak Arta, sudah bersedia meminjamkan baju milik Bapak …” ucap Rian yang baru saja selesai mandi di rumah Pak Arta. Ia kini mengenakan kaos Uniqlo milik Pak Arta yang terlihat agak kebesaran. Rian terpaksa meminjam baju Pak Arta karena baju yang ia gunakan sudah berlubang.


"Tidak masalah. Yang penting kamu tidak apa-apa. Jadi, bisa ceritakan pada Bapak apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar ini perbuatan keluarga Sugiharto?" tanya Pak Arta sambil mengusap-usap seekor kucing hitam yang sedang tidur di sofa.


"Ini bukan perbuatan keluarga Sugiharto Pak, namun ini perbuatan saya sendiri." Rian sedikit malu untuk mengakuinya.


"Perbuatanmu?" Pak Arta mengernyitkan dahinya.


Rian kemudian mulai bercerita mengenai Pak Effendi yang mendadak muncul dan menyerangnya. Rian tidak menceritakan secara detail mengenai kekuatan yang ia gunakan. Namun, cerita ini cukup membuat terkejut Pak Arta.


"Bapak tidak menyangka Pak Effendi akan muncul sebagai Roh Jahat. Terlebih lagi, Pak Effendi kedengarannya sangat kuat. Untunglah kamu tidak apa-apa …" ucap Pak Arta sambil mengusap-usap kepala Rian. "Sekarang, apa rencanamu? Kamu sudah nggak punya rumah lagi. Apakah kamu masih berniat melunasi hutangmu dengan kondisi rumah hancur begitu?"


Rian menjawab dengan tegas. "Hutang adalah hutang. Kalau aku nggak melunasinya, maka hutang tersebut akan terbawa sampai mati. Jadi aku wajib melunasinya!"


"Lagipula, aku juga sudah mengajukan pencairan uang dari TeckTock ke Rekening Pak Arta. Seharusnya minggu ini atau paling lambat minggu depan, uang tersebut akan cair. Nantinya dengan uang itu, aku akan melunasi hutang cicilan rumah. " lanjut Rian.


"Itu prinsip yang bagus. Untuk masalah uang, beritahukan saja pada Bapak jika ada pemberitahuan dari pihak TeckTock mengenai pencairannya. Bapak akan segera memberikan uangnya padamu setelahnya."


"Baik Pak, terima kasih …"


"Lalu setelah ini, kamu mau tinggal di mana? Bapak tidak keberatan kamu tinggal di sini beberapa waktu. Tapi tidak mungkin selamanya kan …"


"Ughh, aku masih belum memikirkannya …"


"Ya sudah, kamu bisa pikirkan itu pelan-pelan. Sekarang kamu tidur dulu. Besok kamu masih harus sekolah."


"Baik Pak … tapi, kamarku ada di mana ya? Atau aku tidur di sofa?" tanya Rian sambil melirik ke arah sofa yang ditiduri Noir. Rian sebelum mandi sempat berkeliling rumah Pak Arta. Di dalam rumah ini, Pak Arta memiliki 5 kamar. Tetapi, hanya kamar Pak Arta saja yang ada perabotnya. Karena Pak Arta tinggal sendirian, ia tidak pernah mengisi kamar-kamar tersebut dan dibiarkan kosong tanpa perabot.


"Kamu tidur di kamar Bapak."


"Lalu Pak Arta tidur di mana?"


"Tentu saja di kamar Bapak. Kita tidur bersama. Tempat tidur Bapak cukup luas untuk kita berdua."


"Mmm, bisakah aku tidur di sofa saja?"


"Sudahlah, ayo masuk …" Kemudian Pak Arta menarik paksa tangan Rian dan masuk ke kamarnya.


......................


Titititit Titititit Titititit


"Hoaaam~" Sambil menguap, Rian mematikan bunyi alarm di ponselnya. Tertera pukul 04.00 pada layar ponsel. Saat Rian menengok ke arah kirinya, ia melihat Pak Arta yang tidur mengenakan piyama. Walau sedang tidur pun, Pak Arta terlihat tampan dan berkelas.


'Ughh … bangun tidur langsung melihat pria ganteng di sampingku rasanya tidak enak sekali. Bikin mood turun pagi-pagi. Coba kalau Alena yang ada di sampingku, pasti aku langsung semangat!'


Karena waktu Subuh masih kurang 7 menit lagi, Rian memutuskan untuk mengecek sistemnya. Saat Rian masih berpikir untuk membuka sistem, tiba-tiba muncul notifikasi dari sistem.


Ding

__ADS_1


[Host telah mengalahkan Roh Jahat Tingkat Tinggi. Host mendapat hadiah 1500 Poin]


Ding


[Selamat, Host telah membangkitkan Kemampuan Khusus sendiri tanpa bantuan sistem. Host mendapat hadiah 1500 Poin]


[Total Poin sekarang 3287]


“Aku nggak nyangka bisa mendapat poin sebanyak ini dalam semalam. Bahkan Poin mengalahkan Roh Jahat jauh lebih menggiurkan dibanding poin hadiah dari misi! Tapi, kenapa notifikasinya baru keluar sekarang?”


[Itu karena Sistem-chan tidak ingin mengganggu Host yang kelelahan setelah pertarungan semalam. Maka dari itu, sistem-chan baru memberikan notifikasi setelah Host berniat untuk membuka sistem. Kyun✨]


“Terima kasih, aku sangat menghargainya, Sistem-chan …”


[Ehehehehe …]


Wajah sistem-chan tampak memerah setelah menerima pujian dari Rian.


“Sistem-chan, tolong buka halaman kemampuan khusus.”


[Okey dokey kyun✨]


______________________________________________________________________


Halaman Kemampuan Khusus


- Persepsi Super (⭐⭐⭐)


- Spiritualism (⭐⭐⭐⭐⭐)


- Nama : Sang Pemimpi - Senjata Darah


  *Jenis : Aktif


  *Bintang : ⭐⭐⭐⭐⭐


  *Waktu Tunggu : 14 Hari


  *Deskripsi :


   Orang yang memiliki kemampuan khusus ini dapat mewujudkan senjata yang ia bayangkan. Semakin kuat dan jelas gambaran yang diberikan, semakin kuat senjata yang tercipta. Senjata hanya bisa dibuat menggunakan darah penggunanya. Setiap senjata yang telah dibuat, akan masuk ke dalam daftar senjata. Pengguna kemampuan khusus ini dapat memanggil senjata yang terdaftar secara instan tanpa memerlukan proses rekonstruksi imajinasi.


  *Catatan :


   Setiap menggunakan kemampuan khusus ini, umur Host akan berkurang 10 tahun.


  *Daftar Senjata :


   1. Gae Bolg


______________________________________________________________________

__ADS_1


“Sang Pemimpi? Jadi itu sebutan dari kemampuan khusus yang nggak sengaja aku buat? Kemampuan khusus ini terlihat kuat. Apalagi aku berhasil merekonstruksi senjata legendaris, tombak terkutuk Gae Bolg.” Rian mulai membayangkan berbagai senjata yang mungkin bisa dia rekonstruksi. Kemudian ia menyadari betapa kuatnya kemampuan khusus ini.


“Apakah aku bisa merekonstruksi Ea?” Rian membayangkan seorang pria berambut pirang dengan baju zirah emas sedang mengacungkan sebuah senjata berbentuk menyerupai tombak silinder tumpul. Tapi senjata itu bukanlah tombak, melainkan sebuah pedang dengan ukiran merah di tubuhnya. Dalam sekejap, dimensi yang ada di depannya runtuh akibat kekuatan senjata itu. “Ehehehe … ehehehehehe …”


Buuk


“Aduh!”


“Sstt … tolong jangan berisik!” ucap Pak Arta yang baru saja menendang Rian.


“Maaf Pak …”  ucap Rian yang merasa bersalah akibat tawanya yang membuat Pak Arta terganggu. Setelah mendengar ucapan Rian, Pak Arta kembali tidur.


Rian kembali membaca halaman kemampuan khusus dengan seksama. “10 tahun? Ini bukan candaan bukan? Anjir, aku semalam telah membuang umurku sebanyak 10 tahun!” Rian ingin sekali berteriak. Bagaimana tidak, dalam semalam ia kehilangan 10 tahun sisa hidupnya.


[Host tidak perlu khawatir. Berdasarkan energi kehidupan yang Host miliki, Host masih dapat hidup hingga umur 3773 tahun]


Mendadak, punggung Rian digenggam dengan erat. “Tolong jangan berisik pagi-pagi buta begini!”


Melihat raut wajah Pak Arta yang dipenuhi dengan simbol #, Rian tahu bahwa Pak Arta sedang sangat emosi. “Hehehe .. pagi pak! Mohon maaf telah membangunkan Bapak, hehehe …”


Kemudian, Rian diusir keluar dari kamar Pak Arta.


......................


"Apa-apaan dengan berita ini!" teriak Philip Sugiharto di kamarnya. Ia begitu terkejut membaca artikel pada akun sosial media Insta-Book LambeMacan yang memberitakan bahwa keluarga Sugiharto meledakkan rumah Rian demi membalas perbuatan Rian pada anaknya. Rasa kantuknya seketika itu hilang setelah membacanya.


Pada awalnya, Philip yang sedang tidur mendadak mendapat telepon tengah malam. Yang menelpon Philip ternyata temannya yang juga salah satu Jaksa di Pengadilan Negeri Surabaya. Dari situlah akhirnya Philip membuka posting akun LambeMacan.


Istri Philip, Evi, terbangun mendengar teriakan Philip. "Ada apa sayang? Kenapa tiba-tiba berteriak? Apakah sayang mengalami mimpi buruk?"


"Evi, apa aku merencanakan sesuatu di belakangku lagi?"


"Huh?" Evi pun bingung dengan pertanyaan Philip.


"Lihat artikel ini …" tunjuk Philip pada postingan LambeMacan pada ponselnya.


Mata Evi pun terbelak membaca artikel tersebut. "Ini bukan aku, sayang! Sungguh!"


Melihat raut wajah Evi, Philip sadar bahwa kali ini Evi bersungguh-sungguh tidak membuat rencana gila ini. "Sial, kalau begini terus, opini publik tentang kita akan semakin negatif. Para petinggi tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Ditambah lagi kemunculan pahlawan kesiangan yang telah membunuh keponakanku!"


"Tapi, ada rumor bahwa pahlawan bertopeng yang membunuh Sonny adalah Rian!" ucap Evi.


"Apa itu benar? Rian lah yang membunuh Sonny?" Philip berpikir sejenak mengenai kemungkinan itu. "Hmm, kalau dipikir-pikir, semua ini masuk akal. Jika Rian lah yang membunuh Sonny, bukan tidak mungkin ia sengaja menghancurkan rumahnya demi menjebak keluarga kita …"


Philip kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bagus … bagus … licik sekali kamu, Rian … sepertinya, mau tidak mau aku harus menyingkirkanmu!"


Philip kemudian mengambil ponsel Nokia 3310 dari laci mejanya dan menelpon seseorang.


Tuut Tuut Tuut


"Halo, aku ingin mendaftarkan seseorang untuk dibunuh. Imbalannya 10 Milyar Rupiah. Aku tidak peduli dengan metode yang kalian pakai. Yang aku inginkan hanya hasilnya!"

__ADS_1


__ADS_2