Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Rusak


__ADS_3

"Aku bicara, aku bicara …tolong hentikan semua ini, aku mohon~" pinta Sigit sambil menangis. Ia sudah tak kuat lagi menerima siksaan dari Rian.


Namun Rian tak menghentikan tangannya. Ia tetap memotong usus 12 jari milik Sigit. "Wow, ternyata memang beneran panjang ya … melihatnya di buku dan melihatnya secara langsung memang feel-nya berbeda! Ini sangat menarik!"


"Rian, hentikan!" Rio memegang erat lengan Rian yang berlumuran darah. "Dia sudah memohon-mohon seperti itu, kau tak perlu menyiksanya lagi!"


"Lepaskan aku …" Rian menatap dingin Rio.


"Rian, orang ini sudah–"


"LEPASKAN TANGANKU!"


Slash


"Ugh!" Tangan kanan Rio tiba-tiba terpotong dan jatuh tergeletak di lantai.


'Ini cuma ilusi kan? Bagaimana mungkin rasa sakitnya terasa asli? Damn, sakit sekali!' gumam Rio sambil terus menutupi luka bekas potongan. "Rian, jika kau terus melakukan ini, lam -kelamaan kau akan terjatuh seperti orang dengan topeng Plague Doctor!"


"Kau tahu … aku sudah cukup muak dengan semua ini. Hidupku sudah cukup sengsara semenjak kehilangan orang tuaku! Aku frustasi, aku butuh sesuatu untuk menyalurkan semua perasaan ini! Namun akhirnya, hari ini aku merasakan suatu kepuasan saat mencongkel matanya. Aku merasa lebih bebas, seakan semua beban berat yang kupikul hilang! Aku menginginkannya lagi. Aku ingin terus menyiksanya. Aku ingin mendengar lebih banyak teriakan, hahahahaha …"


"Kau sudah benar-benar rusak!"


"Tenang saja … ketika kita keluar, aku akan kembali normal. Jadi tolong biarkan aku menikmati ini, hahahaha …" Kemudian Rian kembali melanjutkan pembedahannya. Kali ini, Rian mengambil ginjal Sigit.

__ADS_1


Melihat hal ini, Rio hanya bisa memejamkan matanya. Ia tidak tega melihat Sigit diperlakukan seperti itu.


"Aku mohon, plizz … tolong jangan lanjutkan lagi! Hiks …hiks …" pinta Sigit.


"Kalau begitu mulailah bercerita … aku akan berhenti jika ceritamu memuaskan! Dimulai dengan namamu sampai dengan orang yang memberikanmu perintah." ucap Rian sambil memegang ginjal Sigit yang masih segar.


"Na-namaku Sigit. Aku adalah bodyguard dari Nyonya Evi, istri dari kepala keluarga Sugiharto. Tuan Muda Effendi adalah anak ketiga dari Nyonya Evi."


"Kalau Effendi berasal dari keluarga konglomerat, kenapa ia menjadi guru olahraga di SMA Avernus?"


Dengan susah payah, Sigit menjawab pertanyaan Rian. "Nyonya begitu memanjakannya. Jadi Nyonya tidak memaksanya mengikuti jejak keluarga. Bahkan wanita yang dinikahi Tuan Muda juga atas pilihannya sendiri."


"Lanjutkan …"


Setiap kali Sigit bercerita, ia terlihat menahan rasa sakit. Wajahnya pun memucat seiring dengan darah yang terus mengalir.


"Ok, mari kita akhiri ini." Rian langsung menusuk leher Sigit hingga putus dengan pisau bedahnya. Begitu kepala Sigit menyentuh tanah, mendadak ruang penyiksaan menghilang dan berganti dengan sel penjara.


Kini Rio masih dalam posisi memegangi tubuh Rian yang sedang lemas. Masih terlihat bekas darah dari mata Rian yang belum mengering. Lain lagi dengan Sigit. Wajah Sigit sangat pucat. Mulut Sigit berbusa, matanya juga tidak fokus seakan ia mengalami rasa trauma yang mendalam. Tak lama kemudian tubuh Sigit ambruk tak sadarkan diri.


Suasana antara Rian dan Rio menjadi canggung. Rio merasa Rian sudah rusak dan termakan oleh energi negatif yang ada di kepalanya. Ia bahkan bersiap untuk membunuh Rian jika memang diperlukan. Rio tidak mau adanya kemunculan kedua orang yang seperti plague doctor. Terlebih energi negatif Rio masih belum setebal orang bertopeng tersebut, jadi masih belum terlambat.


"Rio, aku minta maaf atas perbuatanku tadi. Aku tahu aku salah. Aku juga nggak bisa mengendalikan diriku tadi." Rian sangat merasa bersalah atas apa yang dilakukannya tadi.

__ADS_1


Rio sedikit terkejut dengan permintaan maaf Rian. Ia mengira Rian akan tetap diam dan bersikap dingin padanya jika personalitas yang Rian tunjukkan dalam dunia ilusi. Tapi ternyata Rio salah. Rian menjadi orang yang sangat berbeda dengan yang ada di dunia ilusi. 'Yang mana personalitas asli milik mu sebenarnya? Yang sekarang, atau yang di dunia ilusi? Atau kau sebenarnya psikopat yang belum menyadari jati dirinya?'


"Rio, jujur saja aku masih tidak mempercayaimu. Sampai detik ini pun, aku masih menduga mu sebagai orang yang membunuh orang tuaku. Aku juga berpikir bahwa orang bertopeng plague doctor adalah karanganmu. Walau begitu, aku tetap menganggapmu teman. Memang perjumpaan kita sangat singkat sekali. Namun dalam dunia ilusi, aku tahu kamu sangat tulus saat berusaha menghentikanku. Aku sangat berterima kasih atas hal itu."


Rio malu mendapat pujian itu. Rio sadar bahwa itu hal wajar orang seperti dirinya dicurigai. Terlebih ia mengaku melihat detik-detik terakhir orang yang diduga Ayah dan Ibu Rian. "Iya, tidak masalah kamu tidak percaya aku. Itu hal wajar. Namun satu hal yang kupastikan, jika kamu benar - benar terjatuh, aku akan membunuhmu sebelum terlambat!"


"Aku akan berusaha agar nggak terjatuh! Karena ada janji yang harus ku tepati." Rian kembali mengingat ekspresi kesakitan Livia. Hatinya terasa sakit begitu mengingatnya. 'Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Di dunia ilusi, aku bertindak seperti seorang psikopat. Dan aku sangat menikmatinya. Namun sekarang begitu kembali, aku sangat merasa bersalah. Apakah aku mengalami gangguan kejiwaan? Sepertinya aku harus berkonsultasi dengan Dokter Denis. Jadwal kunjunganku ke rumah sakit hari Rabu besok. Aku berharap pihak kepolisian mengizinkan aku untuk ke rumah sakit.'


"Omong-omong, bagaimana cara kita membereskan orang ini?"


Pertanyaan Rio membangunkan Rian dari lamunannya. "Bagaimana kalau kita membunuh dan memutilasinya? Lalu dengan kekuatanku, kita buat pingsan seisi penjara. Kita keluar dengan kunci yang Sigit bawa, kemudian kita kubur secara terpisah potongan tubuhnya. Setelah itu, kita kembali ke sel ini dan pura-pura tidak tahu. Bagaimana menurutmu?"


Rio speechless dengan jawaban Rian. Apalagi Rian berbicara seperti itu dengan santai, seperti suatu hal yang biasa. Rio memang bukan orang yang baik. Ia juga sering membunuh orang, tapi ia lakukan itu karena ia memiliki alasan tertentu. Jadi ia tidak akan membunuh tanpa alasan yang kuat. Ia bahkan tidak pernah membunuh target santetnya. Namun jawaban Rian seakan nyawa manusia tidak ada harganya.


"Kenapa kita tidak sekalian kabur saja kalau seperti itu?"


"Penjara adalah alibi yang sempurna untuk menyembunyikan kejahatan! Coba lihat, berapa banyak bandar narkoba yang masih terus menjalankan bisnisnya dari dalam penjara? Memang sih, ada yang akhirnya ketahuan dan dihukum, namun aku yakin itu baru puncak gunung es saja yang terekspos."


'Damn, aku tidak pernah kepikiran hal seperti itu!' Rio merasa ia seperti orang bodoh di hadapan Rian.


“Hahahaha …tentu saja aku bercanda kok. Nggak usah dipikir serius begitu, hehehehe …” Tawa Rian sambil menepuk-nepuk punggung Rio. ‘Seandainya Rio nggak ada, aku bisa membunuh sigit dan menyimpannya dalam Kantong dimensi. Sayang aku tidak bisa melakukannya di depan Rio. Selain keberadaan Kantong dimensi harus aku rahasiakan, dia juga pasti membunuhku jika aku membunuh sigit …aku dapat merasakan hawa membunuhnya saat aku baru kembali dari dunia ilusi.’


Mendadak, ada suara ribut-ribut dari arah pintu masuk penjara. “Kami berasal dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, biarkan kami masuk!”

__ADS_1


Penjaga pintu penjara berkeringat dingin ketika mendapat kunjungan mendadak dari KPAI. ‘Sial! Bagaimana ini!? Orang itu masih di sana dan belum keluar juga! Aduh, mana mules lagi perutku.’


__ADS_2