Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Marah


__ADS_3

Ledakan berdiameter 1,5 meter tersebut membuat debu-debu beterbangan. Lokasi ledakan pun sampai tidak terlihat akibat debu yang tebal. Gelombang angin yang disebabkan oleh ledakan tersebut membuat tubuh Livia, Alena, dan Alicia terpental. Walau begitu, mereka hanya mengalami lecet saja.


"Tika!" teriak Alena. Perlahan, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia benar-benar takut kehilangan teman dekatnya itu.


Dari balik debu yang tebal, perlahan mulai terlihat bayangan manusia. Di pusat ledakan, berdiri Rian yang sedang memeluk Tika dengan satu tangannya. Tubuh bagian kanan Rian telah menghilang. Kini, ia berdiri dengan satu kaki dan juga satu tangan.


Walau dengan keadaan begitu, Rian tetap tersenyum. "Apa kamu baik-baik saja Tika?"


Tika yang masih dalam keadaan terkejut, menangis sesenggukan di dada Rian. "Kenapa? Hiks … kenapa kamu menyelamatkanku? Hiks … kenapa kamu rela mengorbankan diri untukku? Hiks … padahal aku selalu jahat padamu! Seharusnya kamu membenciku! Tapi kenapa … hiks hiks hiks."


Dengan tangan kirinya, Rian memegang pipi Tika dan mengusap air matanya. "Karena aku tahu, jauh di lubuk hatimu, kamu adalah wanita yang lembut. Nggak mungkin aku bisa membenci wanita sepertimu. Malahan, aku sangat menyukaimu–" Belum selesai melanjutkan kata-katanya, Rian roboh tak sadarkan diri.


Setelah Rian roboh, barulah Tika dapat melihat dengan jelas kondisi Rian sesungguhnya. "Demi aku … hiks hiks … demi alasan seperti itu? Hiks hiks …"


"Rian!" Livia, Alena, dan Alicia langsung berlari mendekati tubuh Rian yang telah terbaring di tanah.


"Aku kira pekerjaan ini bakal sulit. Tapi ini ternyata sangatlah mudah! Dengan luka seperti itu, tidak mungkin kemampuan penyembuhannya dapat bekerja." Pria berambut pirang tersebut kecewa dengan akhir seperti ini.


Kemudian ia mengambil ponsel yang ada di saku jasnya dan menelpon seseorang. "Halo, aku telah menyelesaikan misinya. Apakah aku perlu membawa kepalanya sebagai bukti?"


"Klien kita menginginkan bukti jika kamu telah menyelesaikan pekerjaannya. Jika tidak ada bukti, maka uang imbalannya tidak akan cair." jawab seorang wanita dari ujung telepon.


"Oke, kalau begitu akan aku bawa kepalanya …" Setelah menutup teleponnya, pria berambut pirang tersebut berjalan mendekati tubuh Rian yang dikelilingi 4 wanita cantik.


Melihat pria itu semakin mendekat, Alena langsung memasang badan untuk menghalangi laju pria itu. "Berhenti! Aku tidak akan membiarkanmu membunuh Rian!"


"Cih, dasar gadis kaya … kamu tidak tahu betapa kejamnya dunia ini." Pria itu langsung memukul perut Alena.

__ADS_1


Buuk


"Uhuk …" Alena pun muntah darah akibat pukulan pria itu. Kesadaran Alena juga mulai pudar. Tapi Alena membulatkan tekadnya dan berusaha bertahan agar tidak jatuh.


"Hee~ kuat sekali tekadmu. Aku tidak menyangka anak orang kaya sepertimu memiliki sikap seperti ini. Sepertinya kamu benar-benar mencintai pacarmu. Tapi sayang sekali, pacarmu telah membuat klienku marah. Bahkan harga kepala pacarmu itu mencapai 10 Milyar."


"Kalau uang, aku juga bisa berikan! Uhuk … bahkan 100 Milyar pun akan aku berikan!" ucap Alena sambil batuk mengeluarkan darah.


"Itu tawaran yang menarik. Namun kami, pembunuh bayaran, memiliki kode etik tersendiri. Kami tidak boleh mengabaikan misi yang telah kami ambil. Kecuali jika misi tersebut telah diselesaikan duluan oleh pembunuh bayaran lainnya. Jadi, cepatlah menyingkir!" Pria itu kembali melayangkan pukulan pada Alena. Namun kali ini, arah pukulannya mengarah ke wajahnya.


Melihat bogem pria itu terus mendekat, Alena pun memejamkan matanya. Namun setelah beberapa detik, pukulan tersebut tidak sampai juga. Saat Alena membuka matanya, ia melihat tangan pria itu ditahan oleh tangan seseorang dari belakang Alena. Ketika Alena menoleh ke belakang, ia melihat seorang Pria dengan rambut abu-abu panjang sebahu dan telinga binatang di atas kepalanya. "Rian?"


"Jangan! pernah! sentuh! wanitaku!"


Kratak


Wujud Rian saat ini benar-benar berbeda dengan biasanya. Jika biasanya ia seperti monster saat menggunakan kekuatan setengah Werewolf, namun saat ini ia lebih mirip manusia. Yang membedakan hanyalah munculnya telinga hewan di atas kepalanya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rian dengan lembut. Rian menatap Alena yang bersandar di dadanya dengan penuh afeksi.


Alena begitu terpesona dengan sikap dan juga wujud barunya itu. Ia sampai tidak bisa berkata-kata dengan pertanyaan Rian. Alena pun hanya bisa menganggukkan kepalanya pada Rian secara reflek.


Saat Rian melihat wajah Alena, ia melihat pada mulut Alena masih terlihat bekas darah yang ia muntahkan. Melihat hal ini, emosi Rian memuncak. Walau saat ini Rian tampak tenang dan tanpa kespresi, namun dalam hatinya, ia sangat marah pada pria berambut pirang itu. "Alena, sekarang kamu, bersama dengan Livia, Tika, dan Alicia, tolong jaga tubuh Adi dan Guntur. Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan urusanku dengannya …"


Alena kembali mengangguk dan pergi bersama Livia, Tika, dan Alicia menuju area sekitar pintu gedung SMA di mana Rian meletakkan tubuh Guntur dan Adi.


"Nah, sekarang tinggal kita berdua. Mari segara kita selesaikan urusan kita …" Seakan menghilang, Rian mendadak muncul di depan pria berambut pirang dan memukul perutnya hingga terlempar sejauh 5 meter. Tubuh pria berambut pirang itu pun langsung membentur pintu gerbang sekolah hingga rubuh.

__ADS_1


"Uhuuk … uhuuk" Darah mulai keluar berbarengan dengan batuk. Sambil mengusap darah yang ada di area mulutnya, pria itu mengumpat. "Brengsek! Setelah aku membunuhmu, akan ku bunuh pacar-pacarmu juga!"


"Kau bilang apa?" Dalam sekejap, Rian sudah berada di samping pria itu. Dengan kukunya yang tajam, Rian memotong tangan kiri pria itu. Darah pun muncrat seperti air mancur dari pundaknya.


"Arghhh!"


"Kau bilang apa tadi?” Rian berjongkok di samping pria berambut pirang yang terkapar di tanah menahan sakit. Tanpa ada keraguan dimata Rian, ia menusukkan tangannya ke dada sebelah kanan pria itu. Kemudian tangan Rian menggenggam tulang rusuknya dan mencabutnya sacara paksa.


"Arghhh!"


"Kau bilang apa tadi?” Dengan tulang rusuk yang ia cabut, Rian mencongkel mata kanan pria itu.


"Arghhh!"


Melihat nasib pria malang itu, seketika itu juga tubuh para pembunuh bayaran yang bersembunyi di sekitar area sekolah merinding. Mereka sebagai pembunuh bayaran,  tidak pernah menyiksa korbannya. Mereka membunuh karena uang, bukan karena dendam. Maka dari itu mereka jarang melihat hal seperti ini.


Di saat Rian sedang mencabut paksa empedu dari perut pria berambut pirang itu, pada atap gedung Rumah Sakit Universitas Avernus, seorang pria tua sedang membidik kepala Rian dengan senapa runduk berjenis SPR-4.


Dor


Namun, Rian dengan mudah menghindari peluru yang dimuntahkan senapan runduk tersebut.


“Tidak mungkin!” Pria tua itu sangat terkejut. “Ini pasti sebuah kebetulan! Aku akan mencobanya lagi …”


Belum sempat menembak, sebuah tulang rusuk meluncur dengan cepat menembus teropong senapan runduk milik pria tua itu. Laju tulang rusuk itu tak berhenti begitu saja pada teropong senapan. Namun tulang tersebut terus melaju hingga mengenai mata kanannya dan tembus sampai ke otaknya. Seketika itu, pria tua itu roboh. “Maafkan kakek, Nia …”  Pria tua itu pun akhirnya menutup matanya untuk selamanya.


Di belakang pria tua itu, berdiri seorang pria dengan jas dokternya. “Mayat ini cocok sekali sebagai material mayat hidup. Terima kasih Rian, atas kerja kerasnya. Berikanlah aku lebih banyak mayat!”

__ADS_1



__ADS_2