Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Pasien


__ADS_3

Titititit Titititit Titititit 


"Hoaam~" Sambil menguap, Rian mematikan alarm pada ponselnya. "Pagi Noir …"


"Meong~" balas kucing hitam kecil yang tidur di dada Rian.


Dengan hati-hati, Rian segera turun dari tempat tidur. Ia tidak ingin membangunkan Pak Arta yang masih tertidur pulas. Rian hari ini memiliki jadwal kencan dengan Alena. Lalu malamnya, ia akan melakukan penelusuran di Rumah Sakit Umum Surabaya. Jadi ia bergegas untuk mandi, Sholat, dan bersiap-siap untuk ke rumah Alena.


Rian berencana mengajak Alena pergi ke Taman Safari Prigen. Maka dari itu, Rian jam 6 pagi sudah tiba di rumah Alena untuk menjemputnya.


"Pagi Ayah, mertua …”


“Pagi Rian … ayo duduk dulu. Alena masih bersiap-siap sekarang.” sambut Dokter Denis dengan senyuman hangat.


“Baik Ayah mertua.” Setelah Rian duduk, Rian mengajukan pertanyaan pada Dokter Denis. “Ayah Mertua, bolehkah aku bertanya mengenai Rumah Sakit Umum Surabaya? Aku dengar dari Alena bahwa Ayah Mertua pernah bekerja di sana.”


Raut wajah Dokter Denis pun mendadak berubah serius. “Itu benar. Saya pernah bekerja di sana sebelum akhirnya Rumah Sakit itu ditutup.”


“Kalau boleh tahu, apa alasan yang sebenarnya dari penutupan rumah sakit tersebut? Aku mencoba mencari artikel mengenai hal itu, namun aku tidak menemukan alasan yang jelas dari penutupan tersebut.”


“Ini sebenarnya adalah rahasia kelam yang ingin disembunyikan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Tapi saya akan menjawab pertanyaanmu sebagai hadiah karena kamu telah menyelesaikan permasalahan Winny.”


“Omong-omong tentang Winny, bagaimana keadaannya sekarang?”


“Keadaan Winny sudah membaik. Namun, setelah saya cek medical record-nya, Winny ternyata pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Surabaya.”


Mata Rian terbelak dengan informasi ini. “Tunggu-tunggu, jangan-jangan Winny juga terlibat dalam alasan penutupan Rumah Sakit Umum Surabaya?”

__ADS_1


“Dugaanmu benar, tapi saya tidak tahu apakah Winny ikut andil atau tidak dalam kasus itu. Tapi kasus yang terjadi dalam rumah sakit tersebut benar-benar mencengangkan.”


Rian semakin penasaran dengan apa yang terjadi dalam rumah sakit tersebut. “Kasus apa Ayah?”


“Seorang suster dibunuh oleh pasien dengan gangguan jiwa yang berasal lantai 3…”


“Apa!?”


“Dan menurut pemeriksaan polisi, pelakunya ada lebih dari 1 orang. Yang artinya, pasien dengan gangguan jiwa yang berasal lantai 3 telah bekerja sama untuk membunuh seorang suster! Saat kejadian itu, Winny dirawat di kamar nomor 1 pada lantai 3, yang merupakan kamar dengan tingkat bahaya paling rendah.”


“Tingkat bahaya?”


“Berbeda dengan lantai 1 dan 2 yang diperuntukkan untuk pasien gangguan jiwa ringan, di lantai 3, kami menempatkan pasien dengan gangguan jiwa yang cukup parah pada kamar-kamar khusus. Kami memberi penomoran dari 1 sampai 10 sesuai dengan perawatan yang mereka butuhkan. Semakin tinggi nomor, semakin berbahaya kondisi pasien tersebut. Dan Winny, sebagai pasien termuda dan juga hanya menderita OCD serta PTSD, mendapat penilaian paling tidak berbahaya. Waktu itu, Dokter penanggung jawab Winny bukan saya. Makanya saya tidak mengenal Winny sebelumnya.”


“Lalu bagaimana dengan pasien lainnya?”


“Sebelum saya bercerita, berjanjilah untuk tidak membocorkan informasi pasien-pasien ini.”


“Aku percaya padamu. Jadi begini … di lantai 3, ada 10 kamar khusus dengan 9 pasien. Pasien kamar nomor 1 adalah Winny. Lalu pasien kedua adalah seorang wanita. Saya tidak tahu namanya siapa, karena seingat saya, namanya dicoret dengan tinta hitam tanpa alasan yang jelas. Wanita itu didiagnosa menderita depresi berat yang disebabkan oleh Dorian Gray Syndrome. Gejalanya adalah ia terlalu berlebihan dalam memperhatikan penampilannya. Bahkan ia sampai berkali-kali menjalani operasi plastik hingga kecanduan. Namun tetap saja, ia merasa belum puas dan tidak percaya diri dengan penampilannya.”


“Untuk kamar nomor 3, sepertinya kamar tersebut kosong.”


‘Sepertinya kamar nomor 3 adalah kamar milik William.’ Pikir Rian.


“Kamar nomor 4 dihuni oleh pasien penderita Phantom Limb Syndrome setelah ia kehilangan tangannya setelah kecelakaan. Setelah menjalani amputasi, ia masih merasa bahwa tangannya masih ada. Bahkan ia dapat merasakan sakit dan juga temperatur benda melalui tangan imajinasinya itu.”


“Penghuni kamar nomor 5 adalah Bintang. Ia menderita Fregoli Delusion Syndrome. Ia percaya bahwa orang-orang disekitarnya itu adalah palsu. Ia menduga orang-orang itu adalah penyamaran dari satu seseorang yang mengincar hidupnya.”

__ADS_1


“Penghuni kamar nomor 6 adalah Hani. Wanita tersebut adalah seorang pembawa acara radio. Ia menderita Body Dysmorphic Disorder. Ia memiliki tendensi melebih-lebihkan ketidaksempurnaan yang ada pada tubuhnya. Jadi, bisa dibilang ia tidak menerima jika ada sesuatu yang tidak sempurna pada tubuhnya. Bahkan, Hani pernah ingin memotong jarinya hanya karena kuku pada kedua jari tersebut tidak simetris. Namun, Hani telah keluar dari rumah sakit 3 bulan kemudian.”


“Penghuni kamar nomor 7 sudah meninggal. Ia menderita Cotard Syndrome, atau biasa disebut sindrom mayat berjalan. Pasien ini meyakini dirinya telah meninggal. Ia selalu mengatakan pada Dokter bahwa semua organ tubuhnya telah membusuk. Dia juga berkata bahwa ia telah melihat dunia yang sebenarnya. Dunia tempat kita hidup adalah palsu.”


“Kamar nomor 8 dihuni oleh seorang dokter jiwa bernama Vincent. Dia awalnya junior saya sebelum akhirnya ia menjadi tidak waras. Ia mengaku depresi karena terlalu banyak mendalami pikiran pasien saat sesi konsultasi. Ia juga didiagnosa mengalami Hemineglect saat berusia 30 tahun, dimana ada kerusakan pada otaknya yang menyebabkan ia tidak bisa menyadari atau melihat objek yang ada pada salah satu sisi. Kita pernah memintanya menggambar manusia. Namun hasilnya, ia tidak menggambar bagian kaki dan tangan kiri manusia itu. Ketika kita bertanya alasan mengapa ia menggambarnya seperti itu, ia menjawab bahwa inilah wujud yang paling sempurna dari manusia.”


“Sebenarnya penyakitnya tidaklah serius. Namun yang serius adalah sikap perfeksionis dari Vincent. Setiap kali ia melihat seorang pasien dengan tangan dan kaki lengkap, ia akan segera menyempurnakannya, alias, memotongnya!”


“Lalu pasien yang tinggal di kamar nomor 9 adalah Aldy. Tidak ada diagnosa yang jelas pada pasien ini. Bahkan sampai saat rumah sakit ditutup pun, masih tidak jelas penyakit apa yang ia derita. Beberapa dokter mendiagnosanya mengalami Asperger Syndrome karena Aldy memiliki ingatan yang kuat dan juga kecerdasan di atas rata-rata. Aldy adalah seorang yang pendiam. Bagi dirinya, semua orang disekitarnya itu bodoh.”


“Saat sesi perawatan, ia mengaku telah berbuat kejahatan. Namun saat polisi memeriksa mengenai semua kejahatan yang ia akui, ternyata semuanya palsu. Bahkan ia pernah mengaku telah membunuh seseorang. Tapi ternyata polisi telah menangkap penjahat yang asli. Oleh karena itu, berdasarkan kesepakatan pihak rumah sakit dan polisi, Aldy akhirnya tetap dirawat di kamar nomor 9.”


“Dan yang terakhir, adalah pasien penghuni kamar nomor 10. Saya tidak tahu siapa namanya, namun para Dokter dan Perawat memanggilnya, Monster. Pasien ini menderita Lesch-Nyhan Syndrome atau Juvenile Gout. Ketika penyakitnya kumat, ia akan menggunakan cara apa pun untuk merusak wajahnya. Dia juga memiliki tendensi untuk merusak apapun. Maka dari itu, jika ia keluar kamar, maka ia akan dijaga ketat dan diikat pada kursi rodanya. Dan saat ia dikamar, ia akan diikat pada tempat tidurnya.”


“Terima kasih telah bersedia menceritakan semua ini padaku, Ayah Mertua” tunduk Rian


“Sama-sama. Lalu, akan kamu apakan informasi ini?”


“Untuk memecahkan misteri yang lebih kelam dari rumah sakit tersebut!”


“Kamu benar-benar memiliki hobi yang aneh. Terserah kamu saja. Yang penting, berhati-hatilah …”


“Siap Ayah!” 


Tak lama kemudian, Alena pun keluar dari kamarnya. Alena kini menggunakan gaun pendek berwarna biru. “Maaf membuatmu menunggu …” ucap Alena dengan senyum manisnya.


“Nggak lama kok sa–” Rian begitu terpana melihat begitu cantiknya Alena. “–yang …”

__ADS_1


“Terima kasih, fufufu …” Alena tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


“Ayo!”


__ADS_2