Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Catatan Direktur


__ADS_3

‘Dia seharusnya sudah mati! Kenapa dia masih berkeliaran di rumah sakit ini!?’


Perlahan, suster tersebut masuk ke dalam konter. Rian pun bersembunyi di bawah meja konter. Entah apa yang dilakukan suster tersebut, Rian hanya bisa menahan nafas dan suaranya sambil menunggu perginya suster tersebut. Tiba-tiba saja, terdengar suara pintu terbuka dari suatu tempat di area ini.


Kreak


Bereaksi dengan suara tersebut, suster tersebut pergi ke arah suara itu. Setelah beberapa menit menunggu, tidak terdengar lagi suara seretan kaki dari suster itu.


“Haah~, akhirnya pergi juga itu suster … tapi makhluk apa sebenarnya itu? Jika dia makhluk astral, seharusnya nggak akan kedengaran suara kakinya. Mungkinkah dia mayat hidup? Hmmm …” Setelah itu, Rian berdiri dan memeriksa meja konter. Di atas meja, ada sebuah buku catatan yang sangat tebal. Saat Rian membukanya, Rian melihat nama-nama pasien dan juga diagnosanya di dalam buku tersebut. Nama-nama ini memiliki satu kesamaan, yaitu adanya tulisan merah dengan kata ‘meninggal’ pada kolom keterangan.


Rian kemudian melirik ke tempat bungkus obat yang berjajar rapi tadi. Namun di sana sudah tidak ada bungkus obat lagi. ‘Sepertinya suster tersebut telah mengambil obat tersebut. Jika deduksiku benar, maka seluruh nama pasien yang telah meninggal ini memiliki boneka bertuliskan nama mereka dan tersebar di seluruh lantai 3 ini. Lalu suster tersebut akan berkeliling setiap malam untuk memberikan obat-obat tersebut pada mereka seperti saat mereka masih hidup.’


Setelah selesai mengecek meja konter, Rian melanjutkan penelusurannya kembali. Tak jauh dari meja konter tersebut, Rian menemukan Ruangan bertuliskan ‘Ruang Direktur’ pada pintunya. “Kenapa ruang direktur ada di area khusus?” Rian kemudian masuk dan melihat-lihat isi ruangan tersebut.


Dalam ruangan tersebut, terdapat beberapa pot tumbuhan yang menempel pada dinding. Di samping pot, ada rak buku kosong dan meja kerja. Ada juga tempat beristirahat lengkap dengan tempat tidurnya. Di sebelah tempat tidur, ada sebuah lemari baju yang sangat besar. Anehnya, lemari tersebut disegel menggunakan garis polisi.


Rian melihat di lantai, ada banyak rekam medik yang berceceran. Rian mengambil beberapa rekam medik tersebut. “Sepertinya semua pasien di sini menerima cara perawatan yang sama. Dokter-dokter di sini sama sekali tidak menyelesaikan masalah mereka, namun hanya menekan jiwa dan keinginan para pasien layaknya boneka yang tidak memiliki keinginan.”

__ADS_1


Rian kemudian menghampiri lemari yang disegel menggunakan garis polisi. “Kenapa lemari ini disegel? Apakah ada tubuh yang disembunyikan di dalamnya?” Karena penasaran, Rian pun membuka segel garis polisi tersebut.


Ternyata, isi lemari tersebut tidak seperti yang Rian bayangkan. Bahkan tidak ada baju ataupun benda-benda aneh di dalamnya. Yang ada hanyalah sebuah buku, tumpukan kertas, dan beberapa amplop. Rian mengambil buku tersebut dan membukanya.


“Bukankah ini buku harian? Direktur rumah sakit ini menulis buku harian?” Rian kemudian membaca buku harian tersebut.


......................


Rumah sakit Umum Surabaya sudah berdiri sejak tahun 1923. Namun departemen khusus gangguan jiwa sendiri baru dibuka tahun 1977. Gedung pusat perawatan gangguan jiwa memiliki 3 lantai. Lantai pertama memiliki biaya yang sangat murah, namun kondisi kamar sangatlah buruk. Lantai 2 memiliki biaya yang lebih mahal 50% ketimbang lantai 1. Namun lantai 3 berbeda. Lantai ini hanya diperuntukkan bagi pasien VVIP. Biayanya pun 10 kali lebih mahal dari biaya perawatan pada lantai 1.


Pada bulan April 2003, sebuah mobil mewah dengan nomor polisi luar Surabaya datang mengunjungi rumah sakit ini. Dua orang keluar dari mobil tersebut sambil memandu seorang wanita yang sedang hamil besar. Aku, sebagai Direktur rumah sakit ini, tentu saja harus menyambut mereka. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, aku menyadari bahwa wanita hamil itu menderita gangguan jiwa yang cukup parah. Namun, demi keselamatan Ibu dan Bayi yang masih dalam rahimnya, aku menolak mereka.


Karena aku sudah menerima uang ini secara tunai, aku pun menutup mata mengenai hal kecil seperti ini. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah merawat wanita ini dengan baik. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, ternyata wanita ini menderita Bipolar Disorder. Wanita ini terkadang tidak mau berbicara, terkadang ia akan menangis, dan terkadang juga akan marah-marah. Ia juga akan melempar benda-benda di sekitarnya dan juga menyakiti dirinya sendiri. Untuk menjaganya tetap aman. Aku meminta para Dokter untuk mempersiapkan peralatan yang aman untuk bayi di kamar nomor 3.


Gangguan jiwa pada wanita ini sangat tidak stabil. Namun karena ia sedang hamil, banyak obat-obatan yang tidak bisa digunakan. Kami pun hanya bisa memberinya konseling. 3 bulan berlalu, dan hari kelahiran anaknya pun semakin dekat. Kami merekrut beberapa suster untuk mengawasinya 24 jam.


Entah karena hasil konseling atau karena sifat keibuan yang mulai muncul, kondisi wanita ini membaik. Walau begitu, wanita itu lebih sering diam dan mengusap-usap perutnya yang membesar. 4 bulan kemudian, anak dalam rahimnya terlahir ke dunia ini. Kondisi wanita ini pun semakin membaik. Aku dan para Dokter pun bernafas lega. Hari itu, aku mencoba menghubungi suaminya, namun teleponku tidak diangkat.

__ADS_1


Perasaan tidak enak mulai muncul dalam diriku. Untuk menemukan di mana pria itu, aku menyewa seorang detektif. Setelah melakukan penyelidikan, ternyata semua dokumen yang diberikan pria itu palsu. Setelah aku berdiskusi dengan para Dokter, kami memutuskan akan merawat wanita ini sampai uang yang pria itu berikan habis. Jika sampai saat itu tetap tidak muncul, maka kami akan melaporkan hal ini pada polisi. Agar kondisi wanita ini tidak memburuk, maka kami tidak memberitahunya mengenai hal ini.


Sejak anaknya lahir, wanita ini seakan telah menemukan harapan dalam hidupnya. Ia pun mulai kooperatif dengan Dokter dan suster yang merawatnya. Terkadang, ia akan menanyakan kabar suaminya pada para pegawai rumah sakit. Karena yang ada dalam pikirannya, setelah ia sembuh, suaminya akan datang dan menjemputnya.


Tetapi, 6 bulan kemudian, uang yang diberikan pria itu telah habis. Orang itu pun hilang seakan ditelan bumi. Akhirnya, terjadi perdebatan di kalangan Dokter. Ada yang merasa iba, dan ada yang berpendapat bahwa Ibu dan anak ini harus segera dipindahkan, karena merawat mereka berdua secara gratis sangatlah melelahkan. Sebagai Direktur, aku meminta para Dokter untuk bersabar dan menunggu lebih lama lagi. Namun suatu hari, seorang suster yang merawatnya keceplosan di depan wanita ini.


Wanita ini pun memintaku untuk mengizinkannya berbicara dengan suaminya. Namun nomor telepon yang diberikan pria itu padaku kini sudah tidak aktif lagi. Sejak saat itu, kondisi wanita ini semakin menurun. Ia mulai bersikap kasar pada semua orang di sekitarnya. Untuk mencegahnya menyakiti anak perempuannya, aku menyuruh beberapa dokter untuk memisahkan Ibu dan anak tersebut.


Wanita ini sudah kehilangan akalnya. Ia juga susah untuk diajak komunikasi. Kami mencoba berbagai cara untuk menyembuhkannya, dengan harapan kita dapat menggali informasi mengenai suaminya dan meminta orang itu untuk membayar semua biaya yang ada.


Tidak ada yang menyangka bahwa perawatan ini berlangsung hingga 3 tahun. Anak perempuan dari wanita itu pun tumbuh di dalam rumah sakit jiwa. Dia belajar berjalan dan berbicara di tempat yang dipenuhi orang tidak waras ini.


3 tahun pertama dalam tumbuh kembang anak sangatlah penting. Itu adalah waktu di mana manusia menyerap banyak informasi, dan nantinya informasi tersebut akan menjadi dasar dari masa depan anak tersebut. Anak perempuan itu tumbuh di lingkungan yang sangat kompleks seperti ini.


Uang yang diberikan pria itu sudah habis. Kini, kami merawat mereka karena kami atas dasar kemanusiaan. Namun, semakin lama, semakin banyak orang yang protes mengenai keputusanku merawat mereka. Bahkan, para pegawai rumah sakit ini mulai memandang anak itu dengan mata yang tidak ramah.


Setiap hari, anak perempuan itu selalu meminta Dokter ataupun suster untuk membawanya ke dalam kamar nomor 3, tempat di mana Ibunya dirawat. Ia hanya bisa melihat Ibunya dari jendela kaca yang ada pada pintu karena kondisi Ibunya yang masih tidak stabil.

__ADS_1


Ketika anak perempuan itu sudah mulai bisa berjalan, ia terkadang pergi sendiri ke kamar nomor 3 sendiri, memandangi terus pintu besi yang ukurannya lebih besar darinya. Waktu berjalan dengan cepat. Saat anak lainnya bermain dengan teman-temannya dan bersenang-senang, berbeda dengan anak perempuan itu. Dunia anak itu hanya diisi oleh lingkungan rumah sakit ini. Ia pun mulai bersikap berbeda dengan anak seusianya pada umumnya.


__ADS_2