
"Terima kasih, telah bersedia melakukan kontrak denganku, Winny."
"Ehehehe …" Winny tersenyum manis dengan wajah pucatnya.
"Oh ya, aku menemukan ini di dalam lemari kantor Direktur." Rian memberikan foto yang ia temukan dalam amplop.
Melihat foto ini, emosi Winny memuncak. "Beraninya bedebah itu menyimpan foto Ibuku!" Gedung J tersebut mendadak bergetar seakan terkena gempa.
"Winny, sabar Winny … aku sudah membunuh Direktur itu, jadi kamu nggak perlu marah lagi." Rian mencoba menenangkan Winny, namun gedung tersebut malah bergetar lebih keras lagi.
Rian pun memutar otak untuk menenangkan Winny. Tiba-tiba, ingatan mengenai masa kecil Winny muncul dalam benak Rian. Masa kecil Winny begitu suram. Tidak ada hal yang menyenangkan dalam ingatan Winny. Satu-satunya momen gembira Winny hanyalah saat Ibu Winny mengajaknya ke sebuah taman bermain.
'Jadi begitu … sejak Winny lahir, ia terus berada di rumah sakit ini. Ketika ia keluar dari rumah sakit, Ayahnya kembali menelantarkan mereka berdua. Hal yang membuatnya tetap waras adalah Ibunya. Ia sama sekali tidak memiliki figur Ayah dalam hidupnya. Kalau begitu, aku akan menjadi figur tersebut!' pikir Rian sambil mengepalkan tangannya.
"Winny! Kalau kamu tenang, aku akan mengajakmu ke taman bermain!"
Begitu mendengar ucapan Rian, getaran pada gedung J langsung berhenti. "Benarkah? Apa kakak serius?"
Rian bernafas lega melihat bujukannya berhasil. "Tentu saja aku serius. Aku akan mengajakmu ke Taman Remaja Surabaya."
"Yeay … kalau begitu, tolong kakak ajak tubuh utamaku juga. Aku akan merasuk ke dalam tubuh utamaku saat kita pergi."
"Oke, aku akan coba menyampaikan hal ini pada Winny. Tapi sepertinya hal ini tidak bisa kita lakukan dalam waktu dekat. Winny masih membutuhkan perawatan intensif pasca kejadian itu."
"Nggak masalah kok kak. Aku sudah biasa menunggu. Lagipula aku sudah berada di sini selama 11 tahun. Menunggu beberapa tahun pun tidak ada bedanya bagiku." senyum Winny Alter.
Setelah mereka berdua bincang-bincang selama 1 jam, Rian berpamitan pada Winny Alter untuk kembali ke dunia manusia.
"Haah~ walau bau, tapi udara di luar pintu memang masih lebih baik dari pada di dalam." Sesaat setelah Rian keluar, ia langsung mengambil nafas dalam-dalam. Tak lama kemudian, alarm ponsel Rian berbunyi.
*Titititit Titititit Titititit *
Di saat yang sama, pintu merah itu berubah kembali menjadi cermin biasa. ‘Sama seperti di rumahku, pintu ini akan terbuka jam 12 malam dan akan menghilang jam 4 pagi.’
__ADS_1
Kreak
Tiba-tiba, pintu kamar nomor 3 terbuka. Dengan cepat, dua orang pria berseragam lengkap masuk dan menodongkan senapan pada Rian.
“Diam di tempat! Tangan di atas kepala!” ucap seorang pria kurus dengan kantung mata tebal.
‘Anjir! Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba muncul orang berpakaian militer?’ teriak Rian dalam hati. Ia pun kemudian berlutut dengan tangan berada di belakang kepalanya.
Setelah Sigil melihat wajah Rian dengan jelas, barulah Sigil sadar bahwa orang di depannya adalah target misinya. “Apakah benar namamu Rian Morfran?”
“Iya Pak!” tegas Rian.
“Turunkan senjata, dia adalah target misi kita.” Mendengar ucapan Sigil, Jaka menurunkan senapannya.
‘Aku adalah target misi mereka? Apa maksudnya? Siapa mereka sebenarnya?’ pikir Rian.
“Rian, kamu sekarang boleh berdiri dan bersikap santai. Mohon maaf atas sikap kami barusan. Karena kami mengira kamu adalah salah satu monster bertentakel yang bersembunyi di sini.” Sigil menundukkan badannya meminta maaf pada Rian.
Melihat mata Rian yang tampak penuh dengan pertanyaan, Sigil memberi penjelasan. “Rian Morfran, kami adalah Regu ketiga dari Pasukan Khusus Penanggulangan Bencana Supranatural Region Jawa Timur. Kami juga biasa disebut sebagai Gravekeeper. Kedatangan kami di sini adalah untuk menyelamatkanmu.”
“Itu benar. Kebetulan Mira adalah salah satu anggota Regu kami.” senyum Sigil
Setelah berbincang beberapa menit, Sigil dan Jaka segera membawa Rian keluar dari rumah sakit. Di luar, Alena, Livia, Tika, Alicia, Guntur, dan Adi telah menunggu Rian dengan khawatir.
Melihat Rian, Livia langsung memeluk Rian dengan erat. “Rian!”
“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Livia dengan mata berkaca-kaca.
“Aku nggak apa-apa kok Livia.” senyum Rian sambil membelai rambut Livia. “ Kamu tahu sendiri kan bagaimana kemampuan penyembuhanku. Selama jantungku masih berdetak, aku nggak akan bisa mati!”
Di belakang Rian, ekspresi Alena, Alicia dan Tika saat melihat Livia dan Rian berpelukan benar-benar beragam.
‘Livia, kalau kamu bukan teman dekatku, sudah kutebas kepalamu, hahaha … hahaha’ gumam Alena sambil tersenyum menyeringai bak psikopat.
__ADS_1
Guntur dan Adi merinding melihat aura membunuh dari diri Alena.
“Anjir, ini pertama kalinya aku bersyukur tidak memiliki pacar.” bisik Adi.
Guntur pun menyetujui ucapan Adi. “Dalam kasus ini, aku setuju denganmu. Aku nggak nyangka Alena akan seperti ini. Padahal dulu aku kira dia wanita yang lembut deh. Sepertinya Rian telah membuka pintu terlarang di hati Alena, Haah~”
Sementara itu, Tika hanya bisa pasrah melihat kedekatan Livia dan Rian. ’Aku iri dengan mereka. Aku juga ingin dipeluk seperti malam itu. Mungkin aku harus mengajak Livia berdiskusi mengenai posisi calon istri kedua Rian.’
‘Tenang Alicia, kamu masih punya kesempatan. Akan aku manfaatkan dengan baik kencanku hari ini bersama Rian!’ pikir Alicia sambil mengepalkan tangan.
Setelah semua drama itu, Rian dibawa ke dalam mobil Box milik Gravekeeper. Rian kemudian dicecar puluhan pertanyaan selama 3 jam oleh mereka. Rian menjawab pertanyaan mereka sejujur-jujurnya, termasuk mengenai pintu merah.
Ternyata, anggota Gravekeeper tidak tahu menahu mengenai perihal pintu merah dan juga chimera. Jawaban Rian ini menjadi informasi berharga bagi Gravekeeper. Mereka pun menjanjikan Rian hadiah berupa uang yang akan diajukan kepada atasan mereka. Selepas sesi tanya jawab itu, Rian akhirnya diperbolehkan pulang.
......................
“Rian, kamu mau kemana? Bukankah kamu baru saja kembali dua jam yang lalu?” tanya Pak Arta yang melihat Rian memakai parfum di depan cermin.
Mendengar suara Pak Arta, Rian menengok ke arahnya. “Iya Pak, aku ada janji dengan Alicia hari ini.”
“Alicia? Hmm, tidak biasanya. Seingat Bapak, dia tidak pernah dekat dengan seorang pria. Ini pertama kalinya …” Pak Arta termenung sejenak, kemudian ia menepuk punggung Rian. “Jagalah dia baik-baik. Jangan permainkan perasaannya.”
“En” angguk Rian. “Aku pasti akan menjaganya. Aku juga telah berjanji pada diriku sendiri untuk menemaninya seumur hidupku!”
“Seperti yang kamu ucapkan pada Livia dan Alena?” sindir Pak Arta.
“Ugh … kok Pak Arta tahu?”
“Alena banyak bercerita tentang hubungan kalian. Dan juga, kamu pernah menceritakan janjimu dengan Livia pada Alena. Jadi wajar kalau Bapak tahu.”
“Ugh …”
“Bapak tidak mau mencampuri urusan percintaan kalian. Tapi Bapak harap, jangan sakiti mereka. Alena, Livia, dan juga Alicia adalah anak yang baik. Jadi jangan rusak masa muda mereka.”
__ADS_1
“Baik Pak, aku berjanji akan menjaga mereka dengan baik!” jawab Rian dengan penuh resolusi.