Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Penghasilan Dari TeckTock


__ADS_3

Darah mulai bercucuran dari lengan kiri Rian. Namun, Rian tidak tampak kesakitan sama sekali. Ia tetap memasang wajah serius dan terus menatap Alena.


"Rian!" Alena langsung lari menghampiri Rian. Ia terlihat panik dengan apa yang dilakukan Rian. "Kenapa kamu melakukan ini?"


"Karena aku ingin memperlihatkan padamu betapa seriusnya aku. Aku nggak bohong dengan perkataanku tadi. Aku beneran mendapatkan cincin itu setelah bertemu Rika dalam mimpi! Makanya aku–"


"Cukup Rian, aku percaya! Yang penting sekarang kita obati dulu lukamu! Aku khawatir nanti bisa infeksi …" Alena mencoba melihat luka di lengan Rian. Namun di saat yang sama, asap mulai muncul dari lukanya. Perlahan, luka Rian sembuh dengan sendirinya. Rian dan Alena sama-sama terkejut degan ini.


"Bagaimana mungkin?" Rian sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Aku tidak merasa punya kemampuan khusus seperti ini!"


'Apakah ini efek dari kemampuan khusus yang nggak dikenali sistem itu? Aku kira kemampuan khusus itu hanya meningkatkan kekuatan fisik saat sedang marah. Aku nggak nyangka kemampuan itu juga memiliki kemampuan penyembuhan diri. Bukankah ini berarti aku seperti Wolvrine dalam film X-Men? Ini sangat menarik. Saatnya menguji hipotesisku!' pikir Rian.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa lukamu sembuh sendiri?"


"Aku juga nggak tahu. Mari aku tes lagi …"


Melihat Rian mengangkat pisaunya, Alena pun berteriak. "Jangan!"


Croot


Darah kembali berceceran keluar dari lengan Rian.


"Kenapa kamu melakukannya lagi!?"


"Karena aku ingin menguji hipotesisku. Jika aku salah maka aku tinggal pergi ke UKS. Tapi jika aku benar, maka luka ini akan sembuh dengan sendirinya. Nih lihat, mulai keluar asap …"


"Ini …" Alena tercengang melihat luka Rian yang menutup sendiri. "Nggak masuk akal!"


"Apa kamu pernah mendengar orang berkemampuan khusus?"


"Sepertinya Ayahku pernah bercerita tentang hal itu. Namun aku menganggapnya hanya sebagai urban legend saja. Jangan-jangan kamu …"


"Sepertinya sih begitu. Aku aja baru tahu kalau aku memilikinya. Tapi tolong rahasiakan ini dari yang lainnya."


"Iya, aku akan menutup mulutku. Yang penting sekarang kita bersihkan dulu darah di lenganmu!"


Mereka berdua pun turun ke lantai 5 untuk membersihkan darah pada lengan Rian. Lokasi kamar mandi lantai 5 dekat dengan tangga, jadi mereka bisa langsung masuk tanpa dilihat orang.


"Alena, katakan padaku yang sejujurnya. Kenapa kamu tadi menangis di kelas? Apakah ini karena aku memberi cincin pada Livia?" tanya Rian sambil mencuci tangannya di wastafel.

__ADS_1


Alena bersandar pada tembok yang ada di depan pintu kamar mandi cowok. Mendengar pertanyaan Rian, wajah Alena merona. "I-iya. Karena aku kira kamu telah melamar Livia. Hatiku terasa sakit ketika melihatnya …"


Mendadak, Rian keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan Alena yang sedang bersandar. Ia kemudian memegang dagu Alena.


"Aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kita bertemu. Maukah kau menjadi pacarku?" tanya Rian dengan berbisik.


Mendengar pertanyaan Rian, Alena perlahan mengangguk. Perlahan, wajah Rian maju mendekati wajah Alena. Rian dapat merasakan hembusan nafas Alena yang semakin memburu. Alena kemudian menutup matanya. Bibir mereka pun mulai saling bersentuhan.


"Ehem … kalian berdua sedang apa?" Dari samping, muncul Ibu Kepala Sekolah. Suasana romantis mendadak buyar.


"Eh Ibu Kepala Sekolah, hehehe …" ucap Rian yang canggung karena terpergok.


Alena hanya bisa malu dan menutup wajahnya.


"Kami permisi dulu Bu!" Rian langsung menarik tangan Alena dan kabur.


"Ck ck ck … dasar anak muda jaman sekarang!" ucap Bu Liliana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah kabur dari Ibu Kepala Sekolah, kini Rian dan Alena berada di depan kamar mandi cewek lantai 4.


"Alena, bagaimana kalau kita melanjutkan urusan kita tadi di rumahku nanti malam?"


Saat mereka akan sampai di kelas, tiba-tiba Alena teringat sesuatu. "Rian, bisakah kita merahasiakan hubungan kita?"


"Lho, kenapa?"


"Karena aku tidak mau Livia sedih. Bagaimana pun juga, dia adalah teman dekatku!"


"Apa hubungannya Livia dengan kita? Bukankah dia harusnya senang ya?"


Alena hanya bisa menepuk jidatnya. 'Livia, maafkan aku. Tapi kamu benar-benar berada dalam friendzone!'


"Pokoknya berjanjilah padaku untuk merahasiakan hubungan kita, mengerti? Kalau nggak lebih baik kita akhiri saja sekarang!"


"Oke oke oke oke, aku mengerti. Aku akan merahasiakan hubungan kita!" Setelah itu mereka masuk kelas. Di kelas, Livia dan Tika sudah agak tenang. Alena pun meminta maaf pada Tika dan Livia. Namun Alena merahasiakan penyebab mengapa ia menangis.


Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. Guru Matematika, Pak Haryo pun datang. Rian merasa bosan dan mengantuk ketika Pak Haryo menjelaskan materi. Untuk menghilangkan kantuk, Rian secara sembunyi-sembunyi membuka ponselnya. Pagi tadi, Guntur telah mengembalikan ponselnya. Awalnya Rian mengira ponselnya disita polisi, namun ternyata dibawa oleh Guntur.


'Oh iya, aku sampai lupa. Aku sama sekali belum mengecek pendapatanku di TekcTock!' Rian segera membuka akun TeckTocknya.

__ADS_1


Saat ia mengecek halaman pendapatannya, ia terkejut dengan nominal yang ia dapatkan. 'Aku nggak lagi bermimpi kan? Satu, dua, tiga … sem-sembilan digit!' Mata Rian terbelak melihat angka 849.975.000 pada layar ponselnya.


'Pantas saja banyak orang yang ingin menjadi TeckTocker. Baru beberapa video saja sudah dapat segini! Dengan jumlah ini, akhirnya aku bisa melunasi hutang cicilan rumahku!' Rian pun membaca tata cara untuk menarik uangnya. Ternyata pihak TeckTock akan memotong uang yang ditarik sebesar 10% dari pendapatan sebagai biaya aplikasi.


'Aku masih belum memiliki rekening bank. Rekening milik ayahku sudah lama ditutup karena nggak ada saldonya. Apa aku pinjem Pak Arta ya? Sementara ini, orang dewasa yang bisa aku percaya hanyalah Pak Arta. Dia selalu ada untukku ketika masalah menghampiriku. Oke lah, sepulang sekolah aku akan menemuinya.'


Waktu berjalan dengan cepat, jam sekolah pun berakhir. Rian pun memberitahu Livia, Guntur, Adi, Alena, dan juga Tika mengenai hasil pendapatan dari TeckTock.


"Teman-teman, sebelumnya aku ucapkan terima kasih telah membantuku dalam pembuatan konten TeckTock. Aku akan membagi penghasilan ini dengan kalian. Namun aku ingin minta izin dulu, karena aku mau mengambil 700 juta dari pendapatan TeckTock untuk melunasi hutang cicilan rumahku. Aku minta maaf sebelumnya!" Rian menundukkan kepalanya pada Livia dan teman-temannya.


"Aku nggak membutuhkannya. Kau bisa gunakan dulu jatahku untuk sementara!" ucap Guntur.


"Aku juga sama …" Livia, Adi, Alena, dan Tika juga mengatakan hal yang sama. Walau pada kasus Tika, ia tampak tidak ikhlas.


"Terima kasih ya teman-teman! Aku akan mengingat terus kebaikan kalian."


"Sudahlah, nggak usah kaku kayak gitu. Kayak ngomong sama siapa! Kita kan teman dekat. Ayo kita ke ruang guru sebelum Pak Arta pulang!" ajak Guntur. Mereka berenam pun beranjak dari kelas dan naik ke lantai 5 di mana ruang guru berada.


"Pak Arta~" panggil Alena dengan manja.


"Ugh … Bapak merasa dejavu. Jadi, ada apa kalian ke sini?"


Rian kemudian maju untuk menjelaskan. "Begini Pak Arta, saya ingin meminjam rekening bank milik Bapak untuk menarik sejumlah uang dari TeckTock. Bagaimana Pak?"


"Kalau kamu yang pinjam, Bapak tidak ada masalah. Memang berapa yang ingin kamu ambil?"


"Sekitar 700 jutaan Pak …"


"Kelihatannya Bapak ada sedikit salah dengar. Yang mau kamu ambil 700 ribu kan?"


"700 juta Pak. Mau buat pembayaran hutang ke bank."


"700 juta!?" Pak Arta sedikit terkejut dengan nominal tersebut. "Kamu habis membobol bank?"


Kemudian Rian menunjukkan tampilan layar akun TeckTocknya. "Sepertinya Bapak sudah terlalu tua. Jaman benar-benar telah berubah. Bapak tak menyangka aplikasi seperti ini bakal menghasilkan uang sebanyak itu. Oke, atur saja rekening Bapak sebagai penerima."


"Terima Kasih Pak!"


Setelah itu, mereka memutuskan untuk pulang, terkecuali Alena dan Rian. "Jadi ke rumahku?"

__ADS_1


Alena tersipu malu dan mengikuti Rian tanpa sepatah kata pun.


__ADS_2