
BOOM
Ledakan itu membuat lantai kelas hancur. Serpihan meja yang hancur berhamburan kemana-mana. Getarannya pun membuat kaca-kaca jendela di sekitarnya pecah. Banyak murid yang terluka. Baik yang terluka akibat terkena ledakan secara langsung, ataupun karena terkena serpihan kayu dan kaca. Beberapa potongan tubuh dari murid yang tewas pun terlihat bertebaran.
“Ugh …" Rian merasakan sakit pada area punggungnya. Bunyi dengung juga terasa di telinganya. Rian menjadikan dirinya perisai setelah menendang granat tersebut. Ia langsung menutupi Livia, Alena, Alicia, dan juga Tika yang kebetulan semuanya berdiri berdekatan. Kini punggung Rian terlihat mengerikan. Terlihat banyak serpihan kayu di punggung Rian. Daging pada punggungnya pun terlihat keroak. Bahkan tulang belakang Rian terlihat dengan jelas.
Melihat Livia, Alena, Alicia, dan Tika yang hanya luka gores saja, Rian bernafas lega. Namun ketika ia melihat ke arah Adi, emosi Rian memuncak. Tangan kiri Adi hilang. Tak jelas apakah Adi masih hidup atau tidak. Sementara itu, Guntur juga mengalami luka yang parah. Di sekujur tubuhnya banyak sekali serpihan kayu.
“Grrr …” Akibat amarahnya yang memuncak, Rian hampir saja berubah menjadi setengah Werewolf. Namun ia berusaha menahannya. Bagi Rian, prioritas utamanya saat ini adalah menyelamatkan teman-temannya.
Sementara itu, di tengah lapangan belakang sekolah, berdiri seorang pria berambut pirang. Pria itu menggunakan jas hitam panjang dan kaos merah di dalamnya. Dengan teropong di tangannya, ia terus mengawasi kelas X-6. "Cih, ternyata aku gagal membunuhnya. Sepertinya target memiliki kekuatan penyembuh."
Pria berambut pirang itu kemudian meraih saku dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah tongkat kayu kecil yang biasa digunakan konduktor dalam memimpin orkestra musik. "Saatnya rencana B." Ia mengayun-ayunkan tongkat tersebut seakan ia sedang memimpin orkestra musik.
BOOM BOOM BOOM BOOM
Mendadak, muncul 4 ledakan yang terjadi secara beruntun. Ledakan tersebut menghancurkan 4 pilar utama gedung SMA Avernus. Seketika itu, gedung tersebut mulai goyah.
"Hahahahaha … indah sekali melodi ini! Sudah ku duga, suara ledakan adalah suara yang paling indah!" tawa pria itu sambil terus mengayun-ayunkan tongkat kayunya.
Tak beberapa lama, tawa pria berambut pirang itu berhenti. "Kenapa tidak roboh juga? Sepertinya gedung ini dibangun dengan sangat kuat dan tahan gempa! Avernus Group memang tidak pernah main-main dalam hal kualitas. Baiklah, saatnya aku turun tangan secara langsung …" Pria itu berjalan dengan santai sambil bersiul untuk memulai perburuannya.
Di dalam gedung, banyak murid yang panik setelah terjadi ledakan. Yohan, selaku Wakil Ketua OSIS memimpin jalannya evakuasi. "Semuanya, jangan ada yang panik! Mari kita selamatkan teman-teman kita yang terluka."
__ADS_1
Yohan kemudian mencoba mengangkat reruntuhan pilar yang mengenai kaki salah seorang siswa. "Hei, kamu yang di sana! Cepat bantu aku mengangkatnya!"
Setelah itu, datang 5 murid pria. Yohan memberi aba-aba untuk mengangkat reruntuhan pilar. "Satu … dua … tiga … angkat!"
"Ughhh … cepat tarik kakinya!"
"Sudah aku tarik!"
Bruuk
Mereka berenam pun secara serentak melepaskan puing rerentuhan pilar tersebut. "Hah hah hah … aku tahu kalian capek, tapi kita sebagai murid elit dari SMA Avernus, memiliki kewajiban untuk menolong teman-teman kita! Bayangkan bagaimana jika kalian lah yang terluka dan tertimbun reruntuhan! Bayangkan ketika kalian dalam keadaan seperti itu, teman-teman kalian malah melarikan diri meninggalkan kalian! Kalian akan sakit hati bukan?"
Ucapan Yohan menggema memenuhi lantai 1 gedung sekolah. Mereka yang masih sehat namun tidak membantu sejak tadi pun menjadi malu mendengar ucapan Yohan. "Maka dari itu, mari kita bantu teman-teman kita. Kita adalah keluarga besar Avernus! Kita adalah murid elit! Kita harus saling tolong menolong sebagai keluarga besar! Kelak di masa depan, mereka pun akan membantu kalian jika kalian terkena musibah. Ingatlah, karam baik itu ada. Jika kamu menanam karma baik, makan di masa depan kamu akan menuai buah yang manis."
Walau Yohan melakukan itu semua, namun pikirannya terus bergejolak. 'Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa tiba-tiba ada ledakan di sekolah!? Apakah identitasku ketahuan? Dan akhirnya keluarga Sugiharto melancarkan serangan padaku? Tapi itu tidak mungkin. Bahkan dalam simulasi, aku tidak melihat kejadian ini!' pikir Yohan. Yohan sangat ingin pergi dan mencari pelaku pengeboman ini. Tapi, posisinya sebagai Wakil Ketua OSIS membuatnya memiliki tanggung jawab untuk melindungi murid-murid lainnya.
Di kelas X-6 yang sudah porak-poranda, Rian berusaha menyelamatkan Adi yang sudah kehilangan lengannya. Ia kemudian menggendong Adi dan Guntur secara bersamaan. Kondisi Adi dan Guntur saat ini sama-sama dalam kondisi kritis. Namun kondisi Adi masih lebih parah dibanding kondisi Guntur. Dengan bertelanjang dada karena seragamnya yang sudah berlubang di bagian punggungnya, Rian berlari membawa Adi dan Guntur ke rumah sakit. Alena, Livia, Alicia, dan Tika pun mengikuti Rian.
Dari belakang, Tika terus memandang kondisi punggung Rian yang berangsur pulih. Namun tetap saja, masih ada bekas darah di punggungnya yang terlihat cukup mengerikan. ‘Demi melindungiku dan lainnya, Rian berbuat sampai sejauh ini … ‘ Tika teringat kembali bagaimana sikapnya yang buruk pada Rian. ‘Maafkan aku Rian. Aku hanya takut kamu merebut Alena dariku. Alena adalah satu-satunya teman yang aku miliki. Tapi, melihatmu seperti ini, aku jadi menyesal! Kini aku sadar, aku sudah memilik banyak teman. Dan semua ini karena kamu tidak pernah mengabaikanku. Terima kasih Rian. Aku berjanji akan berubah dan membuka hatiku pada kalian semua!’
Dalam perjalanannya, Rian melihat banyak sekali murid yang terluka. Mereka terlihat kesakitan dan tak berdaya. Namun Rian tidak memperdulikan mereka. Bagi Rian, keselamatan teman-temannya lah yang harus ia utamakan.
Saat Rian berlari menuju pintu gerbang, ia melihat seorang pria berambut pirang sedang berdiri di tengah-tengah pintu gerbang sekolah yang tertutup rapat. Di samping kakinya, tergeletak tubuh Satpam yang sudah tidak utuh, seakan satpam tersebut mati terkena ledakan. Tak jauh dari tempatnya berdiri, banyak potongan tubuh murid-murid SMA Avernus bertebaran. "Yo~ aku sudah lama menunggumu … Rian Morfran."
__ADS_1
"Minggir!" tegas Rian.
"Kau seharusnya tahu itu hal yang tidak mungkin!" Pria itu kemudian melempar sebuah kerikil kecil ke arah Rian.
Rian yang melihat kerikil itu terbang ke arahnya, langsung melompat ke belakang. Dengan instingnya, ia merasakan sesuatu yang berbahaya dari kerikil itu. Dan benar saja, saat kerikil itu mendekati Rian, kerikil itu mendadak berubah menjadi merah seperti api.
Boom
Sebuah ledakan kecil berdiameter 30 centimeter terjadi di depan Rian. Walau Rian berhasil menghindar, namun suara ledakan tersebut membuat telinga Rian berdengung. "Ughh … rupanya kamu penyebab dari semua ini? Dan juga batu itu, pasti hasil dari kemampuan khusus milikmu!" Rian kemudian meletakkan tubuh Adi dan Guntur di tempat yang aman. Ia tidak mau mereka terkena serangan pria berambut pirang itu.
“Itu benar … ini adalah kemampuan khususku, di mana aku bisa membuat benda yang aku sentuh meledak!”
"Rian!" Livia, Alena, Alicia, dan Tika akhirnya dapat menyusul Rian. Namun, mereka datang pada saat yang tidak tepat.
"Alena, Livia, Alicia, Tika, cepat lari dari sini! Orang ini adalah pelaku pengeboman!"
Mendengar ucapan Rian, Livia dan lainnya terkejut. Mereka tak menyangka akan bertemu pelaku pengeboman secara langsung.
"Ck ck ck … aku tak menyangka hidupmu dipenuhi banyak wanita cantik. Padahal kamu masih kelas 1 SMA, tapi sudah memiliki 4 pacar. Dua Loli, satu putri keluarga kaya, dan satu gadis berkacamata dengan dada besar. Seperti yang diharapkan dari tuan Detektif SMA. Seleramu benar-benar bervariasi. " Dengan cepat, pria berambut pirang tersebut langsung melempar kerikil ke arah Tika yang kebetulan berada paling dekat dengan posisi Rian
"Awas!"
BOOM
__ADS_1
Ledakan berdiameter 1,5 meter pun tercipta dengan cepat.