Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Arti Dan Maksud Kandang Besi


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Rian, ketiga orang itu memiliki reaksi yang berbeda-beda. Kakek itu terus menjilat bekas makanan pada jari-jemarinya seakan ia masih ingin makan. Mata wanita botak itu melotot tidak fokus sambil meronta-ronta di dalam kandang. Sedangkan pria paruh baya yang ada di sebelah kiri wanita botak itu terus menatap Rian dengan intens.


"Kenapa mereka semua dikurung di rumah sakit ini ya? Padahal rumah sakit ini sudah ditutup sejak setahun yang lalu."


Rian mendekati kandang yang berisi seorang kakek-kakek. Kakek itu terlihat mengabaikan Rian dan terus menjilati jari-jarinya. Tampak rambut kakek itu tumbuh dengan tidak rata. Di dalam kandangnya juga ada 2 mangkuk berisi air.  "Jadi begitu … kakek inilah yang berasal dari meja konter. Rambut kakek ini juga tampak telah di potong, jadi kemungkinan besar salah satu dari 4 rambut yang ada di bawah konter adalah miliknya."


"Di sini sudah ada tiga orang. Berarti masih kurang satu orang lagi …"


Saat Rian mulai mengamati rambut ketiga orang tersebut, Rian menemukan bahwa rambut milik pria paruh baya yang ada di sebelah kiri wanita botak itu terlihat rapi dan tidak ada tanda-tanda telah dipotong.


'Memotong rambut kemungkinan adalah perilaku menyimpang dari pelaku penyekapan. Dapat dilihat dari rambut pria tua dan wanita botak itu. Tapi jika memang begitu, kenapa pria paruh baya itu dibiarkan saja oleh pelakunya? Apa dia pelakunya? Atau dia baru saja ditangkap?'


'Tunggu! Ada satu orang lagi yang nggak ada di sini, yaitu orang yang memiliki wajah tidak rata itu. Kemungkinan besar dia adalah dalang dari semua ini. Tapi tidak menutup kemungkinan juga dia memiliki rekan. Dan rekannya mungkin saja salah satu dari mereka bertiga!'


Rian kemudian menghampiri kandang wanita botak. Wanita tersebut terlihat takut dengan Ryan. Ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan khawatir, aku datang untuk menyelamatkanmu."


Saat Rian akan melepaskan kain yang menyumpal mulut wanita itu, tiba-tiba saja pria paruh baya itu berbicara. "Wanita itu suka berteriak, jadi tolong jangan dilepas sumpalannya."


"Apakah kamu tahu kenapa dia begitu? Apakah orang yang menyekap kalian menyiksanya sampai ia mengalami trauma?"


Pria itu diam saja. Terlihat sekali ia enggan menjawab pertanyaan Rian. Saat Rian akan menyentuh sumpalan wanita itu, mendadak pria paruh baya itu menjawab. "Aku tidak tahu."

__ADS_1


"Lalu apa yang kamu tahu? Bagaimana dengan kakek ini? Kenapa di kandangnya ada 2 mangkuk air, sedangkan di kadangmu dan wanita itu nggak?" tunjuk Rian pada kandang berisi pria tua kurus.


"Aku bisa menceritakan tentang kakek itu. Sebagai gantinya, jangan pernah melepaskan sumpalan di mulut wanita itu!"


"Oke, tapi kamu harus bicara sejujur-jujurnya."


Pria paruh baya itu mengangguk dan memulai ceritanya. "Tubuh kakek itu dari dulu sudah sangat lemah. Walau begitu, sikapnya sangat lah buruk. Karena sikapnya itu, sang istri akhirnya meninggalkan kakek itu. Kakek itu pun akhirnya hanya hidup sendiri di rumah dan menggantungkan hidupnya dari kiriman uang putranya. Suatu saat, kakek itu menikah lagi dengan seorang janda. Putra kakek itu hanya diam dan tetap mengirimkan uang padanya setiap bulan.”


“Namun sayangnya, semua itu tidak bertahan lama. Putra kakek itu, yang merupakan seorang Dokter Jiwa, mengalami gangguan mental karena ia terlalu mendalami pikiran para pasiennya. Pada akhirnya, Dokter tersebut dipecat karena ia menyakiti pasien yang ia tangani. Keluarga pasien yang marah, menuntut Dokter tersebut sampai semua harta yang Dokter itu miliki habis.”


“Putra kakek itu sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan. Biaya perawatan di rumah sakit jiwa swasta mencapai lebih dari 8 juta rupiah untuk kamar kelas 3. Akhirnya, rumah sakit tempat dulu ia bekerja mau menerimanya sebagai pasien dengan harga yang jauh lebih murah.”


“Tubuh kakek itu semakin hari semakin lemah. Kakek itu terlalu tua untuk bekerja. Padahal, ia sangat memerlukan uang untuk membiayai perawatan putranya. Sampai akhirnya, rumah sakit tempat putranya dirawat ditutup. Putranya yang masih belum sembuh, akhirnya mau tidak mau dirawat di rumah kakek itu."


"Sampai suatu saat, tetangga kakek itu protes bahwa putranya telah menggigit anaknya. Semakin hari, gangguan mental putra kakek itu semakin parah. Jika sedang kumat, putra kakek itu selalu melakukan hal yang membahayakan nyawa orang lain."


"Kakek itu pun putus asa. Ia sendiri sudah tidak dapat bekerja lagi dengan kondisi tubuhnya yang semakin lemah. Ia juga tidak sanggup untuk merujuk anaknya ke rumah sakit lain. Uang kakek itu  juga semakin menipis. Sampai-sampai untuk makan saja sulit. Akhirnya, kakek itu memutuskan untuk mengurung putranya dalam kandang besi.”


“Bukannya menyelesaikan masalah, keputusan kakek itu untuk mengurung putranya malah semakin memperparah kondisi putranya. Kakek itu kemudian memiliki ide,  yaitu menempatkan dua mangkuk di depan putranya. Satu mangkuk berisi air biasa, dan satunya lagi berisi racun tikus. Kakek itu berharap putranya dapat memilih sendiri, apakah ia ingin terus hidup terkurung dalam kandang, atau mati dan terbebas dari semua penderitaan ini.” Setelah menyelesaikan ceritanya, pria paruh baya itu kembali diam.


“Jadi begitu …” Rian pun teringat kembali dengan tulisan tangan yang ada di bawah konter, -aku akan membalas semua yang telah kau perbuat padaku-.

__ADS_1


“Motif pelaku dalam kasus ini adalah pembalasan dendam. Ia sangat membenci Ayahnya sendiri yang telah mengurungnya dalam kandang sempit. Jadi dia membalasnya dengan memperlakukan Ayahnya seperti bagaimana Ayahnya memperlakukannya dulu.”


“Semua ini mulai masuk akal. Profil putra kakek ini juga sesuai dengan salah satu pasien yang dirawat di lantai 3. Yaitu Vincent, penghuni kamar nomor 8 yang menderita gangguan mental dan juga kerusakan otak Hemineglect” ucap rian sambil memberi penjelasan pada penonton.


‘Lawanku kali ini memiliki keuntungan geografis. Sebelum ia menjadi pasien, ia adalah seorang Dokter yang bekerja di rumah sakit ini. Tentu ia tahu seluk beluk gedung ini. Pantas saja misi ini memiliki tingkat kesulitan Hard’ pikir Rian.


‘Kalau begitu, kemungkinan pemilik rambut ketiga dan keempat sudah mati. Dengan sikap Vincent yang perfeksionis, ia pasti akan memotong bagian tubuh sebelah kiri korbannya. Lalu meninggalkan korbannya mati kehabisan darah di dalam kandang. Ini deduksi yang paling masuk akal. Sekarang, di mana Vincent berada? Apakah pria paruh baya ini adalah Vincent? Pria paruh baya ini terlalu banyak tahu tentang kisah hidup kakek itu.’


Rian kemudian berjongkok di depan kandang pria paruh baya itu. “Kenapa kamu sangat tahu mengenai kehidupan kakek itu? Apakah kamu putranya?”


“Aku?” Pria itu menatap Rian dengan pandangan aneh. “Sudah aku duga kamu tidak mempercayaiku, seperti halnya aku tidak mempercayai kalian! Tolong tinggalkan aku! Biarkan aku tetap bersembunyi di sini. Bagaimana cara kalian menemukanku? Tolong hentikan semua ini, aku tahu kalian selalu mengawasiku!”


“Ha? Apa maksudmu?” Rian kebingungan dengan ucapan pria paruh baya itu. Ia tidak paham sama sekali tentang apa yang pria itu bicarakan.


“Setiap kali aku membongkar penyamaran kalian, kalian selalu berpura-pura bingung dan polos! Inilah kenapa aku jijik dengan kalian semua. Aku telah membongkar identitasmu, kenapa kamu masih terus berpura-pura!?” ucap pria paruh baya itu. Ia pun mulai menyebutkan nama-nama asing di telinga Rian. “Sekarang identitas apa yang kamu gunakan? Bagus? Andy? Sonni? Chandra? Atau kamu sekarang punya identitas baru?”


Sebelum Rian menjawab, pria itu berbicara lagi. “Aku tahu, kamu pasti akan bilang bahwa kamu tidak mengenal satu pun dari nama-nama itu kan!?”


“Tapi memang aku nggak kenal sama sekali dengan nama-nama itu!”


“Jangan bohong! Kalian semua adalah orang yang sama. Kamu hanya sedang menyamar sebagai orang lain sekarang untuk menipuku! Kalian benar-benar menjijikkan!”

__ADS_1


“Orang yang sama? Menyamar sebagai orang lain?” Rian akhirnya sadar dengan profil pasien yang cocok dengan pria paruh baya ini.


__ADS_2