
"Yang mulia Alicia, bisakah aku meminta tolong pada Yang Mulia untuk membebaskan teman-temanku yang terjebak dalam tangga tak berujung?" pinta Rian.
“Tak perlu formal begitu. Walau aku terpisah dari tubuh utamaku, tapi aku masih dapat melihat ingatan dari tubuh utama. Hehehehe …” Alicia Alter memberikan lirikan manja pada Rian. Karena hal inilah, Alicia Alter mengenal Rian. Ia juga mengetahui perasaan tubuh utamanya terhadap Rian.
“Tapi Tenang saja, tak perlu khawatir. Baru saja aku meminta Rani dan Rina mengantarkan jiwa mereka kembali ke tubuh masing-masing.” lanjut Alicia Alter.
"Terima kasih Alicia, aku berhutang padamu!" Rian menundukkan badannya. Kemudian ia segera undur diri setelah menerima kabar baik itu.
"Tunggu!"
Langkah Rian terhenti mendengar suara Alicia. "Iya?"
"Aku ingin meminta sesuatu darimu. Anggap saja ini sebagai bayaran atas pembebasan jiwa teman-temanmu."
"Selama aku sanggup, aku akan mengabulkan permintaanmu!"
"Hihihihihi … baiklah. Hal yang aku minta ini sangat lah mudah. Aku ingin kamu menjadi pacar tubuh utamaku!"
"Haaaa? Ta-ta-tapi aku sudah memiliki seorang pacar!"
"Kau kira aku tidak tahu? Aku tahu kamu telah memiliki 2 pacar. Ingat, roh jahat dapat membaca pikiran manusia, hihihihihihi …"
"Tapi–"
"Tidak ada tapi-tapian! Atau aku akan menahan jiwa Livia di sini selamanya!"
Deg Deg Deg Deg Deg Deg
"Kau bilang apa tadi?" Mendadak, mata Rian mulai memerah. Namun pupilnya bukan lagi berbentuk lingkaran seperti biasanya, melainkan berbentuk pentagram dengan lambang salib terbalik di tengahnya.
Alicia Alter sadar bahwa Rian marah padanya. Tapi ia berpura-pura tidak tahu untuk mengusili Rian. “Sepertinya kamu tidak mendengarkanku. Hihihihihi … baiklah, akan ku ulangi lagi. Aku ingin kau berpacaran dengan tubuh utamaku! Kalau tidak, aku akan menahan jiwa Livia di sini selamanya!”
__ADS_1
"Bisa tolong diulangi kembali perkataanmu tadi?" Tubuh Rian mulai bertransformasi. Kuku-kuku Rian mulai memanjang, taring mulai keluar dari mulutnya. Tampak urat-urat mulai muncul pada wajah Rian. Rian kemudian langsung menyerang Alicia Alter. "GROAR"
"Hihihihihihi … kau pikir mengapa makhluk astral dengan sukarela menjaga pintu merah?" Alicia mengibaskan tangannya. Saat itu juga, tubuh Rian berhenti tak bergerak, seakan ada rantai yang menjeratnya.
"Karena dengan menguasai pintu merah, aku dapat mengendalikan hukum yang ada dalam area yang aku kuasai. Termasuk hukum yang melarangmu untuk bergerak!"
"Grrrr" Rian memaksa menggerakkan tubuhnya, namun tetap saja tubuhnya tak bergeming. “GROAAR”
"Analisa, grrrr …" Sambil terus meringis, Rian mengaktifkan kemampuan analisa dari Mata Penta Stigma. Mata Rian pun menyala merah terang saat mengaktifkannya. Lambang pentagram pun tergambar di depan mata Rian melayang di udara. Semua informasi mengenai Alter Alicia, alam gaib, hukum yang berlaku di dunia ini, dan juga energi yang ada di udara masuk ke dalam otak Rian. Tidak ada informasi yang luput dari Mata Penta Stigma. Kepala Rian menjadi sangat panas dan memerah karena banyaknya informasi yang masuk. Namun, Rian tetap menahan rasa sakit yang ia alami.
"Mata apa itu?" Alicia Alter penasaran dengan mata Rian yang menyala merah. Ia merasakan sesuatu yang sangat berbahaya dari mata tersebut.
"Analisa selesai, grrr …" Seketika itu juga, tubuh Rian mengeluarkan aura merah darah. Pintu merah bergetar seakan beresonansi dengan aura Rian. Ia pun tersenyum sinis.
"Ini! Kau membajak koneksiku dengan pintu merah!" teriak Alicia Alter. Ia tak menyangka Rian bisa melakukan hal yang mustahil seperti ini.
Dengan kekuatan pintu merah, Rian membuat Alicia Alter tidak bergerak. Alicia terus meronta, namun ia tidak dapat bergerak sama sekali. "Brengsek! Kembalikan pintu merahku!"
Slash
"Arghhh" Alicia Alter berteriak kesakitan. Karena roh jahat adalah makhluk astral, jadi tidak ada darah pada lukanya. Tapi tetap saja, rasa sakit tetap terasa walau tidak memiliki daging dan darah.
Melihat wajah Alicia Alter yang kesakitan kesakitan, membuatnya teringat dengan Alicia yang telah membantunya dalam membobol ponsel Pak Effendi. Setelah melihat memori Alicia Alter, timbul perasaan ingin melindungi Alicia. Ia tak mau melihatnya kembali terisolasi dan kesepian lagi.
Perlahan, Rian pun kembali normal. "Ingat, aku paling nggak suka kalau ada orang yang mengancamku menggunakan teman-temanku! Untuk permintaanmu tadi, aku nggak bisa melakukannya! Cari permintaan lainnya …" Rian kemudian melepaskan koneksinya dengan pintu merah dan bergegas pergi dari alam gaib.
“Aku tak menyangka Rian bisa melakukan semua ini! Mata apa itu sebenarnya?” gumam Alicia Alter sambil memegang lukanya.
““Alicia!”” Si kembar Rani dan Rina langsung menghampiri Alicia Alter. Mereka begitu khawatir dengan keadaan Alicia.
“Tidak perlu khawatir. Aku hanya perlu memakan beberapa makhluk astral lainnya untuk menyembuhkan luka ini. Lagi pula, aku dulu yang mengusilinya. Jadi wajar saja kalau dia marah. Tapi setidaknya, aku sudah menanamkan benih cinta dalam hatinya. Lambat laun, keinginan untuk melindungi Alicia akan berubah menjadi perasaan cinta. Lalu ending pada anime School Days yang dulu pernah aku tonton akan terjadi pada Rian, di mana salah satu pacar Rian akan membunuhnya karena ia berselingkuh! Hihihihihihi …”
__ADS_1
“Dan setelah ia mati, aku bisa mengubah jiwanya menjadi roh jahat. Kita pun bisa hidup bersama sebagai suami istri di sini, Hihihihihihi … hihihihihihihi …”
......................
Selepas keluar dari alam gaib, Rian langsung jatuh berlutut di dalam gudang peralatan.Tubuhnya terasa sangat berat setelah menggunakan kekuatan misterius dan juga Mata Penta Stigma secara bersamaan. "Haah haah haah … sepertinya aku harus berlatih untuk membiasakan diri menggunakan kekuatan ini."
Krucuk Krucuk
“Selain membebani tubuhku, ternyata kekuatan ini ini juga membuatku lapar.” Rian melihat jam pada layar ponsel yang menunjukkan pukul 04.00 WIB. Samar-samar, suara Adzan Subuh mulai terdengar. ‘Sepertinya aku akan mampir ke Mushola dulu sebelum kembali ke kamar rumah sakit.’
Dalam perjalanannya menuruni tangga, ia tidak melihat para hantu dari kelas rahasia. ‘Sepertinya hipotesis milikku benar. Hantu hanya muncul menjelang Magrib, dan menghilang ketika Subuh. Tapi itu semua tidak berlaku untuk roh jahat.’
30 menit kemudian. Rian kembali ke kamar 607 tempat ia dan teman-temannya dirawat. Saat Rian membuka pintu, ia menyaksikan Livia, Guntur, dan Adi saling berbincang dengan penuh keseruan. Melihat semua itu, Rian langsung memeluk erat Livia. “Maafkan aku! Untuk ketiga kalinya aku membuatmu celaka, maafkan aku!”
Guntur dan Adi melihat tingkah Rian dan Livia dengan hangat. Namun, semua berubah ketika Livia mendadak mencium Rian. ‘Anjir, plizz … sadarlah kalau masih ada dua makhluk jomblo di sini!’ Teriak Guntur dan Adi dalam hati mereka. Mereka berdua kemudian langsung keluar kamar untuk memberi ruang pada Livia dan Rian.
“Mmmmm” Lidah Livia menerobos masuk bibir Rian dan memulai pergulatan lidah.
Rian yang awalnya terkejut dengan ciuman dari Livia, secara tidak sadar menikmati ciuman Livia dan ikut memainkan lidahnya. Selama kurang lebih 10 menit mereka saling berpagutan. Perlahan, Livia melepaskan ciumannya. Tampak cairan saliva mereka berdua masih saling terhubung.
Sambil memegang pipi Rian, Livia menenangkan Rian. “Sayang~, kamu nggak perlu meminta maaf seperti itu. Aku ikut dalam Live Broadcast ini atas keinginanku sendiri.”
“Tapi–”
“Sstt …” Livia menyentuh bibir Rian dengan jari telunjuknya. “Aku bertanggung jawab atas keselamatanku sendiri. Sayang nggak perlu khawatir. Aku bahkan rela mengorbankan diriku demi keselamatan mu. Di dunia ini, hal yang paling berharga bagiku itu bukanlah keluargaku, ataupun Guntur dan Adi. Melainkan hanya kamu seorang!”
Deg Deg
‘Perasaan ini? Begitu ya … aku sudah lama menyadarinya, namun aku terus berpura-pura nggak tahu karena aku takut hubunganku dengan Livia akan berubah. Aku takut hari-hari indahku bersamanya menghilang. Haaa~ aku benar-benar cowok brengsek!’ Menyadari perasaannya, Rian bertekad untuk benar-benar melindungi Livia. “Terima kasih Livia … tapi, aku telah memutuskan. Mulai hari ini, aku akan membubarkan tim channel TeckTock Pemburu Hantu Official!”
“”APA!”” Guntur dan Adi yang sejak tadi menguping dari luar pintu, langsung masuk dan berteriak keras.
__ADS_1