Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Bukan Kamar 303?


__ADS_3

"Halo, Ida … kamu ada dimana? Aku dan lainnya sudah tiba di depan kamar 303 nih!" 


Dari ujung telepon, Ida menjawab. "Aku dan Winny sudah dari tadi di depan lobi … aku takut kalian tersesat, makanya aku menunggu di sana …"


"Tapi ketika kami melewati lobi, aku nggak melihat kalian berdua. Apa kita salah gedung? Aku di gedung A sekarang."


"Betul gedung A kok. Mungkin tadi terlewat karena aku dan Winny sempat ke kamar mandi yang ada di lobi sebentar. Aku akan segera ke sana sekarang. Dokter Denis juga baru saja sampai." Ida kemudian menutup sambungan teleponnya.


"Dokter Denis? Kenapa Ayah Mertua datang kemari?" gumam Rian.


"Bagaimana Rian, apakah kita salah gedung?" tanya Livia.


"Nggak kok, kita nggak salah gedung. Ida dan Winny tadi sudah nungguin kita di depan lobi. Cuma kita kelewatan saja karena di saat yang sama, mereka ke kamar mandi sebentar. Hanya saja, kenapa Dokter Denis juga ke sini ya, hmmm …"


"Dokter Denis?" Guntur, Livia, dan Adi bertanya-tanya dengan nama yang masih asing di telinga mereka.


Rian menjelaskan mengenai identitas dari Dokter Denis. "Dokter Denis adalah dokter ahli kejiwaan. Dia adalah dokter yang menangani kejiwaanku setelah kasus kamar kos itu. Dia juga Ayah Alena."


"Tunggu sebentar, kalau Dokter Denis itu Ayah Alena, berarti dia pemilik Rumah Sakit Jiwa Hati Sehat?" Rian dan lainnya pun terkejut dengan pertanyaan Livia. Ia pun menjelaskan bahwa Alena pernah bercerita mengenai Ayahnya. Alena sendiri juga pernah bercerita mengenai Ayahnya pada Rian, namun ia tidak pernah memberitahu bahwa Ayahnya adalah pemilik rumah sakit. Rian mengira Ayah Alena hanya seorang dokter senior.


10 menit kemudian, Ida, Winny, dan Dokter Denis muncul. "Maaf membuat kalian menunggu …" ucap Ida sambil membantu Winny membukakan pintu kamar 304.


"Lho, bukannya Winny tinggal di kamar 303?" tanya Rian.


"Siapa yang bilang? Aku tadi sudah chat kan, kalau kamar Winny ada di nomor 304. Kamu salah baca mungkin …"


Rian mengecek isi chatnya kembali. Di sana pun tertulis bahwa kamar Winny adalah nomor 304, bukan 303. "Hehehe, maaf … sepertinya aku salah baca …" 


"Untung kamar 303 kosong, coba kalau ada orang." ucap Livia.


"Bagaimana kalau hantu orang yang meninggal dalam kamar 303 keluar saat Rian mengetuk pin– aduh!" Livia langsung menendang kaki Guntur. Tampak, Livia tidak ingin mendengarnya.

__ADS_1


'Sepertinya aku salah membaca karena terpaku pada misi terbatas dari sistem. Hmmm, kalau kamar Winny 304, mengapa kamar yang tertera dalam misi adalah 303? Pasti ada maksud tersembunyi dari misi ini. Entah kenapa, misi kali ini benar-benar misterius. Berbeda dengan misi yang sebelum-sebelumnya. Mulai dari keterangan yang simpel, catatan yang singkat, dan nama misi yang aneh.'


Rian kemudian memperhatikan Winny dengan seksama yang berjalan masuk dengan perlahan. Winny tampak lebih kacau dari pagi ini. Kepalanya kini benar-benar tegak lurus dengan tulang belakangnya. Jika tadi pagi Winny menunduk dengan sudut 45 derajat, kali ini kepala Winny benar-benar membentuk sudut 90 derajat, seakan ada sesuatu yang berat duduk di atas kepalanya. 


'Kondisinya benar-benar mengkhawatirkan! Jika begini terus, lehernya akan patah! Baru kali ini aku merindukan kemampuan Mata Batinku. Seandainya aku masih memilikinya, aku bisa melihat apa yang ada di atas kepalanya, yang bahkan garam pun nggak berefek sama sekali …' pikir Rian. Siang tadi saat jam istirahat, Rian sudah mencoba menaburi garam secara sembunyi-sembunyi ke rambut Winny. Memang sempat muncul percikan listrik kecil, namun tidak ada efek perubahan sama sekali pada diri Winny.


'Apakah ini artinya garam tidak mempan terhadap roh jahat? Aku belum pernah menggunakan garam pada roh jahat, jadi aku nggak bisa ambil kesimpulan dulu.'


Saat mereka masuk, Rian mencium bau tidak enak. Ida dan Winny seakan sudah terbiasa dengan bau ini, namun tidak dengan Rian dan teman-temannya. Mereka semua menutup hidung mereka ketika masuk. Berbeda dengan Dokter Denis terlihat biasa saja saat masuk.


Penasaran dengan sumber bau ini, Rian melihat ke sekeliling kamar. Namun di sana tidak ada sampah maupun makanan busuk. Bau ini seakan keluar dari dinding. 'Nggak mungkin ada mayat yang di kubur pada dinding lagi kan?' Rian mengetuk tembok untuk menguji ketebalan dinding. Jika memang ada mayatnya, maka suara yang dihasilkan akan tidak akan keras.


Tok Tok Tok


"Sedang apa kamu?" tanya Dokter Denis yang dari tadi mengamati gerak gerik Rian.


"Ah ini, aku hanya ingin mengecek ketebalan dinding Dok. Ternyata lebih tipis dari dugaanku. Jadi nggak mungkin bisa menyembunyikan mayat di sini. Aku juga mencari asal bau tidak sedap ini."


"Bau tidak sedap ini sepertinya keluar dari tembok yang lembab. Bagaimanapun juga, gedung ini sudah berdiri 24 tahun yang lalu. Jadi wajar saja kalau bau tidak sedap." jelas Dokter Denis.


"Oh ya Dok … kalau boleh tahu, kenapa Dokter kemari? Dan juga, bisa minta tolong untuk melambaikan tangan juga ke arah kamera." 


Dokter Denis melambaikan tangannya ke arah kamera yang dipegang Guntur. "Hai semuanya …"


"Guys, ini adalah Dokter Denis, Ayah dari Alena." 


Setelah satu menit pengenalan, Dokter Denis kembali menjelaskan alasan ia kemari. "Alena menghubungiku tadi siang. Katanya ada temannya yang mengalami gangguan mental. Maka dari itu saya berada di sini sekarang." 


"Bagaimana menurut Dokter mengenai kondisi Winny?"


"Saya tidak menyangka kalau kondisinya akan separah ini. Ia kini takut untuk tidur setelah di dalam mimpi ia dicekik oleh orang misterius. Ia khawatir dirinya tidak akan pernah bisa bangun lagi jika ia tidur." ujar Dokter Denis sambil melihat Winny yang sedang terdiam berdiri di tengah ruangan. Winny masih saja mempertahankan postur anehnya, dimana kepalanya menunduk hingga 90 derajat. 

__ADS_1


"Melihatnya seperti itu, aku jadi selalu berpikir bahwa ada seseorang yang duduk di atas kepalanya …" ucap Rian. 


Drrrr Drrrr Drrrr


Suara getaran ponsel dalam kantung Dokter Denis mulai terdengar. "Mohon maaf, saya mau permisi untuk menjawab telepon ini …" Dokter Denis kemudian keluar dari kamar Winny.


"Sepertinya Ayah Alena sangat sibuk sekali. Pasti dia memaksakan datang kemari demi anak kesayangannya …" Livia merasa iri melihat Dokter Denis.


Melihat Livia seperti ini, Rian mengusap-usap kepalanya. "Sudah-sudah, jangan begitu. Sekarang kan kamu sudah punya aku. Aku nggak bakal ninggalin kamu kok …"


Livia pun tersenyum manis. "Terima kasih."


Setelah menenangkan Livia, Rian mencoba mengeksplorasi kamar Winny. Di dalam kamar berukuran 36 meter persegi itu, terdapat kamar tidur yang bergabung dengan dapur dan juga ruang tamu layaknya apartemen bertipe studio biasa. Kamar mandi yang Winny gunakan ada di dekat pintu kamar, menghadap sebuah lemari kayu dengan cermin yang menempel pada pintu lemari kayu.


“Bagaimana Rian, apakah kamu sudah menemukan petunjuk?” tanya Guntur yang masih terus merekam. Ida pun penasaran dengan hasil penyelidikan Rian. Ia tak mau melihat teman dekatnya hari demi hari semakin menderita.


“Aku masih belum menemukan petunjuk yang berarti. Aku juga perlu memeriksa kamar mandinya untuk mereka ulang adegan yang Winny mimpikan.” Rian kemudian masuk kamar mandi yang menjadi tempat kejadian dalam mimpi Winny. 


Dalam kamar mandi tersebut, terdapat bathtub yang berada di pojok kiri ruangan. Lalu  secara berurutan, terdapat wastafel yang berada di sebelah kanan bathtub, dilanjutkan toilet duduk, dan juga ruang shower yang berada di pojok kanan kamar mandi. Di dalam ruang shower, terdapat cermin kecil yang menempel di atas tempat menaruh sabun dan shampo.


Rian mencoba mereka ulang dengan memasuki ruang shower. Dari ruang shower, Rian mencoba memiringkan badannya 95 derajat untuk mengambil shampo. Dari posisi ini, Rian dapat melihat cermin yang ada di sampingnya. “Jadi begitu, inilah yang Winny lihat dalam mimpi! Orang misterius itu pasti berdiri di depan pintu, dan terus berjalan mendekat.”


“Tapi jika orang itu ingin menyakiti Winny, mengapa ia mendekati Winny dengan sangat perlahan? Apakah orang itu ingin menyiksa Winny secara mental?” Saat Rian mulai berpikir, setetes air jatuh mengenai bagian belakang leher Rian. Rian. 


'Dari mana tetesan air ini?' Rian melihat ke atas, namun tidak tampak ada kebocoran pada langit-langit. Air shower pun tidak Rian nyalakan sejak tadi, jadi kepala shower masih tampak kering. Saat Rian melihat ke atas, Rian tak sengaja menyenggol tempat sabun dan shampo yang berada di sampingnya.


Klotak Klotak


"Sorry sorry …" Rian pun segera membereskan satu botol sabun cair dan lima botol shampo yang terjatuh. 


Saat Rian mengambil botol shampo, Rian sedikit merasa aneh. Dari lima botol shampo tersebut, 4 diantaranya kosong, sedangkan yang kelima tersisa tinggal sedikit. 'Ini aneh … Winny baru saja pindah ke sini 3 minggu yang lalu, tidak mungkin dia bisa menghabiskan shampo sebanyak ini! Jika Winny bermimpi sedang berkeramas setiap hari, apakah itu juga berpengaruh dengan penggunaan shampo di dunia nyata?'

__ADS_1


__ADS_2