Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Sigit


__ADS_3

Tap Tap Tap


Seorang pria berambut cepak terlihat sedang berjalan menyusuri lorong penghubung ke sebuah gedung penjara sambil melihat sebuah foto. Ia adalah Sigit, bodyguard Evi, Ibu dari Effendi. Sesampainya ia di bangunan tersebut, petugas yang menjaga pintu bangunan langsung membukakan pintu.


Kreak


Sigit memberikan sebuah amplop putih pada petugas itu. Petugas itu dengan cepat menyimpan amplop putih itu dalam sakunya.


Preketek Preketek


“Ugh!” Sigit langsung menutup hidungnya dengan tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam. Ia kemudian memelototi petugas yang kentut tadi.


"Sel nomor 4." bisik petugas penjaga pintu sambil memberikan kunci sel tersebut. Ia tampak malu ketika memberikan kunci sel. ‘Sial! Makan apa aku tadi sampai bolak balik kentut. Mana baunya nggak enak pula! Malu aku!’


Sigit mengangguk dan masuk. Kemudian penjaga pintu itu langsung mengunci pintu dari luar.


Melihat kehadiran Sigit yang baru saja masuk, Rio berkata pada Rian. “Oho~ … aku melihat ada seseorang yang masuk, namun sepertinya ia bukan petugas kepolisian. Dan ia datang bukan dengan maksud yang baik.”. Rio dapat melihat di balik jasnya, ada 2 bilah pisau.


“Huh?” Rian kemudian mendekati jeruji besi untuk melihat ke arah pintu masuk. Di sana, Rian melihat seorang pria berambut cepak dan berjas hitam berjalan ke arah selnya. ‘Perasaanku nggak enak. Apakah dia datang untuk membunuhku? Keluarga Pak Effendi pasti tidak puas hanya dengan memenjarakanku. Jadi mereka mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisiku! Dia pasti pembunuh profesional, berbeda dengan Billy yang membunuh untuk kesenangan.  Kira - kira apakah aku bisa menghadapinya sendirian? Apalagi di sini ada variabel yang tak bisa kutebak sementara waktu. Haruskah aku menggunakan sistem?’


“Sistem.” bisik Rian. Ia kemudian membuka halaman Gacha. ‘Jujur, aku sangat tidak menyukai judi. Variabelnya terlalu banyak. Makanya aku tidak menggunakan Gacha lagi dan lebih memilih fitur Toko. Namun, kemampuan Khusus hanya bisa didapat melalui Gacha. Aku juga tidak punya banyak waktu.' 


Rian sebelumnya telah membeli Gelang Daun Kelor saat di rumah sakit. Sehingga ia kini hanya memiliki 404 poin.


Dengan mantap, Rian menekan tombol {10x Gacha} dengan harga 189 poin. Lambang Kadukeus muncul kembali pada layar sistem. Lambang tersebut terus berganti warna dan beberapa kali berhenti sesaat. Setelah selesai, mulai muncul notifikasi dari sistem.


Ding


[Maaf, Host belum beruntung]


Ding


[Maaf, Host belum beruntung]


Ding


[Maaf, Host belum beruntung]


Ding


[Selamat, Host telah mendapatkan Uang Tunai 150.000.000 Rupiah. Barang telah berada dalam Kantong]


Ding


[Selamat, Host telah mendapatkan Sepeda Motor Ducati Desmosedici D16RR NCR M16. Barang telah berada dalam Kantong]


Ding


[Maaf, Host belum beruntung]


Ding

__ADS_1


[Maaf, Host belum beruntung]


Ding


[Maaf, Host belum beruntung]


Ding


[Maaf, Host belum beruntung]


Ding


[Selamat, Host telah mendapatkan Kemampuan Khusus, Mata Rubah. Proses instalasi dimulai sekarang]


"Anjir, kenapa dapat mata lagi?" teriak Rian. Rian kemudian teringat momen saat ia mendapat kemampuan khusus. 'Sial! Kenapa baru ingat sekarang kalau penginstalan kemampuan khusus itu sangat menyakitkan!'


Penyesalan selalu datang terlambat. Sistem pun kembali melakukan pekerjaannya. Mata kedua ular yang ada pada simbol Kadukeus mulai mengeluarkan cahaya merah, kemudian kedua ular tersebut bergerak keluar dari layar sistem dan menggigit kedua mata Rian.


"ARGHHH!" Rian berteriak sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


Suara Rian mengagetkan penghuni penjara lainnya. Bahkan Sigit yang datang untuk membunuhnya pun ikut terkejut. Ia langsung bergegas lari menuju sel nomor 4.


"Rian!" Rio langsung menangkap Rian yang akan roboh. Dengan matanya, ia melihat energi negatif yang ada pada kepala Rian kini menyelimuti matanya. Dan dalam waktu singkat, hal itu mengubah susuan sel dan DNA Rian. 'Apa yang kau lakukan Rian … kenapa kau bermain-main dengan kekuatan seperti ini!'


Klik


Kreak


Mendengar suara pintu terbuka, Rio menatap ke depan. Di sana, telah berdiri seorang pria berjas hitam yang tak lain adalah Sigit.


“Kalau aku tidak menyingkir, apa yang yang akan kau lakukan?”


“Maka aku juga akan melenyapkanmu!”


Saat Sigit berancan -ancang untuk memukul, Rian membuka matanya. Tampak matanya sangat merah akibat darah yang masih mengalir dari matanya.


Ding


[Instalasi selesai]


Mendadak, sekeliling sel penjara berubah menjadi sebuah ruangan tertutup yang dipenuhi berbagai alat penyiksaan. Sigit dan Rio terkejut atas hal ini. Terlebih lagi, tubuh mereka berdua sekarang dalam keadaan terikat pada tiang salib kayu yang ditempel pada tembok hitam.


“Di mana ini? Bukankah aku tadi di penjara?” Sigit sedang berusaha mencerna apa yang terjadi pada dirinya.


“Ilusi? Tapi seharusnya dengan mataku, aku tidak mungkin terjebak dalam ilusi!”


“Jadi ini kekuatan baruku?” Rian berdiri terdiam sambil melihat keterangan dalam layar sistem.


______________________________________________________________________


Halaman Kemampuan Khusus

__ADS_1


- Mata Batin (**)


- Persepsi Super (***)


- #system_error (unknown)


- Nama : Mata Rubah


  *Jenis : Aktif


  *Bintang : ***


  *Deskripsi :


   Kemampuan untuk menangkap target dalam ilusi. Siluman rubah sering menggunakan ini untuk menangkap mangsanya. Untuk dapat bekerja dengan baik, target harus melihat mata pengguna kemampuan khusus agar terperangkap dalam ilusi. Ilusi hanya bekerja pada makhluk yang bukan ras Spirit.


  *Catatan :


Ilusi dapat dibuat sesuai keinginan pengguna. Namun jika ilusi diaktifkan tanpa persiapan, maka secara otomatis ilusi yang ditampilkan adalah keinginan terdalam pengguna. Satu hari di dunia ilusi sama dengan 1 detik di dunia nyata. Setiap kali menggunakan kemampuan ini, umur pengguna akan berkurang sebanyak 5 jam.


______________________________________________________________________


“Jadi inikah keinginan terdalamku? Ruang penyiksaan? Aku nggak ngerasa sebagai orang sadis deh, hmm …” Rian kemudian melihat hal yang aneh pada halaman kemampuan khusus. 'System error? Apakah kemampuan khusus ini yang membuatku kuat saat sedang marah? Tapi kenapa sistem tidak mengenalinya?'


“Hei Rian … apakah ini kemampuan khususmu?”


Tersadar dari lamunannya, Rian terkejut mendengar suara Rio. “Rio? Kenapa kamu di sini?”


“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu!”


“Sepertinya aku belum mampu mengendalikan kekuatanku sepenuhnya, hehehehe …” Saat ia meminta maaf pada Rio, Sigit terus menatap tajam wajah Rian. “Maaf ya Rio, tapi aku harus menyelesaikan urusanku dulu. Mungkin kamu bisa keluar dari sini setelah urusanku selesai.”


Cetik


Hanya dengan jentikan jari, Rio terlepas dari tali yang mengikatnya pada tiang salib. Rian kemudian mengambil pencatut yang di meja dan berjalan mendekati Sigit.


“Apakah kamu dikirim oleh keluarga Pak Effendi untuk membunuhku?”


Sigit hanya bungkam terhadap pertanyaan Rian. Dengan santai, Rian mendekap mulut Sigit dengan tangan kirinya. Rian kemudian mengarahkan alat pencatut yang ia bawa ke mata kirinya.


Tek


“UMMMM!!!” Sigit sangat ingin berteriak kesakitan, namun tangan kiri Rian terus mendekap mulutnya. Darah mulai mengalir dari mata kirinya yang kini sudah tiada. Bola mata Sigit kini menempel pada alat pencatut dan tampak rusak.


"Bagaimana, sudah mau bicara?" ucap Rian sambil melepas dekapannya. Namun Sigit masih saja bungkam.


"Sepertinya, pembunuh profesional benar-benar berbeda dengan pembunuh berantai …" Meski kesal, namun Rian merasa senang dengan perkembangan ini. Ia merasa bebas dan ingin terus menyiksanya. Tidak ada aturan dalam dunia ilusi ini. Ia juga dapat melakukan apapun di sini.


Dengan senyum lebarnya, Rian kini mengambil pisau bedah yang ada di meja. Perlahan, Rian membuka kancing jas dan kemeja Sigit. "Aku penasaran … dokter selalu menggunakan anastesi untuk membius pasiennya ketika operasi dilakukan. Kalau aku membedah tanpa menggunakan anastesi, apakah itu akan menyakitkan?"


Deg

__ADS_1


Bulu kuduk Sigit berdiri ketika melihat senyum lebar Rian. "Nah, mari kita mulai eksperimennya, hehehehe…"



__ADS_2