
Lagi-lagi, Video TeckTock milik Rian menjadi Viral. Scene di mana kondisi Winny yang bak orang kesurupan, kemunculan makhluk menyeramkan dalam cermin, dan juga hujan pisau yang menyerang tim, menjadi bahasan utama para warganet. Tentu saja, adegan dalam kamar mandi telah Alicia bantu sensor sehingga bebas dari pemblokiran. Murid dan Guru SMA Avernus banyak yang juga mengikuti Live Broadcast Rian. Alhasil, mereka semua mengantuk saat di sekolah.
“Hoaam … Rian, gara-gara kamu Live Broadcast di hari biasa, aku jadi ngantuk berat nih!” protes salah satu teman sekelas Rian.
“Iya nih ... tolong kalau Live Broadcast malam minggu kayak biasanya dong …”
Di saat yang sama, mulai berdatangan murid-murid lainnya yang berjalan sempoyongan seperti zombie masuk ke kelas. Mereka semua miliki kantung mata yang cukup tebal. “Rian, plizz … tolong jangan Live Broadcast di hari biasa!” Ruang kelas pun ramai dengan protes para zombie itu.
Rian yang mendengar semua ini hanya bisa tertawa dan meminta maaf. “Maaf ya teman-teman. Tapi kondisi Winny kemarin sangat berbahaya. Aku khawatir jika aku menundanya, hari ini aku nggak akan bisa melihatnya lagi. Sebagai teman sekelasnya, aku wajib membantunya. Maka dari itu, aku akhirnya melakukan Live Broadcast dadakan tadi malam. Saya, mewakili tim, mengucapkan terima kasih banyak pada kalian semua yang telah menonton Channel Tim Pemburu Hantu Official!”
Teman-teman sekelas Rian pun luluh dengan kesungguhan dan ketulusan Rian. Terlebih lagi, kondisi Winny juga sudah sangat parah. Awalnya, murid-murid kelas X-6 banyak yang menganggap Winny adalah pemurung karena ia selalu diam dan menyendiri. Hingga pada akhirnya, beberapa hari terakhir ini, ia selalu menundukkan kepalanya setiap saat. Dari semua murid kelas X-6, hanya Ida saja yang mau berteman dengan Winny dan menerima kondisinya yang seperti itu. Namun sekarang, banyak murid yang bersimpati dengan Winny setelah melihat Live Broadcast Rian. Mereka sadar bahwa Winny seperti itu karena ada gangguan gaib.
Setelah protes mereda, Alena yang sejak tadi duduk di bangkunya berdiri dan menghampiri Rian. “Rian, aku sudah dengar semuanya dari Ayah, apa kamu nggak apa-apa?”
"Iya, aku nggak apa-apa kok Alena. Hanya ada sedikit masalah saja. Tapi nanti aku akan pergi dengan Pak Arta untuk menyelesaikan masalah ini."
Alena kemudian menggenggam tangan Rian. Tentu semua ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi. "Apa ini terkait dengan kondisimu tadi malam? Kalau kamu ada masalah, kamu bisa curahkan semua masalahmu padaku. Aku adalah pacarmu, jadi aku juga ingin bisa meringankan bebanmu."
Rian terenyuh mendengar ucapan Alena. Rian akhirnya menceritakan kejadian tadi pagi, mulai dari ketika ia bangun di padang ilalang sampai rasa makanan yang tidak enak. Alena mendengarkan semua itu dengan serius. "Maka dari itu, nanti malam aku akan menemui keluarga Greywolf di Singapura."
"Apa kamu sudah cerita hal ini ke Livia?"
"Belum, hanya kepada mu saja aku bercerita."
Alena tersenyum manis mendengar jawaban Rian. Ia sangat senang menjadi yang pertama mendengar masalah Rian. Tentu saja Pak Arta tidak termasuk dalam hitungan Alena.
Beberapa saat kemudian, Livia, Guntur, dan Adi masuk ke kelas secara bersamaan. Melihat mereka datang, Alena segera melepaskan genggaman tangannya. Ia pun menyambut kedatangan mereka dengan penuh senyuman. "Pagi Livia, Guntur, Adi …"
Waktu berjalan dengan cepat. Rian dan teman-temannya menjalani kehidupan sekolahnya dengan tenang. Sampai pada akhirnya, bel tanda sekolah usai berbunyi.
Tiiiiiiiiiing
__ADS_1
Rian segera berpamitan dengan teman-temannya. Tentu saja ia tidak memberitahu Livia dan lainnya kalau ia akan pergi ke Singapura. Setelah ia menemui Pak Arta di mejanya, mereka berdua pergi ke bandara bersama.
......................
"Silahkan duduk, tuan …" seorang pelayan mempersilahkan Rian dan Pak Arta duduk di kursi. Kini, mereka duduk di depan meja makan sepanjang 5 meter. Ruangan mereka sekarang berada, terlihat bergaya klasik eropa abad ke-15.
Di ujung meja makan, duduk seorang pria paruh baya dengan janggut tebal. Pria berambut keabu-abuan gelap itu menatap Pak Arta dengan penuh senyuman. "Lama tak jumpa, Arta … sekarang kamu sudah tumbuh besar …"
"Lama tak jumpa kakek … bagaimana kabar kakek sekarang?" Selama beberapa menit, Pak Arta dan pria berambut abu-abu itu berbincang. Mereka berdua terlihat akrab sekali. Dari situ, Rian mulai menyadari bahwa orang berambut abu-abu itu adalah teman dari Kakek Pak Arta.
Setelah selesai berbincang, orang tersebut menatap Rian dengan tajam. "Arta, jadi anak ini yang menjadi penerima jantung milik cucuku?"
"Itu benar Kakek. Seperti yang telah saya ceritakan dalam telepon tadi, saat Blorong membunuh Rian dan Jeanny, Nyai Roro Kidul tiba-tiba menyelamatkan Rian dan memberinya jantung milik Jeanny." jelas Pak Arta dengan serius.
"Sebelumnya, maafkan kami telah melibatkanmu dalam masalah ini. Kalau saja kamu tidak berhenti dan menolong Jeanny, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi."
"Ah, nggak apa-apa kok kakek … mmm–"
Rian terkejut dengan ucapan terakhir Jason. "Maafkan saya atas ketidaksopanan saya, Yang Mulia …." Rian berdiri dari kursinya dan membungkukkan badannya 90 derajat.
"Hahahaha … tidak perlu formal seperti itu. Kalau ini pertemuan formal, kamu pasti harus datang ke kastilku yang berada di Jerman dan bukan di sini. Namun, kamu adalah orang yang pernah menolong cucuku dan juga menerima jantungnya. Jadi santai saja dan duduklah …"
Rian pun kembali duduk. Di saat yang sama, para pelayan masuk membawa kereta dorong berisi makanan. Salah seorang pelayan memberikan Rian dua buah piring yang tertutup tudung. Sedangkan Pak Arta dan Jason hanya menerima satu piring saja. Saat tudung piring Rian diangkat, aroma lezat tercium dari piring yang ada di sebelah kirinya. Sedangkan piring yang ada di sebelah kanan tidak menggugah nafsu makannya sama sekali.
"Rian, menurut mu, piring mana yang membuatmu bernafsu untuk segera memakannya?"
Rian bingung dengan maksud pertanyaan Jason. Ia kemudian menjawab jujur dengan menunjuk piring yang ada di sebelah kiri. "Piring ini, Yang Mulia …"
"Jadi begitu …" Jason pun terdiam sesaat. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. "Sepertinya, kamu pernah memakan daging manusia."
"Jadi dugaanku ternyata benar." Rian tidak terkejut dengan ucapan Jason. Ia sudah menyadari keanehan dalam dirinya setelah ia bangun pagi ini.
__ADS_1
"Ini akan lebih mudah jika kamu memahaminya. Oh ya, silahkan di makan dulu hidangannya. Aku bisa menjelaskan padamu sambil makan." ucap Jason sambil memasangkan serbet di kerahnya.
"Jadi, kami para Werewolf, terdiri atas dua golongan. Golongan yang tidak memakan manusia, dan golongan yang memakan manusia. Werewolf yang tidak memakan manusia dan hanya memakan daging hewan saja, maka indera perasa mereka akan sama seperti layaknya manusia biasa lainnya."
"Hal yang berbeda terjadi pada Werewolf yang pernah memakan manusia. Werewolf yang pernah memakan daging manusia, akan mengalami perubahan indera perasanya. Makanan biasa akan terasa tidak enak. Bahkan minuman seperti softdrink dan sirup terasa seperti oli."
"Bagi Werewolf pemakan manusia, makanan yang enak hanyalah daging manusia. Minuman yang menyegarkan adalah darah manusia. Maka dari itu, golongan Werewolf pemakan manusia sekarang sangat lah sedikit. Kalaupun ada yang memakan manusia, mereka hanya memakan mayat. Atau bisa juga memakan makanan manusia, namun di campur dengan darah manusia."
"Aku paham sekarang, terima kasih Yang Mulia." jawab Rian sambil makan makanan yang ada di sebelah kiri. Dari perbincangan ini, Rian mulai bisa menerima dirinya yang baru.
"Tidak masalah. Ini semua hal kecil. Namun, aku sungguh penasaran mengenai dirimu. Tentang setengah Werewolf buatan pertama di dunia!"
......................
Di sebuah gudang yang terlihat terbengkalai, terdapat markas rahasia Departemen Penanggulangan Bencana Supranatural.
“Letnan I Fyren, apakah orang ini yang pernah bertemu dengan putri keluarga Greywolf?” Seorang pria paruh baya dengan lambang 3 garis tegak di punggungnya sedang menunjuk gambar Rian pada Video TeckTock-nya.
Letnan I Fyren kemudian melirik ke arah Mira yang ada di sebelahnya. Dengan ekspresi datar, Mira mengangguk. Setelah mendapat konfirmasi dari Mira, barulah Letnan I Fyren menjawab. “Itu benar Kapten!”
"Haa~ kau masih saja seperti ini, Fyren. Jika saja kamu lebih rajin dan tidak malas-malasan, pangkatmu bakal lebih tinggi dariku! Apa kamu masih belum bisa melupakan kejadian itu?"
Ekspresi wajah Letnan I Fyren berubah sesaat ketika mendengar ucapan Kapten Leo. Namun Letnan I Fyren memilih diam tidak menjawab. Melihat hal ini, Kapten Leo hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku akan memberimu tugas. Awasi Rian Morfran! Aku memiliki firasat, jika Rian melakukan kegiatan seperti ini terus, lambat laun ia akan berhadapan dengan Nightmare. Kerjakan misi ini dengan hati-hati. Jangan membuat kekacauan lagi!" Kapten Leo benar-benar menekankan agar Letnan I Fyren dan timnya tidak membuat kekacauan.
"Tim kalian adalah tim dengan performa terburuk di antara tim lainnya. Rate keberhasilan kalian bahkan tidak sampai 10%! Maka dari itu, aku ingin memberi kalian kesempatan untuk memperbaiki performa tim kalian. Apa kalian sanggup?”
“Bisakah aku menolaknya?" tanya Letnan I Fyren.
Mendengar ini, Mira hanya bisa menepuk dahinya. Memiliki atasan seperti Letnan I Fyren benar-benar membuatnya jengkel. Bahkan Kapten Leo sangat ingin membalik mejanya karena emosi.
__ADS_1