
“RIAN!" Livia langsung menghampiri tubuh Rian yang bersimbah darah. Tampak ada 10 pisau yang masih tertempel menusuk punggung Rian.
"Rika, bisakah kamu menolong Rian?" Rika yang baru saja menyelesaikan transformasinya menjadi roh jahat tingkat menengah hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Livia! Ada apa dengan Rian?" Guntur yang masih terus merekam datang menghampiri Livia. Begitu ia melihat Rika, langkahnya pun terhenti. "Livia, menjauhlah perlahan …" ucap Guntur sambil memasang ancang-ancang untuk berkelahi. Di saat yang sama, Adi, Alicia, dan Dokter Denis menyusul Guntur. Mereka juga sama terkejutnya seperti Guntur ketika melihat Rika di sisi Livia.
"Tunggu! Dia adalah Rika, korban Pak Effendi!"
"Apa!? Lalu kenapa Rika bisa di sini? Jarak sekolah dan apartemen ini sangat lah jauh!"
"Aku juga nggak tahu, tapi tadi Rika telah menolongku … dan aku, sangat berterima kasih atas hal itu." Mendengar ucapan Livia, Guntur dan lainnya menurunkan kewaspadaannya.
"Yang lebih penting sekarang kita harus membawa Rian ke rumah sakit sekarang!" ucap Livia dengan panik.
Mereka kemudian melihat ke arah Rian yang punggungnya penuh dengan pisau. Adi langsung muntah melihat kondisi mengerikan ini. "Hueekk …."
Dokter Denis mendekati tubuh Rian dan memeriksanya. "Nafasnya tidak teratur, wajahnya pucat. Ini tanda ia kehabisan banyak darah!" Dokter Denis mengeluarkan ponselnya untuk memanggil ambulance.
Di saat yang sama, mendadak tubuh Rian mengejang. Tampak kepulan asap putih muncul dari luka-luka yang dialaminya. Pisau-pisau yang menancap di punggungnya perlahan lepas.
"Apa yang terjadi? Apakah ini efek kemampuan khusus Rian? Bahkan dengan luka seperti ini?" Dokter Denis melihat Rian dengan penuh rasa penasaran.
Tubuh Rian perlahan mengalami transformasi. Daun telinga Rian meruncing. Rambut Rian memanjang. Kuku-kukunya juga menajam. Dengan tubuh sempoyongannya, Rian memaksa tubuhnya untuk berdiri.
"Rian? Syukurlah kamu sudah sadar …"
"Tunggu!" Dokter Denis menghentikan Livia yang akan memeluk Rian.
Livia sedikit jengkel dengan ulah Dokter Denis. "Kenapa Dokter menghentikanku?"
"Perhatikan matanya."
Livia dan lainnya melihat ke arah mata Rian. Mata Rian sekarang berwarna merah. Pupil mata Rian juga berubah menjadi vertical layaknya binatang buas. "Auuuuuuuu~"
"Grrrr" tampak gigi Rian berubah menjadi taring semua. Rian melihat Dokter Denis dan lainnya seakan melihat makan malamnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Aku seperti mendengar suara lolongan. Apa kalian sudah menghentikan pemuda gila itu tadi? Aku sudah memanggil polisi, mungkin 15 menit lagi akan tiba." Dari kamar 301, keluar pria paruh baya. Begitu ia melihat kondisi Rian yang seperti monster, pria paruh baya itu langsung membanting pintunya.
"Roaar" Dengan cepat, Rian menyerang Dokter Denis yang ada di dekatnya.
"Beraninya kamu menyerangku, masih 10 tahun lebih awal untuk bisa melawanku!" Dokter Denis langsung menggunakan kuda-kuda dan memukul dagu Rian. Rian pun terpental ke atas.
Brakk
Rian yang jatuh ke lantai kembali bangkit. Dislokasi tulang kepala akibat pukulan Dokter Denis langsung kembali normal.
"Cepat semuanya pergi, saya akan mengulur waktu untuk kalian …" perintah Dokter Denis. Ia kembali memasang kuda-kuda dan bersiap memukul Rian.
"Rian …" Livia tampak begitu khawatir dengan kondisi Rian saat ini.
"Roar" Rian kembali menyerang. Saat Rian berada dalam jarak serang Dokter Denis, Rian mengubah jalurnya ke arah kanan dan berlari menggunakan dinding melewati Dokter Denis menuju Livia.
Dokter Denis dan lainnya berteriak. "Livia!"
Saat cakar Rian hanya beberapa senti saja, dengan sigap Rika menembakkan 32 pisau milik pemuda gila itu pada Rian. Ia pun dengan insting binatangnya dan persepsi super yang dimilikinya, bergerak ke kanan dan ke kiri hingga berakrobat untuk menghindari puluhan pisau yang mengarah padanya. Namun, tidak semudah itu bisa lolos dari pisau sebanyak itu.
Jleb Jleb Jleb
Dengan kekuatan telekinesisnya, Rika melempar Rian ke kamar 302. Rian pun terhempas keluar jendela kaca beranda kamar 302.
Pyar
"Rian!" Livia berlari menuju beranda kamar 302. Ia berusaha mencari Rian di bawah, namun karena gelapnya malam, ia tidak dapat menemukan jejaknya.
Beberapa saat kemudian, Guntur dan Adi turun untuk mencari Rian. Saat mereka berada di lokasi tempatnya jatuh, di sana hanya ada bercak darah dan pecahan kaca.
......................
"Serahkan dompet dan tas milikmu!" Di sebuah lahan kosong yang ditumbuhi banyak ilalang, seorang pria dengan pisau lipat di tangannya sedang merampok sepasang muda-mudi yang sedang melakukan hal tidak senonoh.
"A-ampun pak … hiks hiks” pinta seorang pemuda berambut mohawk sambil menangis. Ia memberikan dompet dan kunci motornya pada sang perampok.
__ADS_1
“Cih, sedikit sekali uangmu! Tapi …” Perampok tersebut melirik ke arah wanita muda yang masih belum berpakaian lengkap. “Pacarmu seksi sekali, hehehe …” Perampok itu sampai meneteskan air liurnya melihat kemolekan tubuh pacar dari pemuda berambut mohawk.
“Akan ku berikan Nike padamu, tapi tolong biarkan aku pergi?” Pemuda mohawk itu memohon di kaki sang perampok sampai ingusnya menempel pada kaki perampok.
“Bagus, apa maksudmu? Bukankah kamu selalu berkata akan selalu di sisiku dan melindungiku!” teriak Nike.
Plaak
“Diam kamu, wanita ja_lang!” tampar Bagus ke pipi Nike. “Silahkan dinikmati pak …”
Jleeb
“Ugh … ke-kenapa?” Sebuah pisau lipat menancap tepat di jantung Bagus.
“Aku benci orang yang mengkhianati orang terkasihnya!” ucap perampok itu sambil mencabut pisaunya. Bagus pun seketika roboh tergeletak di samping Nike.
“Kyaaa~” Wanita muda berdada 36B tersebut berteriak ketakutan melihat pacarnya tewas.
“Auuuuuuu~” Suara serigala tiba-tiba terdengar di dekat lokasi perampok tersebut. Suara itu menambah kesan menyeramkan di tengah kegelapan malam.
‘Lolongan serigala? Tapi tidak mungkin ada serigala di dalam kota. Mungkin saja itu hanya suara anjing liar!’ pikir perampok itu.
“Masa bodoh dengan suara itu! Yang penting, aku akan menikmati tubuhmu dulu malam ini, hehehehehe …” Perampok tersebut melihat Nike dengan pandangan mesum.
Kresek Kresek
“Siapa di sana!?” Perampok tersebut menjadi waspada setelah mendengar suara semak .
“Grrrr” Rian yang masih dalam wujud setengah serigala langsung menerjang dan menggigit leher perampok itu.
“Arghh!” Perampok itu mengerang kesakitan. Rian dengan kekuatan supernya, menyeret perampok yang masih ia gigit lehernya itu menuju tempat yang lebih tersembunyi di balik hutan ilalang.
Melihat semua itu, Nike hanya bisa terduduk gemetaran dan menangis. Nike kemudian memberanikan diri untuk kabur dari tempat itu menggunakan motor milik Bagus yang telah tewas. Kebetulan saja, ketika Rian menggigit leher sang perampok, kunci motor milik Bagus terjatuh dari genggamannya.
Di tempat yang sangat tersembunyi, Rian dengan lahapnya menyantap perampok itu. Gigitan demi gigitan daging dari leher perampok tersebut ia telan. Setelah daging pada area lehernya habis, Ia melempar kepala perampok itu dan mulai menyantap area lainnya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Rian mulai mendengar suara Adzan berkumandang. Rian yang tertidur di hamparan ilalang pun perlahan mulai sadar. “Ughhh … kepalaku pusing sekali … jam berapa ini?” Rian kemudian melihat jam pada ponselnya yang menunjukkan pukul 04.07. Selain itu, terdapat banyak notif panggilan tak terjawab dari Livia dan teman-temannya.
“Huh? Darah siapa ini? Kenapa tanganku penuh darah!?“