Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Kontrak Roh Jahat Pertama


__ADS_3

Rian cukup terkejut mendengar rentetan notifikasi dari sistem. "Ini!"


"Sistem-chan, apa maksudnya aku bisa membuat kontrak dengan Winny?" bisik Rian.


[Selamat, Host telah menemukan calon makhluk untuk dikontrak. Sistem-chan sudah menduga ketampanan Host telah membuat banyak wanita terpesona, bahkan anak sekecil ini juga terkena efeknya, hehehehe]


Wajah Rian memerah mendengar pujian sistem-chan. 'Tunggu, ucapan terakhir Sistem-chan membuatku tampak seperti kriminal!'


[Oke, mari kita serius. Host bisa melakukan kontrak karena efek dari kemampuan khusus yang Host miliki, Spiritualism. Jika Host memiliki tingkat kedekatan 90% ke atas, maka Host bisa mengontrak bangsa Spirit tersebut, Kyun ✨]


"Kalau aku melakukan kontrak dengan Winny, apakah itu artinya Winny harus mengikutiku terus? Aku berpikir untuk mencoba melakukan kontrak dengan Winny. Namun aku khawatir, jika aku membuat kontrak dengan Winny, maka Winny harus ikut denganku dan meninggalkan pintu merah."


"Aku bisa saja menghancurkan pintu merah ini, tapi aku masih butuh 9 hari lagi untuk bisa menggunakan Sang Pemimpi. Tanpa Sang Pemimpi, aku nggak bisa membuat teknik yang kuat. Tadi saja aku menggunakan [Blood Shuriken], efeknya masih kurang memuaskan."


[Tenang saja Host. Makhluk yang Host Kontrak tetap memiliki kebebasan. Mereka tidak perlu untuk selalu menemani pemegang kontrak. Tapi, pemegang kontrak dapat memanggil makhluk yang telah dikontrak secara instan. Dan makhluk tersebut akan kembali ke tempat asalnya setelah urusan pemegang kontrak selesai. Jadi Host tidak perlu khawatir, Kyun✨]


"Kalau begitu, aku nggak perlu khawatir lagi." gumam Rian. Kemudian ia menatap gadis kecil imut dengan seragam pasien merah di depannya.


"Hmm, kenapa kak Rian?" tanya Winny sambil memiringkan kepalanya dan meletakkan jarinya di ujung bibirnya.


'Imut sekali!' teriak Rian dalam hati.


Rian kemudian berlutut dengan satu kaki di depan Winny. "Winny, maukah kamu membuat kontrak dengan ku?"


Winny terkejut dengan aksi Ryan. "Kontrak? Kakak mau melakukan kontrak denganku?"


"Iya, bagaimana?" senyum Rian.


"Enn!" Winny menganggukkan kepalanya. Ia pun tersenyum lebar. "Aku bersedia menjalin kontrak dengan kakak!"


Ding


[Menginisiasi proses pengikatan kontrak]


[1%]


[2%]


[3%]



Seketika itu juga, muncul cahaya merah darah dari tubuh Winny. Cahaya tersebut dengan perlahan merasuk ke dalam tubuh Rian.



[97%]


[98%]


[100%]

__ADS_1


Ding


[Kontrak telah terjalin]


[Selamat, Host telah menjalin kontrak dengan Roh Jahat Tingkat Bawah : Gadis Kecil Psikopat, Winny]


"Eh?" Rian terkejut dengan nama sebutan untuk Winny. Ia kemudian melihat Winny yang kini tersenyum menyeringai dengan matanya yang melotot. "Anjir!"


......................


...~Beberapa Jam Sebelum Rian Menjalin Kontrak~...


"Haiss … kenapa tiba-tiba nggak ada sambungan internet? Perasaan kuotaku masih full deh. Arghhh, aku nggak bisa menonton Ryan!" protes Livia. Ia kemudian merebut ponsel milik Adi. "Sini, mana ponselmu! Aku pinjam!"


"Anjir, ini namanya bukan pinjam!" Adi memprotes Livia, namun Livia tidak menggubrisnya. 


Beberapa detik kemudian, Livia mengembalikan ponsel Adi. "Nih aku balikin! Kamu sendiri juga kehabisan kuota internet ternyata." 


"Nggak lah, aku baru ngisi sore ini 50GB kok." Saat Adi melihat ponsel ya, ia pun terkejut. "Loh!? Kok nggak bisa?"


Alicia kemudian angkat bicara. "Sepertinya bukan karena internetnya, tapi karena sinyalnya tidak ada."


"Iya nih, punya juga nggak ada sinyalnya." Sambung Alena.


"Hmm, ini aneh. Seperti ada yang sengaja mengacak sinyal di sini." pikir Guntur.


"Kenapa kamu berpikiran begitu?" tanya Tika.


"Dulu saat Ayahku pernah menjalani misi penangkapan anak buah gembong narkoba, Ayahku berkata bahwa ia menggunakan pengacak sinyal dalam operasi penangkapannya. Hal ini dilakukan agar berita penangkapannya tidak beredar sampai ke telinga target utama." jelas Guntur.


Mendengar suara yang familiar, guntur langsung menoleh dan menatap keenam orang tersebut. "Mas Yuda?"


Yuda menghampiri Guntur dan menepuk bahunya. "Lama tak jumpa, Guntur. Bagaimana kabar Om sekarang?"


"Alhamdulillah, baik mas." Guntur kemudian melihat pakaian Yuda. "Apakah hilangnya sinyal ini karena Mas Yuda akan melaksanakan misi?"


Yuda menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Guntur. "Tenang saja, salah satu misi kami adalah menyelamatkan temanmu, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi."


"Apa itu benar? Apa kalian akan menyelamatkan Rian?" Livia, Alena, Tika, dan Alicia melihat Yuda dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Serahkan pada kami! Dan juga, setelah ini kalian akan menandatangani dokumen khusus yang akan diberikan oleh Letnan kaki." Tanpa memberi penjelasan lagi, Yuda memberi aba-aba untuk segera masuk. "Ayo!"


Sebelum masuk ke dalam gedung, Yuda membagi tugas untuk tiap tim. "Aku akan membagi tugas untuk kalian. Jadi dengarkan baik-baik. Tim 1 akan menyusuri gedung rumah sakit biasa yang ada di depan untuk mencari jejak Nightmare. Tim 2 akan mencari dan menyelamatkan Rian. Sementara tim 3, kalian harus secepatnya membebaskan ketiga orang yang disekap di ruang laundry dan bawa mereka keluar dari area rumah sakit!"


"Apa kalian jelas?"


"Jelas!" Jawab kelima orang itu berbarengan dengan keras.


"Sekarang, waktu telah menunjukkan pukul 00.20. Operasi menangkap Nightmare dimulai!" Begitu Yuda mengucapkannya, mereka berenam langsung berpencar menjadi 3 tim.


......................

__ADS_1


13 menit setelah mereka berenam berpencar, kini Anwar dan Roni telah berada di depan ruang laundry. Tangan Roni bergerak memberi aba-aba Anwar untuk menyerbu masuk dalam hitungan ketiga.


Satu


Tangan Roni memberi tanda angka 1 pada Anwar.


Dua


Tiga


Brak


Mereka berdua langsung menyerbu masuk dan menodongkan senapan serbu mereka ke segala arah. Mereka kemudian berjalan mengelilingi ruang laundry untuk melihat apakah ada pelaku lainnya yang bersembunyi selain pria bertangan satu yang sedang pingsan dalam kondisi terikat.


"Di sini aman!" teriak Roni.


"Di sini juga aman!" balas Anwar.


Melihat tidak ada siapa-siapa, Roni kemudian memberi perintah pada Anwar. "Oke, mari kita bebaskan para korban!" 


Saat Roni ingin membuka kadang besi yang berisi seorang wanita gundul, ternyata kandang tersebut masih dalam keadaan digembok. Dengan senapan ditangannya, Roni langsung memukul gembok tersebut.


Dang


Gembok tersebut pun akhirnya rusak. Roni kemudian langsung membukanya dan mengajak wanita itu keluar. "Kami datang untuk menyelamatkanmu …"


Namun bukannya lega, wanita itu malah tidak mau keluar dan terlihat sangat ketakutan. "Em!"


"Mbak, tenang mbak … mbak sudah aman kok. Kami di sini datang untuk menyelamatkan mbak, jadi jangan takut …" ucap Roni dengan halus sambil melepas gumpalan kain yang menyumpal mulutnya.


"TANGAN! TANGAN!"


"Tangan? Apa maksud mbak?"


Jleb


Dari belakang Roni, sebuah tentakel hitam menusuknya hingga tembus ke depan. Begitu tentakel tersebut mencabut dirinya dari tubuh Roni, darah pun langsung muncrat bak air mancur mengenai wajah wanita botak itu. 


"ARGHH!" wanita itu pun sangat histeris dengan semua ini.


Pria dengan satu tangan yang tadinya dalam keadaan terikat, kini berdiri bebas. Dari belakang pinggangnya, muncul 3 tentakel hitam yang menggeliat-geliat. Mata pria itu kini berwarna hitam pekat. Dari tubuh Roni, muncul asap yang kemudian tersedot ke dalam mulut pria dengan satu tangan tersebut.


"Ada apa ini!?" Anwar yang sedang membuka kandang tempat Bintang dikurung langsung menoleh ke arah Roni yang kini telah tergeletak. Tampak sebuah lubang besar di dada Anwar.


"Roni!" Anwar kemudian langsung menodongkan senapannya pada pria bertangan satu. "Brengsek! Mati kau monster!"


Jleb


Belum sempat menekan pelatuknya, sebuah tentakel hitam menusuk leher Anwar. Kepala Anwar pun menggelinding sampai akhirnya berhenti setelah mengenai kaki pria dengan satu tangan itu. Tanpa ada keraguan, pria itu langsung menginjak kepala anwar hingga pecah bagaikan semangka.


Jiwa Anwar yang menyerupai asap kemudian masuk ke dalam mulut Bintang yang kini memiliki dua tentakel di pinggangnya. Setelah makan, Bintang mulai merangkak keluar dari kandangnya. "Sepertinya pasukan khusus dari Departemen Penanggulangan Bencana Supranatural telah mengetahui tempat ini."

__ADS_1


"Ayo kita bunuh mereka semua. Tuan Nightmare pasti akan senang mendapatkan banyak mayat." ucap Pria dengan satu tangan itu sambil tersenyum menyeringai.



__ADS_2