Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Pengakuan Langsung Direktur


__ADS_3

Belum sempat membuka pintu kamar nomor 3, dari samping Rian, mendadak muncul Vincent. Namun kali ini, ada yang berbeda dengan Vincent. Mata Vincent sekarang berwarna hitam. Dari punggungnya, muncul 4 tentakel hitam.


“Mohon maaf atas penampilanku yang hina tadi. Karena aku mengambil alih tubuh ini dengan paksa tanpa menggunakan kontrak, maka kekuatanku sedikit melemah. Tapi karena tengah malam telah tiba, kini saatnya aku membalasmu!” ucap Vincent dengan suara yang berat.


Swoosh Swoosh


Bagai busur panah, dua tentakel elastis Vincent itu memanjang dan menerjang Ryan dengan cepat. Ryan kemudian melompat ke atas untuk menghindari terjangan tombak tentakel.


BOOM


Lantai tempat Rian berpijak tadi hancur seketika. Lubang pun mulai terlihat setelah asap debu yang beterbangan mulai menghilang.


Rian yang berhasil mendarat di belakang lubang pada lantai langsung mengambil kucing yang dari tadi ada di kantong saku kemejanya. “Mari kita tes hipotesis pertamaku!”


Rian kemudian berlari menuju Vincent. Bagaikan film matrix, Rian berlari pada dinding dan berkali-kali melakukan gerakan akrobatik slow motion untuk menghindari serangan beruntun dari tentakel Vincent. Di saat jarak Rian dengan Vincent kurang dari 3 meter, Rian langsung melempar Noir tepat ke wajahnya.


“Noir, ku serahkan padamu!”


Kedua kaki depan Noir mengeluarkan kuku-kuku tajamnya. Seakan berubah menjadi pisau yang tajam, sebuah kilatan putih membentuk simbol X membelah kegelapan malam.


Slash


Darah pun muncrat dari wajah pria dengan wajah tidak rata tersebut. “Argh!”


“Brengsek kau!” Ketika Vincent menggenggam Noir, barulah ia sadar bahwa yang ia genggam adalah kucing. “Kyaaa~” Mendadak makhluk kurus dengan 3 wajah yang dijahit menjadi satu muncul dari punggung Vincent.


“Anjir! Wajah boleh serem, tapi teriakanmu nggak banget!”


Setan tersebut mencoba untuk lari. Namun tak disangka, Noir membuka mulutnya dan menyedotnya.


"Tidak! Jangan makan aku! Tidaaak~" Suara teriakan setan itu pun semakin mengecil seiring terhisapnya tubuh setan itu.

__ADS_1


Glup


"Meong …" Setelah Noir menghisap habis setan tersebut, Noir pun kembali ke dalam saku kemejanya seakan tidak terjadi apa-apa.


"Ini …" Rian tertegun melihat semua ini. Ia tak menyangka bahwa kucingnya bisa melahap setan. “Walau setan itu kuat, tapi kelemahan mereka terlalu unik …”


Melihat Vincent tak sadarkan diri, Rian kemudian mengikat kaki dan tangannya menggunakan kain seprei yang banyak bertebaran di lorong. Setelah itu, Rian kembali membuka pintu kamar nomor 3.


Tepat di depan pintu kamar, sebuah pintu merah tampak menempel pada dinding. Rian juga melihat sekeliling kamar tersebut. Di sana, dinding dan semua barang yang ada di dalamnya memiliki warna merah darah.


“Tekanan di sini jauh lebih berat daripada yang aku rasakan di rumah maupun di sekolah!”


"Noir, kamu tunggu di sini ya. Tolong jaga pintu ini. Kalau ada setan yang berusaha masuk, makanlah setan itu." senyum Rian sambil meletakkan Noir ke lantai.


"Meong …"


Setelah itu, tanpa ragu Rian membuka pintu merah tersebut dan memasukinya.


Seperti halnya alam gaib yang Rian masuki di sekolah, dunia di balik pintu merah ini juga sama dengan dunia manusia. Hanya saja, semuanya serba terbalik antara kanan dan kiri. Selain itu, seluruh dinding dan lantainya dipenuhi garis-garis merah menyerupai pembuluh darah yang terus berdenyut.


Boneka tersebut melihat ke arah Rian. Namun Rian tidak bisa membaca ekspresi wajahnya, karena wajah boneka itu hanyalah sebuah gambar. Boneka itu tampak menggeleng-gelengkan  kepalanya seakan meminta Rian untuk mengikutinya. Karena penasaran, Rian pun mengikuti boneka tersebut


Boneka tersebut terus berjalan menyusuri lorong, sampai akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan ‘Ruang Karantina’. Boneka itu mengisyaratkan Rian untuk melihat ke dalam ruangan.


“Ini!” Rian terkejut saat mengintip ke dalam melalui jendela kaca yang ada pada pintu besi. Di dalam sana, ada seorang gadis kecil menggunakan pakaian pasien berwarna merah sedang terikat di kursi kejut listrik.


Rian juga merasa sangat familiar dengan sosok gadis kecil itu. “Winny?”


“Jadi kau menemukannya?” Dari belakang Rian, mendadak muncul seorang pria tua dengan jas dokter berwarna merah.


Reflek, Rian langsung menjauh sebanyak 10 langkah dari pria tua itu. “Siapa kamu?”

__ADS_1


“Seharusnya aku lah yang bertanya begitu padamu. Tidak seharusnya ada manusia yang masih hidup masuk ke sini, kecuali tuanku.”


Saat Rian melihat lebih jelas wajah pria tua itu, Rian akhirnya tahu identitasnya. “Jadi begitu … ada rumor yang mengatakan bahwa Direktur Departemen Kejiwaan menghilang tanpa jejak di dalam rumah sakit. Ternyata Direktur tersebut ada di sini …”


“Hoo~ jadi kau tahu tentang diriku … “ Wajah Direktur tersebut mendadak berubah sangat menyeramkan. Matanya terbuka lebar dengan bola mata berwarna hitam. “Kalau begitu, aku tidak bisa membiarkanmu keluar dari sini hidup-hidup!”


“Tunggu tunggu tunggu! Sebelum aku mati, bisakah aku bertanya padamu? Anggap saja sebagai permintaan terakhirku sebelum aku mati.” pinta Rian. Tentu saja Rian tidak ada niatan untuk mati. Ia hanya ingin mengorek informasi dari roh jahat Direktur ini.


Dokter tersebut berpikir sejenak.“Hmm, baiklah. Lagi pula aku juga sudah lama tidak punya teman bicara. Roh-roh penasaran di sini tidak ada yang bisa diajak bicara. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?”


"Ada dua hal yang ingin aku tanyakan. Pertama, mengapa Pak Direktur berubah menjadi seperti ini?"


"Hmmm, oke … lalu yang kedua?"


"Aku ingin tahu kenapa gadis kecil itu diikat di sana." ucap Rian sambil menunjuk ke arah ruang karantina


"Kamu benar-benar anak yang penuh keingintahuan. Aku menyukainya, hahahahaha …"


"Baiklah, aku akan menceritakannya. Kebetulan pertanyaan pertama dan kedua sangat berhubungan. Semua ini dimulai dari satu setengah tahun yang lalu."


"Saat itu, aku terdiagnosa menderita kanker dan hanya memiliki waktu hidup tidak sampai 1 tahun. Suatu hari, seseorang dengan topeng plague doctor yang sekarang telah menjadi tuanku, datang ke kantorku. Ia menawarkanku kehidupan abadi, tapi dengan satu syarat. Yaitu membiarkannya bereksperimen dengan pintu merah di sini."


"Awalnya, aku jelas menolaknya. Aku sudah cukup muak dengan pintu merah itu dan bersyukur Winny dapat menutupnya sehingga aura pintu ini tidak menyebar ke lantai lainnya. Tapi tuanku tidak kenal lelah. Tiap malam, ia selalu hadir dalam mimpiku. Di saat yang sama, kesehatanku semakin menurun. Akhirnya, aku menerima tawarannya."


"Kami berencana membuat hybrid antara setan dari pintu merah, dengan roh jahat. Tujuannya adalah membuat makhluk baru yang lebih superior."


"Langkah pertama yang kami lakukan adalah membajak pintu merah ini. Pemilik pintu merah ini adalah gadis kecil yang ada pada ruang karantina itu. Tuanku pun turun tangan sendiri untuk menyegelnya. Dengan tersegelnya gadis itu, kami berhasil mengontrol pintu ini."


"Setelah itu, kita memulai tahap kedua, yaitu menciptakan makhluk hybrid. Untuk itu, kami membutuhkan roh jahat dan juga setan."


"Kami bisa mendapatkan setan dengan mudah di dunia ini. Tapi berbeda dengan roh jahat. Untuk itu, berdasarkan saran dari tuanku, kami memutuskan untuk membuat roh jahat baru. Kami pun menargetkan seorang suster senior yang cukup galak dan banyak dibenci pasien."

__ADS_1


Wajah Direktur tersebut menunjukkan senyuman lebar saat bercerita mengenai rencana pembunuhan ini. "Untuk menutupi rencana pembunuhan ini, kami memberi sugesti pada pasien kamar nomor 8, Vincent dan pasien kamar nomor 9, Aldy untuk membunuh suster tersebut."


Mata Rian pun terbelak mendengar pengakuan dari roh jahat Direktur. 'Jadi dia yang menginstigasi pembunuhan ini! Dasar pria brengsek!' Pikir Rian sambil mengepalkan tangannya.


__ADS_2