
Suasana rumah Rian yang ada di daerah Juanda sekarang sangatlah ramai. Di sana, kini telah berkumpul keluarga dari teman-teman Rian. Di antaranya adalah Nenek Livia, Ibu dan Kakak Alicia, kedua Orang tua Adi dan Tika, serta Ibu Guntur dan juga Adel. Sementara Ayah Alena, ia kebetulan sedang ke luar kota untuk menghadiri seminar.
“Bukankah ini sangat mengerikan?” Adi berkomentar atas Live Broadcast milik Cepmek yang baru saja terputus.
"Aku nggak nyangka hadiah dari Nightmare adalah mayat hidup. Untung kita sudah mengungsi ke sini terlebih dahulu."
"Hush, Adi!" senggol Livia sambil memberi kode pada Adi untuk melihat ke arah Guntur.
Guntur terlihat tegang dan khawatir. Bagaimana tidak, saat ini Ayah Guntur sedang bertugas melakukan pengamanan. Dengan keadaan kota Surabaya yang kacau seperti ini, sudah sewajarnya Guntur mengkhawatirkan keadaan Ayahnya.
Tak lama kemudian, Rian turun dari lantai 3 dengan wajah yang serius. Melihatnya seperti ini, Alena bertanya pada Rian. "Apa kamu akan pergi?"
Rian menganggukkan kepalanya. "Tunggulah aku di sini. Aku pasti kembali pada kalian …"
"Rian, jangan mati …" ucap Adi.
"Rian, kalau kamu bertemu dengan Ayahku, tolong selamatkan dia …" pinta Guntur.
"Aku akan selalu menunggumu di sini, Rian. Jadi pastikan kalau kamu kembali!" ucap Livia dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga akan setia menunggumu …" ucap Alicia dengan nada yang datar.
"Aku dan Alena juga akan menunggumu, jadi kami harus kembali!" ujar Tika sambil merangkul Alena.
"Enn." Rian kemudian pergi bersama Rio menuju mobil Ferrarinya.
"Noir, aku titip mereka."
"Meoong~"
Setelah itu, Rian mengaktifkan token bergambar medusa di tangannya. “Aegis, aktif!”
Sebuah membran bening tiba-tiba menyelimuti rumah Rian. Membran ini adalah perisai pelindung yang dibuat menggunakan efek Aegis, sebuah alat terkutuk yang Rian beli dari sistem seharga 15.000 poin. Perisai pelindung ini dapat menahan serangan energi maupun fisik sampai tingkatan raja Iblis.
“Dengan begini, aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan mereka. Ayo pergi …”
“Siap bos!” Rio pun segera menginjak pedal gasnya dan meluncur menuju pusat kota Surabaya.
...****************...
Sementara itu, di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo, para polisi mulai memblokade semua jalan.
Dor Dor Dor
Suara tembakan terdengar saling bersahutan. Banyak tubuh Mayat Hidup yang bergelimpangan di dekat bundaran Waru.
“Kita tidak boleh membiarkan mereka keluar dari Surabaya! Kita harus tahan mereka sampai bantuan dari TNI datang!” teriak Taufan.
“Siap!”
Bum Bum Bum
__ADS_1
Tiba-tiba, tanah tempat mereka berpijak bergetar. Suara langkah yang sangat berat terdengar semakin dekat. Semakin dekat suara tersebut, semakin keras pula getarannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Taufan.
Dari balik gedung setinggi 12 lantai yang ada di dekat Bundaran Waru, muncul bayangan hitam setinggi 6 meter. Jika dilihat dari dekat, maka akan terlihat bahwa bayangan tersebut adalah kumpulan ratusan Mayat Hidup yang bergabung menjadi satu. Di bagian dada makhluk tersebut, terdapat cahaya biru yang menyerupai jantung.
“GRAAAA”
Suara gabungan dari ratusan Mayat hidup itu menyeruak ke segala arah.
“Demi Tuhan, makhluk apa itu?”
“Apakah kita akan mati?”
“Bagaimana ini, anakku masih kecil. Apakah anakku akan tumbuh tanpa memiliki ayah?”
Walau banyak polisi yang terlihat panik, namun tidak ada satupun dari mereka yang meninggalkan barisan.
“Semuanya, tembak makhluk besar itu!” perintah Taufan.
Di bawah perintah Taufan, semua polisi langsung melepaskan tembakan pada makhluk tersebut
Dor Dor Dor Dor
Namun sayang, tembakan tersebut tidak mempengaruhi pergerakan makhluk besar itu.
Di saat yang sama, sebuah mobil Ferrari berwarna merah melaju dengan cepat menuju blokade polisi. Melihat ada blokade di depannya, dengan sigap Rio langsung melakukan pengereman.
Ciiit
“Hei, sedang apa kalian di sini!? Cepat pergi dari sini!” teriak Taufan.
“Om Taufan, kami datang untuk menyelesaikan masalah ini.” ucap Rian.
“Wajah itu … Rian?”
“Iya Om, aku Rian teman Guntur.”
“Rian, cepat pergi dari sini! Di sini sangat …” Belum selesai bicara, terdengar suara hantaman yang keras.
BOOM
“Arghh” Teriakan dari para polisi terdengar dari belakang Taufan. Mereka semua terpental ke segala arah akibat hantaman tangan makhluk besar itu.
Angin pun berhembus dengan kencang hingga mengenai Rian dan Rio. Debu dan material aspal juga tampak bertebaran dari tempat tersebut.
“Bos, serahkan semua ini padaku!” ucap Rio dengan penuh percaya diri.
“Apa kamu yakin?” Rian belum pernah melihat kemampuan Rio selain saat ia sedang menyantet petugas penjaga penjara. Maka dari itu, Rian sedikit ragu.
“Tenang saja Bos, aku bisa membunuh mereka semua tanpa perlu menyentuhnya.” Setelah mengucapakannya, Rio langsung memejamkan matanya. Mulutnya pun mulai komat-kamit membaca mantra.
__ADS_1
“Ingsun amatak ajiku, Jayabarut ingsun jumeneng datullah, umadeg tengahing jagad …”
“GRAAA”
Seakan dapat merasakan aura yang berbahaya dari tubuh Rio, makhluk tersebut langsung menerjang sisa-sisa blokade yang ada dan berusaha memukul Rio.
“Rio!” Rian langsung mendorong tubuh Taufan dan berdiri di depan Rio yang masih memejamkan matanya sembari membaca mantra.
“Sakabehing mungsuh sakubeng ing cakrawala kang padha durhaka, krungu petak gelap sakethi, padha bedhah kupinge, pecah endhase!”
Saat tangan Makhluk tersebut hampir menghantam tubuh Rian, mata Rio langsung terbuka. Mendadak, tangan makhluk tersebut berhenti.
Croot Croot
Seketika itu juga, semua kepala Mayat Hidup tersebut pecah. Tak ayal, hujan darah pun membasahi area seluas 10 meter. Baju Rian dan Taufan pun kini dipenuhi cairan merah yang berbau cukup amis.
Berbeda dengan kondisi mereka berdua, baju Rio sama sekali tidak kotor. Bahkan tubuhnya sama sekali tidak terdapat percikan darah.
“Ini …” Rian dan Taufan terkejut melihat kejadian ini.
Rian berbalik dan melihat ke arah Rio dengan rasa penuh keingintahuan. “Apa yang kamu lakukan?”
“Aku hanya menggunakan salah satu ilmu Kejawen yang pernah aku pelajari saat menjadi dukun.” senyum Rio seakan semua ini adalah hal biasa.
Rian mengernyitkan dahinya. “Ilmu Kejawen?”
“Ini sama seperti halnya ilmu kutukan, namun sumber energi yang kita gunakan berbeda. Ada bermacam-macam ilmu Kejawen, dan yang aku gunakan tadi termasuk dalam jenis ilmu Kanuragan.” jelas Rio.
“Aku tidak menyangka, ilmu Kejawen itu nyata …” ucap Taufan dengan ekspresi terkejut.
Kresek Kresek
Tiba-tiba, semua alat komunikasi yang menggunakan gelombang radio mengeluarkan suara statis, termasuk Handy Talkie (HT) yang ada di saku Taufan.
“Rian Morfran …”
Kresek Kresek
Dari Handy Talkie (HT), terdengar suara orang yang memanggil Rian.
“Aku menunggumu …”
Kresek Kresek
“Di kamar mayat bawah tanah …”
Kresek Kresek
“Rumah Sakit Universitas Avernus …”
Klik
__ADS_1
Setelah itu, suara tersebut tidak muncul lagi dari Handy Talkie (HT) Taufan.
“Nightmare …” gumam Rian dengan tatapan mata penuh amarah.