Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Penjara


__ADS_3

“Ampuni aku …” Pak Effendi memohon pada Rian sambil menahan sakit. Terlihat air seninya mengalir.


"Aku merasa bukan itu yang aku dengar tadi …"


KRAAK


“ARGH!”


“Maafkan aku … kumohon lepaskan aku…”


“Apakah ketika korbanmu memohon, Bapak melepaskan mereka?”


“Rian, hentikan! Dia sudah tidak berdaya lagi …”


BUK BUK BUK BUK


Rian memukul-mukul wajah Pak Effendi hingga pingsan. Darah terus mengalir dari hidung dan mulutnya. Beberapa gigi Pak Effendi terlihat tercecer di tanah.


"Rian! Tolong hentikan, ini bukan seperti kamu biasanya!" Peluk Livia dari belakang.


"GROARR" Livia terlempar akibat amukan Rian. Perlahan, gigi taring Rian memanjang. Kuku-kukunya mulai menajam. Mata Rian berubah menjadi merah.


"Ugh"


"Livia!" Adi langsung berlari mendekati Livia yang terkapar.


"Rian! Sadarlah! Apa yang kau perbuat pada Livia! Bukankah kalian sahabat!" Teriak Guntur.


Melihat Livia yang terkapar kesakitan, kesadaran Rian pun perlahan pulih. Ia pun kembali normal. "Ini …"


Melihat semua kekacauan yang dibuatnya, Rian sangat menyesal. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi padanya. Ia mendadak sangat marah ketika Pak Effendi mengancamnya. Secara tidak sadar, Rian menjadi sangat kasar dan melakukan semua ini.


Menyadari Livia masih terkapar, Rian kemudian lari menghampiri Livia. "Livia … Maafkan aku! Hiks …" Rian menangis sesenggukan sambil memeluk Livia.


Livia tersenyum melihat Rian kembali normal. "Aku nggak apa-apa kok Rian. Mungkin cuma sedikit lecet aja. Yang penting kamu kembali menjadi dirimu yang biasanya. Sudah jangan menangis lagi …" Livia mengusap - usap punggung Rian. 'Apapun akan ku lakukan untukmu, Rian …Meskipun aku harus mengorbankan nyawaku!'


"Huaaa~ … Maafkan aku … Maafkan aku …" Rian mengingat semua yang ia lakukan pada Pak Effendi. Ia juga mengingat momen ketika ia melempar Livia. Hatinya sangat sakit mengingat semuanya. 'Kenapa? Kenapa aku jadi seperti ini!?'


Dari samping, Guntur melihat Rian yang begitu sedih dan marah atas yang ia lakukan. 'Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Rian … sepertinya kamu benar-benar berubah secara perlahan. Baik secara perilaku maupun fisik. Apakah ini perubahan yang baik, ataukah buruk? Dan juga, sekarang sepertinya kamu telah membangkitkan kemampuan khusus mu. Apakah semua ini akibat efek samping kemampuan khusus mu?' pikir Guntur. Ia juga sudah sedari tadi mematikan Live Broadcastnya setelah melihat fisik Rian perlahan berubah. Karena Background Ayahnya, ia juga tahu mengenai dunia itu.


Selang 30 menit kemudian, Polisi datang dan membawa Pak Effendi ke Rumah Sakit. Siswi berambut pendek yang tadi akan diperkosa Pak Effendi dan diamankan Livia juga ikut dibawa ke Rumah Sakit untuk menjalani pemeriksaan.


Rian, Guntur, Adi, dan Livia dibawa ke kantor Polisi untuk dimintai keterangan. Alicia, Alena, dan Tika tidak ikut dalam Live Broadcast karena Rian melarang mereka ikut. Makanya mereka bertiga tidak ikut dipanggil Polisi. Livia juga sebenarnya Rian larang namun ia tetap memaksa.

__ADS_1


Saat Rian dan teman-temannya keluar menuju mobil Polisi, murid-murid SMA Avernus bertepuk tangan dengan meriah.


Plak Plak Plak Plak


"Riaan! Semangat!"


"Rian! Good Job! Lanjutkan Prestasimu!"


Bahkan ada beberapa korban pelecehan yang datang pada Rian sambil menangis dan terus berterima kasih. Walau murid-murid bertepuk tangan, berbeda dengan para guru. Wajah para guru sangat tidak mengenakkan. Mereka menganggap hal yang dilakukan Rian dapat mencoreng nama sekolah.


Sore itu, Kepala Sekolah mengadakan rapat mendadak.


"Kalian tahu kenapa saya mengadakan rapat ini?"


Semua guru terdiam mendengar ucapan Ibu Kepala Sekolah. Ia terlihat menahan emosinya.


BRAAK


“Kenapa tidak ada yang memberitahu saya mengenai kelakuan Effendi!?” Teriak Ibu Kepala Sekolah setelah menggebrak mejanya. Beberapa guru tampak diam tertunduk, termasuk Wakil Kepala Sekolah.


Melihat hal ini, Ibu Kepala Sekolah paham. Ternyata ada oknum guru yang menutup-nutupi perbuatan Pak Effendi, sehingga sepak terjangnya tidak sampai terdengar ke telinganya. “Bambang, bisa jelaskan padaku?”


Wakil Kepala sekolah bernama Bambang itu pun sampai berkeringat dingin mendengar pertanyaan Ibu Kepala Sekolah. “I-I-Ibu Lili, maafkan saya. Ta-tapi saya terpaksa melakukan itu! I-Ibu pasti tahu keluarga di balik Effendi, mereka–”


“Menyuapmu bukan?” potong Bu Liliana.


Pengakuan Pak Bambang membuat Bu Liliana semakin emosi. “Mulai hari ini … KAU KU PECAT!”


Kemudian Bu Lilian melihat ke arah 4 guru yang masih tertunduk. “Kalian berempat juga ku pecat. Silahkan ambil pesangon kalian ke sekretaris saya. Melisa, tolong urus semuanya!”


“Baik Nyonya!” Tunduk Melisa yang berdiri di belakang Bu Liliana. Setelah itu, kelima orang yang sudah Bu Liliana pecat keluar ruang rapat mengikuti Melisa.


“Bu Liliana, boleh saya bicara?” Pak Arta mengangkat tangannya.


“Silahkan, apa yang ingin kau bicarakan, Arta?”


“Saya menduga, kasus bunuh diri 5 tahun yang lalu, masih berkaitan dengan Pak Effendi.”


“Kejadian 5 tahun yang lalu?” Bu Liliana mencoba mengingat - ingat kejadian tersebut. “Kalau tidak salah, namanya Rika bukan? Tapi bukannya kamu baru bekerja di sini 2 tahun yang lalu ya, bagaimana kamu tahu Effendi ada hubungannya dengan bunuh diri Rika?”


“Benar Bu. Saya mendapat informasi dari anak Ibu sendiri, Alicia.”


“Alicia putriku?”

__ADS_1


“Iya Bu. Alicia adalah teman Rian, orang yang membongkar perilaku bejat Pak Effendi. Alicia membantu Rian dan berhasil mendapatkan file tentang Rika. Ini bu, bisa Ibu lihat sendiri di ponsel saya.”


Setelah menerima ponsel Pak Arta, Bu Liliana terkejut dengan file yang ada dalam ponsel tersebut. “Ini … apakah ini valid?”


“Sangat valid Bu. Ibu pasti paham kemampuan Alicia seperti apa.”


Saat Bu Liliana sedang berpikir, tiba-tiba sekretaris Bu Liliana, Melisa, masuk dan berbisik ke telinga Bu Liliana.


“Jadi mereka sudah bergerak …”


......................


“Ayah … apa maksud semua ini!? Kenapa Pak Effendi dibebaskan dan malah Rian yang dijebloskan ke penjara?”


“Ayah tidak menyangka mereka menggunakan cara ini … sepertinya, saingan Ayah di akademi dulu ikut campur dalam masalah ini. Dengan menggunakan koneksinya, ia membuat atasan kami memberi perintah untuk menahan Rian atas tindak main hakim sendiri dan membuat Pak Effendi sebagai korban Rian.” Guntur, Adi, dan Livia langsung emosi mendengar penjelasan Ayah Guntur. Mereka bertiga kini berada di rumah Guntur. Hanya Rian saja yang tidak diperbolehkan pulang dan mendekam di penjara.


“Jadi kita harus bagaimana? Padahal Rian sama sekali nggak bersalah!” Livia begitu sedih dengan ketidak adilan ini.


“Bapak akan usahakan untuk menolongnya. Minimal bisa membebaskannya dengan alasan usia masih di bawah umur.”


“Hiks ... Tapi tetap saja Rian akan dicap sebagai kriminal! Hiks ...Ini akan jadi catatan buruknya di masa depan!”


Ayah Guntur, IrJen Taufan, hanya bisa terdiam mendengar ucapan Livia. Karena hal yang dikatakannya itu benar. Rian memang bisa lolos dan tak dipenjara, namun catatan kriminalnya tetap melekat padanya dan tertera dalam Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).


“Emm, aku punya ide. Bagaimana kalau kita buat masalah ini jadi viral? Netizen itu maha benar lho!  Apalagi, banyak yang menonton Live Broadcast kita saat menangkap basah perbuatan Pak Effendi.” Guntur dan Livia langsung menatap Adi dengan ekspresi terkejut. Mereka tak menyangka Adi bisa memikirkan ide bagus seperti itu.


......................


“Effendi anakku! Hiks hiks … siapa yang melakukan hal ini padamu nak? Siapa!” Tangis seorang wanita tua berusia 60 tahunan. Pak Effendi masih mengalami koma pasca pemukulan.


Seorang Pria berjas hitam memberikan sebuah map pada wanita tua itu. “Ini profil orang yang memukul Tuan Muda.”


Setelah membaca profil Rian, wanita tua itu meremas map tersebut. “Bagaimanapun caranya, beri pelajaran pada bocah brengsek ini! Kalau ada kesempatan, lenyapkan!”


“Baik Nyonya!” Pria berjas hitam itu menunduk.


"Di mana Reni dan cucuku Amir?"


"Nyonya Reni sedang Arisan, sedangkan Tuan Muda Amir sedang berkencan dengan pacarnya."


"Brengsek! Disaat Suami dan Ayah mereka dalam keadaan seperti ini, mereka malah bersenang - senang, hummp! Setelah anakku sadar, akan ku suruh dia menceraikan Reni!"


"Pergi dan beri pelajaran anak itu sekarang."

__ADS_1


Pria berjas tersebut menunduk dan kemudian pergi meninggalkan kamar rumah sakit.


“Akan ku tunjukkan, apa yang telah kau perbuat pada anakku adalah sebuah kesalahan yang sangat besar! Rasakanlah pembalasan dari keluarga Sugiharto!”


__ADS_2