
"Guntur, Adi, Alena, Tika, apakah kalian sudah siap?” tanya Rian dengan serius.
“Kami siap!” Jawab Guntur dan lainnya.
Sebelumnya, Guntur menceritakan kisah Rika pada Ayahnya. Ayah Guntur sangat geram mendengar kisah itu. Terlebih itu adalah kasus yang ia pegang 5 tahun lalu. Sebenarnya Ayah Guntur ingin memeriksa Pak Effendi menggunakan kepolisian. Tapi jika tidak ada bukti yang kuat, Ayah Guntur bisa kena masalah kode etik atas penyalahgunaan kekuasaan. Posisinya sebagai Kapolda Jawa Timur membuatnya jadi sasaran empuk atas orang - orang yang menginginkan posisinya. Maka dari itu ia mengizinkan anaknya untuk menggunakan cara ilegal demi menghukum Pak Effendi.
“Alena, Tika, silahkan mulai operasinya …”
Dalam operasi ini, Alicia akan mengirimkan email spam pada Pak Effendi. Agar Pak Effendi mau membuka email mencurigakan, Alicia membutuhkan umpan agar Pak Effendi mau membuka email tersebut. Di situlah Alena dan Tika dibutuhkan.
Setelah Pak Effendi membuka link yang ada dalam email, maka Alicia mulai bekerja untuk menerobos masuk sistem ponsel atau komputer yang digunakan untuk membuka email. Saat Alicia bekerja, ia butuh umpan agar Pak Effendi tidak mematikan komputer ataupun ponselnya. Di sinilah tugas Guntur dan Adi untuk mengalihkan perhatian Pak Effendi.
......................
"Pagi Pak Effendi …" salam Tika dan Alena yang sekarang berada di depan meja Pak Effendi.
"Pagi juga … kalian ada perlu dengan Bapak?" Mata Pak Effendi melihat Alena dari atas ke bawah. 'Cantik sekali siswi ini … namun sayang dadanya masih belum berkembang sepenuhnya. Sepertinya dia masih kelas X, jadi wajar. Aku bisa sabar menunggunya sampai ia kelas XII. Dan ketika ia sudah matang, hehehehe …dengan senang hati akan ku petik!'
Setelah selesai memberi penilaian tubuh Alena, Pak Effendi melihat ke arah Tika. 'Hmmm, wajahnya biasa, pake kacamata pula. Jelas bukan tipeku. Tapi …' Mata Pak Effendi terbelak melihat dada Tika. 'F-Cup! Gila, masih kelas X sudah F-Cup! Bagaimana jika sudah kelas XII!?' Pak Effendi sampai menelan ludah melihat prospek yang cerah.
"Gini Pak, kami ngefans banget sama Bapak, jadi …" Alena mendekatkan mulutnya pada telinga Pak Effendi. Kemudian ia berbisik. "Saya mau kirim foto seksi saya dan teman saya ini ke email Bapak, apakah Bapak mau?"
Glup
Mendengar hal itu membuat nafsu Pak Effendi naik. Pak Effendi mengangguk menjawab pertanyaan Alena. Setelah itu Alena dan Tika meninggalkan Pak Effendi. Selang beberapa menit, ada notifikasi email masuk pada ponselnya. 'Apakah ini email dari siswi tadi? Siapa namanya tadi? Aku sampai lupa menanyakannya. Ah sudahlah, mencari informasi siswi di sekolah ini sangatlah mudah!'
Pak Effendi segera membuka email yang ia terima. Di dalamnya terdapat pesan dan sebuah link yang mengarahkan ke sebuah website. ‘Pak, foto - fotoku ada dalam link tersebut. Kalau Bapak suka, aku dan temanku bisa langsung foto di kamar Bapak.’
Membaca pesan tersebut, Pak Effendi kembali membayangkan F-Cup milik Tika. Karena sudah sangat bernafsu, Pak Effendi tak pikir panjang dan segera membuka link tersebut.
__ADS_1
Blank
“Huh? Kenapa tiba - tiba layar ponselku gelap?”
“Pagi Pak, kami mau daftar klub Basket apakah bisa Pak?” tanya Guntur sebagai pengalih perhatian pertama. Ia sekarang bersama Adi berdiri di depan meja milik Pak Effendi.
“Oh, kalian bisa mengisi formulir ini. Setelah itu kalian isi, kalian bisa berikan formulir ini kembali pada Bapak atau bisa berikan pada Kapten tim Basket SMA Avernus, Yohan.” Pak Effendi menyodorkan 2 lembar formulir pada Adi dan Guntur. Pak Effendi sebenarnya sangat malas meladeni Guntur dan Adi. Namun sekarang di ruang guru sedang ada banyak orang. Ia harus tetap menjaga imej di depan orang - orang sebagai guru yang ramah dan baik.
Dengan senyum palsunya, ia ingin segera mengusir Guntur dan Rian. “Apakah ada yang ingin kalian tanyakan? Jika tidak, kalian bisa pergi dan isi formulir pendaftarannya.”
“Pak, bolehkan saya isi formulir ini di sini? Jadi kami bisa langsung serahkan kembali pada Bapak pagi ini.” tanya Adi sebagai pengalih perhatian kedua.
Pengalih perhatian ketiga pun datang membantu Adi. “Pagi Pak Effendi …Wah - wah, Klub Basket ternyata popular sekali ya! Baru minggu kedua tahun ajaran baru saja sudah ada murid baru yang daftar langsung.” celetuk Pak Arta dari belakang Pak Effendi.
“Ah, Bisa saja Pak Arta …” Kemudian Pak Arta mulai mengobrol dan memuji - muji tim Basket serta kepelatihan Pak Effendi. Adi dan Guntur pun turut membantu Pak arta dalam memuji Pak Effendi.
Di saat yang sama, di ruang OSIS, Alicia dengan menggunakan Laptopnya, berusaha mengambil semua data dari ponsel Pak Effendi, Ia memanfaatkan link yang ia kirimkan sebagai backdoor untuk membobol ponsel Pak Effendi.
Tak Tak Tak Tak Tak
‘Cantiknya …’ Rian begitu terpesona dengan aksi Alicia.
Saat Rian dan Livia sedang serius melihat aksi Alicia, tiba - tiba masuk seorang murid ke Ruang OSIS. “Hm? Siapa Kalian berdua? Kenapa kalian pagi - pagi berada di ruang OSIS?”
Melihat badge kelas XI pada lengannya, Rian langsung menunduk. “Selamat pagi Kak! Kami berdua teman Alicia Kak. Kami di sini sedang membantu Alicia.”
“Teman Kak Alicia? Sungguh tidak biasa… Ternyata Kak Alicia punya teman juga. Apalagi berteman dengan murid baru. Oh ya, perkenalkan, namaku Yohan, wakil ketua OSIS. Salam kenal …”
Melihat Yohan mengulurkan tangan, Rian langsung menjabat tangannya. “Namaku Rian, dan yang di sebelahku Livia. Kami murid kelas X-6. Salam kenal Kak Yohan.”
__ADS_1
Livia pun ikut mengucapkan salam. “Salam kenal Kak.”
“Aku senang Kak Alicia memiliki teman. Aku dulu pernah berusaha berteman dengannya, namun ia tidak menggubrisku sama sekali. Kalian benar - benar beruntung bisa merebut hatinya. Padahal kita sama - sama anggota OSIS, namun aku tak sanggup menembus dinding hatinya. Aku berharap kalian bisa menjaga Kak Alicia baik - baik.” ucap Yohan dengan lembut. Ia tampak senang dan lega melihat Alicia memiliki teman. Tapi sepertinya kata - kata Yohan sama sekali tidak didengarkan oleh Alicia. Alicia masih tetap sibuk membobol ponsel Pak Effendi. Yohan pun kemudian melakukan kesibukannya sendiri. Ia tampak sedang membolak - balik dokumen yang ada di mejanya.
“Aku mendapatkannya.” Mendengar suara Alicia, Rian dan Livia langsung fokus pada layar Laptop Alicia.
“Ini …” Rian sangat terkejut melihat isi ponsel Pak Effendi. Di sana, ada ratusan video tidak senonoh dan ribuan foto candid siswi SMA Avernus di kamar mandi. Alicia masih terus mendownloadnya. Karena cukup memakan waktu untuk mendownload semua itu.
“Brengseekk!” Bisik Livia sambil mengepalkan tangannya.
“Aku juga telah mendapatkan IP Address komputer pribadi Pak Effendi. Selanjutnya aku akan coba membobol komputernya.” lanjut Alicia.
“Tapi apakah kita bisa mendownload semua file yang ada?” Rian berpikir itu hal mustahil jika melihat besarnya file yang ada.
“Kalau mendownload semua file yang ada dalam ponsel Pak Effendi Itu bukan hal yang mustahil. Namun berbeda jika kita ingin mendownload semua file dari komputer Pak Effendi. File yang tersimpan pasti sangatlah besar. Memang kecepatan internet di ruang OSIS sangat cepat. Namun mendownload semua file dalam komputer Pak Effendi butuh waktu yang cukup lama, tergantung besaran filenya. Sementara ini akan ku coba mendapatkan sebanyak mungkin file yang ada.”
“Terima kasih Alicia. Aku mengandalkanmu! Sebagai imbalan atas kerja kerasmu, kamu boleh meminta apa saja padaku selama aku bisa memenuhinya!” sambil mengusap - usap kepala Alicia. Livia begitu iri melihatnya.
“Benarkah?” Alicia menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah Rian.
“Aku serius.”
“Baik …Aku akan melakukan yang terbaik.” Kecepatan jari Alicia langsung meningkat tajam.
Tak Tak Tak Tak Tak
Livia langsung merinding mendengar percakapan Alicia dan Rian. ‘Sepertinya aku punya firasat yang buruk!’
__ADS_1