
"Seperti yang kalian lihat, mitos suara piano di malam hari ternyata karena ada anggota klub musik yang bermain sampai tengah malam. Jadi dipastikan ini bukan kejadian supranatural. Case pertama berhasil terpecahkan! Sekarang kita investigasi mitos kedua, yaitu terdengar suara tangisan dari kamar mandi wanita di lantai 4. Apakah benar ini ulah makhluk supranatural, atau ini cuma hoax? Mari kita lanjutkan penelusurannya!" ucap Rian menghadap kamera.
Awalnya Rian mengajak Alicia untuk ikut penelusuran. Namun Alicia menolaknya. Ia memilih untuk bermain piano di sini. Mereka pun meninggalkan Alicia sendirian dan melanjutkan penelusuran. Setelah mereka pergi, Alicia kembali memainkan pianonya.
Rian dan kawan-kawan pergi ke kamar mandi wanita di lantai 4. Tapi sesampainya di sana, tidak terdengar suara tangisan dari kamar mandi.
"Hmmm, sepertinya kali ini mitos suara tangisan itu Hoax." ucap Adi yang berjalan santai masuk ke dalam kamar mandi, namun ia tidak mendengar suara tangisan. Kali ini ia berani karena yakin tidak ada hantu menangis dan menganggapnya hoax.
Rian berpikir dan memulai deduksinya. "Tidak ada asap tanpa api. Pasti ada penyebab munculnya mitos ini. Sepertinya aku perlu bertanya pada Pak Arta. Karena aku takut bahwa suara tangisan itu berasal dari wanita korban perundungan."
“Tck … Aku benci sekali perundungan! Kalau aku memang benar wanita yang menangis di sini korban perundungan, akan ku hajar orang - orang yang merundungnya!” ucap Livia sambil mengepalkan tangannya.
“Tapi kalau memang perundungan, kenapa ceritanya di malam hari? Apakah korban dirundung di malam hari?” saut Guntur.
“Bisa saja itu dibuat untuk menakut-nakuti saja agar orang-orang tidak masuk ke kamar mandi ini. Kalian pasti sadar bahwa kamar mandi wanita di lantai 4 ini selalu sepi. Bisa jadi ini adalah tempat rahasia yang digunakan untuk merundung. Atau juga, mereka sengaja membuat rumor itu untuk menyembunyikan sesuatu. Hmm, aku masih kekurangan petunjuk, jadi aku tidak bisa membuat hipotesis!” Rian menggaruk-garuk kepalanya.
Untuk mencari petunjuk, Rian masuk ke kamar mandi dan membawa ponselnya sendiri agar Live Broadcast terus berjalan. Teman-teman lainnya Rian minta untuk menunggu di luar. Dalam kamar mandi, terdapat 6 bilik WC dan 2 wastafel. Rian mulai mengecek bilik WC, namun semua pintu bilik terkunci kecuali bilik WC ke enam yang paling pojok. Di dalam bilik no.6, Rian melihat keanehan. Terdapat lubang kecil yang memungkinkan orang di dalam bilik no.6 melihat ke dalam bilik no.5.
Rian kemudian memanjat dinding bilik untuk masuk ke bilik no.5. Dalam bilik no.5, terdapat banyak coretan pada pintu. Coretan-coretan itu menggambarkan seorang wanita yang sangat ingin bunuh diri dengan berbagai cara. Ada gambar stickman dengan rambut panjang yang menggantungkan dirinya di pohon. Ada pula gambar stickman memegang pisau dan lain sebagainya.
__ADS_1
‘Apa-apaan ini? Gambar - gambar ini membuatku depresi. Seakan … aku juga ingin bunuh diri …’ Tanpa sadar, Rian mengambil pisau dari Kantong dimensi dan berusaha menusuk lehernya sendiri.
“Rian, bagaimana? Sudah selesai? Kebelet kencing nih, gantian dong!” Suara Livia langsung menyadarkan Rian. Ujung pisau pun sudah menyentuh leher Rian, namun tidak dalam. Darah mulai mengalir sedikit dari luka tersebut.
“Oke sebentar, aku keluar dulu …” Rian kembali memanjat ke bilik no.6 dan keluar kamar mandi. Di belakang Rian, muncul sosok Wanita berambut panjang yang menutupi wajahnya. Ia juga memiliki luka bekas ikatan tali di lehernya. Wanita tersebut sama dengan yang ditemui Fariz dan Risky satu bulan yang lalu. Bedanya sekarang baju wanita itu berwarna merah.
Saat berpapasan dengan Livia, Rian pun memperingatkan Livia. “Jangan pernah mengintip lubang yang ada di pembatas bilik! Apalagi memandang coretan yang ada di pintu bilik no.5!”
Karena benar-benar tak bisa menahannya, Livia langsung lari dan tidak seberapa mengindahkan peringatan Rian. ”Oke …”
‘Hampir saja aku menyia-nyiakan kesempatan keduaku ini. Kalau saja Livia tidak memanggilku, aku sudah mati. Tapi kenapa coretan - coretan tersebut dapat mempengaruhi pikiranku? Apakah karena entitas supranatural? Atau karena Kemampuan Khusus? Atau …’ Rian teringat dengan buku milik Ayahnya. Dari kecil, Rian suka masuk ke ruang kerja ayahnya dan membaca buku di sana. ‘Coretan tersebut memiliki Memetic Effect. Kalau itu benar seperti isi buku yang aku baca dulu, hal ini benar - benar berbahaya. Karena Memetic Effect dapat menyerang mental siapapun yang melihat, mendengar, ataupun merasakan, tergantung dari bentuk Memetic Agent tersebut. Mungkin aku harus berkonsultasi dengan Dokter Denis mengenai hal ini. Pasti dia tertarik!'
Di saat Rian sedang berpikir, Livia sedang duduk di kloset untuk buang air kecil. Saat ia sedang melihat-lihat sekitar kamar mandi, secara tak sengaja, ia melihat sebuah lubang pada dinding bilik. “Apakah ini lubang yang dikatakan Rian? Tapi kenapa Rian melarangku ya? Apakah ada gambar nggak senonoh di pintu WC sebelah?”
Dari balik lubang, Livia melihat seorang wanita berambut panjang yang mengenakan seragam SMA Avernus duduk menunduk di closet. Wanita itu terlihat sedang menangis. “Hiks ... Hiks …”
“Hei, kamu nggak apa-apa?”
“Hiks hiks …”
__ADS_1
“Apa kamu dirundung? Cerita aja sama aku, nanti akan ku bantu membalas orang - orang yang merundung mu!” Livia sama sekali tak menganggap bahwa keberadaan wanita tersebut sangat janggal. Ia percaya bahwa wanita yang ada di bilik sebelah adalah korban perundungan seperti yang jelaskan Rian tadi. Ia juga yakin alasan Rian melarang Livia mengintip karena adanya murid yang sedang menangis, jadi Rian tidak ingin Livia mengganggunya.
“Benarkah kamu mau mendengarkan ceritaku? Hiks hiks …”
“Tentu saja …”
Wanita itu menolehkan kepalanya yang sedari tadi ditutupi oleh kedua tangannya. Wanita tersebut melotot memandangi lubang tempat Livia mengintip. Wajahnya terlihat pucat. Seketika itu juga, warna seragam putih yang ia kenakan berubah menjadi merah.
“KYAAAAAA”
Mendengar teriakan Livia, Rian bergegas lari ke bilik no.6 “Livia! Apa yang terjadi ?”
Dok Dok Dok
“LIVIAAA!!!”
Dok Dok Dok
Tak ada jawaban sama sekali dari Livia walau berapa kali pun Rian mengetuk pintu dan berteriak memanggil Livia. “SIAL! LIVIA!” Rian kemudian mendobrak paksa pintu bilik no.6 yang terkunci. Guntur dan Adi pun turut membantu mendobrak pintu bilik. Setelah beberapa kali, akhirnya pintu pun berhasil terbuka.
__ADS_1
Dari balik pintu bilik, terlihat tubuh Livia tergeletak lemas di lantai kamar mandi. “LIVIAAAA …” teriak Rian sekencang-kencangnya.