Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Tangga Tak Berujung (II)


__ADS_3

“Livia!”


“Guntur!”


“Adi!”


“Di mana kalian?" teriak Rian. Rian tampak begitu panik dengan hilangnya mereka. Rian kemudian lari menaiki tangga. Namun setiap kali ia naik, selalu saja kembali lagi ke lantai 4. Lima jam berlalu, Rian masih saja tetap kembali ke lantai 4. Baik ketika ia menuruni tangga, maupun menaiki tangga. Semuanya kembali ke lantai 4.


Setelah ia terus lari tanpa henti dalam lima jam tersebut, Rian menjadi sedikit lebih tenang. “Pasti ada misteri di balik tangga ini! Sistem!.”


“Sistem?” Rian memanggil sistem berulang kali, namun layar Sistem Uji Nyali tidak muncul sama sekali.


“Hmmm, jadi begitu. Semua ini tidak nyata. Tapi ini juga bukan ilusi. Semua ini adalah mimpi!”


Rian pun duduk pada salah satu anak tangga dan mulai merenung. “Kalau memang benar ini mimpi, lalu bagaimana cara agar aku terbangun?”


Rian kemudian mencoba mencubit pipinya. “Ouch! Ternyata sakit … ini aneh, jika memang ini benar-benar mimpi, mengapa aku merasakan sakit? Apakah cara kerjanya juga sama dengan dunia ilusi yang pernah aku buat?”


Melihat lantai dasar dari tempatnya duduk, Rian tiba-tiba mendapat sebuah ide. “Mungkin kah aku harus bunuh diri? Tapi jika aku salah, maka aku akan benar-benar mati!” Rian mulai membayangkan bagaimana sedihnya Alena dan Livia jika ia mati.


‘Akan ku pastikan aku kembali!’ Rian berdiri dan memandang lantai dasar dengan penuh resolusi.


“AAHHHH” Rian berteriak dan melompat menjatuhkan diri dari tangga penghubung lantai 4 dan 5. Begitu tiba di lantai 1, kepala Rian langsung pecah membentur lantai. Bagaikan semangka yang pecah, isi otak dan darah berceceran memenuhi lantai.


Kratak Kratak


Perlahan, mulai muncul retakan di sekeliling Rian.


Kratak Kratak


Pyar


Seketika itu juga, Rian membuka matanya. Ia melihat langit-langit yang sangat familiar. “Kamar rumah sakit?” Ia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 00.00 WIB


Saat Rian menoleh ke arah kiri, ia melihat Livia terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. “Livia!” Rian langsung bangun dan secepat kilat menggenggam tangan Livia. Namun Livia sama sekali tidak merespon.


“Livia … ini semua salahku!” Rian menggenggam erat tangan Livia dengan penuh penyesalan. “Minggu lalu, kamu pingsan setelah menerima memori dari Rika. Dan sekarang, kamu pingsan karena masih terjebak dalam mimpi. Aku benar-benar bukan sahabat yang baik! Aku selalu menempatkan dirimu dalam bahaya. Apanya yang pasti akan melindungimu? Aku benar-benar lelaki brengsek!”


Kemudian Rian melihat ke belakang, di sana terbaring Guntur dan Adi. Kondisi mereka pun sama dengan Livia, masih tak sadarkan diri. “Aku akan menyelamatkan kalian, apa pun resikonya!”


“Sepertinya kamu benar-benar ingin menyelamatkan mereka, hihihihihi …”


“Hantu Dokter?” Mendengar suara yang familiar, Rian langsung melihat ke arah pojok dekat jendela.


“Yo~ lama tak jumpa, hihihihihi …”

__ADS_1


“Hantu Dokter, apakah kamu tahu cara menyelamatkan mereka?”


“Sejak kalian dibawa ke sini, aku tidak melihat jiwa di dalam tubuh kalian. Yang artinya, jiwamu tidak ada di sini. Namun, entah mengapa mendadak jiwamu kembali dan akhirnya terbangun.”


“Hmmm Terima kasih Hantu Dokter, sepertinya aku tau harus berbuat apa. Omong-omong, bagaimana keputusanmu? Apakah kamu menerima tawaranku?”


“Kau belum cukup kuat. Kembalilah saat kau yakin bisa membunuhku!”


Rian tersenyum dengan jawaban Hantu Dokter. “Oke kalau begitu. Sekarang, aku harus pergi menyelamatkan teman-temanku. Bye!”


Saat Rian akan membuka pintu, Pak Arta tiba-tiba membuka pintu kamar lebih dulu. “Rian? Kamu sudah bangun?” Pak Arta langsung memeluk Rian dengan erat. “Syukurlah kamu tidak apa-apa … syukurlah!”


“Pak Arta?”


“Cepat katakan pada Bapak, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Akan ku jelaskan nanti Pak! Namun, sekarang aku harus kembali ke sekolah. Demi menyelamatkan teman-temanku!” jawab Rian dengan serius.


“Baiklah kalau begitu, pergilah dan selamatkan Livia, Guntur, dan Adi! Setelah kembali, ceritakan semuanya pada Bapak! Untuk sementara, Bapak belum menghubungi orang tua mereka. Namun, jika sampai jam 5 pagi kamu belum berhasil membangunkan mereka, maka Bapak akan menghubungi orang tua masing-masing. Jadi, cepat selamatkan mereka sebelum orang tua mereka datang dan menghajarmu!” Pak Arta sangat serius dalam hal ini. Walau ia memfavoritkan Rian, tapi kalau Rian berbuat sebuah kesalahan yang tak bisa diperbaiki, maka Pak Arta tak segan untuk menghukumnya.


“Siap! Aku berjanji akan segera menyelamatkan mereka!”


“Semoga berhasil, Rian …” gumam Pak Arta sambil melihat tampak belakang Rian yang semakin menjauh di lorong rumah sakit.


......................


“ARGHHH” Rian berteriak dengan keras untuk melawan rasa kantuk. Rian pun langsung berlari sekuat tenaga menaiki tangga.


Tapi tak disangka, Rian kembali mengalami perulangan. Kini Rian kembali berada di lantai 4. “Sial! Lagi-lagi aku masuk ke dunia mimpi!”


Tanpa ragu, Rian langsung melompat dengan posisi kepala menghadap ke bawah. Setelah kepala Rian pecah, dunia mimpi pun hancur. Rian kembali terbangun. Namun, kali ini ia tidak terbangun di kamar rumah sakit, melainkan di tangga sekolah.


Rian pun kembali lagi menaiki satu anak tangga. Namun, ia kembali lagi masuk dunia mimpi dan mengalami perulangan. "Sial! Apakah aku harus berulang kali bunuh diri?" Rian bunuh diri lagi dan terbangun dari mimpinya.


Pada akhirnya, setiap Rian melangkah, Rian akan masuk dunia mimpi lagi dan lagi. Rian sudah puluhan kali bunuh diri agar terbangun dari mimpi.


"Haah haah haah haah …" Nafas Rian tersengal-sengal bukan karena kelelahan secara fisik. Tapi lelah secara mental. Bayangan ketika ia menjatuhkan diri dan mati masih membekas di pikirannya. Sampai pada akhirnya, ia berhasil mencapai lantai 5 setelah sekitar 50 kali bunuh diri.


Ding


[Syarat dan kondisi khusus terpenuhi]


[Mendeteksi adanya dua atau lebih jenis kemampuan khusus yang sama]


[Mendeteksi Host memiliki dua kemampuan khusus mata, Mata Batin dan Mata Rubah]

__ADS_1


[Inisiasi peningkatan kemampuan khusus mata]


[Penggabungan dimulai]


“Penggabungan? Apa ini?”


[1%]


[2%]


“Arghhhh, mataku!” Rian kembali mengerang kesakitan sama seperti saat ia mendapat kemampuan khusus. Ia pun memegangi matanya yang terasa sangat panas.


[3%]


….


[20%]


….


[99%]


[100%]


[Penggabungan Selesai]


[Selamat, Host telah mendapatkan kemampuan khusus gabungan, Mata Kebenaran]


“Hah haah haah … akhirnya proses yang menyakitkan ini selesai juga!” Rian bernafas lega dengan selesainya proses menyakitkan ini. Mental Rian sudah sangat lelah, sehingga ia benar-benar tidak sanggup menahan rasa sakit lebih dari ini.


Ding


[Mendeteksi Host memiliki kemampuan khusus, Persepsi Super]


“Masih ada lagi?” Rian benar-benar panik kali ini.


[Kondisi khusus terpenuhi]


[Evolusi kemampuan khusus dimulai]


“APA!”


[1%]


[2%]

__ADS_1


….


"Arghhhh … brengsek kau sistem! Brengsek kau!" Rian terus berteriak dan mengumpat pada sistem.


__ADS_2