
“kamu kenapa Rian? Kok kamu berkeringat dan juga gemetaran?" tanya Alena.
"A-a-aku agak nggak enak badan aja. Mungkin aku kelelahan setelah bermain tadi malam." Di saat yang sama, Rian langsung menyimpan Bra milik Tika ke dalam Kantong dimensi.
"Kalau begitu kamu istirahat saja sayang. Kita makan di sini saja. Nanti aku panggilkan Room Service." saran Livia.
"Aku sudah nggak apa-apa kok. Yuk kita ke resto sekarang."
Livia dan Alena merasa sedikit aneh dengan sikap Rian pagi ini. Tapi mereka berdua mengira bahwa hal ini terjadi karena Rian sedang lelah.
Saat Rian, Livia, dan Alena membuka pintu, mereka terkejut melihat Tika sudah berdiri di depan kamar Rian. "Pagi …" ucap Tika dengan wajah memerah. Tampaknya Tika telah sadar bahwa ia meninggalkan Bra miliknya di kamar Rian.
"Tika? Kemana aja kamu? Tadi aku ketuk terus pintumu, tapi nggak ada respon! Aku telepon kamu juga nggak diangkat! Aku khawatir kamu kenapa-kenapa." Alena langsung memeluk Tika. Ia terlihat sangat mengkhawatirkan Tika.
"Maaf, aku tidur terlalu nyenyak, jadi nggak sadar …" Jauh di lubuk hati Tika, ia merasa bersalah telah membohongi sahabatnya.
"Iya, nggak apa-apa kok. Yang penting kamu nggak apa-apa." senyum Alena.
"Tika, kamu kelihatan pucat …" Mendadak, Alicia muncul dari samping Tika.
"Alicia!! Tolong jangan muncul mendadak seenaknya sendiri!" protes Livia. Walau ia sudah mulai biasa dengan hal ini, tapi tetap saja itu membuat jantung Livia serasa mau copot.
"Hahahahaha"
Setelah itu, mereka berlima pergi ke restoran bersama. Di dalam restoran, banyak kaum adam yang merasa iri melihat Rian. Bagaimana tidak, Rian ditemani 4 wanita cantik dengan berbagai keunikan masing-masing. Mulai dari tipe loli energik Livia, tipe loli pendiam Alicia, tipe kacamata berdada besar Tika, dan tipe putri keluarga kaya Alena.
Saat mereka akan memesan makanan, seorang pria tampan berambut pirang tiba-tiba menghampiri Tika. "Hai cantik, bolehkah aku tahu namamu?" Walau ia berbicara dengan sopan, namun matanya terus memandang dada Tika.
Menghadapi situasi seperti ini, Tika sangat ketakutan. Namun ia tutupi itu dengan sikap jutek. "Humpp, aku nggak sudi memberikan namaku pada cowok jelek macam kamu!"
"Apa kamu bilang?" Pria itu benar-benar marah. Ini pertama kalinya dalam hidupnya ia disebut jelek. Pria itu kemudian menggenggam erat bahu Tika.
"Aduh! Lepaskan aku!" Tika sangat kesakitan dengan ulah pria itu.
"Arghhh!" Tiba-tiba, Rian muncul di belakang tika dan menggenggam erat tangan pria itu.
"Jangan sentuh wanitaku!" bisik Rian agar Livia, Alena, dan Alicia tidak mendengarnya. Namun Tika dan pria itu dapat mendengarnya dengan jelas.
"Lepaskan tanganku, brengsek! Apa kau tahu siapa aku? Aku adalah Justin, anak pemilik Anderson Industries di Amerika!"
"Lalu?"
__ADS_1
Kratak
"Arghhh!" Tulang lengan pria bernama Justin itu langsung remuk.
"Lepaskan tuan muda!" Lima orang berjas hitam datang dan menodongkan pistol.
"Apa yang terjadi?"
"Cepat lari!"
"Cepat panggil petugas keamanan!"
Suasana restoran pun menjadi kacau. Banyak pengunjung restoran ketakutan melihat hal ini. Mereka pun berusaha menjauh dari lokasi Rian berada. Namun, tidak semua pengunjung panik. Ada beberapa pengunjung yang melihat kejadian ini dengan tenang. Mereka tetap makan seperti biasa dan menonton aksi Rian seakan sedang menonton film.
"Rian, apa yang terjadi?" Pak Arta cukup terkejut ketika ia baru turun ke restoran, ia melihat murid-muridnya di kepung oleh beberapa orang bersenjata api.
Mata Justin terbelak ketika melihat asal suara tersebut. "A-Arta De Rothschild!?" Rasa sakit yang Justin rasakan mendadak hilang. Kini, yang ia rasakan hanyalah ketakutan.
"Justin Anderson?"
"Pak Arta kenal dengan orang ini?"
"Bukan hanya kenal, tapi Bapak akrab dengannya. Iya kan, Justin?" ucap Pak Arta sambil tersenyum menyeringai.
Para bodyguard itu pun bingung. Mereka berlima saling melihat dan tidak mengerti harus bagaimana. Akhirnya, mereka berlima menuruti perintah Justin dan menurunkan senjata.
"A-aku minta maaf, bisa tolong lepaskan aku?" Perubahan mendadak ini membuat Rian dan lainnya terkejut.
"Rian, bisa tolong lepaskan dia dulu?" pinta Pak Arta.
"Tapi–
"Tenang saja. Melihat mu seperti ini, Bapak paham atas apa yang ia perbuat. Aku yakin Justin tidak akan mengulangjnya lagi. Iya kan Justin?"
"Iya-iya-iya … betul sekali, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Justin. Terlihat, matanya mulai memerah seakan ingin menangis.
"Oke lah, aku percaya pada Pak Arta." Rian kemudian melepaskan genggamannya dari tangan Justin.
"Terima kasih!" Sambil memegangi tangannya yang remuk, Justin bergegas pergi dar restoran.
Saat Justin dan Pak Arta berpapasan, Pak Arta berbisik pada Justin. "Jangan pernah ganggu murid-muridku! Atau aku akan melakukan hal yang lebih besar dari saat kita masih kuliah dulu!" Justin hanya mengangguk. Ia kemudian langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
Saat Justin dan lima bodyguardnya sudah keluar dari area restoran, salah satu bodyguard bertanya pada Justin. "Tuan muda, apa perlu kita membuat rencana untuk membalas pemuda tadi?"
"Lupakan saja. Dia adalah murid Arta. Aku tidak mau berurusan dengan orang gila itu lagi!"
"Orang gila?"
"Dia adalah dalang di balik krisis moneter Amerika tahun 2008. Dan dia melakukannya ketika masih berusia 17 tahun."
"I-ini, tidak mungkin!"
"Aku tidak tahu bagaimana cara Arta melakukannya, tapi menurut kabar yang beredar, Arta sudah mempersiapkan krisis itu selama bertahun-tahun sebelum akhirnya pecah. Kalian tahu apa tujuannya melakukan itu?"
Para bodyguard menggelengkan kepala mereka.
"Alasannya sungguh absurd, bosan! Hanya karena ia bosan, ia membuat perusahaan sekelas Lehman Brother bangkrut! Karena hal itu lah, terjadi krisis pada tahun 2008. Bahkan perusahaan Ayahku sampai hampir bangkrut gara-gara krisis tersebut!" Jason mengambil nafas panjang ketika mengingat betapa gawatnya krisis tahun 2008. "Dan yang paling absurd, dia sendiri yang menyelesaikan krisis ini. Dia memberikan beberapa masukan pada Dewan Parlemen Amerika dan terbukti berhasil!"
"Jadi, lupakan saja. Anggap saja hari ini adalah hari sialku!" Kelima bodyguard itu pun menutup mulut mereka dan tidak lagi membahas isu tadi.
......................
"Pak Arta kenal Justin di mana?" tanya Rian dengan penuh kecurigaan. Rian dapat merasakan ketakutan yang mendalam dari diri Justin saat ia melihat Pak Arta.
"Bapak pernah satu kampus dengannya saat kuliah di Havard."
"Apa!?" Rian, Livia, dan Tika terkejut dengan fakta ini. Alena sudah tahu bahwa Pamannya ini memang lulusan Havard. Sedangkan Alicia memang tidak memiliki emosi.
"Kenapa kalian kaget begitu?"
"Jujur aku nggak nyangka Pak Arta lulusan Havard …" ucap Tika.
"Tapi bukannya di Havard nggak ada jurusan psikologi ataupun bimbingan konseling ya? Pak Arta kan guru BK."
"Sebenarnya ada ... cuma oleh orang Indonesia, yang paling dikenal di Havard adalah jurusan Ekonomi. Kebetulan Bapak ambil jurusan Ekonomi dan Psikologi sekaligus."
Setelah selesai makan, Rian mengambil uang hasil penukaran chip. Karena chip yang ditukarkan sangat besar, makanya butuh waktu untuk menukarkannya. Dari penukaran ini, Rian mendapat 52.750.000 USD. Atau jika dikonversikan ke rupiah, menjadi 790,5 milyar rupiah.
Sesuai dengan kesepakatan, Alicia mendapat 17.000 USD atau setara 255 juta rupiah. Sedangkan Alena dan Pak Arta mendapat 715.000 USD atau setara 10,725 milyar rupiah. Adi dan Guntur telah menghabiskan chip mereka, namun Rian tetap memberi mereka uang 1000 USD per orang, atau setara 15 juta rupiah.
Dengan uang itu, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di hari terakhir ini dengan berjalan-jalan di Macau. Seharian itu, mereka berdelapan mengelilingi Macau hingga larut malam.
Keesokan harinya, Rian dan teman-temannya, termasuk Pak Arta dan Rio kembali ke Indonesia. Misi berantai, Rumah Sakit Jiwa Terbengkalai telah menunggu Rian di Surabaya.
__ADS_1
...~End of Arc 3~...