Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Kisah William


__ADS_3

'Kemungkinan besar, pria paruh baya inilah yang memindahkan kakek ini dari lantai 1 ke lantai 3. Lalu dibantu dengan kedua komplotannya, ia berusaha membuatku lengah dan menyerangku dari belakang. Ini memang benar-benar perangkap. Untung saja aku bisa melalui semua ini.'


Rian kemudian memukul-mukul lembut jeruji besi kandang pria paruh baya tersebut dengan palunya. "Tenang, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin kamu menjawab beberapa pertanyaanku …" Namun, pria paruh baya itu tetap berpura-pura bodoh dan ketakutan.


"Kamu nggak mau bicara? Oke …" Rian langsung memukul jeruji besi dengan palunya.


Dang


"Masih nggak mau bicara?"


Dang Dang Dang Dang


"Cukup! Aku akan bicara! Tolong jangan pukul lagi. Telingaku sakit sekali." protes pria paruh baya itu.


"Nahh, gitu dong … kalau kamu kooperatif kan enak. Jujur, aku bukanlah orang yang kasar. Aku juga nggak suka nyiksa orang. Tapi keadaanlah yang memaksa, hehehehe …"


"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Cukup simpel, siapa namamu?" Rian sudah mengetahui nama pria paruh baya ini. Tapi Rian ingin mengetes kejujuran orang ini.


"Nama? Namaku William …"


Mendengar jawaban pria itu, Rian terkejut. 'William si pengusaha mebel? Apakah dia juga dirawat di lantai 3?'


"Bohong." Rian langsung memukul kandang pria itu dengan keras.


Dang


"Namaku Vincent! Namaku Vincent!"

__ADS_1


Melihat Rian akan mengayunkan palunya lagi, pria itu pun protes. "Bukankah kamu bilang kamu tidak suka menyiksa!?"


Dang Dang Dang


Rian terus menerus memukul kandang besi pria paruh baya itu sampai jeruji besi tersebut bengkok. "Aku beri kamu kesempatan lagi, siapa nama mu!?" teriak Rian sambil terus memukul.


"Arghhh … hentikan! Namaku Bintang!" 


"Nah, gitu kan enak …" senyum Rian.


"Kau benar-benar gila!"


"Ughh, aku nggak mau mendengar itu dari mu …"


"Sekarang aku sudah memberi tahu nama asliku kan, jadi apa lagi yang ingin kamu ketahui!"


Rian kemudian berjongkok di depan Bintang. "Kamu tadi sempat mengaku sebagai William. Apa hubunganmu dengannya? Apakah dia juga berada di kamar khusus lantai 3?"


"Bisa lebih detail lagi?"


"Jadi begini … awalnya, dia adalah pasien yang dianggap tidak berbahaya. Dia juga tinggal di kamar umum lantai 1. Yang membuatnya menarik, dia selalu berkata bahwa dia tidak gila." senyum jijik muncul dari bibir Bintang. "Kamu tahu, sebenarnya kita sadar bahwa kita tidak gila. Tapi hanya orang idiot seperti William yang memberitahukannya pada orang-orang."


'Ughh … dipanggil idiot oleh orang dengan gangguan jiwa. Aku jadi penasaran bagaimana perasaan William jika dia masih hidup dan mendengar percakapan ini. Mungkin dari sudut pandang orang seperti Bintang, mereka semua merasa sehat dan tidak sakit.' pikir Rian.


"Lalu?" Rian sekarang mulai sadar bahwa bercakapan dengan orang dengan gangguan jiwa, bisa membuat sudut pandangnya berubah. 'Mungkin ini yang menyebabkan Vincent jatuh …'


"William tidak hanya menolak pengobatan yang diberikan rumah sakit, namun ia juga memarahi Dokter dan Suster yang ingin memeriksanya."


"Menyakiti pegawai rumah sakit merupakan sebuah kesalahan yang besar. Hari itu juga, William dikurung dalam ruang karantina."

__ADS_1


"Namun, karantina tersebut malah membuat kondisi William memburuk. Setelah keluar dari ruang karantina, dia memukul seorang suster karena tidak mau meminum obat yang diberikan suster. Dia berteriak bahwa dia adalah orang kaya. Dia bisa saja membeli separuh rumah sakit ini. Dia berjanji akan menghukum orang-orang yang memperlakukannya seperti orang gila."


"Setelah 10 menit, orang idiot itu membayar atas apa yang dilakukannya. Pegawai rumah sakit langsung mendatanginya dengan jaket ikat dan memindahkannya ke ruang karantina di lantai 3 ini."


"Itu lah pertama kalinya William datang ke lantai 3. Kami sangat senang melihat ada teman baru. Tapi William sangat tidak ramah. Bahkan dia meludahiku saat sedang dikawal oleh pegawai rumah sakit. Dia juga terus melontarkan umpatan pada petugas rumah sakit yang membawanya ke ruang karantina. Tapi orang baru ini tidak tahu, apa bedanya ruang karantina lantai lainnya dengan yang ada di lantai 3."


"Ruang karantina yang ada di lantai 3 dikenal juga dengan sebutan ruang Electroshock Therapy. Itu adalah metode umum yang digunakan dalam perawatan pasien penderita gangguan jiwa. Dokter yang sering menggunakannya berkata bahwa terapi ini sangat efektif."


"Dan tentu saja, karena ini adalah rumah sakit milik pemerintah kota, tentu keselamatan pasien harus terjamin. Maka dari itu, biasanya Dokter akan bekerjasama dengan ahli anastesi tiap kali terapi ini dilakukan. Ruang karantina kedap suara. Pertama kali William keluar dari ruang karantina, ia berubah menjadi lebih lembut. Kita semua pun berpikir bahwa terapinya sukses."


"Setelah beberapa hari yang damai, William beradu argumen dengan pegawai rumah sakit karena telah menyembunyikan obatnya dan berpura-pura telah meminumnya."


"William ini memiliki jiwa petualang yang kuat. Mungkin saja dia benar-benar seorang pengusaha kaya sebelum ia berakhir di sini. Ketika dia keluar dari ruang karantina untuk kedua kalinya, kita semua berpikir bahwa William sudah pasrah dan menerima nasibnya. Tapi ternyata tidak. Dia berkali-kali mencoba kabur dari sini selama 3 tahun. Sampai akhirnya, ia benar-benar berhasil. Walau akhirnya dia tertangkap keesokan harinya, namun dia memanfaatkan untuk menghubungi mantan istrinya. Bahkan kurang dari sebulan setelah kejadian itu, mantan istrinya itu menjemputnya."


Dari cerita Bintang, Rian akhirnya tahu bagaiman kisah William sebelum ia dijemput istrinya.


"Omong-omong, bagaimana caranya kamu begitu tahu tentang William?"


"Setelah dia ditangkap, William dipindahkan ke lantai 3. Tepatnya di ruang khusus kamar nomor 3. Beberapa hari kemudian, ia hampir mati di tempat itu. Akhirnya, pegawai rumah sakit mau tidak mau memindahkannya sementara ke dalam kamarku." 


"Aku dengar sebuah rumor, katanya William terlibat eksperimen pengobatan. Dan sejak saat itu, ia jadi ingin membunuh dirinya sendiri."


"Percobaan? Apakah kamu tahu detail percobaan itu?" Rian mencurigai eksperimen itu ada kaitannya dengan pintu merah.


"Aku tidak tahu apa-apa tentang itu. Lagi pula, aku tahu semua ini karena William sering berbicara pada dirinya sendiri. Mau tidak mau aku jadi tahu tentangnya. Jika bukan karena hal itu, mana mungkin aku mau berbicara dengan orang idiot sepertinya!"


Rian pun mengangguk-angguk setelah mengerti kisah hidup William sebelum ia tinggal di Apartemen Keluarga Sejahtera. "Pertanyaan kedua. Mengapa kalian, mantan pasien rumah sakit ini kembali ke sini lagi? Padahal rumah sakit ini sudah lama ditutup."


"Kami punya alasan masing-masing. Aku tidak bisa memberitahumu alasan yang lainnya, namun aku bisa memberitahukan alasanku. Aku kembali ke sini karena karena aku ingin bersembunyi dari pengawasan kalian. Hanya di sini lah kalian tidak menggangguku."

__ADS_1


"Segera minum obatmu!" Rian merasa bodoh menanyakan alasan Bintang kembali ke sini.


"Lalu pertanyaan ketiga. Aku dengar seorang suster telah dibunuh di lantai 3 ini. Apakah kamu tahu tentang kejadian ini?"


__ADS_2