
Matahari terbenam dengan cepat. Malam hari pun tiba. Suasana kota Surabaya tampak lebih lenggang dari hari biasanya. Banyak Warga yang memilih untuk berdiam diri di rumah, atau pun pergi ke luar kota.
Tapi tetap saja, banyak pemuda pemudi yang tidak takut dengan Nightmare. Mereka malah beramai-ramai membuat konten TeckTock.
"Halo Cepmekers, kali ini Cepmek berada di jalan Tunjungan. Lihat tuh, banyak TeckTocker lain yang juga ngonten. Kita semua mau melihat hadiah apa yang akan Nightmare berikan malam ini."
#nanyaa!? : host, lihat ke belakang host!
#meongers : cepat lari host!
#cid_atomic : woii, lari woi!
Melihat isi chat room, Cepmek pun akhirnya menengok ke belakang. Di sana, ada banyak sosok pria dan wanita tanpa busana dengan banyak luka di tubuhnya.
Mereka semua, menggigit orang-orang yang ada di sana.
"Arghhh!"
"Lepaskan aku!"
"Tolong!"
"Ada Mayat Hidup, cepat lari!"
Dengan buas, mayat hidup tersebut mengoyak-ngoyak tubuh korban-korbannya. Darah dan potongan tubuh berceceran di mana-mana.
Melihat semua ini, Cepmek segera lari ke mobil miliknya yang terparkir tidak jauh dari posisinya saat ini.
"Anjir, kunci, kunci, kunci, di mana kunciku!?" Dengan tangan gemetaran, Cepmek berusaha mencari kunci mobilnya.
"Graaa …"
"Graaa …"
Seperti merasakan rasa takut Cepmek, beberapa Mayat Hidup menengok ke arahnya. Dengan mata yang seakan melihat mangsa buruannya, 4 Mayat Hidup yang ada di dekatnya langsung lari ke arah Cepmek.
"Ah, ketemu!" Dengan cepat ia membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras.
Brak Brak Brak Brak
Keempat mayat hidup itu terus menggebrak-gebrak mobil Toyota Avanza hitam milik Cepmek.
Cepmek kemudian berusaha menyalakan mesin mobilnya. Namun setelah beberapa kali mencobanya, mesin mobilnya tidak kunjung hidup. "Ayo menyala lah! Ayo!"
Brak Brak Brak
Kratak Kratak
Suara retakan kaca membuat jantung Cepmek berdegup dengan kencang. Dahinya pun mulai mengeluarkan keringat dingin.
“Ayo, ayo, AYO!”
__ADS_1
Broom
“Hahahaha Hahahaha” sambil tertawa lepas, Cepmek segera memindahkan gigi dan menginjak pedal gasnya dalam-dalam.
Sontak, keempat mayat hidup tersebut langsung terpental dengan melajunya mobil Cepmek.
“Hah ha hah, akhirnya bisa lolos juga.” gumam Cepmek sambil melihat ke belakang. Tanpa sadar, di depan Cepmek ada sosok hitam berbadan besar setinggi 3 meter berdiri di tengah jalan.
“GRAAAA”
Mendengar suara keras dari arah depan, Cepmek langsung kembali melihat ke arah depan. “Anjir! Makhluk apa itu? Mirip Nemesis dalam film Resident Evil, tapi berukuran lebih besar!”
Makhluk besar itu kemudian mengayunkan tangannya dan menghantam mobil Cepmek.
BOOM
Serpihan aspal terlempar ke segala penjuru. Mobil Cepmek juga terlempar sejauh 2 meter akibat hantaman makhluk tersebut.
Ternyata, kejadian serupa juga terjadi di seluruh penjuru kota Surabaya. Puluhan ribu mayat hidup dengan berbagai bentuk mulai memenuhi jalanan. Setiap kali ada korban yang tewas, dalam beberapa detik tubuh korban tersebut akan bangkit menjadi Mayat Hidup.
...****************...
Dor Dor Dor Dor
“Sial! Jumlah mereka sangat banyak! Kapten, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya salah seorang prajurit Departemen Penanggulangan Bencana Supranatural. Kini ia dan regunya sedang menjaga garis pertahanan di gedung Grahadi, rumah Gubernur Jawa Timur.
“Kalian harus bisa bertahan sampai Helikopter yang akan mengevakuasi Bapak Gubernur tiba!” ucap Kapten Leo dari ruang komando.
Tak lama kemudian, sebuah Helikopter datang mendarat di halaman gedung Grahadi. Para ajudan Pak Gubernur terlihat dengan sigap mengantarkan Bapak Gubernur naik ke Helikopter.
“Pak Riko, mohon maaf saya hanya bisa mengantar anda sampai di sini.” ucap salah seorang Ajudan sambil memberi hormat pada Bapak Gubernur Jawa Timur.
“Terima Kasih Ahmad. semoga kita bisa berjumpa lagi setelah kejadian ini selesai.” Riko tampak sedih dengan perpisahan ini. Selama 2 periode Riko menjabat, Ahmad selalu ada di sampingnya.
Perlahan, Helikopter yang ditumpangi Riko mulai terbang ke atas. Riko terus melambaikan tangannya pada Ahmad dengan hati yang berat.
Tiba-tiba, sebuah roket RPG meluncur dan menghantam Helikopter tersebut.
BOOM
Gemercik api besar menerangi gelapnya malam. Puing-puing Helikopter pun berjatuhan di halaman gedung Grahadi.
“Pak RIKO!” teriak Ahmad ketika melihat Helikopter yang ditumpangi Bapak Gubernur meledak. “Pak Riko, hiks hiks …”
Dari tempat yang tidak jauh dari gedung Grahadi, berdiri sesosok Mayat Hidup setinggi 2 meter dengan kepala gundul dan wajah yang mirip tengkorak. Mayat Hidup tersebut memanggul Pelontar Roket RPG (Bazooka).di bahu kirinya, sedangkan tangan kanannya, ia membawa sebuah senapan mesin dengan ribuan peluru.
“Kau bercanda kan? Bagaimana mungkin Mayat Hidup mengoperasikan senjata manusia!?” gumam Salah satu prajurit.
“Bukankah dia mirip Nemesis?”
“Nemesis?”
__ADS_1
“Benar, yang ada di dalam film Resident Evil itu lho. Nemesis juga salah satu jenis Mayat Hidup yang dapat mengoperasikan senjata.”
Kapten Leo yang berada di ruang Komando langsung berteriak melalui alat komunikasinya. “Semua regu yang ada di gedung Grahadi, segera mundur!”
“Siap!”
“Ayo cepat kita mundur!” seru salah seorang pimpinan regu.
Naas, belum sempat mereka mundur, rentetan peluru menghujani tubuh mereka.
Dududududu
“Arggh!” suara teriakan dan rintihan kesakitan terdengar bagaikan melodi kematian yang menghiasi gelapnya malam.
Sambil terus menembakkan senapan mesinnya, Mayat Hidup mirip Nemesis itu melaju secara perlahan. Dari Sisi kanan dan kirinya, muncul 2 Mayat Hidup menyerupai Nemesis lengkap dengan senapan mesin dan Pelontar Roket RPG (Bazooka). Kedua Mayat Hidup itu akhirnya bergabung menembaki orang-orang yang ada di gedung Grahadi.
Dari ruang Komando, Kapten Leo menggebrak mejanya. “Sial! Nightmare, apa sebenarnya tujuanmu? Kenapa kamu membantai seluruh penduduk kota ini?”
Melihat semua anak buahnya dibantai tanpa bisa melawan, raut wajah Kapten Leo tampak dipenuhi rasa sedih, penyesalan, dan juga amarah. “Nightmare! Akan ku pastikan aku membunuhmu!”
Kapten Leo kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Siapkan Helikopter, aku akan maju ke garis depan!”
“Tapi kapten ..”
“Diam! Tidak ada tapi-tapian! Kali ini aku akan menggunakan kemampuan khususku, tidak peduli walau aku harus mengorbankan nyawaku!”
Melihat keseriusan Kapten Leo, hati prajurit lainnya luluh. “Siap!”
Mereka kemudian langsung mempersiapkan Helikopter yang ada di markas.
...****************...
Di atas gedung Rumah Sakit Universitas Avernus, berdiri seorang pria yang mengenakan topeng plague doctor. Ia terus memandang ke arah pusat kota yang kini dipenuhi Api dan juga teriakan.
“Nightmare, apakah kau yakin dapat mengalahkan Rian?” Di belakang Nightmare, mendadak muncul seorang gadis muda berambut sebahu.
“Luci, apa kau meremehkanku?”
“Bukan begitu, namun kami, Kadukeus, menginginkan tontonan yang menarik. Maka dari itu, aku datang untuk sedikit melakukan modifikasi pada sistem milikmu,”
“Modifikasi?”
Melihat kebingungan Nightmare, Luci tersenyum menyeringai. Setelah itu, ia berjalan menghampiri Nightmare dan menyentuh kepalanya. Sebuah aura gelap tampak terpancar dari ujung jari telunjuk Luci. Aura tersebut menyelimuti kepala Nightmare.
Beberapa detik kemudian, aura gelap tersebut menghilang. “Dengan modifikasi ini, kesempatanmu dalam memenangkan permainan ini akan bertambah. Dan kemudian, satu permintaanmu akan dapat kami kabulkan, apa pun itu! Termasuk … menghidupkan orang yang sudah mati, hahahahaha …”
“Aku pasti memenangkan permainan ini, Luci!” tegas Nightmare.
“Bicaralah lagi kalau kamu sudah menang, Nightmare. Ciao …” Luci berbalik sambil melambaikan tangannya pada Nightmare. Kemudian, tubuh Luci menghilang bagaikan asap.
“Maafkan aku Rian. Demi mewujudkan keinginanku, aku harus membunuhmu!” gumam Nightmare.
__ADS_1