Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Acara Berkabung


__ADS_3

‘Aku tidak boleh meremehkan pasien rumah sakit ini. Walau mereka mengalami gangguan jiwa, tapi aku yakin mereka sangatlah cerdas.’ pikir Rian sambil memandangi pintu besi yang terkunci dari luar.


Rian kemudian mencoba membobol jendela yang ada di lantai dasar ini. Namun saat akan melakukannya, ternyata semua jendela di lantai dasar telah dipasangi jeruji besi. ‘Sekarang aku menyadari bagaimana perasaan William ketika ia dikirim ke sini. Tempat ini benar-benar seperti penjara!’


‘Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Jika aku memanggil polisi, maka tempat ini akan ditutup. Padahal misi kali ini mengharuskanku bertahan hidup di dalam gedung ini sampai jam 4 pagi.’ Rian kemudian memutuskan untuk kembali ke konter administrasi.


Saat Rian kembali, Rian melihat salah satu mangkuk plastik yang tadi ada di dalam kadang, sekarang dalam posisi terbalik di bawah konter. Cairan yang ada dalam mangkok itu pun berceceran membasahi lantai di bawah konter. “Apakah orang itu khawatir aku menyadari bahwa mangkuk ini berisi racun?”


“Tunggu dulu … jika orang yang membalik mangkuk ini adalah orang yang sama dengan orang yang mengunci pintu gedung, ini artinya ada jalan lain untuk masuk ke dalam gedung ini! Atau bisa juga orang ini memiliki komplotan. Aku masih kekurangan bukti untuk melakukan deduksi.”


Ketika Rian mengambil mangkuk yang terbalik tersebut, Rian melihat ada sebuah tulisan tangan kecil di bawah konter. Untuk melihat lebih dekat, Rian merangkak masuk ke bawah meja konter. Sebelum ia dapat membaca tulisan tersebut. Rian merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalanya. Ia merasa seperti ada cacing yang ingin masuk ke dalam kepalanya.


‘Makhluk apa ini!?’ Reflek, Rian langsung menutup kepalanya. Ia dapat merasakan sesuatu telah menyentuh-nyentuh tangannya. Perlahan, Rian menengok ke atas.


Deg Deg Deg


Jantung Rian berdetak kencang. “Haah haah haah ..”


Saat Rian melihat hal yang telah menyentuh-nyentuh kepalanya itu, di sana terdapat rambut panjang tebal yang telah ditempelkan menggunakan isolasi di bawah meja konter. “Anjir! Bikin kaget aja!”

__ADS_1


Rian dapat bernafas lega setelah menyadari bahwa yang menyentuhnya bukanlah makhluk supranatural, melainkan rambut. Namun, keberadaan rambut ini menambah misteri yang ada. “Apakah ini adalah rambut dari orang yang dikurung dalam kandang?”


Tiba-tiba saja, Noir yang sejak tadi ada di kantong kemeja Rian meloncat dari kantongnya. Kemudian Noir memanjat ke atas konter dan mendesis ke arah tangga yang menuju lantai 2.


“Ksssshhh …” Mata Noir terus memandangi satu tempat yang ada di atas tangga.


Dengan pisau di tangannya, Rian keluar dari bawah konter dan berteriak. “Siapa di sana!?”


“Cepat keluar! Aku tahu kamu ada di sini, jangan bersembunyi lagi!” Noir kemudian naik ke punggung Rian. Seakan mengerti maksud Noir, Rian langsung berlari menaiki tangga ke lantai 2. Tapi di sana tidak ada siapa-siapa. “Indera kucing dalam merasakan bahaya cukuplah kuat. Jadi aku yakin Noir merasakan keberadaan seseorang yang berbahaya dari sini! Tapi aku masih belum tahu, orang ini manusia, ataukah makhluk supranatural?”


Ryan kembali lagi ke konter administrasi. Kali ini, ia sedang memeriksa rambut yang ditempel di bawah meja. Setelah Rian cek kembali, rambut panjang ini ternyata terdiri atas beberapa rambut yang diikat menjadi satu. “Hmm .. berdasarkan warna, panjang, kualitas, dan tekstur tiap rambut, sepertinya rambut-rambut ini berasal dari orang yang berbeda. Setidaknya, ada 4 jenis rambut. Yang artinya, rambut ini berasal dari 4 orang yang berbeda. Dan orang keempat ini sepertinya masih baru.”


Setelah itu, Rian kembali mendekat ke tulisan kecil yang ada di bawah konter. Di sana tertulis, -aku akan membalas semua yang telah kau perbuat padaku-


“Apakah ini tulisan dari mantan pasien rumah sakit ini? Atau dari pemilik rambut?” Karena masih kurangnya bukti untuk membuat deduksi, Rian memutuskan untuk pergi ke lantai 2. Namun sebelum itu, Rian menaburkan garam di sekitar konter. Tentu saja ini bukan untuk mengusir hantu, namun untuk melihat apakah orang yang tinggal di gedung ini akan kembali ke konter atau tidak.


Saat Rian akan menginjakkan kaki di lantai 2, tiba-tiba saja Noir mendesis dan melompat ke arah jendela kaca. “Ksssshhh …”


“Noir, ada apa?” Rian kemudian mendekati jendela dan melihat keluar. Namun tidak ada hal yang aneh di luar.

__ADS_1


“Meong!” ucap Noir sambil melihat ke arah atas jendela.


Rian memutar kepalanya untuk melihat ke atas. Tepat di atas jendela tempat Rian menengok, ada seseorang yang mengintip ke arah Rian berada dari jendela lantai 3. Ketika orang itu sadar Rian telah melihatnya dari jendela bawah, orang itu langsung menarik kepalanya ke dalam.


“Wajah itu … walau terlihat bengkok dan tidak rata antara sisi kanan dan kirinya, aku yakin itu adalah manusia!” Rian berhenti sebentar dan berfokus. Ia berusaha menemukan langkah kaki orang tersebut. Namun karena jaraknya yang cukup jauh, Rian tidak dapat mendengar langkah kaki orang itu.


Saat Rian berjalan lebih jauh lagi, Rian cukup terkejut dengan layout yang lebih luas dibanding lantai 1. Rian kemudian menengok ke dalam salah satu kamar, di sana tidak ada lagi tempat tidur yang berdempetan dalam satu kamar. Fasilitas di kamar itu pun terbilang lengkap. Ada meja, kursi, lampu baca, AC dan juga televisi.


“Apakah ini gedung khusus pasien VIP? Kondisi kamar di lantai ini jauh lebih baik dari kamar pada lantai 1.” Rian pun menghela nafas panjang. “Haa~ dunia ini memang benar-benar nggak adil. Keadilan hanya ada untuk orang-orang yang memiliki uang.”


Rian kemudian menaburkan garam lagi di sekitar tangga yang berada tepat di samping kamar yang ia tengok barusan. Setelah itu, Rian melanjutkan lagi penelusurannya. Dari hasil berkeliling lantai 2 ini, Rian melihat bahwa di dalam gedung ini terdapat bermacam-macam ruangan. Mulai dari karantina, ruang catur, ruang jacuzzi, ruang karaoke, bioskop mini, dan sebuah aula kecil.


“Anjir, apa-apaan rumah sakit ini! Buat apa ruang karaoke, jacuzzi, dan bioskop mini? Orang dengan gangguan jiwa nggak mungkin menikmati semua itu! Kecuali …” Rian tidak melanjutkan ucapannya. Namun ia tahu buat apa semua fasilitas ini. Hanya saja, ia tidak mau ditangkap polisi karena UU ITE.


Rian yang saat ini berada di depan sebuah aula kecil, merasa janggal dengan dekorasi tempat itu. “Ini aneh … semua jendela disegel dan ditutupi gorden tebal berwarna hitam. Hiasan-hiasan di sini juga di dominasi warna hitam dan putih. Nggak mungkin tempat ini digunakan untuk berpesta dengan dekorasi macam ini.”


Rian berjalan lebih jauh lagi ke dalam aula. Saat Rian menyenteri panggung yang ada di ujung aula, Rian melihat sebuah foto berwarna hitam putih tergantung pada dinding panggung. Namun, setengah dari foto itu telah terpotong. Dari potongan yang tersisa, Rian dapat melihat bahwa yang ada di dalam foto tersebut adalah seorang suster wanita. Suster tersebut terlihat bertubuh besar. Ia juga memasang ekspresi cemberut pada foto tersebut.


“Sebuah foto hitam putih yang besar, gorden hitam yang tebal, dan juga ratusan kursi lipat yang tertata rapi. Bukankah ini seperti ruang berkabung? Kenapa rumah sakit departemen kejiwaan mengadakan acara berkabung? Jangan-jangan …”

__ADS_1


Rian pun teringat atas ucapan Dokter Denis tadi pagi. “Ini adalah acara berkabung untuk suster yang tewas dibunuh oleh pasien rumah sakit ini!”


__ADS_2