Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Operasi Menangkap Buaya (II)


__ADS_3

Tiiiingg


“Sial, bel masuk kelas sudah berbunyi! Bagaimana Alicia, apa kita tunda saja operasinya?” tanya Rian.


"Itu nggak perlu, kalian masuk kelas saja dulu …"


"Lah kamu bagaimana?" Livia khawatir dengan Alicia. Dia sudah menginjak kelas XII di mana seharusnya ia berkonsentrasi belajar. Namun sekarang ia malah memilih untuk membolos demi membantu mereka, orang yang baru dikenalnya.


"Nggak ada yang bisa menegurku kalau aku bolos."


"Tapi …"


"Percayalah padanya. Memang tidak akan ada yang bisa menegurnya." sahut Yohan yang sekarang sedang berdiri di belakang Rian dan Livia.


"Wahh~ Kak Yohan! Bikin kaget aja tiba - tiba di belakang kami!" protes Livia.


"Lah kalian terlalu serius. Apa yang sedang kal–" Yohan terkejut melihat layar Laptop Alicia. Memang Alicia masih tetap mengetik pada console command, tapi ada beberapa foto Pak Effendi yang masih dibiarkan terbuka dari tadi.


"Kalian membobol data Pak Effendi?" Wajah Yohan berubah serius melihat aksi Alicia.


"Apa kamu akan melaporkan kami?" tanya Alicia yang masih serius mengetik.


Melihat Alicia seperti ini, ekspresi Yohan menjadi lembut. "Aku tidak akan melaporkan kalian. Aku tahu bahwa Pak Effendi sering melakukan pelecehan pada siswi sekolah ini. Aku sudah lama ingin bertindak, namun aku tidak memiliki kekuatan yang cukup. Apalagi Pak Effendi selalu menyembunyikan bukti dengan lihai. Jika kalian bisa menjatuhkannya, jatuhkan saja! Aku dukung kalian!"


"Dan sudah sepantasnya sampah seperti itu disingkirkan! Dunia tidak memerlukan pendosa seperti dirinya!" bisik Yohan.


"Kakak ngomong sesuatu?" tanya Rian karena ia sedikit mendengar bisikan Yohan.


"Ah nggak kok, aku cuma bergumam sendiri tadi! Tidak usah dipikirkan …" Yohan sedikit panik ucapannya terdengar mereka. Sebagai Wakil Ketua OSIS, tidak sepantasnya ia bicara seperti itu, apalagi terhadap gurunya.


Setelah itu mereka pun pergi ke kelas masing-masing meninggalkan Alicia sendirian di ruang OSIS. Di kelas pun, Guntur, Adi, Alena, dan Tika tidak membicarakan perihal Pak Effendi sama sekali. Karena banyak mata - mata Pak Effendi, entah dari murid maupun guru. Mereka takut jika aksi mereka terbongkar, jadi mereka memilih diam.


Setelah melalui beberapa mata pelajaran, jam istirahat pun tiba. Mereka segera bergegas ke Ruang OSIS sambil membawa makan siang.


"Bagaimana Alicia, apakah kamu berhasil mendapatkan semua filenya?" tanya Rian.


"Aku berhasil mendapatkan filenya. Total ada 2 TerraByte. Aku juga sudah menghapus jejak pembobolanku serta menghapus email yang tadi aku kirim."


"Mantap!"


"A-li-ci-aa" Alena langsung memeluk erat Alicia begitu masuk Ruang OSIS. "Kamu kok imut banget sih, aku jadi gemes!" Saat Alena menggosok-gosokkan pipinya pada pipi Alicia, tanpa sengaja poni rambut yang menutupi mata kiri Alicia terurai. Terlihat warna mata kiri Alicia berbeda dengan mata kanannya.


Sadar akan hal itu, Alicia langsung mendorong Alena. "Kalian melihatnya?"

__ADS_1


"Ini …" Alena terkejut dengan sikap Alicia. Rian dan teman - teman lainnya juga melihat mata Alicia.


"Kalian pasti akan menjauhiku setelah melihatnya. Aku nggak apa - apa, itu hal biasa dan sering terjadi." Tidak ada ekspresi sedih maupun marah pada wajahnya. Tapi Alena paham di balik poker face Alicia, ia sangat menderita.


Ketika Alena akan membalas ucapan Alicia, Rian mendadak maju dan menyentuh pipi Alicia. Lalu Rian menyibakkan poninya. "Kamu tahu, matamu sangat lah indah! Mata biru mu bagaikan langit yang cerah, sangat menyegarkan, menawan, dan juga hangat! Hanya orang bodoh yang tidak menghargai keindahan ini. Dan tentunya kami tidak termasuk orang yang bodoh. Kamu nggak perlu takut untuk menunjukkan sisi asli mu pada kami" Rian tersenyum lembut saat mengatakannya.


"Ta-tapi …"


"Coba lihatlah sekelilingmu. Apakah ada dari kita yang terlihat membenci ataupun jijik padamu?" jelas Rian. Alicia pun melihat Guntur, Adi, Alena, Livia, dan Tika. Mereka semua tersenyum hangat pada Alicia. Tidak nampak ekspresi benci ataupun jijik pada wajah mereka.


"Terima Kasih.” bisik Alicia. Ia tampak masih malu - malu. Ia masih belum terbiasa menunjukkan mata kirinya yang berwarna biru kepada orang selain keluarganya. ‘Apakah begini rasanya memiliki teman? Sangat hangat dan menyenangkan!’


Setelah adanya sedikit drama, mereka pun kembali ke tujuan semula, yaitu membahas mengenai Pak Effendi. Mereka mulai mendiskusikan tentang bagaimana menggunakan file-file yang mereka dapatkan.


“Guntur, bagaimana menurutmu? Ayahmu kan Polisi, apakah kita bisa mempercayakan file ini pada Ayahmu?”


“Tenang saja Rian. Ayahku sendiri sangat ingin menghukum Pak Effendi, namun ia tidak memiliki bukti. Sekarang dengan adanya file ini, Ayahku bisa menuntut Pak Effendi!”


“Tapi jika hanya menyerahkan semuanya pada Polisi, menurutku itu masih kurang. Kita harus menghukum Pak Effendi lebih berat!”


“Apa maksudmu, Livia?”


“Aku ingin file - file ini disebarkan secara online. Tapi semua wajah korban harus disensor.”


“Kamu gila, itu termasuk tindak kriminal! Kita bisa mendekam di penjara bersama Pak Effendi!” Guntur jelas tidak ingin melanggar hukum. Terlebih status Ayahnya sebagai Kapolda.


Tak kuasa mendengar suara Guntur dan Livia yang semakin keras. Alena Aprilia, anggota OSIS yang selalu berjaga saat jam istirahat memberi mereka peringatan. “Ehm, tolong jangan ribut jika kalian ingin tetap berdiskusi di ruang OSIS! Dan juga, jika kalian memang ingin memberi hukuman yang berat untuk bedebah itu, aku punya ide untuk kalian”


“Kak Alena mendengarnya?” Livia sedikit panik, karena ia tak ingin apa yang mereka lakukan bocor. Rian dan teman - teman pun mulai mewaspadai Alena Aprilia. Mereka bahkan bersiap untuk menyekapnya bila diperlukan.


“Jangan pasang wajah mengerikan seperti itu dong. Aku juga tidak menyukai bedebah itu. Dia telah memperkosa salah satu teman baikku! Namun temanku tidak bisa melaporkannya ke polisi karena bedebah itu memiliki video dan foto temanku tanpa busana. Temanku adalah murid penerima beasiswa. Ia berasal dari keluarga tidak mampu. Jika sampai nama baiknya hancur, maka sekolah pasti mencabut beasiswanya dan ia putus sekolah! Apalagi bedebah itu sangat berpengaruh di sekolah ini. Aku dengar juga rumor bedebah itu juga anak ketiga dari seorang konglomerat di Surabaya. Jika itu benar, sangat sulit menghukumnya. Kekuatan uang itu nyata!”


“Kita memang harus menghukum Pak Effendi secara sosial! Jika hanya mengandalkan Polisi, bisa saja dia menggunakan kekuatan uang dari keluarganya untuk membungkam mereka!”


“Tapi tidak semua Polisi seperti itu! Ayahku–”


“Cukup Guntur, aku tahu Ayahmu adalah Polisi yang jujur. Tidak semua Polisi itu korup. Namun itu tidak menjamin Pak Effendi akan mendapat hukuman yang semestinya! Bagaimana menurut kalian?” Yang lainnya pun setuju dengan Livia.


“Jadi Kak Alena, bisa ceritakan ide Kakak?”


......................


"Di mana email yang kuterima tadi? Kenapa tiba - tiba hilang?" Pak Effendi berusaha mencari email yang telah ia buka tadi pagi. Namun ia tak menemukannya di manapun.

__ADS_1


"Apa aku berhalusinasi karena terlalu bernafsu? Hmmm, bisa jadi … Sepertinya hari ini aku harus meredakan belalaiku yang sejak tadi pagi tegang …"


Pak Effendi melihat - lihat foto - foto siswi SMA Avernus yang jadi koleksinya. Ia berhenti pada sebuah foto siswi berambut pendek. Dadanya terlihat besar dan bulat sempurna. "Sepertinya yang ini saja, hehehehe …"


......................


“Satu ...Dua …Tiga …Mulai!” Guntur memulai Live Broadcast menggunakan ponsel Rian.


Di saat yang sama, semua orang yang memfollow Channel TeckTock Rian, mendapat notifikasi bahwa Rian sedang melakukan Live Broadcast. Murid dan guru yang memfollow Rian bingung dengan apa yang dilakukan Rian. Apalagi belum sampai 5 menit yang lalu jam sekolah usai, kira - kira konten apa yang akan dibawa Rian.


“Hai Guys, kembali lagi dengan Host Kalian tercinta, Rian! Kali ini, kami akan melakukan hal berbeda dari biasanya! Kalau biasanya Live Broadcast kami berkaitan dengan misteri dan urban legend, maka kali ini kami akan mengungkap kasus pelecehan seksual yang ada di Sekolah kami.”


“Seperti yang kalian tahu dari Live Broadcast kami hari Sabtu Malam Kemarin, sumber adanya mitos suara tangisan di kamar mandi wanita lantai 4 adalah suara tangisan korban perundungan dan pelecehan. Kami bahkan menyensor nama oknum guru yang melakukan pelecehan tersebut dan menginisiasi terjadi perundungan. Untuk yang sudah spill nama di video sebelumnya, mohon maaf kalau komentar kalian sudah saya hapus. Tapi mulai hari ini, Host akan mengungkap kejahatan yang ada dengan bukti - bukti kuat.” Para murid dan Guru pun mulai gaduh dengan pernyataan Rian.


“Oke, pertama-tama, mengajak kalian ke sebuah tempat yang biasa dipakai sang oknum guru untuk melakukan pelecehan. Host mendapat informasi tentang ruangan ini dari salah seorang korban pelecehan yang tidak bisa saya sebut namanya.” Kemudian Rian mengajak penonton ke sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu tersembunyi di balik gedung olahraga.


Dari dalam bangunan, terdengar suara tangisan seorang wanita. “Hiks Hiks … Pak, ampun pak … Hiks tolong jangan perkosa saya Hiks Hiks …”


“Kalau kamu menolak Bapak, akan Bapak sebar foto-foto ini di internet! Hehehehe …”


Mendengar percakapan itu, Rian dan teman - temannya sangat marah. Dengan sekuat tenaga, Rian menendang pintu kayu bangunan tersebut.


BRAAKK


“Siapa Kalian!? Beraninya menggangguku!” Teriak Pak Effendy. Ia terlihat sedang menindih seorang siswi SMA Avernus. Seragam siswi berambut pendek tersebut sudah berantakan.  Bahkan Pak Effendi sudah tidak mengenakan celananya. Burung miliknya pun terpampang dengan jelas. Sontak, Rian langsung memukul wajah Pak Effendi.


BUUKK


“Brengsek! Kamu tahu siapa saya? Saya adalah Effendi, pelatih tim basket SMA Avernus yang membawa tim kita memenangi kejuaraan 9 kali berturut-turut! Aku punya kekuasaan di sini, bahkan Kepala Sekolah saja tidak berani padaku! Namun kamu, yang hanya seorang murid berani memukulku? Akan aku pastikan kau menyesal!” Pak Effendi langsung melayangkan pukulannya pada Rian. Namun sayang, Rian dengan mudah menghindarinya dan memukul kembali wajah Pak Effendi hingga terjatuh ke tanah.


BUUKK


Rian menduduki perut Pak Effendi. “Sudah berapa wanita yang Bapak lecehkan?”


“Cuih” Pak Effendi meludahi wajah Rian. “Lihat saja nanti, akan ku balas semua perbuatanmu ini! Akan ku pastikan aku memperkosa keluargamu, pacarmu, dan juga temanmu tepat di depan mata mu!”


Krak


“Arghh!” Rian menggenggam lengan kiri Pak Effendi sampai remuk.


“Apa yang Bapak bilang tadi? Bisa ucapkan sekali lagi?” Mata Rian melotot bak seorang psikopat.Pada tangan dan wajah Rian, muncul urat-urat yang berdenyut seirama dengan emosinya.


“Sudah ku bilang, aku akan memperko– ARGHH!”

__ADS_1


KRAK KRAK


Kali ini, lengan Kanan Pak Effendi Remuk dan juga mengalami dislokasi. “Aku tanya sekali lagi, apa yang Bapak bilang tadi? Bisa ucapkan sekali lagi?” Suara Rian lambat laun berubah menjadi lebih berat, seperti suara binatang buas.


__ADS_2