
“Anjir, aku nggak kuat untuk membacanya lebih lanjut. Cerita anak ini terlalu menyedihkan!” Rian kemudian meletakkan buku catatan tersebut kembali ke lemari.
Melihat banyaknya amplop di sebelah buku catatan, Rian mulai membukanya. “Sebuah surat? Tanpa perangko juga? Dilihat dari warna kertas yang menguning, sepertinya sudah cukup lama.”
......................
...Dokter Imam, ini pertama kalinya aku bertemu dengan anak sejenius ini....
...Lahir dan tumbuh dilingkungan yang dipenuhi orang-orang tidak waras, perlukah aku mengirimnya keluar?...
...Anak ini memiliki masa depan yang cerah. Namun, aku khawatir dengan sikapnya yang mulai tidak biasa....
... Sejak anak perempuan itu mulai bisa bicara, ia mulai sering berbicara sendiri seperti Ibunya. Tidak, aku merasa ia seperti sedang berbicara dengan orang yang tidak bisa kita lihat....
...Dokter dan suster di sini sangatlah sibuk. Jadi tidak ada orang yang mengajarkannya bicara selain aku. Tetapi, aku sering mendengar kata-kata aneh dari mulutnya. Apa dia menirukan kata tersebut dari pembicaraan para Dokter dan suster? Ataukah ada orang lain yang mengajarinya?...
...Aku memang rakus dan tamak. Tetapi melihat anak perempuan itu, membuat hatiku luluh. Berdasarkan mitos, anak kecil dapat melihat makhluk astral, apakah itu benar?...
... Aku penasaran akan semua yang terkait mengenai anak ini. Tapi aku juga khawatir. Jika aku terlalu dekat, aku tidak akan bisa lepas darinya....
...Ibunya menderita Bipolar Disorder dan hanya tenang ketika anak perempuan itu menemaninya. Untuk mempermudah perawatan, para dokter sering membawa anak perempuan itu untuk mengunjungi Ibunya. Setiap anak kecil pasti punya kedekatan batin dengan Ibunya. Walau ia masih kecil pun, ia mengenali Ibunya....
...Tetapi, ada satu hal aneh terjadi di sini. Ketika anak perempuan itu melihat Ibunya, kata yang ia ucapkan bukanlah Mama ataupun Ibu, melainkan ‘Pintu’...
...Pada awalnya aku berpikir bahwa aku salah dengar, atau mungkin itu hanya omongan acak anak kecil. Tetapi, ketika seorang suster menggendongnya, anak perempuan itu menunjukkan jarinya ke arah kamar Ibunya dan berkata ‘Pintu’...
...Anak perempuan itu seakan berkata bahwa ia ingin lebih dekat pada pintu itu. Aku pun mulai menginvestigasi seluruh pegawai rumah sakit. Dan ternyata tidak ada satu pun dari mereka yang mengajarkannya berbicara....
__ADS_1
... Tanpa bimbingan satu orang pun, anak perempuan itu dapat berbicara sendiri dan mengerti maksud dari kata tersebut. Siapa yang mengajarinya? Atau ada sesuatu yang tak kasat mata di dalam rumah sakit yang mengajarinya?...
... Ketika seorang suster membawanya ke dalam kamar Ibunya, anak perempuan itu berbalik melihat ke arah lorong dan melambaikan tangannya seakan sedang menyapa seseorang. Padahal waktu itu, tidak ada seorang pun yang lewat di lorong tersebut....
...Tentu saja, jika keanehan anak perempuan itu hanya seperti itu, maka aku bisa menyimpulkan bahwa itu adalah imajinasi anak itu. Namun, ketika suster itu bertanya padanya, siapa orang yang ia sapa....
... Anak itu menjawab, Yanto....
...Suster tersebut tentu tidak kenal dengan nama tersebut dan menyangka itu adalah ucapan acak sang anak. Tapi aku tahu siapa Yanto sebenarnya. Dia adalah salah satu pekerja bangunan yang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja saat pembangunan gedung ini....
...Dokter dan suster memang tidak ada yang tahu mengenai kecelakaan itu. Namun, aku adalah Direktur departemen ini, sudah sewajarnya aku tahu semuanya....
... Aku hanya bisa berdiri di depan pintu dan melihat suster itu menggendongnya. Dan ketika suster itu membawanya turun, anak itu kembali melambaikan tangannya pada sudut lorong yang kosong. Jujur saja, aku sudah sering merawat orang dengan gangguan jiwa, baik dewasa maupun anak-anak, dan aku tidak pernah takut dengan mereka. Namun kali ini berbeda. Pada hari itu, di lorong rumah sakit yang sepi ini, aku benar-benar merasa sangat takut....
... Setelah kejadian itu, aku jadi terus memperhatikan anak perempuan itu....
......................
Rian kemudian membuka amplop kedua. Konten surat ini ternyata jauh lebih mengejutkan dibanding surat pertama tadi.
......................
... Dokter Imam, kita harus bertemu secara langsung. Keadaan di sini sudah di luar kendali....
...Ketika anak perempuan itu mulai belajar merangkak, ia selalu pergi mengunjungi Ibunya Tidak ada yang tahu bagaimana caranya ia bisa tiba-tiba ada di depan kamar nomor 3....
...Para Dokter dan suster juga menyadari kebiasaan aneh anak itu. Ia jarang menangis, namun ia sering tertawa sendiri di berbagai tempat secara acak. Anak itu akan semakin semangat jika malam tiba. Dia benar-benar berbeda dengan kebanyakan anak lainnya....
__ADS_1
...Mungkin, dunia yang dilihat oleh anak perempuan itu berbeda dengan apa yang kita lihat. Anak itu menganggap para pasien yang mendapat kejutan listrik dan obat tidur sebagai mainan. Cara melihat anak itu pada mereka bagaikan melihat orang yang sudah mati....
...Anak perempuan itu suka sekali duduk di luar kamar nomor 3. Ia jarang masuk ke dalam kamar. Jadi ia hanya duduk di luar, sambil terus memandangi pintu. Ia bisa seharian penuh duduk di depan pintu kamar nomor 3. Beberapa Dokter dan suster menyarankan agar mengirimkan anak perempuan itu pada panti asuhan. Namun aku menolaknya. Karena mengirim anak ini pada panti asuhan akan membuat kondisi Ibunya tidak stabil. Kami telah menjalankan perawatan selama setahun untuk menstabilkan keadaan Ibunya. Kami tidak bisa menyerah begitu saja....
...Setelah beberapa bulan, kami menerima kabar baik dari kepolisian. Dengan menggunakan nomor polisi mobil Ayah kandung anak itu, mereka berhasil menemukan lokasi Ayahnya. Saat itu, kondisi Ibu anak itu juga sudah hampir sembuh. Maka dari itu, kami menyewa pengacara untuk menuntut orang itu. Kami menuntut agar orang itu membayar semua biaya yang telah dikeluarkan rumah sakit selama merawat istrinya. Kami juga menuntut agar istrinya dan anaknya mendapat pengakuan secara legal dari Ayahnya....
...Kami memenangkan tuntutan ini. Entah karena takut dipenjara atau karena merasa bersalah, orang itu memenuhi semua tuntutan kami....
...Perawatan berlanjut hingga 6 bulan sejak tuntutan itu. Akhirnya, Ibu anak itu benar-benar sembuh. Anak itu pun pergi dari rumah sakit ini bersama Ibunya. Namun, 3 tahun tumbuh di rumah sakit jiwa telah meninggalkan luka di dalam diri anak itu. Malam sebelum ia pergi, anak itu secara sembunyi-sembunyi berjalan di lorong dan berbicara sendiri bahwa orang-orang tidak ada yang paham mengenai pintu....
...Setelah mereka pergi, aku mengira semuanya telah berakhir. Tapi, siapa sangka, takdir benar-benar mempermainkan anak perempuan ini....
...Satu tahun setelah kepulangan mereka, anak yang kini berusia 4 tahun itu dikirim oleh ayahnya kembali ke rumah sakit ini....
...Berdasarkan pengakuan Ayahnya, Ibunya telah dibunuh oleh perampok di depan mata anak itu. Saat aku melihat anak itu, ia tampak benar-benar berbeda. Satu-satunya pilar dalam hidupnya ini telah hancur. Dan kondisi anak itu sekarang sangat mirip dengan kondisi Ibunya baru datang kemari....
...Karena kejadian sebelumnya, kami tidak berani menerima anak itu. Kami pun membujuknya untuk mengirimnya ke rumah sakit lain. Di malam kami menolaknya, tepat pada tengah malam, pintu putih kamar nomor 3 tiba-tiba mengeluarkan darah....
...Darah ini terus mengalir dan akan berhenti ketika Adzan Subuh berkumandang. Awalnya kami menganggap enteng hal ini. Namun sejak saat itu, banyak terjadi hal di luar nalar yang terjadi di rumah sakit ini....
......................
“Tunggu … sepertinya aku pernah mendengar kisah ini, tapi di mana ya?” Rian kemudian membuka amplop ketiga. Di dalamnya, ada sebuah foto dengan gambar Ibu dan anak perempuannya.
“Anak ini, sepertinya mirip dengan seseorang. Tapi siapa ya?” Saat mengingat-ingatnya lagi sambil terus melihat foto Ibu dan anaknya, mendadak mata Rian terbelak.
“Winny …”
__ADS_1